MY ARROGANT HUSBAND

MY ARROGANT HUSBAND
36 : bujukan-bujukan abang!



...Author point of view....


“Abang tau abang salah.” lanjut Angga dengan raut wajah yang memelas, ia memeluk dada Aleaa dari belakang.


Tidak mendengar sautan apapun dari Aleaa, Angga menghela nafas. “Mama sama Nenek kenapa sih yang? Ko kesel gitu sama abang.” ujar Angga mengalihkan topik.


“Pikir aja sendiri.” jawab Aleaa ketus, masih enggan membalikkan tubuhnya.


Wajah Angga berubah kecut, menerima semburan panas dari istrinya barusan. Pasti kalau sudah seperti ini akan susah sekali membujuk Aleaa.


“Leaa..” panggil Angga manja, ia menyadarkan keningnya pada pundak Aleaa yang tertutupi oleh setelan piyama satin.


“Ish, apaan sih! Lepas ah!” sergah Aleaa cepat, ia berusaha untuk beranjak pergi, namun Angga masih menahannya kuat.


“Jangan bilang kalau Mama dan Nenek sudah mengetahui yang sebenarnya?” tanya Angga dengan nada curiga. Angga tidak sadar dengan pertanyaan-pertanyaan yang memancing amarah Aleaa.


Refleks Aleaa membalikkan badannya, “Memangnya Leaa istri macam apa di mata abang?! Istri yang membongkar kejahatan suaminya, begitu?! ” tanya Aleaa naik pitam.


Angga jadi gelagapan sendiri, Aleaa adalah wanita kedua yang paling galak dalam hidupnya, setelah sang Nenek. Angga menggeleng cepat, ia langsung merengkuh kedua pipi istrinya.


“Tentu tidak Leaa, kau adalah istri paling manis di antara yang termanis.” puji Angga berusaha meyakinkan Aleaa lewat sorot matanya.


Bukannya merasa tersipu, justru Aleaa semakin geram saja dengan Angga. “Di antara?? Abang memangnya punya istri berapa? Abaangg! Abang kenapa jahat sekali sih dengan Leaa?? Apa jangan-jangan abang menikah lagi? Tanpa sepengetahuan Leaa?!”


Tanya Aleaa geram. Otomatis Angga menggeleng keras. Namun Aleaa keburu mendorongnya hingga hampir saja Angga terjatuh dari atas ranjang. Aleaa langsung membalikkan tubuhnya lagi, kali ini ia mengambil posisi berbaring tengkurap.


“Astaga Leaa. Ada anak kita disini. Kau tidak boleh melakukan hal itu.” ujar Angga berupa teguran, Angga langsung menarik pundak Aleaa, hingga istrinya tertidur dalam posisi miring.


“Abang menikah lagi! Hiks!” seru Aleaa tak terima, ia memukul mukul bantal di depan tubuhnya. “Buaya tetaplah buaya abaang!” lanjut Aleaa meraung kesal di tengah isakannya.


Angga membuka mulutnya terkejut, “Buaya? Memangnya kau pikir abang tinggal di dalam air selama ini? Kau kan tahu Leaa... Abang hanya pergi ke kantor, lalu bekerja, dan setelah itu abang pulang. Menghabiskan waktu denganmu di atas ranjang.” ujar Angga membela dirinya.


“Bukan itu maksud Leaa abang. abang kenapa mesum sekali sih?! Ah, Leaa kesal melihat abang!” sergah Aleaa gregetan.


Angga menahan tawanya yang ingin keluar, ia mendekati Aleaa yang masih menggerutu, namun semakin gerutuan itu terdengar, Angga semakin merasakan bahwa Aleaa memang benar-benar menangis.


“Aleaa, kenapa kamu sangat mudah menangis sih? Abang kan hanya bercanda. Tidak mungkin abang menikah lagi, sedangkan abang sudah memiliki istri yang sempurna untuk abang.” ujar Angga jujur. Ia memeluk Aleaa dari belakang.


Tubuhnya ia rapatkan ke arah Aleaa, hingga dada bidangnya menempel pas pada punggung kecil Aleaa. “Abang berbohong.” ujar Aleaa pelan, namun masih bisa Angga dengar.


“Kalau Leaa istri yang sempurna untuk abang, mana mungkin abang memarahi Leaa karena Leaa hamil.” sungut Aleaa penuh kekecewaan. Ia kembali terisak.


“Tidak Leaa-” belum selesai Angga berbicara, Aleaa sudah menyelanya terlebih dahulu.


“Abang pasti akan menikah lagi. Mencari wanita yang cantik, karena Leaa sudah tidak akan cantik lagi setelah hamil. Perut Leaa akan membesar, dan abang akan meninggalkan Aleaa.” ujar Aleaa cepat, ia semakin menundukkan wajahnya.


“Abang sudah sangat mencintaimu Lea.. Bagaimana bisa, abang mencari wanita lain? Sedangkan istri abang sedang mengandung anak abang.” ucap Angga lembut, ia membalikkan tubuh Aleaa hingga menghadapnya.


Angga mengusap pipi Aleaa pelan, “Kamu tahu kan Leaa? Bagaimana kerja keras abang menyemprotkan,” belum selesai berbicara, lagi-lagi Aleaa menyelanya cepat.


“Jangan berbicara vulgar di depan anak kita abang.” sungut Aleaa kesal, saat setelah menangkap arah bicara Angga.


“Aw! Sakit Leaa! ” pekik Angga kesal, saat Aleaa mencubit lengannya dengan cubitan kecil, yang berkali-kali lipat lebih sakit dari biasanya.


“Rasakan itu! Siapa suruh mesum!” sungut Aleaa judes, tak menghiraukan rintihan Angga, yang sedang kesakitan.


 


Malam pun tiba.


Angga mulai bekerja di rumah malam ini, karena tiba-tiba saja ada kepentingan perusahaan yang mendesak. Namun mengingat bahwa Aleaa masih marah padanya, Angga lebih memilih bekerja dari rumah saja.


Berbeda ketika dulu ia masih lajang, pergi dan pulang bekerja tanpa kenal waktu.


“Aleaa, Aleaa.. Padahal dulu kau yang menemani abang lembur di kantor. Tapi sekarang kau yang menemani abang lembur, hingga tertidur di satu atap rumah yang sama.”


ujar Angga dengan nada tak menyangka, akan jalan takdir yang membawanya ke sebuah pernikahan bersama sekretarisnya sendiri.


Tok.


Tok.


Tok.


“Masuk.” saut Angga dari dalam, matanya tak lepas dari berkas yang berada di tangannya.


“Mas..”


Suara itu, langsung membuat Angga mengangkat wajahnya. Ia mengangkat satu alisnya sinis, merasa ogah-ogahan melihat Cindy yang membawa satu nampan berisikan kopi di atasnya.


Cindy merapatkan bibirnya, ia takut untuk memulai pembicaraan. Mengingat sikap Angga yang sangat kasar terhadapnya.


“Kopinya..” ujar Cindy pelan, setelah membungkukkan wajahnya sekilas.


Angga mengangkat sudut bibirnya untuk tersenyum miring, ia menaruh berkas-berkas itu ke atas meja. “Sedang tidak bermain-main lagi kan?” tanya Angga datar, sangat datar.


Cindy menggeleng cepat, mana berani ia menaruh serbuk-serbuk jahannam itu ke dalam minuman lagi. “Hah? Maksud mas apa? ” tanya Cindy berusaha menetralkan deru nafasnya.


“Baiklah, kalau memang ingin bermain-main dengan saya.” ujar Angga sambil mengangguk-nganggukan wajahnya yang menunduk, menatap laptop.


“Abang!”


Angga menoleh cepat. Di ambang pintu sudah terdapat istrinya yang terengah-engah. Ia langsung beranjak bangun untuk menghampiri Aleaa. Kedua tangan Angga terbuka, menyambut tubuh Aleaa yang langsung memeluknya erat.


“Kenapa kau berlari, Sayang? panggil abang jika kamu menginginkan sesuatu Jangan kau yang menghampiri abang, Leaa.” ujar Angga cemas, sambil mengusap naik turun punggung Aleaa lembut.


Cindy melengoskan wajahnya, ia mengepalkan kedua tangannya kesal. Geram akan pemandangan di depannya, Cindy langsung menaruh kopi beserta nampan di atas meja.


“Aleaa mimpi buruk abang! Di mimpi Aleaa terdapat penyihir jahat yang ingin merebut abang dari Leaa!!” rengek Aleaa menghentak-hentakkan kakinya.


...Author point of view off....