
...Author point of view....
Bu Kusumo hanya menahan tawa gelinya yang ingin keluar melihat tingkah konyol pasutri baru di hadapannya. Bu Kusumo mencolek pundak Dokter di sampingnya, memberikan dokter itu instruksi agar segera memberitahu keadaan Aleaa yang sebenarnya.
Aleaa mengerutkan keningnya, ia menjadi was-was sendiri terhadap kesehatannya, apalagi menyadari suasana yang sedanv sangat mencekam. Berbeda dengan Angga yang sudah melotot gusar, padahal belum ada kabar apapun tentang Aleaa.
“Uuh! Kalau Leaa benar-benat sakit bagaimana?! Ya tuhan... Leaa baru merasakan jatuh cinta pada abang, tolong jangan mengambil apa-apa lagi dalam hidup Leaa.” doa Leaa dalam hatinya bersungguh-sungguh.
Telapak tangannya masih berada di mulut Angga, mengunci mulut ajaib suaminya untuk tidak terus berbicara hal-hal vulgar.
“Sebenarnya,”
Suasana berubah mencekam, saat Dokter wanita itu, menggantungkan ucapannya. Wajah Aleaa berubah pias saat gerakan bibir dokter itu sangat lah lambat.
Angga tak kalah cemasnya dengan Aleaa, ia sangat khawatir pada kondisi Aleaa saat ini. Namun ia berusaha menutupinya dengan celetukannya yang berbau vulgar, agar dapat mengalihkan suasana hati istrinya, untuk tidak terlalu cemas.
“Sebenarnya anda sedang hamil Ibu Aleaa. Usia kandungannya baru dua minggu.” ujar dokter itu tersenyum lembut, bersamaan dengan Bu Kusumo yang juga tersenyum lebar.
Aleaa mengerjap-ngerjapkan matanya, tangannya yang tadi mengunci mulut Angga, kini perlahan mulai terlepas. Dengan begitu kaku, Aleaa menyentuh perutnya yang masih datar.
Perlahan senyum mulai terbit dari bibirnya yang terbuka. Alea sungguh tercengang. “Aleaa 'isi abaaangg!! ” pekik Aleaa senang, ia langsung memeluk leher Angga penuh semangat. Hingga tubuh kaku itu sedikit terhuyung.
Aleaa memeluk leher suaminya tanpa segan, ia membenamkan wajahnya pada leher Angga. Namun seperkian detik kemudian Aleaa langsung turun dari atas ranjang, menghampiri ibu mertunya lalu memeluknya hangat.
“Selamat berbahagia Menantu Ibuu.. ” seru Bu Kusumo sengaja memanjangkan nadanya, saat setelah pelukan itu terurai, Bu Kusumo mengusap kedua pipi Aleaa gemas.
Air mata mengalir tanpa izin pada sudut matanya yang terdapat tanda penuaan. Yaitu keriput. Namun segera Bu Kusumo hapus dengan mengusapnya. Aleaa ikut tersenyum merasakan bahwa ibu mertuanya, turut bahagia akan kehamilannya.
“Mulai hari ini Ibu akan terus mendatangi acara amal untuk tetap mendoakanmu Aleaa! Pokoknya ibu harus meminta banyak doa agar kandunganmu tetap selalu kuat dan sehat!” seru Bu Kusumo penuh semangat, ia mengguncangkan pelan pipi menantunya.
Aleaa mengangguk terharu, merasakan kasih sayang yang diberikan oleh ibu mertunya. Ia hampir lupa dengan Angga, hingga akhirnya mata Aleaa tertegun. Saat melihat Angga masih terdiam di atas ranjang.
“Angga! Ternyata kamu tokcer juga ya. Baru sebulan menikah Aleaa sudah dibikin melendung aja!” seruan itu yang akhirnya menyadarkan Angga.
Bu Kusumo memeluk anaknya erat, Angga pun juga turut membalas pelukan sang ibu, walau dengan kikuk. Akhirnya Dokter dan Bu Kusumo pun keluar dari kamar. Meninggalkan kedua mahluk tuhan yang saling mencintai itu, masih saling terdiam.
Aleaa berusaha mencairkan suasana, ia beringsut mendekati Angga di atas ranjang, lalu Aleaa memposisikan dirinya untuk duduk berpangku di atas kedua paha Angga. Kedua telapak kaki Angga masih menjuntai menyentuh dinginnya lantai. Se dingin tatapan matanya saat ini.
“Abang- ” ucapan Aleaa terpotong, saat Angga lebih dulu menurunkan tubuhnya dari atas pangkuan pria itu.
Aleaa menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya barusan. Angga berjalan menuju laci, ia membuka laci paling atas, lalu mengambil sebotol obat ber warna putih. Aleaa menahan nafasnya saat Angga berjalan ke arahnya.
Refleks Aleaa menutup mulutnya terkejut, saat Angga membuka tutup botol itu, lalu membalikkannya, hingga pil-pil yang belum sama sekali ia sentuh, berjatuhan ke atas lantai.
“Aleaa!” mata Angga merah padam, ia membuang botol obat ber label kontrasepsi, dengan asal. Membuat Aleaa tersentak kaget.
“Kamu tidak meminum pil ini? ” tanya Angga merasa geram. Aleaa menjadi gelagapan dibuatnya, namun ia tetap menggeleng.
“Kamu berbohong pada abang?!” nada Angga sangat berat, menyiratkan kemarahan yang membuat Aleaa berusaha memundurkan wajahnya takut.
“Kamu tahu Leaa? Hal ini sangat membuat abang kecewa terhadapmu.. ” Angga terus menggeram dengan nada seraknya yang menyeramkan. Aleaa menahan isakannya yang sebentar lagi akan keluar.
“Aleaa tidak mau menundanya abang. ” Aleaa menarik nafasnya, hingga menimbulkan suara alami karena cairan bening yang lengket berada di hidungnya.
Angga melepaskan cengkramannya pada pipi Aleaa, sorot matanya sangat tajam, dan tidak bersahabat. Aleaa menjadi menggigil karena itu, apalagi saat melihat Angga mengusap wajahnya kasar.
Brukk.
Pintu kamar mandi di banting keras oleh suaminya, Aleaa langsung beringsut mundur ke tengah kasur. Aleaa memeluk tubuhnya sendiri. Ia meringkuk memunggungi pintu kamar mandi yang tertutup.
Sebisa mungkin Aleaa menahan isakannya yang melesak ingin keluar. Aleaa ingin marah karena Angga melakukan hal itu padanya. Namun reaksi dari Angga yang masih tiba-tiba seperti ini, tidak cukup bisa untuk membuat Aleaa berani menggertak suaminya.
...★★★...
Sekitaran 30 menit Angga akhirnya keluar dari dalam kamar mandi. Ia melirik Aleaa yang memunggunginya. Angga menghampiri sang istri. Di ujung ranjang ia hanya berdiri, tanpa mendekat sedikit pun.
Angga yakin bahwa Aleaa sudah tertidur. Terbukti dari hembusan nafas Aleaa, yang terdengar teratur di telinganya. Angga berjalan mengitari ranjang, ia sedikit membungkukkan tubuhnya, tangannya terulur untuk mengusap surai rambut Aleaa, namun segera Angga tahan.
Hingga tangan itu hanya berani melayang, tanpa menyentuh Aleaa sedikit pun. Angga mengeluarkan ponselnya, ia melirik pesan baru dari seorang wanita, yang tadi siang mengajaknya ke sebuah acara.
Cindy.
Mas? Mas Angga serius enggak mau ikut? Temenin Cindy Mas, sebentar aja ko, paling cuman 2 jam an.
Jari Angga kelu untuk membalas pesan tersebut, namun mengingat Aleaa yang membohonginya. Membuat rasa kecewa masuk menguasai dirinya.
Hingga akhirnya Angga mulai mengetik pesan balasan. Sangat singkat, dan padat. Namun dapat membuat orang di sebrang sana, memekik gila karena saking senangnya.
Baiklah.
read.
...Author point of view off....
Ck ck ck Angga Angga, maunya bercocok tanam tapi engga mau tanggung jawab. Gimane sii Tuan Kusumo yang satu ini. #author