
...Author point of view....
Angga mendorong pintu paviliun dengan cukup kasar, ia membuka satu persatu kamar di sana, untuk mencari Cindy yang seolah hilang di telan bumi. Para maid tidak ada yang berani berbicara, keculi kepala maid yang baru saja berucap.
“Sepertinya Cindy kabur Pak, makanya dia tidak berada di sini.” ucap Bibi Jie, yang padahal adalah ibu angkat dari Cindy itu sendiri. Angga mengepalkan tangannya, ia berbalik dan langsung berteriak.
“Bagaimana ia bisa pergi?!” sentak Angga tajam, saking tajamnya dapat membuat Bibi Jie tersentak sekilas.
“Baru tadi pagi, ia saya suruh untuk membeli keperluan rumah bersama mang Ujang. Tapi ternyata sampai saat ini, ia belum datang juga.” jawab Bibi Jie cemas, ia menundukkan wajahnya dalam, keriput di sekitar matanya semakin terlihat saja.
Angga mendesis gerah, ia langsung berlalu lalang tanpa pamit terlebih dahulu. Semua yang menyaksikan itu langsung saja menunduk, setelah saat kepergian Angga sudah tak dapat dilihat, para maid langsung saja berkumpul.
“Bagaimana Cindy bisa melakukan ini Bibi? Kau tahu kan Cindy bukan anak yang nakal dan bergaul bebas.” ujar Athika, selaku anggota dari bagian taman.
“Justru yang seperti itu lah, yang harus di takuti! Diam-diam malah menghanyutkan.” saut Gigi tampak acuh dan tak peduli akan kejadian ini.
“Huss, bagaimana pun ia teman kita!” bela Maddona tampak tak suka, Bibi Jie merentak kesal, ia tidak tahu bahwa anak angkatnya bisa berulah seperti ini.
“Diam! Ini bukanlah perkara yang mudah. Kalau sampai Bapak dan Ibu marah, sudah habis kita akan di depak!” bentak Bibi Jie penuh rasa kekesalan yang membuncah.
Akhirnya para maid yang ber gosip itu pun diam menurut, mereka sempat berbisik-bisik lagi, saat setelah Bibi Jie masuk ke dalam kamarnya, dengan kepala pening yang terasa sakit.
“Cindy oh Cindy, tidak ada yang aku punya selain kau di sini. Mengapa kau tidak mendengarkan kata Ibu untuk melupakan Pak Angga! Ia sedang sangat marah sekarang.” ujar Bibi Jie lirih dalam batinnya.
Ia melirik foto semasa kecil Cindy, ketika ia baru saja mengadopsi anak itu dari panti asuhan. Cindy yang pendiam, santun, dan penuh kelembutan, selalu turut membantunya dalam segala hal yang ia kerjakan.
...★★★...
Angga membuka pintu kamarnya, baru saja bunyi decitan pintu terdengar, Aleaa langsung saja peka dan menubruk tubuh Angga dengan tubuhnya. Angga memeluk pinggang Aleaa erat, wajah Aleaa sembab dan memerah, membuat Angga yakin bahwa Aleaa habis menangis.
“Abang!” ujar Aleaa cepat, ia memeluk Angga erat. Sangat erat. Angga membalas pelukannya penuh kelembutan, wajah Aleaa mendongak, ia merengkuh kedua rahang Angga.
“Akhh.” ringis Angga merasa sakit. Secara refleks tentu saja Aleaa mundur. Betapa terkejutnya ia melihat luka lebam pada rahang sang suami.
Tidak terlalu nyata, namun Aleaa masih bisa melihatnya. “Abang kenapa? Siapa yang melakukan ini abang?!” tanya Aleaa tersentak kaget.
Angga menahan tangan Aleaa yang ingin membawanya ke kasur, ia berbalik dulu untuk mengunci pintu. Aleaa menahan tangisannya lagi, entah kenapa melihat wajah lelah sang suami membuatnya ikut terenyuh.
“Ceritakan pada Leaa abang, siapa yang melakukan inii.” rengek Aleaa memelas, Angga menggeleng ringan, ia membawa Aleaa duduk di atas ranjang.
“Tidak apa sayang, hanya luka kecil.” jawab Angga berusaha menenangkan istrinya. Namun bukannya tenang, justru Aleaa malah terisak.
“Leaa akan mengobati luka abang, abang harus diam saja di sini. Leaa mohon abang, jangan kuncikan Leaa lagi di dalam kamar.” titah Aleaa memohon, Angga menahan dadanya yang terasa sesak.
Istrinya menyalahkan dirinya sendiri atas perbuatan yang sebenarnya ia tidak lakukan. Angga tidak menyangka kalau Aleaa akan menunjukkan reaksi seperti ini. Terlihat jelas guratan wajah cemas, khawatir, dan isakan yang Aleaa tahan sebisa mungkin.
Aleaa kembali dari dalam ruang khusus dengan membawa sekotak obat, ia menghampiri Angga, dan kembali duduk di samping suaminya.
“Apakah abang tadi berteriak? Seharusnya abang harus bisa mengontrol emosi abang, Leaa tidak ingin melihat abang seperti ini lagi.” ujar Aleaa berupa gerutuan ringan.
Angga tidak mendesis kesakitan ataupun meringis lagi. Ia sibuk memperhatikan wajah istrinya yang sangat cantik natural. “Tidak perlu khawatir Leaa, pertengkaran seperti ini adalah hal yang wajar.” ujar Angga lagi berusaha menenangkan.
Aleaa menggeleng tegas, “Tidak abang. Tidak ada pertengkaran wajar antara ayah dan anak. Tidak ada.” tekan Aleaa, menolak keras ucapan Angga barusan.
Tak tahan dengan sikap romantis yang Aleaa tunjukkan, Angga menangkup kedua tangan Aleaa dengan tangannya. Lalu ia pertemukan bibir mereka hingga saling memangut. Aleaa membalasnya, lalu ia kalungkan kedua tangannya pada leher Angga. Sedangkan tangan Angga memeluk punggung istrinya erat. Tubuh mereka saling menempel, dan bertautan.
Entah ini memang perasaan Angga atau bukan, ia merasakan bahwa Aleaa menangis lagi. Ia dapat merasakan setetes bulir air mata itu jatuh di pipinya yang menempel dengan pipi Aleaa.
“Kenapa kamu menangis lagi Leaa? Abang sudah ada di sini.” ujar Angga sambil mengusap pipi lembut istrinya. Aleaa menggeleng, ia tetap tersenyum dan menahan mata bulatnya untuk terbuka.
“Leaa tidak ingin abang kesusahan karena keberadaan Leaa.. Hanya itu abang. Leaa takut kalau abang akan berpindah hati. Secara Leaa belun mendapatkan tempat di rumah ini.” ujar Aleaa bergetar.
Angga menggeleng tegas, “Tempatmu di sini sayang. Papa, Mama, Nenek, semuanya sudah menganggap kamu ada. Sedari kamu di nikahi paksa oleh abang. Jangan pernah katakan hal semacam itu lagi Aleaa.” ujar Angga garang, memberi peringatan pada istrinya untuk tidak berucap macam-macam.
Aleaa mengangguk lesu, pada akhirnya ia kembali terkulai lemas di atas dada Angga, memberikan support dan semangat masing-masing lewat gerakan tubuh mereka. Angga memeluk Aleaa, ia mengusap surai rambut istrinya. Wajah Aleaa bersender pada lengan Angga.
“Abang harus jujur pada Leaa, entah itu akan membuat Aleaa suka, atau pun tidak. Karena Leaa adalah istri abang, istri yang sangat mencintai abaang.” ujar Aleaa semangat.
Angga menahan nafasnya yang seakan tercekat, ia seperti terjebak dengan ucapan Aleaa barusan. Rasanya sangat ingin mengatakan hal yang sebenarnya, namun urung, mengingat kondisi Aleaa yang tengah hamil.
“Leaa juga harus terus percaya pada abang. Jangan pernah termakan omongan siapa pun.” ujar Angga seperti berbisik.
Namun sayangnya Aleaa lebih dulu terlelap, sebelum berhasil mendengarkan ucapan yang suaminya katakan.
...Author point of view off....