
Merasakan gerakan di bawah. Membuatku kembali merengek manja padanya.
“Abangg!! Disuruh diam bisa tidaakk!!”
“Tidaklah, Sayang. Abang ini laki-laki normal.”
“Tapi risih abang, Aleaa tidak suka. ”
“Kau harus membiasakannya dari sekarang. Karena kita pasangan suami istri, Aleaa.”
“Mmmm.” aku hanya bergumam saja, tak ingin menggubris omongan abang lebih lama lagi, kalau tidak, mandi ini pasti tidak akan selesai-selesai.
Pada akhirnya abang kembali menyabuni tubuhku dengan begitu telaten, walaupun rasa malu menderu dalam diriku, aku tetap menurut saja dengan apa yang ia lakukan.
Selama tiga puluh menitan akhirnya kita selesai, abang menggendongku kembali kedalam kamar. Hufts, sikapnya yang sangat romantis ini, membuat perasaanku semakin tidak terbendung lagi padanya.
Abang keluar kamar saat setelah tahu aku akan memakai bajuku. Aku tersenyum tipis menatap pintu kamar yang sudah tertutup, abang sangat membuatku nyaman, dalam sekejap aku lupa akan insiden yang baru saja terjadi padaku.
Aku memakai baju santai, berupa setelan kaus oblong, dengan hotpants setengah paha. Abang bilang kalau aku istirahat saja dikamar, dan tidak boleh keluar sebelum esok pagi, maka dari itu, aku memilih untuk mengunci diriku saja di kamar, menghabiskan waktu dengan sosial media.
“Yaampun, sexy banget. ” gumamku kagum atas kemolekan yang ada pada maneger akuntansi di perusahaan abang saat melihat postingan instagramnya.
Namanya Bu Maura, dia sangat cekatan dan juga professional, namun yang membuatku tidak suka dengannya adalah, wanita itu selalu dengan sengaja memamerkan tubuhnya dihadapan para karyawan, apalagi saat abang lewat, uhhh dengan sengaja ia taikkan rok pendeknya hingga diatas setengah paha.
Cklek.
Aku menoleh disaat decitan pintu terdengar, disana berdiri abang dengan jaket kulit yang tersampir di bahunya, semakin menambah kesan laki yang memiliki aura gelap dan begitu menyeramkan.
“Ada apa abang?” tanyaku sambil menegakkan punggungku yang tadinya bersender pada senderan kasur.
“Abang ingin mengajakmu makan diluar, Aleaa. ” ujarnya setelah menutup pintu kamar kembali, mataku sontak mengerjap tak percaya, namun seperkian detik kemudian, aku langsung terbangun dengan perasaan senang.
Aku masuk kedalam kamar mandi, menyikat gigiku, lalu mencunci wajahku dengan skincare yang tidak terlalu banyak. Aku sangat senang mendengar abang akan mengajakku keluar.
Setelah selesai, aku melepaskan semua baju yang baru saja aku kenakkan sebenarnya. Tapi ku ganti saja, wong abang akan membawaku keluar, masa aku mengenakkan pakaian seperti ini.
15 menit kemudian.
“Aleaa! bisa cepat sedikit tidak?! ”
Aku mencebikkan bibirku kesal, abang selalu saja buru-buru seperti ini. Dengan cepat kuselesaikan semuanya, setelah aku keluar dari dalam kamar mandi, aku melihatnya yang tengah duduk diatas sofa menghadap televisi di dalam kamar.
“Abang bisa sabar tidak sih.” gerutuku kesal, hingga akhirnya meraih dompet yang berada di ruangan walk in closet khusus.
“Tentu saja tidak, Sayangku. ” jawabnya dengan senyuman sok manis, yang membuat diriku jengah, namun tersipu disaat yang bersamaan.
Akhirnya kita pun berangkat, wajahku menunduk diam-diam merasakan genggaman hangat pada telapak tanganku. Abang benar-benar romantis dan juga hangat. Aku tersenyum lebar saat ia juga membuka pintu mobil, untuk mempersilahkanku masuk.
“Terimakasih, Abang!” pekik ku merasa senang. Ia menggeleng sambil mengacak rambutku, setelah itu pintu mobil kembali tertutup lagi. Aku duduk dengan manis saat ia mulai mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
“Cinta kita melukiskan sejarah. ”
Alunan musik pop kunyanyikan dengan perasaan hangat yang mengalir deras dalam hati dan perasaanku.
“Sstt, Aleaa.. ” abang menoleh dengan wajah protes. Aku langsung mengecup pipinya singkat. Entah darimana datang kemauan ku untuk mencium pipinya.
“Abang diam saja. Aleaa sedang berlatih menjadi artis tahu! ” sergahku galak mencoba mengambil alih situasi. Aku melihat alisnya terangkat, dalam seperkian detik kemudian kudengar tawanya yang meledak.
“Kamu tidak sedang latihan menggoda abang kan, Aleaa? ”
Pertanyaan itu sontak membuatku memberengut kesal, aku menoleh lagi kearah nya, lalu kulemparkan satu cubitan ditangannya yang keras.