
Aku memasuki rumah dengan abang yang juga berada di sisiku, rumah besar tampak sepi, dan juga kosong. “Dimana yang lain abang?” tanyaku heran sambil mendongak menatapnya.
“Mereka sedang keluar bermain sepertinya, Yang. ” balas abang santai, tidak terkejut dengan rumah yang kosong ini.
Aku mengerutkan dahiku bingung, keluar bermain? apakah orang tua seumuran mereka masih bermain, dan keluar?
“Mereka bermain dimana? Memangnya apa yang di lakukan orang tua jika bermain di luar rumah?” tanyaku penasaran. Bukannya menjawab, abang malah membawaku ke ruang utama.
Ia menyalakan televisi, dengan aku yang duduk di sebelahnya, “Abaangg. ” rengekku kesal, merasa di acuhkan.
Abang menarikku kedalam dekapannya, tapi aku yang tidak bisa bermesraan di tempat umum pun, menjadi waspada. Walau ini ruang utama keluarga baruku, tetap saja aku merasa canggung.
“Leaa!” seru abang sambil melotot garang ke arahku. Aku tahu ia tidak suka akan penolakanku barusan, tapi aku tidak peduli, toh aku memang malu.
Wajahku berubah merah saat ia justru menidurkan kepalanya di atas pahaku. Karena sofa yang panjang bisa membuatnya berbaring, dengan pahaku sebagai bantalannya.
“Iishh apa yang abang lakukan?!” sergah ku setengah berbisik, ia mencubit bibir bawahku sekilas dengan jempol dan jari telunjuknya.
“Ini rumahmu, bisakah bersikap biasa saja? Kamu tahu Leaa? Wajahmu itu seperti orang yang berada di ruang sidang. Sangat tegang.” ujar abang tertawa jahat. Membuatku menahan kekesalan setengah mati.
Namun bukannya ingin marah, aku justru merasa senang melihatnya tertawa. Hingga senyuman tanpa sadar terbit di bibirku. Tanganku terulur untuk mengusap surai rambut abang, jariku menyeruak sedikit menarik rambutnya lembut, hingga aku mempermainkan rambutnya seperti sebuah rumput.
“Kok kuat sekali sih bang?” gerutuku merasa kesusahan, akan kejahilan yang ingin kulakukan. Dengan mencabut beberapa helai rambut di kepalanya.
“Rambut abang kuat Leaa, seperti tenaga tiger di bawah. Sama-sama kuat, ya kan? ”
Wajahku merah padam, ingin sekali aku mencubit bibirnya yang selalalu berkata vulgar, namun bukannya mencubit, justru aku menoleh malu, karena sudah merasa tergoda akan bibir merah alami lelaki itu.
Abang terkekeh sejenak, aku yakin abang menyadari sikap tersipu ku, “Orang tua juga butuh refreshing sayang. Mereka pasti mendatangi tempat-tempat kuno yang dapat membuat pikiran mereka ber-nostalgia. ”
Aku manggut-manggut mengerti mendengar penuturan dari abang, mungkin kalau ibu masih hidup, ibu juga akan bergabung bersama mereka.
Aku menghela nafas sabar, rasanya rindu sekali dengan sosok ibu di sampingku, walau aku sekarang sudah memiliki ibu baru, yaitu Ibu Mertuaku yang juga sangat menyayangiku. “Apa yang kau pikirkan Leaa?”
Mataku mengerjap beberapa kali, tak sadar telah melamun beberapa saat. Aku menunduk, wajah abang menghadap ke perutku. “Tidak ada abang.” balasku sekenanya, aku hanya tak ingin kesedihanku merembet kemana-mana. Hingga dapat di rasakan abang.
“Nanti kita ke makam Ibu ya, abang juga belum bertemu ibumu kan.” ujar abang sedikit tak terdengar, karena bibirnya yang tenggelam pada kaus bagian perutku.
“Ha? Apa bang?” aku mendengarnya jelas. Sangat jelas. Namun rasanya seperti mimpi, abang dapat mengetahui hal apa yang sedang aku pikirkan.
“Nanti kita ke makam Ibu, Leaa sayaang. ”
Aku tersenyum manis, dengan puppy eyes yang sengaja ku tunjukkan pada abang. Abang mencubit pipiku dari bawah.
“Istri abang tidak boleh bersedih, oke?” aku menngangguk cepat. Sebuah anggukan patuh dengan cengiran pada bibirku terpampang jelas di depan matanya.
“Ok boss.”
...Author point of view....
Tak terasa sudah enam minggu lamanya Aleaa resmi menjadi istri dari Angga Kusumo. Semakin lama hubungan keduanya kian semakin dekat, dan juga lengket. Tak jarang Aleaa merasa senang akan kehidupannya yang berubah 180° setelah ia menikah.
Hidupnya jauh lebih berwarna. Apalagi merasa di cintai oleh keluarga sang suami yang sangat menghargai dan menyayanginya. Seumur hidupnya selain kasih sayang dari sang ibu, Aleaa tak mendapatkan kasih sayang dari siapa-siapa lagi.
Mungkin ini adalah buah dari kesabarannya setelah sang ibu meninggal. Aleaa mendapatkan suami yang bisa berperan sebagai ibu, sekaligus ayah untuknya.
"Warna biru Leaa." jawab Angga sambil merapihkan jam tangannya yang senilai puluhan juta rupiah.
Aleaa langsung saja mengambil salah satu jas yang berada di almari. Ia langsung menghampiri Angga. Angga pun merentangkan kedua tangannya, membiarkan sang istri, memakaikan jas pada tubuhnya.
"Perfecto!" ujar Aleaa puas sertelah melihat penampilan sang suami, yang selisih 7 tahun lebih tua dari umurnya.
Angga menarik kedua sudut bibirnya,
lalu ia menggenggam tangan Aleaa keluar, menuju garasi. Baru sampai setengah jalan, Angga menghentikkan langkah mereka. Angga kembali mendekati ranjang, ia membuka salah satu lemari kecil yang terdapat berangkas di dalamnya.
"Ambil sayang, uang jajan minggu ini. " Angga menjulurkan amplop cokelat kepada Aleaa yang terdiam.
"Perasaan abang baru transfer uang ke rekening Aleaa kemarin, kok sekarang di kasih lagi sih?" tanya Aleaa dalam hatinya, merasa bingung.
Angga mengerutkan keningnya, ia kembali menutup brangkas itu, lalu menutup pintu kayu minimalis nakas, dan kembali menghampiri istrinya. "Hei." seru Angga sambil menyentil dahi Aleaa pelan.
"Ish abang." gerutu Aleaa cemberut, mengusap keningnya yang terasa sakit walau tak seberapa. "Abang kan baru mengirim uang ke Aleaa kemarin, terus uang itu untuk apa abang?" tanya Aleaa masih sedikit kesal.
"Untuk kau juga lah. Uang kemarin untuk kau belanja segala macem yang kau inginkan. Kalau ini untuk uang jajanmu sayang. Cepat ambil. Abang malas bekerja kalau sudah siang."
Ujar Angga menjelaskan sambil menyingkirkan tangan sang istri dari dahi untuk ia gantikan dengan jarinya, yang sekarang mengusap kening Aleaa lembut. "Masih sakit?" tanya Angga, sesekali meniupkan bagian kening Aleaa yang ia sentil tadi.
Sebenarnya sudah sama sekali tidak sakit, namun melihat perhatian Angga yang sangat luar biasa. Membuat Aleaa menjadi mengangguk manja, sambil memelaskan wajahnya sengaja.
"Makasih abang." ujar Aleaa tulus, sambil tersenyum lebar dengan wajahnya yang mendongak.
Angga hanya mengangguk, Aleaa memegang amplop cokelat tebal itu,
dan beralih menaruhnya di atas ranjang. Mereka pun kembali berjalan dengan bergandengan tangan, hingga sampai di depan pintu utama.
Sudah terdapat ibu mertuanya disana, bersama bapak mertuanya yang juga sedang menunggu anaknya, Angga. Aleaa mencium punggung tangan Angga, sedangkan Angga mengusap pucuk kepalanya sayang.
"Hati-hati abang." ujar Aleaa tersenyum hangat, ia juga mencium punggung ayah mertuanya, "Hati-hati ayah." Pak Kusumo tersenyum, membalas senyuman Aleaa. Angga pun juga mencium punggung tangan ibunya.
Kegiatan itu sudah Angga lakukan sejak ia kecil, lalu ia juga masih melanjutkannya hingga sekarang.
Teringat saat-saat dimana Angga baru memulai pekerjaannya dari nol. Dan sekarang Angga berhasil mencapai kesuksesan di umurnya yang masih muda untuk menjadi seorang pebisnis kelas kakap. Angga pun turut mengajarkan sang istri, yang juga paham norma-norma kesopanan sedari awal mereka menikah.
Angga senang karena Aleaa mudah beradaptasi dengan keluarganya. Angga juga senang melihat kedekatan Aleaa dengan ibunya.
Mobil yang di singgahi oleh seorang supir serta Angga dan Pak Kusumo pun sudah melenggang pergi. "Leaa, ikut Mama arisan yuk?" tawar Bu Kusumo tiba-tiba.
"Arisan? Dimana Ma?" Jawab Aleaa berbalik bertanya.
"Di rumah tetangga, nanti kamu pokoknya ikut ya. Kamu belum ada interaksi sama para ibu-ibu juga kan." balas Bu Kusumo menaikkan dua alisnya, Aleaa langsung mengangguk mantap meng iyakan.
"Iya Ma. Lea siap-siap dulu." Bu Kusumo tersenyum lebar mendengar jawaban yang keluar dari bibir Aleaa.
...Author point of view off....
...Gimana sampai chapter ini? ...