MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
32 : pesta promnight cindy!



...Author point of view....


Angga mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, Cindy telah mengirim tempat lokasi promnight itu di berlangsung. Di sepanjang perjalanan tak hentinya Angga memikirkan Aleaa. Namun rasa kesal lebih mendominasinya saat ini.


Kurang lebih hanya 40 menit waktu yang di tempuh untuk Angga sampai pada tempat tujuan. Acara memanglah di isi oleh orang-orang kalangan remaja.


“Mas Angga!”


Seruan itu menyadarkan Angga saat setelah ia turun dari mobil. Cindy dengan dress ketatnya langsung memeluk lengan Angga erat.


“Ini acara reunian temen SMA mas, jadinya banyak teman-teman Cindy disini. ” jelas Cindy memberitahu, Angga hanya mengangguk meng iyakan.


Tak puas dengan jawaban Angga, Cindy masih ingin mencari perhatian untuknya. “Dulu Cindy enggak pernah dateng ke acara seperti ini mas, karena Cindy yang gapunya teman.. ” ujar Cindy memelaskan wajahnya sesedih mungkin.


Angga mengusap pundak terbuka milik Cindy, seolah memberikan perhatian dan rasa iba karena mendengar hal itu.


“Sekarang kan udah ada mas, jangan sedih lagi. ” ujar Angga lembut, Cindy mengangguk sambil tersenyum manis. Dalam hatinya ia merasa puas.


“Sekarang masuk yuk mas! Mau Cindy kenalin ke orang-orang dalem.. ” sungut Cindy semangat, Angga sedikit dibuat terhibur karena hal itu, hingga keduanya mulai berjalan memasuki acara yang sedang berlangsung.


Kerlap-kerlip gedung memeriahkan acara ini. Cindy terus mengenalkannya dengan para muda-mudi yang ternyata lebih dulu mengenal Angga sebagai salah satu pebisnis kelas kakap, yang terkenal dalam bidang properti.


“Eh Cindy!” panggilan asing terdengar secara tiba-tiba. Cindy sontak menoleh ke sumber suara. Ia sedikit melirik Angga yang tengah sibuk berbincang dengan teman-temannya.


Cindy menghampiri gadis itu, lalu segera memeluknya. “Cindy. Gue udah siapin obatnya. Lo tinggal kasih minuman ini aja, ke om-om yang lo bawa. ” bisik temannya itu sangat pelan.


Bukan tanpa alasan Cindy memeluk temannya, hal itu di lakukannya semata-mata hanya untuk melaksanakan rencananya, yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari.


Cindy mengambil alih dua gelas yang tadinya di pegang Cintya, teman karibnya. Cintya sangat tahu akan ketertarikan Cindy, pada anak dari majikannya, Angga. Hingga ia berusaha juga untuk membuat Cindy merasa senang.


Lalu setelah mengambil minuman itu Cindy berjalan kembali menghampiri Angga. Minuman itu terlihat berwarna kuning, karena memang pada dasarnya, minuman itu adalah sebuah air jeruk asli yang sudah di bumbuhi sebuah serbuk.


“Mas, minum dulu nih.” tawar Cindy menyodorkan satu gelas berisikan serbuk itu.


Tanpa ada ragu sedikit pun Angga menerimanya, lalu meneguknya habis-habis dalam sekali tegukan. Cindy tersenyum puas secara diam-diam, ia lalu menerima gelas bekas Angga minum tadi, dan meletakkan di sebuah meja bundar.


“Waah Cindy, hebat banget ya kamu bisa bawa Pak Angga kesini. Secara dia kan udah menikah, pasti istrinya humble sama low profile banget ya, bisa ngizinin suaminya pergi nemenin anak dari pembantunya sendiri.”


Ucapan yang terdengar santai itu, berhasil menampar jiwa Cindy saat ini juga. Perkataan dari salah satu temannya, dapat membuat Cindy terdiam seribu bahasa.


“Iya yah, jadi pengen juga nih buat ketemu istrinya Pak Angga. Pasti baik banget ya. ” pujian itu terdengar lagi, namun dari bibir yang berbeda.


Cindy mengepalkan tangannya marah, namun yang ia bisa lakukan sekarang hanya diam dan pasrah. Angga yang menyadari nama istrinya di sebut-sebut, tersenyum ramah, di antara kesadarannya yang mulai setengah menghilang.


Angga memijat pangkal hidungnya. Rasa pening menyergap kepalanya secara spontan, apalagi dengan rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


Cindy tersenyum miring, ia langsung memapah tubuh Angga pelan-pelan. Berusaha terlihat biasa saja, agar tidak menimbulkan rasa curiga pada orang-orang di sekitarnya.


Tubuh Angga sangat berat, untung saja pria itu masih bisa berjalan walau dengan bantuan Cindy. Cindy berusaha memasukkan Angga ke jok belakang. Namun Angga segera menahannya.


Mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Angga sontak membuat Cindy terkejut dalam sekejap. Apalagi tubuhnya yang terhuyung ke belakang karena hempasan dari tangan Angga yang berhasil menolak untuk ia sentuh lebih jauh lagi.


Hal itu menjadi perhatian untuk beberapa pasang mata, melihat keributan yang di buat oleh Cindy. Beberapa kamera berhasil menangkap pergerakan mereka berdua.


Dari awal Angga di papah sampai parkiran, hingga tubuh Cindy yang terdorong karena hempasan kasar tangan Angga. Cindy tak kehabisan akal, ia masih berusaha untuk memasuki jok mobil di samping Angga. Namun,


TIN.


TIN.


Klakson mobil Angga mengagetkan Cindy. Hingga akhirnya tubuh Cindy tersungkur jatuh, karena rasa kagetnya sendiri. Cindy menggeram kesal, saat mobil itu berjalan meninggalkannya. Meninggalkan Cindy dengan rasa sakit dan malu, yang tercampur menjadi satu.


...Author point of view off....


...★★★...


Brukk.


Untuk yang kedua kalinya aku mendengar bantingan pintu yang di buka dengan sangat keras. Tidurku yang tadinya mula tenan, untuk melupakan sikap kasar abang terhadapku, kini menjadi terganggu.


Rasanya seperti mimpi di malam hari. Aku terbangun dari tidurku, merasakan panggilan-panggilan dari sesosok manusia yang paling ku kenali di muka bumi ini.


“Aleaa.”


“Leaa...”


“Cintaku..”


Aku bergidik ngeri. Memangnya siapa lagi jika bukan suara abang. Namun yang membuat perasaan ngeriku kian bertambah, saat tubuhku mulai berbalik hingga menangkap pergerakannya.


Astaga. Abang sangat kacau! Benar-benar kacau.


Aku terjangkit kaget. Langsung saja ku bangunkan tubuhku, hingga kakiku menyentuh dinginnya lantai tanpa mengenakkan sendal tidur yang berada di bawah ranjang. Belum sempat aku meraihnya, abang sudah menubrukku keras.


Aku mencium bau alkohol pada jaket yang ia kenakan. Rasanya sangat aneh jika melihat dirinya seperti ini. Namun di bandingkan rasa aneh itu, rasa sesak lebih menghantuiku. Karena abang yang telah mabuk tepat di hari aku di nyatakan hamil.


Sekalinya bejat. Memanglah bejat. Abang yang ku kira sudah berubah, dan mencintaiku sepenuh hati. Ternyata hanya menjadikanku pemuas nafsu batinnya saja.


Mengapa aku bilang begitu?


Memangnya pernyataan apa lagi yang pas untuk seorang wanita yang selalu saja ia sentuh, namun tak di biarkan hamil olehnya. Yang padahal dia adalah suamiku sendiri.


Abang memang gila.


Leaa benci abang.