
Abang masih menatapku, aku pun juga masih menatap abang. Ia seperti tak suka akan keterdiaman ku. Hingga akhirnya abang bangun dan berjalan menghampiriku. Aku tidak tahu bagaimana bisa ia mengetahui letak bekal yang berada di tanganku.
Yang pastinya abang meletakkan bekal itu di atas meja kerjanya, lalu tangannya itu terayun menjepit daguku, mau tidak mau wajahku mendongak menatapnya. Ku rasakan kecupan pada bibirku, namun ia hanya mengecupnya, tidak lebih.
“Lea sayang.. ” bisikan itu membuat pipiku merona, ku pastikan semburat kemerahan sudah menghiasi pipiku sekarang.
Abang mendekatkan wajahnya ke wajahku, hidung kami saling bersentuhan, aku sudah siap memejamkan mataku lagi.
Cup.
Abang kembali memberikan kecupan pada bibirku.
Cup.
Lagi-lagi ia memberikan kecupan pada bibirku.
Cup.
Aku tersenyum di buatnya, abang memang sangat ahli memainkan mood ku yang tadinya sempat rusak, kini jauh menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ku tundukkan wajahku refleks, aku benar-benat malu.
“Istri abang sedang cemburu ya?” pertanyaan itu langsung ku angguki tanpa ragu sedikitpun. Lagipula tak ada salahnya kan mengakui kecemburuan pada suami sendiri.
“Abang terlalu dekat dengannya. Aleaa tidak suka abaang. ” ujarku merengek manja.
Tawanya mengalun indah pada telingaku, pahatan wajahnya yang sangat tampan, begitu menghipnotis ku. Hingga akhirnya aku tersadar telah menatapnya terlalu lama.
“Abang sangat senang ternyata Leaa bisa cemburu juga ya? Kstri abang yang galak ini bisa cemburu juga ya? ”
Abang mengulang pertanyaannya dua kali, dengan alis tebalnya yang ia permainkan. Aku mencebikkan bibirku kesal, namun akhirnya menghambur kedalam pelukan abang dengan erat.
“Abang harus makan makanan Leaa!” pekikku senang, karena rasa kepercayaan diriku yang sempat turun tadi, kini menjadi naik hingga ubun-ubun.
Abang terlihat berpikir, aku menggoyangkan tubuhku ringan dalam pelukannya, “Abaang.. ”
“Tapi abang ingin memakanmu dulu. Bagaimana? ”
Aku menyeringit bingung, memakan Aleaa? Bagaimana caranya? Aku menggelengkan wajahku cepat, saat bayangan-bayangan menyeramkan hinggap di otakku.
“Abang kenapa jahat begitu!” gerutuku kesal, aku mencubit perutnya gemas. Otomatis abang melepaskan pelukanku pada tubuhnya.
“Kenapa suka mencubit sih?!” seru abang yang tampak kesal, aku hanya cemberut saja membalas ucapannya.
Aku membalikkan tubuhku acuh, aku akan membuka kotak bekal untuk abang makan nanti. Namun pergerakanku terhenti, saat abang memelukku dari belakang. Tangannya yang keras memeluk perutku sangat erat.
“Abang benar-benar ingin memakan Aleaa ya?! Aleaa mau makan nasi abang!” cercahku tak terima, namun ia seperti tak menggubris ucapanku. Abang langsung membalikkan tubuhku hingga menghadapnya.
Tubuhku terangkat secara tiba-tiba. Dengan refleks aku mengalungkan kedua tanganku ke lehernya. Abang menggendongku ala bridal style, kedua belah bibirku sudah siap untuk memekik protes. Namun lidah abang langsung membelit lidahku.
“Mmm. ”
Entah kemana abang membawaku, yang pastinya ruangan ini persis seperti kamar. Aku dapat mendengar tertutupnya suara pintu, dalam keadaan abang yang masih menciumku.
“Abang ingin memakanmu dulu. Jangan berisik.” suara serak Abang mendominasi ku.
Jika awalnya aku tak terima, kini aku mengangguk semangat. Tubuhku sudah abang letakkan di atas ranjang yang sangat empuk, belum sepenuhnya aku bergerak, abang sudah berada di atas tubuhku.
“Tapi jangan sampai nyangkut lagi ya abang.” godaku sambil menaik turunkan alisku secara bergantian. Lalu bibirku ku gerakkan secara sensual.
“Itu namanya bukan nyangkut Leaa sayang, namanya abang berhasil memasuki dirimu.”
Jawaban yang tak ku sangka akan keluar dari bibir abang berhasil membuatku terdiam malu. Sungguh abang selalu santai jika membahas soal hubungan intim. Berbeda denganku yang masih malu untuk membahasnya.
Author point of view.
Aleaa dan Angga, telah kembali pulang. Jika biasanya Angga selalu mengenakkan supir, kini ia lah yang menjadi supir untuk istrinya. Sesekali Angga menciumi punggung tangan Aleaa yang sedang ia genggam. Sedangkan tangannya yang lain masih sibuk menyetir dengan damai.
“Abang mencintai Leaa?”
“Leaa yang mencintai abang.”
“Abaang.” rengek Aleaa tidak puasa dengan jawaban Angga.
Sontak Angga terkekeh gemas, ia menatap sekilas wajah cantik istrinya dari samping.
“Abang sangat mencintai Leaa. Sangat-sangat mencintai Leaa. Aleaa Angga Kusumo. ” ujar Angga menegaskan. Aleaa tersenyum haru, mengingat perjalanan mereka hingga bisa sampai di titik ini.
Suasana kembali hening, Aleaa memikirkan topik untuk mereka bicarakan, hingga akhirnya sebuah pertanyaan menggembirakan hinggap dalam hatinya.
“Abang.” panggil Alea sambil menahan senyumnya yang ingin berkembang.
“Apa, Sayang?” saut Angga fokus terhadap jalanan di depannya.
“Abang ingin punya anak berapa?” tanya Aleaa tersenyum lebar dengan mata yang menatap Angga penuh rasa cinta yang mebuncah.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
Hingga 2 menit Angga masih bungkam. Aleaa pun mulai merasa tak enak dengan keningnya yang terlipat tipis.
“Abang tidak menginginkannya sekarang.” jawab Angga sekenanya, yang berhasil membuat dada Aleaa mencelos seketika.
Aleaa tidak berani berucap lagi, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Wajahnya mulai berubah sendu dan tak berani untuk berkeliling ria memandang wajah suaminya, ataupun jalanan.
“Abang masih ingin seperti ini Leaa. Hanya ada engkau dan Abang. Karena Abang juga tidak siap untuk menjadi Ayah.” lanjut Angga di tengah keheningan yang melanda keduanya.
Aleaa tampak tidak setuju dengan ujaran suaminya barusan, “Tapi setelah punya anak, kita masih bisa tetap bersama abang. Seperti ini. ” ujar Aleaa lembut, berusaha membujuk Angga yang terlihat kekeuh pada pendiriannya.
“Tidak Leaa. Kau akan di sibukkan dengan anak, lalu kau akan melupakan abang. Abang tidak ingin kasih sayangmu terbagi untuk mereka, sebelum waktunya abang siap. ”
Kekeuh Angga datar, masih bertahan dengan egonya. Aleaa menahan bibirnya untuk tetap bungkam, walau ia sangat tidak setuju akan usulan sang suami.
“Lalu kapan abang siap?” sergah Aleaa tanpa sadar. Angga menggeram lirih, ia mulai risih dengan topik seperti ini.
“Aleaa, kita baru saja saling mencintai. Seharusnya kau menikmati prosesnya. Abang tidak ingin terlalu terburu-buru. ” Ucap Angga, sambil mencengkram stir mobil.
Tanpa sadar mobil yang mereka singgahi, sudah memasuki garasi besar keluarga Kusumo. Angga bergerak melepaskan sabuk pengaman pada tubuhnya, setelah berhasil terlepas, ia melirik Aleaa yang masih diam dengan pikiran yang berkecamuk.
Angga mendekatkan tubuhnya pada Aleaa, lalu ia lepaskan sabuk pengaman itu pada tubuh istrinya. Aleaa yang tersadar, menjadi tersentak kaget, “Ab--” ucapannya terpotong, saat Angga menaruh jari telunjuk pada bibirnya.
“Sstt. Abang mengerti, kau menginginkan anak. Tapi bukan berarti abang belum menginginkannya, abang menjadi tak ingin mempunyai anak. Hanya saja Abang masih ingin kita hidup berdua. Saling mencintai, tanpa ada siapa pun di antara kita. ”
Walau terasa berat, akhirnya Aleaa mengangguk meng-iyakan. Angga mencium pelipisnya lembut. Sangat lembut hingga kedua matanya dapat terpejam menikmati.
“Abang mencintaimu sayang. ” ucap Angga berbisik, entah sudah berapa kali ia mengucapkan kalimat cinta hari ini pada istrinya.
“Leaa juga mencintai abang.” balas Aleaa mulai bisa tersenyum kembali.