
...Author point of view....
Angga mondar-mandir di depan pintu ruang persalinan istrinya. Ia ingin menangis saja rasanya sekarang, karena sudah ber jam-jam lamanya Aleaa tidak keluar juga. Sempat pikiran buruk Angga menghinggapi dirinya, kalau di dalam istrinya pasti sedang memarahi dokter karena kesakitan. Hal itu membuat Angga semakin panik saja.
“Duh Ma! Leaa kok belum keluar-keluar sih.” rutuk Angga tak terima, Bu Kusumo yang sedang khawatir pun hanya diam saja. Karena terikut terbawa suasana cemas.
Angga membenturkan keningnya pada punggung tangannya yang bersender di dinding dingin rumah sakit. Ia sangat ketakutan sekali sekarang. Angga benar-benar, akhh runyam pokoknya.
Pintu terbuka, otomatis membuat Nenek, Ibu, Bapak Kusumo pun langsung saja menghampiri perawat. Tidak terkecuali dengan Angga yang hampir pingsan di tempatnya, hingga tak menyadari keberadaan perawat yang sudah keluar.
“Angga! Kau ini kenapa sih??!” Nu Kusumo langsung menghampiri Angga dengan gregetan, Angga yang baru menyadari pintu sudah terbuka pun, langsung merentak ingin masuk.
“E-ehh Pak! Sabar Pak, ” ujar perawat itu ikut panik, karena melihat keluarga pasien yang sangat grasak-grusuk.
“Pokoknya kalo cucu saya cowok! Harus ganteng kayak kakeknya!” ujar Pak Kusumo cepat, mendengar hal itu, semuanya langsung menggeleng, tak terkecuali Angga yang sudah di perizinkan untuk masuk ke dalam ruangan.
“Gak bisa gitu dong Pa! Papa kan gak ganteng! Pokoknya kalo cewek, harus cantik kayak neneknya! Ahhh, Mama gasiap di panggil nenek. Mama masih muda. Manggilnya ibu aja.” cerocos Bu Kusumo tak bisa diam. Perawat itu mulai kebingungan sendiri, akhirnya ia memilih untuk menutup pintu dari luar.
“Kamu pikir Ibu-ibu komplek hah?? Pokoknya dia cicit kesayangan Nenek! Nenek harus di panggil aunty, biar kerenan dikit.” ujar Nenek Kusumo asal, dengan penuh rasa semangat.
“Aunty tuh bibi nyonya. Aduhh gimana sih keluarga Kusumo ini, katanya keluarga terpandang.” ringis suster itu pelan, supaya tak terdengar dengan yang bersangkutan.
“Ibu ini gimana sih, masa mau di panggil bibi sama cicit sendiri. Aneh banget.” rutuk Pak Kusumo mulai gerah, karena panik, bukan karena suhu yang tentunya sangat dingin.
Cklek.
Decitan pintu yang terbuka, langsung membuat keributan dari tiga orang lansia di tambah seorang suster pun selesai. Dokter pria paruh baya yang baru keluar langsung melotot ke arah suster.
“Sus, kok jadi nimbrung gini sih, itu buruan jaga di dalem.” suster itu langsung meringis malu, sedangkan wajah Dokter yang tadinya galak, langsung saja berubah di hadapan keluarga pasien.
“Keluarga pasien boleh menunggu dulu ya. Bayi akan di mandikan dulu.” pak Kusumo tersenyum, dokter pria dihadapannya adalah teman semasa sekolahnya dulu.
“Oke John.” ujar Pak Kusumo tanpa ragu sedikitpun, dokter yang bernama asli Johny Felarie pun tertawa sedikit kesal mendengarnya.
“Mendingan kita ngobrol dulu Sum. ” senyum sumringan terbit di bibir dokter itu, saat ingatannya masih mengingat panggilan dari pria hebat di hadapannya.
Tidak merasa tersinggung sama sekali, pak Kusumo justru mengangguk meng iyakan, hingga hanya tersisa Bu Kusumo serta Nenek Kusumo yang saling berpandangan, bingung.
... ★★★...
Di dalam ruangan.
Aleaa tersenyum haru, saat Angga datang padanya dengan kedua tangan yang merentang. Namun saat semakin dekat, Aleaa menyadari bahwa mimik wajah Angga sudah sangat asam. Angga memeluk Aleaa erat, ia merengek pelan khas lelaki, seolah sedang mengadu kepada ibunya.
“Buun, ayah udah nungguin dari tadi. Bunda gapapa kan?” Angga menguraikan pelukan di antara mereka, ia bertanya dengan manja, tanpa memperdulikan suster yang sedang menggendong anak mereka.
“Ish ayah kayak anak kecil aja sih. Yang harusnya nangis kan bunda, ini kenapa jadi ayahnya yang nangis sih.” ujar Aleaa gemas, melihat wajah Angga yang memerah menahan tangis.
“Pokoknya bunda gak usah hamil lagi, kalo begini caranya.” rengek Angga masih saja galau, Aleaa menahan tawanya yang ingin pecah, melihat tingkah lucu suaminya.
“Enak aja! Leaa mau punya anak banyak tahu, biar bisa bikin klub sepak bola di rumah.” Angga menarik tubuhnya, dengan alis yang tertaut bertanya-tanya.
“Abang ibu lemot sekali ya.” bibir Aleaa mengerucut, Angga kembali menegakkan tubuhnya, membuat Aleaa mengembungkan kedua pipinya sebal.
“Iya, Sayang. Nanti kita bikin klub bola sendiri ya. Nanti Leaa yang jadi wasitnya.” jawab Angga menaik turunkan alisnya menggoda.
“Huh! Menyebalkan.” racau Aleaa dalam batinnya, namun senyumnya kembali mengembang, tergantikan oleh senyum haru, ketika dengan takut Angga ingin mengangkat bayinya.
Dengan begitu perlahan dan hati-hati, Angga menggendong bayinya. Membawa manusia kecil itu, kedalam timangannya. Angga tersenyum kecil yang berubah semakin lebar, bersamaan dengan gerak-gerik tangan dari bayinya.
“Zafran.”
“Ayah sudah duga, kalau kamu adalah seorang laki-laki. Karena setiap ayah mau tidur dengan Bundamu, ia selalu mual dan menjauh dari Ayah.” ujar Angga mengingat kehamilan Aleaa. Angga berbicara seolah Zafran sudah dapat mengerti arti ucapannya.
Suster yang mendengar itu pun menahan senyumnya. Pria di hadapannya adalah pria yang sangat tampan, dengan bayi laki-laki yang juga baru di lahirkan oleh istrinya yang sangat cantik.
“Baiklah Pak Angga, saya mau memandikan bayinya terlebih dahulu.” Angga mengangguk, ua tersenyum lebar, menatap fokus wajah anak pertamanya bersama Aleaa.
Saat setelah bayi itu di bawa, Angga langsung menghampiri Aleaa yang menunduk dalam dengan punggung bergetar. Angga memeluk pundak istrinya penuh kelembutan, lalu ia usap pelipis istrinya sayang.
“Kenapa jadi kau yang menangis sekarang. Bukannya tadi kau yang melarang abang untuk menangis.” bujuk Angga pelan, bukannya mereda, tangis Aleaa semakin terdengar nyaring.
“Huhu!”
Angga memberikan kecupan bertubi-tubi pada pipi Aleaa, Aleaa menolehkan tubuhnya, ia langsung mendekap tubuh suaminya erat. Angga yang bingung pun, lama kelamaan menghela nafas sabar, dan hanya mengusap punggung Aleaa naik turun.
“Leaa... Le-leaa, hiks! Leaa terharu abang! Le-leaa masiih ingat b-beetul ketika pertama kali Leaa bertemu abang. Apalagi saat Leaa mulai bekerja dengan ab-baangg!! Te-terus, hiks.. Saaat ha-hari pertama kita me-menikah! Abang ingin membawa Le-leaa makan malam, tapi malah membuat Leaa harus berbagi makanan dengan abang di sebuah pantai! Hiks!” isak Aleaa sambil sesegukan.
Angga terkekeh geli, tentu ia ingat jelas semua kenangan itu. Angga semakin mendekap Aleaa dengan erat, sesekali ia kecup pipi Aleaa dalam, hingga menimbulkan suara decapan sekilas.
“Pokoknya mulai h-hari inii... Abang tidak boleeh main nakal lagi. Tidak boleh!” Angga mengangguk mantap, Aleaa benar-benar sangat melodrama sekarang. Istrinya itu memang susah sekali di diamkan ketika menangis.
“Tentu, Leaa. Mana mungkin abang nakal lagi, memangnya kapan abang pernah nakal? Toh selama Leaa hamil saja, abang tidak pernah macam-macam kan.” Aleaa merenggut pelan, dengan acuh ia usap cairan kental yang keluar dari hidungnya, pada kaus yang Angga kenakan.
“Memang seharusnya begitu abang!” seru Aleaa lantang, hingga Angga sedikit menyentak mundur wajahnya terkejut.
“Kau ini bisa jangan teriak-teriak tidak sih, Leaa. Tidak di rumah, di kamar, bahkan ketika bermain dengan abang saja kau juga selalu berteriak.” Aleaa menundukkan wajahnya malu, ketika Angga mulai menyangkut pautkan obrolan mereka ke arah sana.
“Ish abang! Jangan begitu ah.” Angga tertawa kencang, saat melihat gerak gerik istrinya yang tiba-tiba saja jadi tersipu malu.
“Ahh nya nanti malam ya Leaa? Ehh tidak-tidak, abang lupa, abang harus berpuasa selama dua bulan.” Aleaa mengangkat wajahnya, ia tersenyum lebar, lalu ia mengecup bibir suaminya tanpa ragu.
“Terimakasih, Abang! ”
“Kembali kasih, Sayang. ”
...selesai....