MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
52 : episode lima puluh dua!



...Author point of view....


Setelah dua hari menginap, Aleaa dibawa pulang oleh Angga, tanpa Nenek ataupun Ibu Kusumo. Sepanjang jalan mereka berdua hanya di selimuti keterdiaman, karena Aleaa yang mengantuk, dan Angga yang lelah, mengurus Aleaa sepanjang waktu.


“Abang, masa kemarin ada yang bilang bahwa abang berselingkuh.” ujar Aleaa mengadu pada Angga. Angga menghela nafas gusar, istrinya harus tahu berita itu secepatnya.


“Siapa yang bilang, Leaa.” tanya Angga datar, karena ia sudah tahu jika cepat atau lambat Aleaa pasti akan mengatahui fakta itu.


“Itu, ibu-ibu yang pas itu.... Hmmm.” Aleaa yang ingin mengutarakan kegelisahan nya menjadi urung seketika. Ia tidak ingin mengingat kejadian kemarin lagi. Saat terkena pukulan.


“Apa? Kenapa Leaa?” Angga menoleh ke arah Aleaa yang merasa sudah salah bicara.


“Saat ada ribut-ribut, Ibu-ibu yang memukul Aleaa bilang kalau abang selingkuh. Dan Aleaa juga dibilang kalau hanya menikmati uang abang saja.” gerutu Aleaa merajuk pada Angga.


“Jangan termakan omongannya ya Leaa. Saat itu kan abang sudah menjelaskan. Abang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan orang lain. Yang dia maksud adalah Cindy. Dan abang samasekali tidak selingkuh dengan Cindy.” ujar Angga mempertegas ucapannya.


Aleaa tiba-tiba saja menjadi sedih, “Maafkan Leaa ya abang. Leaa masih sakit hati jika mengingat hal itu. Tapi Leaa percaya kalau abang bukanlah pria yang Ibu itu katakan. Lea mempercayai abang. Abang adalah pria yang sangat Leaa cintai.”


Angga tersenyum, sungguh Aleaa adalah wanita bar-bar yang susah untuk di ajak romantis. Tapi di dalam sikap anarkis istrinya itu, Aleaa memiliki hati yang sensitif dan sangat lembut. Rasa takut Angga kehilangan Aleaa pun lenyap seketika. Angga berjanji akan terus melindungi dan mencintai istrinya.


“Leaa, i'm lucky to have you. Abang senang akhirnya Aleaa lah yang menjadi istri abang. Abang akan berusaha menjadi a good husband for you. Leaa jangan pernah mendengar kan ucapan tidak-tidak dari orang lain ya.” ujar Angga tulus. Aleaa sudah benar-benar membuatnya hanya fokus terhadap wanita itu saja.


Aleaa mengangguk, “Lalu bagaimana dengan ucapan Ibu itu yang menilai kalau Aleaa hanya menghabiskan uang abang saja?” Aleaa lagi-lagi mengadu pada Angga.


Angga terkekeh gemas mendapati istrinya yang seperti anak kecil. Angga senang Aleaa sangat terbuka padanya.


“Dia hanya iri padamu, Sayang. Abang bekerja untuk keluarga dan dirimu. Pergunakanlah uang dengan sebaik mungkin ya. Lagi pula abang senang jika istri abang memakai uang kerja keras abang. Abang merasa di hargai sebagai seorang suami.” jawab Angga jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam.


“Wajar Leaa jika banyak yang iri padamu. Abang begitu memanjakanmu. Karena kau adalah satu-satunya wanita yang abang cintai setelah Ibu.” ujar Angga dalam batinnya.


Aleaa tersenyum lebar. “Terimakasih banyak ya abang. Aleaa akan semangat menghabiskan uang abang kalau begini.” pekik Aleaa tidak sepenuhnya bercanda. Angga mendelik dengan tangan yang melayang lalu menyentil dahi Aleaa pelan.


“Jangan boros. Abang membuatkan mu tabungan baru. Abang sudah mengisinya, nanti selanjutnya kau yang isi ya, Sayang. Isi jika uang jajan dari abang masih tersisa.” ujar Angga sambil mengusap pipi Aleaa yang selembut sutra.


“Aye-aye, Abang!”


Sesekali Angga membawa tangan Aleaa pada genggamannya, lalu ia bawa ke bibirnya, untuk di kecup. Saat setelah sampai di kediaman Kusumo, ternyata Aleaa sudah terlelap duluan, membuat Angga menggendongnya hingga sampai kamar.


Angga baringkan Aleaa di sisi kasur, lalu ia segera turun lagi ke bawah, ingin menyelesaikan masalah yang terjadi. Angga sangat tidak terima saat istrinya diperlakukan seperti itu. Angga menghadap kepala komplek, untuk membahas hal ini.


... ★★★...


Angga datang bersama ibunya yang memaksa untuk ikut. Sampai di rumah kepala komplek, sudah terdapat dua Ibu-ibu yang pada saat itu sedang bertengkar. Juga satu anak kecil yang saat itu Aleaa lindungi. Beserta beberapa saksi kejadian.


“Nama saya Risa pak, saya turut meminta maaf atas kejadian yang menimpa Ibu Aleaa.” Risa yang notabenya adalah penduduk baru komplek elite ini, menunduk merasa malu.


“Cih, muka dua.” Kania di sampingnya, seorang istri yang merasa di selingkuhi suaminya, yang pada saat itu memukul kepala Aleaa dengan gagang sapu karena merasa kesal.


“Sstt, ibu Kania ini bagaimana, seharusnya Ibu minta maaf.” ucap istri dari kepala komplek yang berusaha menengahi.


“Saya tidak akan menerima permintaan maaf begitu mudahnya. Sama seperti dia yang telah melukai istri saya tanpa alasan.” tegas Angga tajam, ia berdiri mengenakkan setelan formal, karena setelah ini akan kembali berangkat bekerja.


“Istri bapak mencoba untuk ikut campur masalah kami, jadi jangan salahkan saya kalau tindakan itu saya lakukan.” sela Kania cepat, dengan bibirnya yang mengatup marah.


“Kalau masalah anda tidak ingin di ikut campuri, jangan bertengkar di muka umum.” balas Angga masih dengan ketegasannya.


Kania bungkam, ia menggerutu kesal dalam batinnya, sedangkan Risa masih memelaskan wajahnya tanpa sadar, karena merasa bersalah.


“Saya minta maaf sekali lagi Pak. Saya benar-benar menyesal tentang insiden yang terjadi.” mohon Risa mendahului Kania yang masih saja diam ogah-ogahan.


“Yang dirugikan istri saya. Lebih baik anda mengajari sopan santun terlebih dahulu pada rekan pertengkaran ini. Jangan seenaknya di lingkungan orang.” ujar Angga tajam, menyindir secara langsung Kania, yang kini membesarkan matanya terkejut.


“Ayo Bu Kania, lebih baik sekarang minta maaf. Mengakui kesalahan lebih dulu, agar tidak memperburuk keadaan .” istri kepala Komplek pun membuka suara kembali.


“Saya tidak terima jika hanya permintaan maaf. Kasus ini akan di usut ke pihak yang berwajib. ” tegas Angga mengalihkan pandangannya pada istri kepala komplek ini.


“H-hah?? Apa-apaan ini. Saya tidak bersalah! Wajar saja jika saya marah-marah dengan perebut suami orang! Di sini dia yang salah! Andai saja suami saya tidak berselingkuh, saya tidak akan bertindak seperti ini!!” sela Kania sangat tidak terima, semuanya yang sedang berdiri pun langsung saja saling ber pandang-pandangan.


“Saya tidak perduli, istri saya tidak sama sekali terlibat dalam pertengkaran keluarga kalian. Tapi dia harus merasakan imbasnya dari pertengkaran kalian.” ujar Angga tampak tenang, namun masih mengeluarkan kalimat-kalimat tajam dari bibirnya.


Bu Kusumo yang sedari tadi hanya terdiam, kini dapat menyimpulkan masalah pertengkaran yang sebenarnya sedang terjadi. Ia setuju dengan usul Angga yang akan mengusut masalah ini, karena tak terima akan tindakan yang telah diterima menantunya.


“Saya setuju dengan usul anak saya. Tapi akan lebih jernih, jika kalian menghubungi suami yang bersangkutan terlebih dahulu. Agar tahu perbuatan yang telah dilakukan dua wanitanya.”


Angga mengangguk sekilas, semuanya pun ikut mengangguk. Istri dari kepala komplek pun memanggil suaminya, dan saksi yang telah hadir pun pamit undur diri, karena merasa sesi selanjutnya sudah bukan urusan mereka lagi.


Angga beralih menelfon sekretaris barunya, untuk membatalkan rapat yang seharusnya di lakukan sekarang. Mereka tengah berada di ruang kumpul tamu yang sangat dingin, akibat ac yang menyala. Terdapat empat sofa panjang di sana. Satu dikenakkan Kania dan Risa, lalu satunya Angga dan Bu Kusumo, sisanya kepala Komplek beserta istrinya.


“Permisi. ”


Suara itu memecahkan keheningan yang sedang melanda, semuanya telah berdiri menyambut tamu baru, yang tak lain dan tak bukan adalah, Arya, suami dari istri yang bersangkutan. Angga yang masih duduk sambil mengetikkan beberapa pesan untuk Aleaa pun, belum menyadari kehadirannya.


Hingga,


“Pak Angga?!” Arya membulatkan matanya terkejut, tangannya refleks terulur untuk berjabat, Angga yang sudah berdiri pun kini menyatukan alisnya terkejut.


Angga membalas jabatan tangan tersebut, secara formal Arya tersenyum ramah, berbeda dengan Angga yang tetap diam dengan mimik wajah dingin, karena menyadari bahwa Arya adalah suami dari perempuan yang telah membuat onar istrinya.


“Loh, kok pak Angga bisa berada di sini? Pantesan aja tiba-tiba Pak Angga batalin rapat kerja kita.”


Mereka semua saling berpandangan, namun tidak dengan Arya dan Angga, yang masih saling terdiam. Bedanya Arya dengan senyuman ramah di bibirnya, tidak dengan Angga yang memasang wajah datar.


Perlahan namun pasti, mengingat kehadarinnya ke sini karena masalah yang dibuat oleh kedua wanita di hidupnya, Arya menegang tiba-tiba. Ia membalikkan tubuhnya, menghadap semua orang.


“Seperti yang anda tahu. Kehadiran saya di sini 'mengapa dan karena apa. Jadi, lebih baik saya selesaikan saja kerja sama kita. Sebagai gantinya agar kasus ini saya tidak usut sampai ke jalur hukum.” tegas Angga begitu jelas di telinga Arya dan semuanya yang berada di sini.


Angga melenggang pergi dari ruangan, setelah berjabat tangan dengan kepala komplek dan juga istrinya. Bu Kusumo juga pamit, dan melakukan hal yang sama. Mereka meninggalkan Arya, serta dua wanitanya, dalam keterdiaman.


Bukan tanpa alasan Angga memutuskan hal itu secara tiba-tiba, ia pikir seorang pria yang telah menduakan istrinya, tidak pantas menjadi rekan kerjanya dan mendapatkan keuntungan.


Jadilah Angga memutuskan untuk menyudahi kerja sama mereka, karena jika begitu, otomatis bukan hanya Arya yang dirugikan, namun juga istri serta simpanannya.


...Author point of view off....