
...Author point of view....
Ibu dan nenek Kusumo pun hanya bisa tersenyum pasrah di ambang pintu, saat setelah mereka membawa bingkisan makanan untuk Aleaa. Melihat kedatangan Angga awalnya Bu Kusumo sudah ingin menyemprotkan amarah, namun melihat pemandangan di depannya, mereka hanya bisa menghela nafas lembut.
“Liat tuh Lin, anakmu udah gede banget. Udah jadi bos, punya istri, mau jadi bapak. Udah hampir lengkap hidupnya. Ibu jadi tenang kalau sudah begini.” ucap Nenek Kusumo tersenyum puas, mendapati cucu kesayangannya yang sudah bahagia.
“Hush, Ibu ngomong apasih, udah tenang, udah tenang aja. Perjalanan masih panjang Bu, jangan gitu ah.” decak Bu Kusumo tak suka, melihat pembicaraan Ibu mertuanya yang menjurus ke sana.
“Memang benar kok.” Nenek Kusumo mendelik, pada akhirnya mereka fokus terhadap pemandangan hangat di depannya kembali.
Angga tersenyum, melihat wajah cantik Aleaa yang mulai bersemi kembali, kepalanya mendongak mendapati kedua wanita paruh baya yang masih saja terlihat segar di umur mereka yang sudah terbilang tua. Perlahan Angga mulai merubah posisi mereka, Aleaa tidak menolak, ia menurut saja, saat sandaran kepalanya di naikkan beberapa derajat. Sesuai untuk posisi makan.
Angga meraih makanan yang ibunya bawakan, dengan telaten ia masukkan suapan demi suapan pada mulut Aleaa. Sesekali mereka bercanda, sesekali mereka tertawa, namun sesekali juga Aleaa mencubit Angga yang selalu saja menggodanya secara terang-terangan.
Hidup memanglah anugrah. Ini yang dirasakan Aleaa sekarang. Setelah melewati banyak rintangan sebelumnya, seperti sudah terbayarkan oleh kebahagiaan mereka saat ini dan kedepannya. Aleaa bahagia, Aleaa benar-benar bahagia. Masih terekam jelas pertemuan pertamanya dengan Angga di sebuah kelab malam pada saat itu.
Brukk.
“Apa-apaan sih Pak! Saya gak kenal bapak! ” sentak Aleaa kuat, merasakan pergelangan tangannya yang dicekal oleh sesosok pria besar di hadapannya.
“Bapak-bapak aja, kamu pikir saya Bapak kamu?! ” balas pria itu cepat, yang kini sudah resmi menjadi suami, sekaligus calon ayah bagi anaknya.
“Yaudah ah! To the poin aja, ngapain coba narik-narik gini, emang dipikir gak sakit apa.” gerutu Aleaa kesal, sambil mengusap pergelangan tangannya yang memerah.
“Saya mau kamu bantu saya! Saya butuh sekretaris dua puluh empat jam.” jawab Angga acuh, melupakan bahwa yang di hadapannya adalah orang asing.
“Bapak ini sinting ya? Ngelamar kerja aja saya enggak! Masa main kerja-kerja aja. ” Aleaa melotot gusar, membalas tatapan angkuh pria di hadapannya.
“Terserah kamu. Saya gak peduli. Ini kartu kerja saya.” Angga mengulurkan tangannya, tanpa niat menunggu uluran tangan Aleaa, Angga lebih dulu menyelipkan kartu itu pada kantung baju Aleaa di bagian dada.
Aleaa yang masih terkejut pun hanya terdiam. Ia terkejut bukan main. Pria di hadapannya sudah pergi sekarang. Bahkan punggung tegap itu sudah tak terlihat lagi.
Pada akhirnya, setelah berhari-hari ia merenungkan ucapan pria songong di kelab malam itu, Aleaa memang merasa harus berubah. Ia sudah tidak bisa berleha-leha lagi untuk masa depannya. Siapa tahu tuhan memang mengirimkan pria songong itu untuk membantunya.
Aleaa pun datang, ia datang dengan kemeja sederhana dan juga rok di bawah lutut, jangan lupakan sepatu pantofel warna hitam pemberian ibunya. Menyiapkan diri berhari-hari terasa sia-sia, karena baru saja datang untuk interview, Bos songong itu sudah menerimanya dengan lapang dada.
“Oke. Kamu diterima.”
“Haahh???”
Lamunan Aleaa buyar, saat suaminya mulai mengecup pipinya berkali-kali. Bu Kusumo dan Nenek Kusumo sudah keluar, untuk kembali ke rumah memeriksa keadaan. Aleaa tengah berbaring kembali, kasur rumah sakit yang cukup lebar pun tidak bisa menangkup badan Angga sepenuhnya.
Hingga mereka kini harus terbaring miring, bersama dengan Aleaa yang memeluk pinggangnya sangat erat. Angga mengusap punggung Aleaa penuh kelembutan, ia mengecup kening Aleaa sayang. Keterdiaman menyelimuti mereka, karena kini keduanya lebih memilih berinteraksi lewat kontak fisik.
“Nanti nama anaknya siapa, Yah?” Aleaa memejamkan matanya, pertanyaan itu menyambut hatinya secara tiba-tiba.
“Yah?” Angga tersenyum tanpa sadar, murni senyuman karena kasih sayang.
“Hu'um.” gumam Aleaa menjawab pertanyaan suaminya.
“Abang belum coba pikirin, Leaa. Nanti abang pikir-pikir dulu.” balas Angga tidak menghentikan usapannya sedikitpun.
Aleaa hanya mengangguk saja, ia jadi mengantuk sekarang, benar-benar mengantuk. Apalagi usapan pada punggungnya semakin membuat Aleaa gentar untuk terlelap.
“Tidur aja, Bun. Udah ngantuk kan, kasian yang di sini.” Angga menjatuhkan tangannya pada perut Aleaa yang masih rata.
Aleaa tersenyum lebar, ia mendongak, “Ayah Bunda ya, Bang. ” cicit Aleaa penuh harapan, dengan bibir pucatnya yang sudah lebih baik dari Sebelumnya.
“Iya, Sayang.” Angga mengusap kembali punggung Aleaa, hingga wanita itu benar-benar tertidur dalam pelukan suaminya.
...Author point of view off....