MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
08 : jantungku berdetak!



Jantungku berdetak lebih cepat.


Ia mendekatkan wajahnya ke arahku, hembusan nafasnya menerpa kulitku, kedua tangannya yang tadi berada di setir mobil, kini menahan kedua pundakku, agar terus menghadapnya.


Aku memejamkan mata, merasakan sapuan lembut di keningku, aku bisa merasakan bibirnya yang menempel cukup lama disana.


Hingga akhirnya abang, eh apa aku sudah memanggilnya abang? Abang menangkup kedua pipiku dengan tangannya yang kasar lalu membawa wajahku mendongak menatapnya.


“Ab--” bibirku yang baru saja ingin protes menghentikkan ini semua di hentikan oleh jari telunjuknya yang ia taruh diatas permukaan bibirku.


“Biarkan aku mencium mu Alea.. ” bisik nya lirih dengan mata teduh yang sangat tenang, ini kali pertama aku melihat tatapan nya yang sayu, karena biasanya ia hanya memasang wajah datar dengan mata elangnya yang tajam.


Aku mengangguk pelan, mata kita semakin berpadu, matanya sangat menatapku lekat, begitupun sebaliknya, aku juga menatap nya dalam. Seolah mencari kebohongan atas sikap manisnya kepadaku malam ini. Namun yang kudapati hanya tatapan lembut, yang membuatku terhanyut dan memejamkan kedua mataku.


Kurasakan usapan pada bahuku, walau terasa ringan, namun inilah kali pertama diriku merasa meremang karena sentuhan pria. Bibirku bergerak pelan, apalagi saat guncangan bibirnya mengobrak-abrik permukaan bibirku, lidahnya mulai bermain menukar saliva.


Tanganku refleks mengalung di lehernya, dia semakin menuntut didalam bibirku, pasokan udaraku mulai menipis, merasakan dirinya yang sangat lihai dalam bermain bibir. Wajahnya berlenggak miring, semakin mendorong wajahku untuk mendekat, aku menepuk-menepuk dada nya cepat, saat nafasku semakin terhimpit.


Ia menarik lepas pertemuan bibir kami, namun saat aku ingin menghirup udara lebih banyak, aku tidak dapat bernafas legah. Ia kembali membungkam bibirku, walau hanya sekilas. Abang segera melepaskan ciuman kami, jempolnya menari diatas permukaan bibirku yang basah.


“Terimakasih.” ucapnya dengan nafas tersenggal-senggal, ia kembali bersender pada senderan kursi mobil, sedangkan aku masih menunduk berusaha menghirup udara sebanyak-sebanyak nya.


Ku hempaskan punggungku lelah, baru seperti tadi saja aku sudah merasa lelah, bagaimana jika berlanjut pada tahap berikutnya? Oh astaga, pikiranmu sangat liar Aleaa..


30 menit kemudian.


Malam sudah semakin larut, aku menoleh kearahnya, aku menatap jalanan yang sepi dengan cemas, aku lihat tangannya mengacak rambut seolah frustasi, aku ingin bertanya, namun ia lebih dahulu memberi tahu.


“Kita tersesat Alea...” ucapnya lirih, mataku sontak membulat, sekarang sudah menjelang jam sembilan malam, namun jalanan ini sudah terlihat sangat sepi. Ia tersenyum tipis seoalah menenangkan ku.


“Lalu bagaimana abang?” tanyaku panik, menatap pandangan dari balik kaca mobil. Ia tidak menggubris ku, justru ia terkekeh pelan, seolah kecemasanku adalah sebuah candaan untuknya.


Namun setelah aku sadar, ia terkekeh bukan karena kecemasanku, namun karena bibirku yang baru saja memanggilnya abang. Segera kututup bibirku refleks, dia kembali terkekeh serta merta mengacak rambutku yang sudah mulai berantakan.


“Kita terlambat abang. Seharus kau tidak santai seperti ini. ” ucapku sedikit judes, sambil mencebikkan bibirku kesal, kudengar ia menghela nafas.


“Ayolah, jangan terlalu larut. Kau juga membawa masakan rumah kan. ” ucapnya membuatku jengkel. Aku mengangguk, lalu segera mengambil kotak bekal di jok belakang, melalui celah kursi diantara aku dan abang.


Aku menatap bekal itu dengan tak enak, aku hanya membawa telur, nasi, sosis, serta sambal, dengan sayur bayam. Hanya itu saja. Karena kupikir hanya aku yang akan memakan bekal sederhana ini. Abang tidak mungkin memakan bekal seperti ini, ia selalu memilah-milih terhadap apa yang ia rasakan.


“Cepatlah Aleaa, segera turun dari mobil.” titahnya sebelum berhasil menutup pintu mobil yang sekarang sudah tertutup.


Aku segera turun dengan bekal ditanganku, hanya ada satu kotak bekal disini, aku tidak tahu apakah akan cukup dengan porsi makannya, atau dia akan membiarkanku mati kelaparan dipinggir pantai malam ini.