MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
48 : keributan antar tetangga!



Aku turun ke bawah ingin segera bertemu Mama beserta Nenek, tapi ternyata di bawah kosong, hanya ada para ART yang sedang membersihkan rumah. Langsung saja aku tanyakan keberadaan Ibu Mertuaku pada mereka.


“Bi, Mama kemana?” tanyaku sambil berhenti sejenak di dekat ruang utama.


“Ohh itu, Nyonya lagi pergi ke luar sebentar katanya. Dia mau bikin kue, jadinya lagi beli banyak bahan-bahan di supermarket.” jawab bibi sopan, aku mengangguk sambil tersenyum.


“Yasudah, terimakasih ya bik.” pamitku sebelum melenggang pergi, aku diam-diam menuju tempat abang biasanya menaruh mobil. Kunci tinggal aku minta saja ke mang Ujang.


Setelah berhasil mengambil kunci, aku langsung memasuki mobil range rover milik abang, karena hanya mobil itu lah yang tidak terlalu besar di bandingkan yang lain.


Aku taruh ponsel abang di dalam tas yang ku bawa, tas ku taruh di bagian jok belakang. Sedangkan dompet abang yang berisi banyak nilai rupiah ku taruh di samping jok mobil bagian depan. Tepat di sampingku.


Ngomong-ngomong, aku memiliki kemampuan untuk mengendarai mobil sejak saat sekolah menengah ke atas. Karena dulu sering menjadi supir bagi teman-teman perempuanku, ketika mau bermain. Lumayan karena mereka akan membayar ku dengan uang. Walau jumlahnya sangat sedikit.


“Itu kok ribut-ribut sih? Kenapa?” tanyaku bingung, baru saja sampai seperempat jalan, tapi sudah ada Ibu-ibu ramai di ujung sana.


Hanya ada dua Ibu-ibu saja, mereka sedang bertengkar, otomatis aku menghampiri mereka, bukan mau sok ikut campur, tapi memang kita ini mahluk sosial, harus saling peduli tanpa di minta.


“Kamu itu yang pelakor! Kamu pikir saya gak tau?! Hubungan kamu sama suami saya apa!”


Seruan itu mengagetkanku, Ibu-ibu menjambak lawannya. Lawannya benar-benar menangis, aku bingung dimana etika malu mereka. Ribut di jalanan seperti ini. Tapi yang langsung saja membuatku bergerak turun, melihat anak kecil yang menangis kejer memeluk erat perut ibunya.


“DASAR *****! ENAK KAMU TINGGAL DISINI! KOMPLEK MAHAL SAMA SUAMI SAYA! KAMU PIKIR SAYA GAK TAU ASAL MUASAL KAMU! ”


Aku ingin bergegas memanggil ketua RT saja. Itu lah sebutannya. Apa mungkin akan berbeda, jika di komplek sini. Aku tidak tahu.


Plakk.


Sebelum aku berlari, keributan semakin besar saja, Ibu-ibu juga sudah ada yang berkumpul ingin memisahkan. Aku pun juga bergerak untuk menarik anak kecil itu untuk tidak berada di kerumunan. Saat setelah sudah mengamankan anak kecil itu untuk duduk di atas bangku halaman depan rumah yang sedang terjadi keributan, aku kembali lagi menghampiri mereka.


“Ibu, lebih baik di selesaikan di dalam saja. Atau kalau perlu kita selesaikan dengan Ibu-ibu di sini. Tapi jangan pakai kekerasan.” ucapku sambil menahan tangan salah satu ibu, yang tadi sempat menampar lawannya.


“Halaahh! Dia ini pelakor gak tahu diri! Suami orang di rebut! Mana pakek punya anak segala lagi!” seru Ibu itu sambil menunjuk-nunjuk lawannya.


“Kalau seperti ini tidak akan selesai bu, lebih baik selesaikan di dalam saja. Agar tidak memancing keributan dari komplek tetangga.” ujarku lagi, Ibu-ibu yang lain mengangguk, dan memisahkan mereka berdua.


“HALAH! JANGAN BERISIK KAMU! MENDING URUS SUAMI KAMU AJA, YANG JUGA LAGI SELINGKUH! JANGAN SAMPE LENGAH JADI PEREMPUAN, MASA SUAMI LAGI SELINGKUH, MALAH NGURUSIN PERSELINGKUHAN SUAMI ORANG!”


Suara itu mengagetkanku, ternyata ibu-ibu itu lagi yang bersuara, entah namanya siapa, aku tidak pernah melihatnya saat arisan juga. Aku tidak paham, suami selingkuh? Maksudnya apa. Bukankah abang sudah bilang ke Aleaa, atas kejadian yang sebenarnya. Lalu kali ini perselingkuhan yang mana lagi.


“Hahaha! Kamu gak sadar ya?! Kamu di selingkuhin! Makanya jadi istri jangan cuman liat uang suami aja! Liat tuh berita!”


Sentaknya kuat, sambil melemparkan tatapannya pada mobil abang yang berada tak jauh dari tempat kejadian.


Ternyata itu adalah istri dari kepala komplek sini. Akhirnya semua bungkam, aku pun juga mulai pusing, karena cuaca yang panas dan keributan di sini. Niat awalku ingin mendekor suatu tempat, untuk ulang tahun abang yang tinggal seminggu lagi. Namun sepertinya urung, karena aku lebih dulu lelah.


Aku pun berbalik ingin meninggalkan, melihat situasi yang mulai adem. Tapi tiba-tiba saja, ibu-ibu itu menghampiri anak kecil yang tadi ku suruh duduk di atas kursi halaman terlebih dahulu. Sapu itu melayang-layang di angin, aku berlari dan langsung ingin menahan ibu-ibu itu.


Yang lain belum menyadari karena mau membawa wanita yang tadi di amuki menjauh memasuki rumah, aku langsung saja menahan tangannya.


“BU! SADAR BU! DIA ANAK KECIL GAK TAU APA-APA!” seruku berusaha menahannya.


Bukannya berhenti, ia semakin menjadi. Mataku terpejam refleks, merasakan kepala belakangku berdenyut. Semuanya seperti berputar, tidak menimbulkan suara apapun, namun sangat terasa nyut-nyutan.


“Bu Aleaa!”


Pekikan panik itu, terdengar jelas di telingaku. Anak kecil yang tadinya duduk sambil menangis, kini berlari memeluk ibunya. Tanganku melayang, aku memegang kepala belakangku pusing.


“Bu Aleaa! Cepat panggilkan Keluarga Kusumo!” seruan itu lagi-lagi terdengar.


Jika tadi mereka sedang berjalan masuk ke dalam rumah ibu-ibu itu, kini mereka berlari menghampiriku. Bahuku terguncang, karena sudah ada Bu Reino yang menahan pundakku agar tak terjatuh.


Kesadaranku kian menipis, hatiku terus merapalkan doa agar tidak terjadi apa-apa pada bayiku. Aku membayangkan wajah marah abang ketika sedang menasehatiku. Aku merasa takut jika abang akan marah setelah ini. Aku tidak sanggup jika harus mendengar seruan marah abang lagi.


“Bu Kusumo! Aleaa pingsan bu! Mau saya bawa ke rumah sakit ya bu! ”


“YAAMPUN! KALIAN LAGI DIMANA?! LANGSUNG BAWA KE RUMAH SAKIT AJA BU. SEKARANG SAYA OTW YA. JANGAN LUPA PANGGILKAN ANGGA.” pekikkan itu terdengar, aku yakin bahwa ini adalah Mama Mertuaku.


“Duh Bu, saya ga berani.” ringisan salah satu Ibu yang sedang bertelfonan dengan Mama, membuat keningku menyeringit. Memangnya apa yang perlu di takutkan?


“Bu Era. Anak saya bukan monster yang perlu di takutin!” seru Mama terdengar sedikit kesal, namun ia masih tetap melembutkan suaranya, yang ku yakin untuk menjaga perasaan dari lawan telfonnya.


“B-baik bu.”


Astaga, sebegitu menakutkan nya kah abang di mata orang? Hingga ibu-ibu itu saja takut untuk menghubungi nya. Tapi aku masih penasaran, perselingkuhan apa? Apa maksud ucapan ibu-ibu yang menjadi biang kerok tadi.


...★★★...



#AUTHOR : gimana ga takut, suamimu aja bentukannya begini Leaa. Abang pasti bakal marah banget tau kamu di giniin sama orang lain.


Btw kalian udah baca sampai sini aja, tulis pesan untuk Abang yuk di kolom komentar!