
...Author point of view....
Angga menurunkan Aleaa di atas kasur. Ia mencium bibir Aleaa dalam, membelit lidah mereka, bertukar saliva, hingga saling beradu satu sama lain. Angga menurunkan kecupannya pada rahang Aleaa, turun hingga leher, memberikan jejak kebiruan, lalu turun lagi hingga buah dada Aleaa. Tanpa melepaskan kaus Aleaa terlebih dahulu, Angga menggigit puncak dada Aleaa dari luar, membuat sang empu yang merasakan, mengerang nikmat.
Dada Aleaa tidak besar, dan juga tidak kecil, ukurannya sangat pas di genggaman Angga. Angga membuat kaus itu sedikit lembap karena liurnya. Hingga Angga mulai melepaskan kaus Aleaa, beserta bra hitam mentereng yang sangat kontras dengan warna kulit putih Aleaa.
“Ah...” Aleaa melenguh saat Angga memainkan puncak dadanya, seperti bayi yang kehausan. Sedangkan sebelahnya, di mainkan oleh telapak tangan besar milik Angga yang kasar.
Aleaa hanya bisa menyeruakkan masuk jemarinya, meremas rambut Angga sebagai benda yang dapat menjadi pegangannya. Ciuman Angga kembali turun ke bawah, memberikan jejak di atas perut, lalu turun lagi, hingga ke bagian yang paling sensitif milik istrinya.
“Ahhh.”
Tangan Aleaa yang tadi mencengkram rambut Angga, kini berpindah menjadi mencengkram seprai di masing-masing sisi tubuhnya. Punggungnya terangkat, merasakan permainan Angga di bawah sana.
Merasa tak ingin kalah, Aleaa menarik wajah Angga hingga kembali menghadapnya. “Abang curang. Abang harus melepaskan semuanya juga.” seru Aleaa merajuk manja.
Aleaa mendorong Angga hingga berada di bawahnya, Aleaa melepaskan resleting di bawah sana, dengan gerakan slow motion. “Cepat sekali bangunnya abang.” ujar Aleaa mengedipkan sebelah matanya, persis seperti apa yang Angga lakukan tadi di kamar mandi.
Aleaa turun dari ranjang, ia sedikit berlutut, untuk menarik lepas celana Jeans yang Angga kenakan. Melihat istrinya yang begitu agresif, Angga hanya menggeram menahan hasrat yang sudah menggebu-gebu.
Aleaa kembali naik lagi, ia mengambil posisi tidur menghadap Angga. Kini keduanya saling berhadap-hadapan. Mereka tertidur miring dengan tubuh tanpa sehelai benangpun. Aleaa merapatkan tubuhnya pada Angga, ia menjatuhkan kecupan pada dada bidang. Menerima hal itu, Angga mengusap punggung Aleaa naik turun dengan lembut. Membiarkan istrinya untuk berulah.
“Arggh.” erang Angga lolos begitu saja ketika tangan nakal sang istri menggenggam benda di bawah sana.
Tangan Angga yang tadinya mengusap punggung Aleaa, kini turun dan mengubah haluan, menjadi ke depan tubuh Aleaa. Terus turun, hingga menyentuh titik sensitif istrinya di bawah sana. Angga tersenyum kecil, ia mengecup kening istrinya sayang, seolah menenangkan Aleaa, bahwa Angga akan melakukannya pelan.
“Ahh. ” desah Aleaa tak bisa tertahan, bahkan tangannya yang tadi asik, kini terdiam pasrah, beralih memeluk pinggang Angga.
Angga terus mempermainkan Aleaa di bawah sana. Hingga Aleaa terus mengalunkan suara-suara percintaan mereka, yang lembut namun bergairah. Angga melepaskan jarinya, saat nafas Aleaa sudah terengah-engah karena berhasil mencapai puncaknya. Ia mendorong Aleaa hingga terlentang, lalu Angga menaiki Aleaa, dengan tangan yang menyanggah tubuhnya, agar tidak menimpa istrinya.
“Leaa tidak ingin bilang nyangkut lagi?” tanya Angga jail sambil menaik turunkan alisnya.
Aleaa menahan kekesalan karena Angga yang sempat-sempatnya mengajak dirinya untuk bercanda, di situasi seperti ini. “Abang iihh.” rengek Aleaa mengerucutkan bibirnya sebal.
“Sempiit abang!” rengek Aleaa seolah tengah mengadu, sambil menggigit cuping telinga suaminya.
“Seharusnya abang yang mengatakan hal itu Leaa.” ujar Angga sedikit kesal, karena sikap Aleaa, yang tidak ada manis-manisnya.
“Tapii,” belum sempat Aleaaa kembali merengek, Angga sudah memangut bibirnya terlebih dahulu.
Angga tidak membiarkan konsentrasinya terganggu karena membiarkan Aleaa berbicara lagi. Ia tau betul tabiat istrinya yang tidak bisa diam. Maka dari itu, Angga lebih memilih untuk membungkam bibir Aleaa. Marena kalau tidak, sudah dapat di pastikan bahwa Aleaa akan meracau di sepanjang sesi bercinta.
2 jam kemudian...
Aleaa mendorong Angga dari atas tubuhnya, ia memeluk lengan suaminya itu dengan cepat. Menyembunyikan wajahnya mencari kehangatan. Angga berusaha ingin memulai percintaan itu lagi, namun Aleaa segera menghadangnya.
“Sudah cukup ish abang! Sudah enam ronde tau!” pekik Aleaa kesal, ia menjauhkan dirinya dari Angga, karena takut suaminya akan meminta lagi.
Mereka sudah bercinta selama dua jam penuh, dengan gaya dan posisi tempat yang berbeda. Angga menggempur istrinya tak kenal lelah, ia sungguh cinta terhadap tubuh istrinya yang padahal terlihat biasa saja. Namun bisa membangkitkan sesuatu dalam dirinya dengan mudah.
“Ayolah Leaa, sekali lagi...” ujar Angga berusaha membujuk istrinya.
Aleaa menggelang keras, ia langsung menarik bedcover tebal untuk menutupi tubuh polosnya, sampai ke atas dada.
“Leaa...” panggil Angga mencolek pundak istrinya sesekali, Aleaa menggeleng, ia mulai di serang kantuk yang sangat dahsyat.
Saat Aleaa mulau tertidur, Angga membalikkan tubuh Aleaa pelan, dengan sengaja ia dekap tubuh Aleaa menghadapnya. Hingga Angga juga menyelimuti badannya. Namun belum ada lima menit, Aleaa di buat terkejut karena wajah Angga yang tepat berada di dadanya secara tiba-tiba.
“Abaangg!!” pekik Aleaa keras, merasa marah karena Angga yang mulai meminum susu, tanpa se izinnya.
Angga mengangkat wajahnya yang tadi menunduk. Tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia tersenyum lebar, menampakkan barisan gigi putihnya yang tersusun rapih, layaknya bintang iklan pasta gigi.
...Author point of view off....