
...ERLANGGA KUSUMO....
Indonesia, 27 mei, 2019.
Temaramnya lampu diskotik sangat membuat suasana kelab malam ini begitu seru. Untukku. Bagiku yang memang sangat menyukai pesta malam. Semuanya berjoget ria, bersama dengan pasangan masing-masing yang entah itu pasangan satu malam, atau memang pasangan setiap malam.
Penatnya pekerjaan di kantor, sangat membuatku hampir gila. Belum lagi harus berpergian ke sana kemari mengerjakan suatu proyek besar. Di tambah pagi tadi, sekretarisku mengundurkan diri karena sikapku, yang katanya sangat disiplin. Membuat dirinya tak kuat dan memilih menyerah dari melakukan banyak tugas yang masih menumpuk.
Kalau disiplin begini saja aku sudah hampir gila, bagaimana memiliki sikap seperti ayahku, yang hampir 24 jam memang selalu berada di kantor. Membayangkannya saja aku ogah. Lebih baik mencari perempuan. Menghabiskannya di atas ranjang, dalam satu malam. Lalu kembali bekerja, dengan stamina dan energi yang kembali terisi penuh.
Terdapat banyak wanita di sini. Dan semuanya memang menggiurkan. Namun fokusku terhalang oleh sesosok wanita katrok? ---- Ehh, dia sepertinya masih gadis. Remaja. Atau gadis yang baru beranjak dewasa. Dengan pakaian feminimnya, ala jaman dulu. Jeans kebesaran, dengan kaus oblong yang di masukkan ke dalam celana.
Astaga, siapa yang ke tempat seperti ini, dengan pakaian seperti itu. Melihat wajahnya yang tampak linglung saja, membuatku tak segan-segan menahan tawa akibat wajah cengoknya yang seolah sedang terkejut. Akibat baru pertama kalinya ke tempat-tempat jahannam seperti ini.
Ku beranikan diriku untuk menemuinya, wajahnya lebih khas dari wajah-wajah lokal yang lain. Dia seperti wanita-wanita blesteran di tengah diskotik ini. Kulihat Gerak geriknya memanglah sangat kaku, berbeda dengan satu wanita yang sedang berlanggak lenggok di sampingnya. Saat suasana semakin sepi, aku masih saja memperhatikannya. Bahkan kulupakan niatku untuk bermain wanita malam ini. Hanya untuk melihat wajahnya saja.
Ku cengkram tangannya langsung, seperti orang jahat yang memang sangat sok akrab dengannya. Dia langsung merentak kaget karena terkejut. Matanya yang berwarna safir, membuat sudut bibirku tertarik tanpa sengaja. Wanita ini seperti memiliki magnet tersendiri dalam diriku.
“Apa-apaan sih Pak! Saya gak kenal Bapak! ” serunya tak terima, masih kugenggam pergelangan tangannya sedikit kuat.
“Bapak bapak aja, kamu pikir saya bapak kamu?! ” balasku lebih tak terima, namun hanya ingin memancingnya agar tetap berbicara padaku saja.
Ide jail muncul dalam benakku, untuk menjadikan wanita di hadapanku sebagai sekretaris pengganti sekretaris lamaku. Lagipula, lewat tatapan matanya saja aku dapat menilai, bahwa dia adalah wanita kerja keras dan dapat di andalkan.
“Saya mau kamu bantu saya! Saya butuh sekretaris dua puluh empat jam. ”
“Bapak ini sinting ya? Ngelamar kerja aja saya enggak! Masa main kerja-kerja aja. ”
“Terserah kamu. Saya gak peduli. Ini kartu kerja saya. ”
Ku selipkan kartu itu lewat kantong bajunya. Mata wanita itu membulat. Aku tahu dia mengumpatku dengan serangkaian kata-kata beraninya. Langsung saja ku melenggang pergi menjauhi kelab. Moodku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, hanya dengan melihatnya saja. Seolah peka terhadap matanya, aku merasa dia adalah wanita yang nanti akan mendampingiku di masa depan. Duduk bersamaku di pelaminan.
Indonesia, 27 agustus, 2019.
Sudah lewat empat bulan wanita bernama Aleaa itu akhirnya bekerja. Sikapnya sangat acuh tak acuh padaku. Matanya sering menyalang tajam walau tak berani ia tunjukkan secara gamblang di hadapanku. Aleaa benar-benar anak yang cermat dan aktif, umurnya baru 19 saat ini. Masih terbilang sangat muda dan tidak berpengalaman.
“Terimakasih Pak bos!” ucapnya sambil membuka pintu mobil, ketika mobilku sudah masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
Aku tidak tersenyum sama sekali, membuatnya sedikit manyun tak terima. Namun aku tidak peduli, karena ku pikir, sikap yang kutunjukkan memang sudah menyatakan bahwa aku tertarik padanya. Tapi lagi-lagi, dia adalah wanita paling ter tidak peka seumur hidupku.
Esoknya aku kembali bekerja, namun saat siang sudah menjelang, kuhabiskan waktuku untuk makan siang di dalam ruangan, dengan bekal dari Aleaa, yang kuyakini adalah nasi padang dari deretan ruko tak jauh dari kantorku. Sedangkan Aleaa, ia selalu bersi keras makan siang dengan para staff yang lain di kantin kantor. Dan ya, aku tak berusaha membujuknya untuk makan bersamaku, karena rasa gengsi yang kumiliki.
Hingga hari-hari lain mulai berlalu, tahun pun sudah berganti, di januari 2020 kali ini, Aleaa berulang tahun yang ke dua puluh tahun. Dan aku berusaha untuk membuatkan kejutan untuknya. Dengan membelikannya beberapa dress dari butik milik tanteku. Yang pastinya seharga berkali-kali lipat dari gajinya sekarang.
Malam pun tiba, aku menunggunya untuk membuka pintu dari rumah sepi yang hanya di tempatinya sendiri. Inilah sekian dari banyak alasan, yang membuatku tertarik dengan Aleaa. Mandiri. Aleaa adalah gadis yang mandiri. Dia benar-benar mengerjakan apapun sendiri. Tanpa sering mengeluh, dan merengek lelah.
“Pak bos!” pekiknya girang, melihatku berdiri di depan pintu dengan paper bag di tangan.
Aku hanya duduk di luar rumahnya, atas permintaan Aleaa, yang tak ingin membuat para tetangganya curiga dan memikirkan hal yang tidak-tidak.
“Pak bos kenapa jadi baik begini sih.” ujarnya sambil meletakkan beberapa cemilan dan kopi hitam di atas meja, pembatas antara kami.
“Aku selalu baik denganmu, bodoh. Kau saja yang terlalu cuek. ” ucap batinku merasa kesal.
Obrolan pun mulai mengalir, tawaku yang tak pernah ku keluarkan setelah beranjak dewasa, kini dengan mudahnya lepas dan menjadi jail, untuk membuatnya merasa kesal. Aleaa, aku benar-benar bahagia, bisa mengenalmu untuk sekarang. Karena di masa depan, aku yakin sekali, kau bisa ku genggam.
Dering pesan masuk, membuatku segera mengeceknya. Jantungku berpacu lebih cepat, saat Nenekku mengabari, bahwa suaminya yang berarti Kakekku, semakin bertambah parah kesehatannya. Langsung saja ku pamit pada Aleaa, ku larang dirinya yang ingin ikut, karena sudah larut malam.
Mobilku berpacu cepat membelah jalanan. Saat setelah sampai, aku langsung menunduk kaku, melihat kesehatannya yang tidak stabil. Jika sudah seperti ini, berarti sudah waktunya untukku segera menikah. 27 tahun. Umurku genap dua puluh enam tahun bulan depan.
Di kantor, aku mulai runyam esok harinya, aku berusaha memancing Aleaa untuk membahas soal pernikahan, yang ia impikan. Berawal dari selesainya meeting hari ini, dan dia pun masih berada di ruangan ku.
“Ehm. ”
“Pak bos membutuhkan sesuatu?”
“Tidak, aku hanya ingin menikah saja.”
“Whaatt??! Pak bos ini gila ya?”
“Tutup mulutmu, Leaa. Kau ini sedang bersama bos, atau temanmu sih. ”
“Saya kan kaget Pak bos.”
Kami terdiam sejenak, aku juga membiarkannya untuk berpikir terlebih dahulu, sebelum akhirnya aku menanyakan hal ini.
“Kira-kira kapan kau ingin menikah? Dan seperti apa tipe laki-laki yang mau menerima segala kekuranganmu? ” kurasa ia tersinggung dengan pertanyaanku, buktinya saja Aleaa membesarkan matanya tak terima.
“Tentu saja laki-laki baik hati. Lelaki yang tidak sombong, matang, dan seumuran denganku, Pak bos. Badannya tidak boleh besar seperti Pak bos.” aku mendelik kesal, Aleaa mulai menunjukkan kalimat-kalimat sindirannya.
“Memangnya siapa laki-laki itu? Yang begitu sempurna di matamu. ” tanyaku mulai terpancing sendiri, ia menyipitkan matanya menatapku.
“Tidak perlu sempurna. Asal ia harus satu tingkat derajatnya di atas ku.” aku tersenyum puas, dalam hatiku, bukan di hadapannya secara langsung. Tapi saat ia mulai melanjutkan ucapannya...
“Tapi, dia harus sederhana dan tidak boleh bermain-main wanita dari sebelum dirinya bersamaku! Karena aku seorang gadis, aku juga ingin mendapatkan pria yang masih menjaga miliknya hanya untukku Pak bos!” aku langsung tertohok seketika, padahal Aleaa berucap begitu datar dan biasa saja. Seolah sedang bercerita.
Kalimat-kalimat itulah yang membuatku mundur, dan sadar diri. Untuk menyesuaikan diriku yang sering bermain dengan banyak wanita dulunya. Dengan kalimat itu juga, aku mulai menjaga jarak dengan Aleaa, memberikannya banyak tugas di luar jam kerja, agar kami tidak sering-sering bertemu.
Aku tahu Aleaa kesal dan gerah dengan sikapku, namun mau bagaimana lagi, ini untuk kesehatan hatiku juga, agar tidak lagi mengejarnya. Aku memilih wanita yang sudah kenal denganku sejak lama, dia langsung menyetujuinya, tiga bulan sebelum kami nantinya resmi menikah, di bulan mei tanggal 27 nanti. Hubunganku dengannya masih biasa-biasa saja, hanya saja dia yang lebih menempel erat denganku.
Ketika hari H sudah di mulai, terdapat ketegangan sendiri terhadap perasaanku. Aku harus menikah dengan sesosok wanita yang tak ku cintai sama sekali, dan harus di saksikan oleh wanita yang ku cintai, padahal ia sendiri masih lah lajang.
“Angga! Pengantinmu kabur! ”
Tiga kalimat itulah yang mengubah semuanya. Secara cepat dan tak terkira, aku langsung membujuk ibuku untuk menerima bahwa dia memanglah bukan jodoh untukku. Secara cekatan juga, aku membujuk ibu dengan terang-terangan, untuk menggantikan wanita itu, dengan Aleaa, sekretarisku.
“Pak bos, apa yang terjadi? Mengapa harus aku?! ” aku tahu Aleaa ingin menangis, namun segera ia tahan, aku meneguk ludahku kasar, aku langsung meyakinkannya sambil memegang satu pundaknya kuat.
“Aleaa, kita bisa memulai kehidupan yang baru, hanya kau, dan aku. ” yakinku tegas, aku tahu berat rasanya untuk Aleaa menerima ini. Namun ia segera mengangguk mantap. Menggantikan pengantin yang kabur itu dengan dirinya, di hari pernikahanku.
Perjalanan cinta kita memang tidak mudah Aleaa. Banyak sekali kerikil yang menghalangi jalan kita. Namun dengan seluruh kasih dan cinta yang kita miliki. Abang yakin, bahwa kita memang bisa melewatinya. Hingga saat ini, abang sedang menunggumu di luar ruang persalinan, dengan perasaan cemas yang membuncah.
Menunggu kelahiran anak pertama kita.
#AUTHOR : Insting Angga berarti kuat ya bunda-bunda. Dia bilang kalo Aleaa yang bakal jadi pendamping hidupnya di masa depan, dan ternyata emang bener. Aleaa lah yang jadi istri Angga di masa depan.