MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
40 : abang kalau marah ngeri!



...Author point of view....


Angga membuka kedua kelopak matanya perlahan. Ia merengganggkan otot-otot tangannya yang terasa kaku. Dalam posisi duduk di atas ranjang, ia sudah menyadari bahwa Aleaa tidak ada di sampingnya. Ia yakin bahwa Aleaa sedang merajuk padanya. Istrinya pasti ngambek' karena kejadian semalam.


“Melakukan dengan istri sendiri ini, aku tidak bersalah dong. ” ujar Angga ber monolog, membela dirinya sendiri. Meyakinkan bahwa yang ia lakukan tadi malam tidaklah salah.


Walau hati kecilnya kini cemas. Tapi Angga terlalu gengsi untuk menunjukkan hal itu, bagaimana nanti jika istrinya sedang bersama sang Nenek, atau Ibunya? Bisa gawat Angga di berikan petuah lagi.


Di hari minggu ini Angga lebih memilih untuk ber olahraga keliling komplek dari pada harus gym di luar, tau pun di rumahnya. Karena Angga sendiri memang ingin mencari udara segar, sambil melakukan jogging. Sepertinya akan seru, pikirnya.


Angga tidak mandi terlebih dahulu, ia hanya mengguyur badannya asal, lalu memakai parfum. Setelan olahraga santai sudah ia kenakan. Tanpa mencari keberadaan Aleaa pun Angga sudah tahu jika istrinya berada di kolam renang. Menemani ibunya disana, yang tentu saja sedang berenang.


“Suit, Suit.”


“Istri.” panggil Angga berupa siulan pada awalnya. Dari pintu kaca, ia baru saja datang dan berdiri tak jauh dari tempat Aleaa berada.


Mata Angga membulat, ia langsung berlari menghampiri Aleaa yang ternyata sudah masuk ke dalam air. Ia pikir Aleaa hanya menemani ibunya, tapi ternyata Angga salah.


“Leaa! Cepat naik!” seru Angga gusar, ia menjulurkan tangannya berusaha menggapai tubuh Aleaa, walau tidak bisa.


“Ini masih pagi Leaa!” Angga melotot marah, Aleaa terkikik geli melihat hal itu, ia langsung mendekat pada posisi Angga.


Semakin dekat, Angga semakin gusar saja. Apalagi melihat istrinya yang memakai bikini. “Ibu! Aleaa kenapa di ajarkan seperti ini sih?! Kalo ada yang lihat bagaimana?! ” tanya Angga frustasi.


Angga mengelilingi pandangannya kesal, namun ia sedikit lega, walau masih marah. Angga mengambil jubah mandi yang di gantung pada dinding, ia sampirkan benda itu di pundaknya.


“Tidak bisa naiknya abaang.” rengek Aleaa sambil merentangkan kedua tangannya ke depan.



Angga mendelik sebal, “Turunnya saja kau bisa Leaa. Masa naiknya tidak bisa!” jawab Angga tajam, Aleaa mengerucutkan bibirnya kesal.


“Suami mu memang tidak romantis Leaa. ” celetuk Bu Kusumo di ujung kolam, Aleaa semakin menekuk wajahnya saat Angga tidak berusaha membantunya ke luar.


Akhirnya Aleaa menggeser sedikit posisinya, ia menaiki tiga tangga untuk naik ke atas. Angga menghela nafas, pada akhirnya ia coba me nge nyampingkan egonya.


Angga mengangkat masing-masing ketiak Aleaa. Ketika kaki Aleaa sudah menyentuh lantai, Angga langsung memakaikan jubah mandi itu dengan cepat. Aleaa hanya menurut saja, karena tahu Angga sedang kesal.


“Ayo, cepat ke atas.” titah Angga galak, sambil mengambil aba-aba untuk berjalan duluan meninggalkan Aleaa.


“Licin abang, liciin.” ujar Aleaa gregetan. Angga menghembuskan nafasnya sabar, ia langsung membalikkan tubuhnya lagi.


“Siapa suruh kau berenang pagi-pagi begini, memakai bikini pula!” ujar Angga sambil mengangkat tubuh Aleaa ke dalam gendongannya.


Aleaa refleks mengalungkan tangannya pada leher Angga, “Abang ini marah-marah mulu sih. Cepet tua nanti tahu.” gerutu Aleaa kesal.


“Lagi pula pasti abang sering melihat wanita-wanita seksi! Malah lebih seksi dari pakaian Leaa sekarang.” ujar Aleaa merasa cemburu, dengan ucapannya sendiri.


“Abang tidak bilang mereka seksi ya. Leaa sendiri yang bilang. Jadi jangan marah pada abang.” ujar Angga mengingatkan, sambil menurunkan Aleaa di dalam bathtub.


Aleaa memajukkan bibirnya beberpaa senti, “Leaa tidak boleh berpakaian seperti itu, kepada siapa pun. Hanya abang yang boleh melihatnya. Untung di sana hanya ada kau dan ibu.” alis Angga bertaut, pandangannya sangat mengunci mata Aleaa.


Aleaa mengangguk lesu, “Iya abang, Leaa minta maaf.” ujar Aleaa pasrah, Angga tersenyum kecil, ia mengecup kening Aleaa lembut.


“Good wife.”


------------


Beberapa hari setelah di kamar mandi. Aleaa sibuk merapihkan barang yang sudah ia beli sejak beberapa jam yang lalu. Kini dirinya sibuk membuka paper bag satu persatu. Suaminya masih berada di kantor sekarang, karena waktu pun masih menunjukkan pukul 2 siang.


We don't talk anymore~


Aleaa melirik ponselnya yang berbunyi di atas nakas. Ia mengambil ponsel itu, lalu tersenyum saat tahu siapa yang menghubunginya.


abang pemarah.


“Haloo abaang!” pekik Aleaa penuh semangat.


“Halo istri abang yang baru saja menghabiskan uang satu milyar dalam dua jam.” saut Angga dengan nada penuh kelembutan, yang di buat-buat.


Angga menahan kekesalannya, saat melihat banyak tagihan masuk kedalam kartunya. Aleaa memang belum pernah belanja ketika bersamanya, namun  sekalinya ia belanja, dapat membuat Angga menggelengkan wajahnya sabar.


“Hehehe... Abisnya Mama bilang kalau belanja itu sepuasnya. Soalnya abang kan bekerja untuk istri juga..” ujar Aleaa berusaha merayu, meredakan emosi Angga yang pasti sedang pria itu tahan.


“Baiklah, terserah dirimu saja. Tapi awas saja jika abang pulang nanti, melihat barang yang kau beli tak dapat digunakkan.” titah Angga memberi peringatan, Aleaa langsung mengangguk refleks, walau tau Angga tidak dapat melihatnya.


“Siap abang!”


Setelah sambungan terputus, Aleaa langsung mengecek satu-satu barang yang ia beli. Berupa tas, jam tangan, pakaian, serta skincare ibu hamil dan yang lainnya. Ia tiba-tiba saja merasa panik, jikalau ada salah satu barang yang ia beli tidak dapat digunakan.


Membayangkan wajah marah suaminya saja, dapat membuat Aleaa bergidik ngeri. Apalagi jika Angga bener-benar marah padanya. Uuhh, Aleaa menjadi merinding membayangkan nya.


...Author point of view off....



Mimik wajah Aleaa setelah habis ngabisin uang abang. Senyum lebar yang sangat menawan di mata Angga. Istrinya kelas banget ya bang.