
...Author point of view....
Aleaa terbangun dari tidurnya, ia melirik samping kanan kirinya yang kosong. Ia juga mengitari pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Namun tetap saja tidak ada abang atau siapa pun di sana. Aleaa refleks terbangun, ia mengecek pintu. Dan benar saja dugaannya, bahwa pintu kamar itu terkunci.
Aleaa menggigit kuku-kuku tangannya. Ia curiga sekali dengan apa yang sedang terjadi. Sibuk dengan pemikirannya, tanpa sadar ia menangkap secarcik kertas yang berada di atas nakas.
Langsung saja Aleaa menghampiri kertas itu, ia membukanya, dan langsung fokus membacanya. Matanya membulat, membaca kata demi kata yang di tuliskan suaminya. Ia juga langsung mengecek keadaan gadgetnya, dan benar saja, bahwa seluruh media yang ia punya, tengah di tahan oleh Angga.
Keadaan ponselnya sangat jauh berbeda, bahkan Aleaa yakin, bahwa ini adalah ponsel baru, yang berarti bukan ponselnya. Ia mengotak atik isinya, tidak ada data jaringan internet, sosial media, ataupun yang lainnya. Semuanya sesuai default, bahkan store apps saja tidak ada. Aleaa mengecek kontaknya, hanya ada dua kontak di sana.
Abang.
Dr. Riliana.
“Astaga! Apa-apaan ini.” sergah Aleaa kesal, ia berjalan menuju televisi, saking kesalnya, ia pukul muka televisi karena enggan untuk menyala.
Aleaa berlari menuju pintu, ia berusaha semaksimal mungkin untuk membuka pintu lewat engselnya. Namun yang terjadi justru tangannya yang memerah merasa sakit sekarang. Aleaa memukul pintu kesal, ia layaknya tawanan di dalam kamar sekarang.
“ABAAANGGG BEDEBAAHH!”
“DASAR SUAMI IDIOOOOTT!”
Teriak Aleaa frustasi, tidak peduli jika ada seseorang yang mendengarnya. Ia sudah mati rasa rasanya, menghadapi tingkah absurd suaminya.
Aleaa berpikir bahwa Angga melakukan hal ini agar ia tidak keluar dan belanja banyak lagi. Walau yang sebenarnya terjadi bukanlah hal itu. Melainkan hal lain yang tidak diketahui oleh dirinya. Aleaa menghempaskan tubuhnya di atas kasur, ia menelungkupkan wajahnya pada guling. Merasa habis pikiran untuk menangani hal ini.
Disisi lain...
Angga sedang berbicara dengan Mr. Kendrick sekarang. Kendrick adalah seorang pengusaha berdarah indo-jerman. Dialah yang akan membantu Angga untuk menyelesaikan masalah ini. Angga tersenyum puas saat cctv yang katanya error pada malam itu, dapat di tangkap jelas oleh mereka. Rekaman itu memang membuktikan bahwa Angga bertingkah kasar. Namun jika terdapat saksi, semuanya akan berubah menjadi terbalik.
Cintya.
Teman dekat Cindy, yang tertangkap cctv tengah memberikan serbuk itu pada minuman Angga. Merasa takut akan ancaman Angga yang akan membuatnya masuk ke dalam penjara, Cintya setuju untuk membeberkan kejadian yang sebenarnya.
“Saya tidak akan menjebloskan anda ke penjara, asal anda mau jujur, atau jika anda tidak jujur sama sekali, rekaman itu akan di beberkan, dan anda akan masuk ke dalam penjara.” ujar Kendrick datar.
Angga tersenyum culas, ternyata Cintya dan Cindy adalah teman dekat. Maka tak heran jika Cintya rela membantu Cindy untuk melakukan hal itu. Sedangkan Cindy, masih lah di cari keberadaannya. Sudah sejak kemarin ia tidak pulang-pulang, bahkan yang lebih parahnya lagi, bahwa kesehatan ibunya kini menurun, karena berita miring yang membuat keluarga mereka sedang di jadikan buah bibir oleh para awak media.
Angga memutuskan untuk pulang, ia hanya ingin berbicara dengan Aleaa sebentar, memastikan keadaan istrinya, yang ia tinggalkan sejak pagi hari ini.
...★★★...
Kediaman Kusumo pukul 14:00
Angga mengerutkan keningnya, kenapa istrinya tidak membuka pintu juga. Seperkian detik kemudian, Angga menepuk keningnya lupa. Wong Aleaa saja ia kuncikan dari luar, mana bisa istrinya membuka dari dalam. Akhirnya Angga mengendap-ngendap masuk, ia melihat kamar yang seperti kapal pecah. Benar-benar berantakan.
Terdapat sarapan yang sudah ia bawa tadi pagi, dan sekarang hanya tersisa piring-piringnya saja. Ia pikir Aleaa akan merajuk hingga mogok makan, namun yang terjadi malah sebaliknya. Sikap Aleaa memang tidak ada manis-manisnya sama sekali.
“Leaa sayang.” panggil Angga menaruh paper bag berisikan kue tart. Ia berjalan menghampiri Aleaa, punggung Aleaa menghadapnya. Wajah Aleaa tenggelam oleh guling yang istrinya peluk.
“Leaa. Kau ini tidak mendengar abang, atau hanya pura-pura sih?” tanya Angga mulai kesal, bukannya membalikkan tubuhnya, Aleaa semakin menenggelamkan wajahnya.
Terpaksa Angga menarik pundak Aleaa, otomatis wajah Aleaa juga ikut tertarik. Matanya sembap, pipinya basah, hidunya yang bangir memerah. Angga terlonjak bangun, ia rangkum wajah Aleaa dengan tangannya.
“Kau kenapa Leaa?! Katakan pada abang, siapa yang membuatmu seperti ini!” sentak Angga kuat, melupakan fakta bahwa ia mengunci Aleaa seharian ini.
Aleaa berteriak lirih, ia memukuli dada Angga bertubi-tubi, membuat dirinya sendiri yang merasa kewalahan. Nafas Aleaa tersenggal-senggal, ingin rasanya ia mencabik-cabik mimik wajah tak bersalah dari Angga, suaminya.
“Abang gila! Abang sudah tidak sayang Leaa lagi! Lebih baik abang pergi sekarang!” seru Aleaa keras, isakan keluar dari bibirnya, sedangkan wajahnya menunduk dalam.
Mendengar ucapan Aleaa, otomatis wajah Angga berubah pias. Ia yakin yang di maksud Aleaa adalah tentang berita sialan itu. Berita yang sangat ia hindari keberadaannya, agar istrinya tidak mengetahui. Namun secara tiba-tiba, justru Aleaa mengetahuinya sekarang.
“Abang menyesal Leaa. Maafkan abang, jangan tinggalkan abang Leaa. Jangan. Abang mohon.” ujar Angga memelas, ia langsung mendekap tubuh istrinya erat-erat. Tak membiarkan Aleaa pergi atau pun beranjak bangun.
Angga menyusupkan wajahnya pada ceruk leher Aleaa, “Abang meminta maaf Leaa. Sungguh abang khilaf.” rengek Angga memohon ampun. Aleaa mengerucutkan bibirnya kesal, pada akhirnya ia balas memeluk kepala Angga yang berada di dadanya.
“Huhuhu, Leaa memaafkan abang.” ujar Aleaa mulai mendramatisir keadaan lagi, Aleaa terus mengangguk sambil mengusap kepala Angga sayang.
Angga mematung di tempatnya, “Kau memaafkan abang sayang? Semudah itu?” tanya Angga memastikan dengan raut wajah tercengang.
Aleaa yang tahu bahwa kesalahan Angga hanya menguncinya karena telah banyak berbelanja, mengangguk antusias. “Tentu abang, abang adalah suami Leaa. Sudah sepantasnya Leaa memaafkan perbuatan abang.” ujar Aleaa dengan raut wajah memelas.
Tentu saja Angga tersenyum. Ia langsung menguraikan pelukan mereka, “Abang berjanji Leaa, abang tidak akan berbuat seperti itu lagi. Abang akan segera menyelesaikan masalah abang dengan Cindy, abang akan bilang ke publik kalau yang sebenarnya terjadi bukanlah skandal. Melainkan sebuah insiden kecil.” jelas Angga panjang lebar.
“Insiden?” tanya Aleaa menyatukan alisnya memincing. Angga mengangguk cepat meng iyakan.
...Author point of view off....