MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
27 : aleaa tidak percaya diri!



Mataku yang entah sudah berapa lama terpejam, kini mulai terbuka. Karena merasa risih dengan cubitan-cubitan ringan pada pipiku. Aku mengerucut kecil, seolah memberitahunya bahwa aku sangat terganggu.


“Enghh abaang.” aku merengek sebal, kudorong dadanya yang setengah berada di atas ku.


Abang tak beranjak sedikitpun, ia semakin memelukku erat, hingga posisinya kini berganti. Jika tadi setengah tubuh abang berada di atas tubuhku, kini aku yang berada di atasnya. Di pelukannya.


“Abaang... ”


Mataku yang tadi tertutup kini terbuka lebar. Pipiku menempel di atas dada bidangnya. Kurasakan usapan pada pucuk kepalaku, lalu belaian lembut pada punggungku yang masih polos.


“Jam berapa abang.. ” tanyaku dengan suara serak, efek dari bangun tidur.


“Jam nya orang-orang sudah tertidur, Sayang. ” jawab abang, tidak menyebutkan pukul berapa sekarang, namun memberikan clue yang langsung ku tangkap dengan baik.


Pasti sekarang sudah malam, aku yang awalnya masih ingin bersantai dalam pelukannya, menjadi tersentak bangun. Mengingat sudah berapa jam kita tertidur karena lelah melakukan hal itu.


“Lama sekali abang! Kita sudah lama tertidur... ” gerutuku merasa bersalah, aku ingin beranjak turun dari atas tubuhnya, namun abang menahan pinggangku.


“Ssttt, kenapa harus panik sih? ” tanya abang menatapku heran, aku cemberut dalam dekapannya. Tentu saja aku panik, karena sudah tertidur dari sore hingga malam hari.


Pasti Mama, dan Nenek akan menganggapku menantu yang malas dan tidak bertanggung jawab dalam urusan rumah tangga. Mereka pasti berpikir bahwa aku adalah wanita yang hanya senang berdiam diri di kamar.


“Aleaa mau kebawah abang. ”


Aku sudah membalikkan tubuhku ingin beranjak bangun dari ranjang. Namun tubuhku kembali tertarik saat abang memelukku dari belakang.


“Sstt! Cepat tidur. ”


“Ih abang! ”


Akhirnya aku mengalah, aku kembali memutar tubuhku, dan memeluk perutnya lagi. Abang pun juga menyelimuti tubuh kami berdua, ia mengusap punggungku dengan tangannya, yang aku jadikan bantalan kepalaku.


...★★★...


Waktu sudah pagi, ternyata abang sudah berangkat kerja tanpa membangunkan ku. Aku kesal dibuatnya. Tapi akhirnya aku memilih untuk membawakannya makan siang saja, jadi aku akan memasak setelah mandi.


Aku berdiri di depan cermin besar yang berada dalam kamar mandi, ada rasa bangga tersendiri untukku melihat jejak kemerahan yang abang buat di sepanjang tubuhku. Bos yang dulunya selalu membuatku kesal setengah mati, kini jadi berubah dan telah berhasil membuatku mencintainya sampai mati. Hahaha.


Aku bukan bucin, budak cinta. Well, aku hanya tidak ingin mengaku saja, kalau mungkin diriku memang sudah menjadi budak cinta bagi Pak Angga, mantan bos, yang sekarang merangkak menjadi suamiku.


Selesai dengan kegiatanku, kini aku sudah berada di dapur untuk membuat makanan spesial untukku dan abang. Untuk menu siang kali ini aku membuat daging sapi rica-rica saus kecap, dengan sayur sup yang lebih di dominasi oleh kentang dan juga jagung.


Memang sangat simple, karena aku tidak memiliki bakat dalam memasak, tapi semoga saja.... Abang menyukainya.


“Leaa.. ”


“Eh, apa Ma? ” aku terkejut saat ada yang menepuk bahuku dari belakang, dan ternyata itu Mama.


“Kamu mau kemana? Kamu kan belum sarapan sayang? ” tanya ibu mertuaku begitu perhatian, aku menjadi tersenyum kecil dibuatnya.


“Leaa mau makan bareng abang aja Ma, Leaa mau nganterin bekel ini buat abang. ” ucapku sambil tersenyum lebar, lalu ku tenteng box bekal yang sudah di masukkan ke dalam tas tupprewer.


“Hah? Makan bareng? Leaa, Cindy sudah duluan membawakan bekal untuk Angga sayang. Baru saja tadi ia berangkat. Memangnya kamu tidak tahu? Kalau yang rutin mengantarkan bekal untuk Angga selama ini, adalah Cindy. ”


Aku terdiam, wajahku berubah menjadi pias, senyum lebar yang tadi ku tunjukkan, kini mulai melebur menjadi kecil. “Cindy? ” gumamku bertanya, Mama mengangguk.


Sekiranya itu lah yang masih terngiang-ngiang dalam telingaku, walau aku sudah berada di dalam mobil, di antar oleh supir. Masih saja aku mengingat ucapan Ibu Kusumo


Namanya Cindy, perempuan yang dari awal membuat aku penasaran. Perempuan yang sangat dekat dan seringkali menerima sikap ramah dari abang.


Aku melangkah kan kakiku masuk ke lobby utama kantor, sebenarnya ada rasa hangat yang menjalar saat di sepanjang perjalanan, banyak sekali yang memberikan sapaan hangat padaku.


“Selamat siang Ibu Leaa.. ”


“Siang Bu Lea.. ”


“Selamat siang Ibu.. ”


“Halo Ibu Leaa... ”


Jadi begini ya rasanya menjadi istri seorang bos. Dihargai dan sangat di hormati. Berbeda sekali dengan dulu, saat aku menjadi sekretarisnya. Menatapku saja mereka enggan, apalagi menyapaku seperti ini.


Langsung saja aku menuju ruangan abang. Di depan pintu ruangan  terpampang lah tulisan Presdir Room's Pada papan pintu kaca yang bergeser secara otomatis.


Saat kaca pintu itu sudah tergeser, dadaku berdegup begitu kencang, bukan karena keberadaan wanita yang bernama Cindy itu, melainkan hal lain yang lebih besar menurutku.


“Masakanmu selalu saja enak. ”


“Bukan masakan Cindy yang enak, tapi Mas Angga yang selalu bisa menghargai masakan Cindy...”


Aku meremas tali tas Tupperware yang ku pegang erat, aku ingin kembali mundur untuk keluar dari ruangan. Namun sayangnya jika keluar dari ruangan ini, hanya bisa dengan seizin sang pemilik ruangan.


“Abang...”


Padahal aku berucap lirih, tapi kenapa keduanya berhasil mendengarku. Kulihat mata abang membulat terkejut, sedangkan wanita itu, langsung beranjak berdiri dari kursi yang berada di samping abang.


Aku yakin letak kursi itu di geser, karena seharusnya kursi itu berada di depan meja kerja abang, bukan di samping kursi kebesaran abang.


Aku menelan ludahku kasar, berusaha terlihat biasa saja lewat gerak-gerik tubuhku. Aku melangkah mendekat ke arah mereka, tapi belum sampai sepenuhnya ke arah meja kerja abang, wanita itu sudah membungkuk sekilas, dan melenggang pergi atas instruksi dari abang.


“Aleaa sayang...”


Aku mengerjapkan mataku sekilas, tubuhku dengan wanita itu bersisihan, aku melihat matanya menatapku tajam. Aku bersumpah, dia memang melemparkan tatapan tajam itu, dari wajahnya yang sangat terlihat santun.


“Kenapa kau tidak bilang? Jika kesini hmm? ” tanya abang sambil merentangkan kedua tangannya.


Aku tidak ingin menuruti instruksi nya untuk memeluk tubuhnya. Aku lebih memilih diam dan tetap berdiri di depan meja kerja abang. Box bekal itu pun ku tutupi dengan sebisa mungkin, agar tak terlihat oleh abang.


Ku turunkan tanganku agar box bekal itu terhalangi keberadaannya oleh tinggi meja kebesaran abang. Aku merasa minder dan tidak percaya diri karena pujian yang Abang lemparkan kepada Cindy, tadi.


Ku yakin masakanku tak ada nilainya, jika harus di sandingkan oleh masakan dari Cindy, yang terlihat bermacam-macam, dan masih berada di atas meja kerja abang.


“Aleaa hanya ingin makan bersama abang, tapi sepertinya tidak jadi deh, hehehe... ” cengiran ringan ku tunjukkan di bibirku agar terlihat se biasa mungkin.


“Aleaa sudah kenyang, melihat abang makan tadi. ” lanjutku masih tetap tersenyum lebar, sambil menatapnya.