
Aku berniat ingin merapihkan meja kerja abang terlebih dahulu, lagi pula malam belum terlalu larut. Jadi tak akan terlambat kalaupun aku mencukur cambang abang nanti. Aku sedikit tertawa geli membayangkan cambang abang ketika kulitku merasakannya tadi.
“Abang, abang...” ujarku pelan, menggelengkan wajahku, melihat beberapa banyak foto cetak yang tidak berbingkai, berada di salah satu laci meja kerjanya.
Wajah abang memang sangat tampan menurutku, ia lebih sering ber pose mengenakkan jas. Bahkan hampir tidak ada fotonya memakai baju casual. Padahal umurnya juga baru 27 tahun.
Dan yang membuatku tertawa, melihat abang yang ternyata narsis juga. Seperti gaya remaja-remaja sekarang, abang mencetak foto mirror selfienya.
“Ini adalah kamar mandiku dengan abang ya ampun! Abang lucu sekalii..” ujarku gemas, melihat foto itu. Yang sepertinya di ambil saat kamar mandi abang belum selesai di dekor.
Aku melihat sejenak dinding di sebelah kiri, yang menampakkan pemandangan fotoku bersama abang ketika menikah. Bingkai berukuran besar, yang menghiasi dindingnya. Di bawah bingkai itu, terdapat sebuah papan panjang yang sangat serasi dengan bingkai itu.
Bertuliskan, Mr. Angga Kusumo & Mrs. Aleaa Angga Kusumo
Benar-benar cantik dan mengagumkan. Aku jadi penasaran, siapa fotografer handal yang dapat menangkap foto sebagus itu. Yang jelas saat foto itu di ambil, aku dan abang masih saling diam. Dia dengan tampangnya yang datar dan tajam, sedangakan wajahku yang ogah-ogahan menatapnya.
“Ternyata abang sangat menggemaskan di balik wajahnya yang sangar. Abang selalu saja membuatku kesal dan geram padanya. Tapi tetap saja aku tidak bisa membencinya.” ujarku bermonolog.
Aku kembali merapihkan meja kerja abang, tinggal satu persen lagi akan selesai. Namun keningku mengkerut saat tanganku tampak kesusahan membuka laci paling bawah. Ku tarik pegangan terhadap laci itu kuat-kuat. Membuat tubuhku sedikit terguncang karenanya.
“Kok susah sekali sih?” tanyaku penasaran. Walau memang aku tidak membuka laci itu sedari awal, namun aku ber inisiatif untuk tetap membukanya. Karena rasa ke ingin tahuan ku yang besar.
Akhirnya laci itu bisa terbuka. Aku mengela nafas puas. Terdapat satu lembar kertas kosong yang menyambut mataku saat pertama kali laci itu di buka. Dengan santai, ku ambil saja kertas itu.
“Akh!” aku refleks menutup mulutku, menahan teriakan ku yang akan keluar karena rasa terkejut.
Saat setelah tanganku mengangkat kertas putih itu, pemandangan disana langsung membuatku diam terkejut. Aku tidak menyangka bahwa abang menyimpan pistol di lacinya. Pistol itu sangat terlihat sangat berbahaya.
Astaga Aleaa, semua pistol memang berbahaya. Tak sadar batinku berucap. Namun yang ini terlihat berbeda, pistol ini terlihat sangat terawat dan juga klimis. Hingga memantulkan mimik wajahku, lewat warna hitam klimisnya.
Pistol ini tidak asing di pandanganku, secara aku senang menonton film-film hollywood yang sering menampilkan adegan action. Tiba-tiba saja perasaan tidak enak menghampiriku, pistol ini biasanya di gunakkan untuk melindungi diri dari para musuh.
Para musuh?
“Mengapa jadi begini sih. Perasaan ketika Leaa masih bekerja dengan abang semuanya terlihat baik-baik saja. Aleaa paham betul bahwa setiap orang yang bertemu dengan abang sangat lah menyukai abang.” lagi-lagi aku merasa bingung, dan kembali bertanya pada diriku.
...★★★...
...Author point of view....
Aleaa menghampiri Angga yang sudah duduk di atas kursi kamar mand. Di depan terdapat kaca dan juga meja yang tersambung dari ujung ke ujung. Aleaa mulai melepaskan pakaian suaminya.
“Apa yang kau lakukan Leaa? ” tanya Angga bingung, saat Aleaa mengangkat ujung bajunya.
“Tentu saja melepasnya abang. Agar tidak jatuh-jatuhan.” jawab Aleaa acuh, dan kembali mengangkat baju Angga. Angga yang hanya menurut, mengikuti instruksi istrinya.
“Tapi kan abang memakai cream cukur sayang. Tidak mungkin ber jatuh-jatuhan. Ayolah Lea... Abang tau kamu menginginkan abang sekarang.
” ujar Angga menggoda istrinya.
Wajah Aleaa langsung memerah, ia sungguh tidak tahu kalau akan seperti ini. “Iiish abang, memangnya Leaa itu abang? Yang setiap saat selalu mesum.” balas Aleaa mendumel, ia kembali ingin memakaikan Angga kaus nya kembali, namun segera Angga tahan.
“Abang hanya bercanda sayang, kenapa Leaa selalu kesal dengan abang sih?” ujar Angga mencubit pipi istrinya gemas.
“Aleaa kan lupa abang, Aleaa kira abang ingin potong rambut. Karena dulu setiap Aleaa memotong rambut, ibu selalu membuka kaus Aleaa. Agar tidak menjadi gatal nantinya.” jelas Aleaa dengan bibirnya yang sedikit manyun.
“Baiklah, cambang abang bisa di potong kapan pun. Lebih baik sekarang abang memotong rambutmu, oke?” ujar Angga sambil mengedipkan sebelah matanya sekilas.
Tubuh Aleaa langsung terangkat, saat Angga menggendongnya ala bridal style. Aleaa tidak berusaha membrontak, karena tahu usahanya akan sia-sia.
“Aleaa makan lah yang banyak, tubuhmu ringan sekali, Sayang.” ujar Angga datar, Aleaa mengalungkan kedua tangannya pada leher Angga.
“Bukan Aleaa yang ringan, tapi tubuh abang yang sangat besar. Jadi abang tidak merasa keberatan saat menggendong Aleaa.”
...Author point of view off....