MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
19 : aleaa tidak berdaya!



Hari sudah larut saja, ini bagai mimpi buruk untukku. Baru saja tadi pagi aku masih bersama abang, baru saja semalam aku tidur didalam pelukan abang, namun sekarang aku sudah berada di tengah gudang yang tua dan menyeramkan.


Aku meringis saat perutku merasa sakit, aku belum makan sedari pagi, jika belum makan aku masih bisa menerimanya, tapi aku sangat kehausan sekarang, dan mereka samasekali tidak memberikan setetes air pun untukku.


Awas saja, kalau abang sudah datang dan menolongku, akan ku adukan semua perilaku buruk kalian kepada abang. Abang pasti akan marah dan menghukum kalian. Aku tidak tahu mengapa bisa se percaya diri ini, aku merasakan bahwa abang juga mencintaiku.


Kreek..


Aku tersentak, aku kelilingi pandangan


ku, ternyata tidak ada siapapun, aku yakin bahwa ada tikus disini, untung sedari kecil aku sudah hidup susah. Jadi dengan suara-suara seperti ini, aku sudah terbiasa, walau perasaan takut digigit itu ada.


Aku mencoba untuk tertidur, aku merasa semangat menyambut hari esok, aku yakin kalau abang pasti sudah datang, dan akan membantuku keluar dari sini. Abang juga akan menghukum Wanita aneh itu, beserta orang suruhannya.


Abang, aku sungguh merindukanmu.


...★★★...


Tidak ada kalimat yang pas untuk meng-ekspresikan perasaanku saat ini, hari masih pagi, namun aku sudah terbangun. Kuputuskan untuk bangkit dari dudukku, aku mencoba mencari benda tajam disekitar, untuk membuka ikatan pada pergelangan tanganku.


Dan yups! Aku berhasil menemukannya, akan kugunakkan cutter yang tertancap bagian dalamnya, namun bagian luarnya masih mencodong dengan jelas, kubalikkan tubuhku, lalu kumulai aksiku untuk membukan pergelangan tanganku yang terikat.


Aku meraih jepitan hitam di rambutku, lalu kugunakan untuk membuka pintu yang terkunci. Setidaknya ada yang benar dari bagian Film yang aku tonton, bahwa ujung jepitan yang tajam memang bisa dipergunakan untuk membuka kunci.


Naas nya, baru saja aku melangkah ingin keluar, pintu sudah terbuka, refleks aku sembunyikan tanganku lagi dibalik punggung, seolah ikatan itu memang masih mengikat pergelangan tanganku, aku mundur saat wanita yang belum ku ketahui namanya itu, menatap tajam dan penuh kebencian ke arahku.


“Jangan pernah mencoba kabur! Aku akan berjaga terus diluar! Jangan sekali-kalinya kau ingin pergi dari sini pe— ” ucapan wanita di hadapanku terhenti, saat seorang pria datang hingga membuatnya terdorong refleks.


Aku menahan tawaku yang ingin keluar, aku sangat senang melihat wanita ini kesulitan, aku merasakan bahwa ada kabar bahagia yang akan menyambutku saat ini, apalagi saat pria itu berbisik, namun bisikkan nya masih bisa terdengar hingga telingaku.


“Nyonya, Tuan Angga sudah datang. ” bisik pria itu pelan, sangat pelan, mungkin karena efek aku yang masih berdiri dekat diantara mereka, telingaku masih bisa mendengar jelas ucapannya.


Sebelum mereka berniat pergi, wanita itu masih sempat-sempatnya mengancam diriku ini. Memang dasar wanita gila! Aku kesal sekali dengan kata-katanya yang meng-klaim bahwa abang akan menjadi miliknya. Memang dia pikir aku akan membiarkan hal itu terjadi? Tentu tidak.


“Ingat ya! Gadis miskin seperti dirimu ini akan mudah tergantikan oleh diriku!” ucapnya memperingati diriku.


“Aleaa, kenapa kau sangat bucin pada abang sekarang.. ” batinku berteriak, aku tersenyum geli mengingat banyak kejadian-kejadian lucu yang sudah kelewati bersama abang.


Saat mataku menangkap bahwa mereka telah pergi, kujalankan kakiku untuk keluar dari dalam gudang, aku cukup prihatin dengan suruhan wanita itu yang teledor, karena tak kembali mengunci pintu. Bahkan wanita itu sendiri tidak menyadari bahwa pintu sedari ia masuk sudah tidak terkunci.


Aku keluar mengendap-ngendap, ternyata diluar sangat kosong, ada berbagai banyak jalan, namun aku lebih hati-hati dalam memilih jalan keluar untuk mencari abang. Aku melangkah dengan ragu, aku sedikit tersentak, saat melihat sesosok penjaga disana.


Keningku mulai menyeringit bingung, namun saat aku menunduk melihat kebawah, ternyata terdapat jejak kaki dari lantai keramik tua, yang sudah ditemani oleh beberapa tanah basah. Membuat jejak kaki ini terlihat semakin nyata.


“Kita akan segera menikah kan?!”


Degup jantungku berlomba-lomba. Pelipisku sudah mulai basah akan keringat. Suara itu terdengar, segera kulangkahkan kakiku cepat walau terkesan berat.


Bibirku rerfleks terbuka, aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak ku lihat, mataku mulai berair, aku tidak ingin lemah, aku ingin memastikan, siapa tahu yang aku lihat salah. Aku pasti salah melihat, ini pasti hanya imajinasiku saja.


Tapi semakin aku memastikan, perasaanku semakin berkecamuk, aku menggeleng lemah, aku berbisik lirih, “Itu abang...” aku menggigit bibir bawahku. Tepat saat pertemuan bibir mereka terlepas, wanita itu kembali berucap.


“Kita akan segera menikah kan sayang? ”


“Tentu saja, tapi pastikan kalau kau melepaskan Aleaa dulu, Coline. ”


Aku menunduk, perkataan abang benar-benar membuatku merasa jauh lebih sakit dari apa yang aku rasakan ketika diculik. Aku mundur beberapa langkah, aku harus kabur. Namun, aku merasa tidak berdaya.


Abang sangat melukai perasaanku, aku membalikkan tubuhku, langsung saja kulangkahkan kakiku sendiri menuju tempat penyekapan tadi, aku menutup pintu kencang tanpa disuruh, bayangan mereka berputar-putar dalam otakku, aku memekik pelan, kututup telingaku dengan kedua telapak tanganku.


Aku memojokkan diriku sendiri di ujung almari tadi, aku merutuki diriku sendiri yang dengan mudahnya mencintai abang. Aku tidak pernah merasakan cinta sebelumnya, namun ketika aku mulai merasakannya, perasaanku terasa terhempas hingga ujung samudera.


Kepalaku mulai terasa berat, aku menggigit bibirku lemah, kedua mataku terasa berat, dekapan telapak tanganku yang menempel erat pada kedua sisi terlingaku perlahan mulai melemah.


Kali ini aku tertidur lagi, tertidur sejenak layaknya orang tak berdaya. Namun ditidurku kali ini, aku berharap bahwa aku tidak akan pernah terbangun lagi.


Ibu, jemput Aleaa...