
Aku melirik samping kanan kiriku. Hari sudah pagi, dan aku tidak melihat Erlangga samasekali di kamar pengantin ini. Huh, aturan aku merasa bahagia, jadi tidak perlu melewati malam yang panas, yang menyakitkan. Kata orang seperti itu.
Sudah pukul tujuh pagi, terlalu siang untuk seorang perempuan yang baru saja menikah untuk bangun dari tidurnya. Aku menyeret langkah kaki ku keluar dari kamar, pakaian ku sudah ku ganti dengan baju rumahan yang simple dan nyaman, membuatku menjadi lebih fresh lah pokoknya.
Ternyata saat aku turun sudah terkumpul keluarga besar di meja bundar, tidak terlalu rame sih, hanya saja terdapat Kakek Kusumo, Nenek kusumo, Ibu Kusumo, dan juga Ayah Kusumo, jangan lupakan Tuan Kusumo yang baru saja menikah denganku, wajah nya tampak sekali dingin, dan acuh.
Aku benar-benar ingin meremukkan wajahnya yang membuat tinggi darahku seolah mendidih. Dia yang sudah membuatku terseret kedalam jurang seperti ini, awas saja jika dirinya berbicara yang tidak-tidak tentang diriku.
Aku menyeret langkah kakiku semakin mendekat. Semuanya sudah sadar akan keberadaanku, hingga akhirnya semua memberi sapaan hangat, tidak terkecuali suamiku yang arrogant itu! Arghh, aku benar-benar kesal dengan dirinya.
"Hai menantu mama! Sini duduk." titah ibu mertuaku dengan sangat welcome dan juga ramah, ayah mertuaku juga tersenyum dengan ramah, ia menunjuk kursi samping pak Erlangga yang berada di hadapannya.
"Aduh pengantin baru, bangun tidurnya siang banget ya." goda nenek Kusumo dengan senyum menggoda, astaga umurnya bahkan sudah mencapai enam puluh tahun, tapi kenapa ia masih terlihat sangat sehat dan juga bugar.
Akhirnya aku duduk disamping pak Erlangga yang acuh tak acuh padaku, ia masih menyantap nasi goreng di mulutnya yang tipis, aku menggigit bibirku menahan kekesalan didalam senyumku yang menawan, Pak Erlangga bahkan tidak samasekali menyapa ku.
Dasar menyebalkan!
Tidak tahu diri!
Kasar gimana? Tadi malam saja aku tidak tidur dengannya! Bagaimana bisa sakit?! Justru hatiku yang seperti tercabik-cabik, merasakan kehadiranku yang tidak di anggap oleh dirinya.
"Aduh menantu mama jadi malah malu-malu, Angga pasti mainnya kasar ya, badannya aja gede banget kaya kingkong!" ledek nenek Kusumo bergantian, aku hampir tertawa mendengar ucapan nya yang benar sekali.
Badan Pak Erlangga memang sangat besar, ia memiliki tinggi 194cm, aku tidak bisa berbohong, bahwa pak Erlangga memang sangat tampan dan juga menawan, bagaikan dewa yunani pada zamannya. Jangan tanyakan mengapa aku bisa mengetahui hal itu, tinggi badan dan juga berat badan, bahkan ukuran dalaman nya saja aku tahu.
Seperti apa yang aku jelaskan, aku adalah seorang sekretaris yang dipekerjakan seperti seorang pembantu dalam segala hal. Di hari raya atau jika ada meeting dengan klien. Aku yang selalu memilih baju untuknya, dia hanya tinggal melemparkan uang nya saja kepadaku.
"Sudah selesai. Aku akan segera berangkat. Aleaa, ayo berangkat." titah nya dingin secara tiba-tiba. Terlalu sibuk memikirkannya, aku bahkan baru memasuki suapan kedua dalam bibirku.
"Angga, kalian kan pengantin baru. Kenapa harus bekerja sih?!" tanya ibu Kusumo kesal, sukurin tuh pak Angga, enggak ada belas kasih samasekali sama istri.
"Angga, pekerjaan hari ini biar papa yang handle. Kau harus persiapan untuk honeymoon besok pagi oke? Baiklah, makan pagi kita sudahi." ujar papa mertuaku setelah beranjak dari kursi. Semua orang pun pergi meninggalkan kita yang hanya tinggal berdua disini.
Pak Angga dan aku hanya diam saja dengan posisi yang masih terduduk, tiba-tiba saja Pak Angga mengubah posisi duduknya menjadi menyamping, menghadapku. Ia juga turut memutar pundakku agar menatap nya, aku menurut saja bagaikan boneka yang patuh terhadap perintah pemiliknya.
Kedua kakiku merapat dan dikurung oleh kedua kakinya yang berada di sisi masing-masing kedua pahaku, aku tidak menundukkan kepala malu ataupun takut, aku mendongak menatap nya yang sedang menatap ku. Singlet hitam yang mencetak jelas otot-otot pada tubuhnya yang menonjol di bagian yang pas, seharusnya membuatku terhipnotis. Tapi aku berusaha bersikap biasa saja, dengan rasa ketidak pedulian yang kutanamkan.