MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
30 : aleaa nya abang pingsan!



...Author point of view....


Aleaa mengerutkan keningnya mulai bingung, ia memegang perutnya yang tiba-tiba saja mual. Rasanya sangat tidak enak. Pandangannya berkeliling mencari sang Ibu mertua, yang entah kemana keberadaannya. Aleaa menundukkan wajahnya malu, ia disini tidak mempunyai teman, semua orang sibuk berbincang dengan kelompoknya masing-masing.


Tidak dengan Aleaa yang masih awam dengan lingkungan barunya. Ia berlari mencari tempat sepi, karena tak tahu dimana keberadaa toilet di sekitarnya. Ia pikir acara arisan ini akan meng asyik kan, tapi justru sebaliknya.


Huekk.


Huekk.


Aleaa mengeluarkan seluruh muntahan di perutnya. Tidak ada nasi, ataupun yang lainnya. Yang keluar hanyalah liur, tanpa ada apa-apa. Lagi pula ia juga belum makan siang, karena masih ada acara berikutnya bersama sang ibu mertua.


“Aleaa! Kamu kenapa??”


Pertanyaan bernada cemas terdengar sangat nyaring dari belakang tubuhnya, ternyata ada Bu Kusumo, beserta ibu-ibu arisan lainnya yang mulai tertarik untuk melihat, apa yang sedang terjadi.


“Bu Kusumo, menantunya biar saya bantu bawa ke rumah aja ya.” seruan itu langsung di angguki oleh ibu-ibu disana.


Namun belum sempat mereka mendekati Aleaa, wanita itu sudah terjatuh pingsan duluan. Untung saja Bu Kusumo lebih dulu menyanggah tubuh kurus Aleaa yang cukup tinggi. Komplek elite ini memanglah komplek yang di khusus kan hanya untuk orang-orang ber penghasilan minimal 300 juta perbulannya.


Namun jangan heran jika terdapat ke kompak kan walau berada di status sosial yang tinggi. Karena sedari dulu memang mereka suka sekali bekerja sama membangun sebuah ikatan, dan organisasi-organisasi lingkungan.


...★★★...


Aleaa di tidurkan di atas ranjang. Bu Kusumo sudah memanggil dokter pribadi mereka untuk datang ke rumah. Bu Kusumo sangat khawatir sekarang, ia menyesal karena telah meninggalkan menantunya itu sendirian.


“Aleaa...” Bu Kusumo terus saja mondar-mandir di depan Dokter. Mengabaikan para maid yang sudah berkumpul di luar, entah untuk apa.


Aleaa masih tetap tertidur, dokter itu juga hanya menyeringit bingung karena tak menemukan keganjalan sedikitpun dari daya tahan tubuh Aleaa, ataupun yang lain. Namun ringitan heran itu berubah saat satu hal yang baru saja Dokter itu ingat, bahwa perempuan di hadapannya adalah seorang pengantin baru.


“Nyonya, lebih baik anda...”


Bu Kusumo menegang pada tempatnya selesai dokter itu berbicara sambil tersenyum. Bu Kusumo langsung mengangguk cepat dengan senyum yang mengembang. Sejenak ia menatap Aleaa penuh bahagia, karena setelah itu Bu Kusumo langsung saja memanggil dokter baru.


Dokter kandungan.


...★★★...


Disisi Lain...


Angga mengusap keningnya yang mengkerut lelah, sudah banyak sekali berkas yang ia tanda tangani. Padahal sore ini niatnya adalah untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, lalu mengajak istri tercintanya itu untuk pergi ke luar.


Ting!


Angga menolehkan wajahnya cepat. Ini adalah notif yang ia tunggu sejak tadi. Notifikasi dari Aleaa, istri cantiknya yang sangat ia sayangi. Jangan tanya mengapa tidak dirinya duluan lah yang menghubungi Aleaa. Itu karena Angga yang tak terbiasa memulai obrolan duluan kepada siapapun.


Namun, senyum itu luntur seketika. Saat tahu bukan Aleaa lah yang mengirimkannya pesan. Melainkan sesosok perempuan, yang ia sudah anggap sebagai adiknya sendiri.


Cindy.


Yap, Cindy. Cindy adalah perempuan yang Angga anggap sebagai adiknya sendiri. Sedari dulu Angga selalu menginginkan adik perempuan, namun karena takdir berkata lain, justru adik laki-laki lah yang ia miliki.


Cindy yang sebatang kara sejak kecil di angkat oleh salah satu kepala maid bagian dapur keluarga Kusumo. Membuat hubungan keduanya kian dekat.


Tapi hanya sebatas itu saja, karena Angga tak pernah mengganggap Cindy lebih dari sekedar adiknya. Walau sebenarnya mereka tak memiliki hubungan darah sama sekali.


Cindy.


Mas? Bisa temenin Cindy ke acara


promnight malam ini ga?


g, ad acara.


Selesai mengetik, bunyi notif kembali terdengar, namun Angga mengabaikan hal itu. Hingga dering ponsel lah yang membuat Angga langsung mengangkatnya cepat.


Mama.


“Angga cepat pulang. Aleaa pingsan!”


Angga tidak pernah main-main jika menyangkut istrinya. Suara ibunya di sebrang sana sangat lah panik dan juga tampak cemas. Membuat Angga langsung saja berlari pergi meninggalkan ruangannya.


 


Angga memasuki rumahnya dengan tergesa-gesa. Ia berlari menaiki tangga menuju kamarnya dengan Aleaa.


Rasa cemas semakin menggerogoti dirinya, melihat barisan para maid yang sedang tertunduk diluar kamarnya. Angga tidak dapat berpikir lagi sekarang, otaknya sangat kosong, dan kaget di saat yang bersamaan.


Langkah kakinya menuju ranjang. Disana terdapa ibu serta wanita paruh baya yang berseragam Dokter. Bu Kusumo bangkit dari duduknya dari pinggiran ranjang, di gantikan oleh Angga yang langsung saja menepuk pipi Aleaa sedikit keras.


“Sayang.”


“Leaa..”


“Abang sangat merindukanmu Leaa. Sadarlah.”


Bu Kusumo saling berpadangan dengan dokter yang bernama Riliana itu. Keduanya tersenyum penuh arti, sambil terus menyaksikan kegiatan Angga yang berusaha menyadarkan istrinya.


Perlahan kedua mata Aleaa menyeringit. Ia merasa terganggu merasakan kecupan di dahi, hidung, serta pipinya. Apalagi telapak tangan Angga, yang terus saja menepuk rahang lembutnya cukup kasar.


“Ab-baang.. ” Aleaa merenggut kesal dengan begitu lemah. Angga yang terlonjak cemas, langsung saja memeluk tubuh Aleaa senang.


Bu Kusumo menarik lengan berotot Angga dari balik kemeja lusuhnya, “Angga! Menantu Mama jangan di kekepin kaya gitu dong! Enggak bisa napas.” sergah Bu Kusumo naik pitam.


Sontak Angga langsung saja melepaskan dekapannya, Aleaa menghela nafas legap saat setelah pelukan itu terlepas. “Iishh abang!” gerutu Aleaa mencubit pundak Angga sekilas.


Bukannya Angga yang merasa kesakitan, justru kini Aleaa lah yang mengibaskan tangannya sakit.


“Dokter. Cepat katakan. Tapi jangan membawa kabar buruk saya mohon. Aleaa, ini pasti karena kamu yang mengabaikan perintah abang! Untuk tidak memakan makanan yang terlalu pedas. ”


Mendengar nada bentakan yang keluar dari bibir Angga, seketika membuat Aleaa langsung meremang. Ia mengembungkan kedua pipinya menahan isakan yang akan segera melesak keluar. Namun akhirnya Aleaa menyerah, apalagi saat kedua mata Angga melotot menatapnya gusar.


“Huhu!”


Tangisan Aleaa kini terdengar sangat kencang. Layaknya bocah yang di marahi untuk tidak memakan manisan, sama hal nya seperti Aleaa yang menangis tersedu-sedu.


“Eh, Le-Leaa. Kenapa kau sangat sensitif? ” Angga merengkuh kedua pipi Aleaa yang memerah, namun Aleaa segera menarik wajahnya cepat.


“Abang bau! Jauh-jauh sana. Aleaa merasa, tak enak abaangg!!” rengek Aleaa manja sambil beringsut mundur, menjauhi Angga yang terduduk kaget di pinggiran kasur.


“Ayolah sayang, bahkan setiap saat kau selalu minta abang peluk. Masa sekarang kau mengatakan abang ini bau. Kau kan tahu Leaa parfum abang harganya sangat mahal, juga tahan lama, seperti kita saat ber, mmppsshh.”


“Tutup mulut abang!” seru Aleaa cepat, sambil menutup bibir Angga dengan satu telapak tangannya.


...Author point of view off....