Mr. Detective

Mr. Detective
Dilamar Jadi Kekasih



Kalau dibilang klien spesial memang bukan, tapi nyatanya


Lassy dapat kunjungan langsung dari Kapten Bay. Atasan Bryan dan Luo itu sudi


menyisihkan waktu untuk menjenguk korban tabrak lari yang kasusnya sedang


diurus anak buahnya. Demi menghormati penyalur uang ke rekening kepolisiankah?


Bisa jadi.


Tapi ini lebih kepada telepon langsung dari pihak Lassy yang


menginginkan Kapten Bay datang mengunjunginya. Ada suatu hal yang ingin


dikatakan Lassy pada Kapten dan itu berkaitan dengan Bryan.


“Jadi?” tanya Luo setelah Kapten Bay keluar dari ruang rawat


Lassy.


“Tidak terjadi apa-apa,” jawab Kapten santai.


“Kapten, kau memberi perhatian spesial padanya.” Luo takut


saingannya bertambah. Sudah ada temannya Lassy, Bryan, dan sekarang kaptennya


ikut serta. Dia pasti orang pertama yang akan tersingkir. “Itu bukan karena


keluarganya, kan?"


“Dia memang spesial,” jawab Kapten Bay masih terlihat


santai. “Utusan Presiden dan keluarga besar Liem yang membuat Lassy spesial,”


tambahnya, kali ini sudah tak lagi menggunakan nada santai.


Kapten Bay duduk di deretan kursi tunggu. Mengeluarkan rokok


dan korek api. Menyematkan rokok di bibir, lalu menyulut ujungnya dengan api.


Kapten menyimpan koreknya, memulai proses merokok dan menghembuskan asapnya ke


sekitar.


“Di sini ada larangan merokok?” tanyanya. Luo menganggukinya


tanpa pikir panjang. “Sudah kukatakan pada istriku kalau aku berhenti merokok.”


“Ya, tapi mungkin ada pengecualian untukmu,” jawab Luo acuh


tak acuh. “Kapten pimpinan kami, siapa yang berani memprotesmu. Istrimu juga


tak akan melihatmu merokok kali ini.”


Kapten Bay menghembuskan asap rokoknya sekali lagi. Setelah


terbatuk-batuk di hisapan kedua itu, dia mematikan rokok dan mengembalikan


dalam wadahnya.


“Jangan bilang pada siapa pun kalau aku merokok di rumah


sakit!” pintanya. “Ini berhubungan dengan kasus Lassy Liem itu. Dia membuatku


sakit kepala.” Kapten tak mau berpura-pura lagi.


Dengan melihat Kapten Bay kembali merokok, Luo bisa menebak


kemungkinan masalahnya bertambah pelik.


Kasus Lassy Liem bukan makin jelas, malah makin rumit.


Segala tindak kejahatan kasus itu telah ditangani dan berjalan pesat, tapi


masalah keberadaan Lassy di negara ini yang membuat Kapten Bay jadi bingung. Utusan


Presiden menawarkan penghormatan tertinggi untuk Kapten Bay dan semua agennya


kalau berhasil membuat Lassy bertahan. Namun, Beliau juga mengancamkan


penurunan atau lebih kejam lagi pencopotan jabatan besar-besaran di devisi yang


dia pimpin kalau perintah itu gagal dilaksanakan.


Di lain pihak, utusan keluarga Liem mendesak Kapten Bay


segera memecahkan kasusnya. Baru-baru ini pihak itu menawarkan sejumlah uang


lagi agar nantinya hasil penyidikan dimanipulasi. Intinya keluarga Liem mau


Lassy keluar dari negaranya sendiri. Bagaimana Kapten Bay tak pusing sekarang?


“Kau tahu apa yang barusan dikatakan Lassy padaku?”


Luo menggeleng cepat.


“Dia menyukai salah satu agenku.”


Luo hampir-hampir tersenyum. Pasti dirinya, siapa lagi agen terhebat di sini selain dia? pikirnya,


terlalu percaya diri.


“Dia bilang menyukai Bryan. Dia minta padaku agar diizinkan


berpacaran dengannya.” Kapten mendesah, demikian juga Luo. “Gila! Apa yang


dilakukan berandal itu sampai Lassy jatuh cinta padanya? Mana dia sekarang?”


Bryan tiba-tiba muncul.


“Aku di sini!” sahut Bryan, baru datang. Dia bergabung


dengan partner serta atasannya. Pura-pura


tidak tahu atas apa yang membuat atasannya itu terlihat stres di depannnya. “Ada


apa membicarakanku?”


Luo mendecih sebelum meneruskan kata-kata Kapten Bay. “Lassy


menyukaimu!” Nada-nadanya tak rela.


“Menyukaiku?” Dia tertawa kecil. Berlagak apa yang barusan


didengarnya adalah berita lucu. “Biar saja, toh aku tak menyukainya.”


Ada peraturan yang melarang hubungan antara aparat polisi


dengan semua orang yang berkaitan dengan kasus yang sedang ditangani. Bryan


berpegang teguh pada peraturan itu. Setidaknya begitu lagaknya di depan Luo dan


Kapten Bay.


“Kapten, kau sedang apa di sini?”


“Sedang duduk dan berfikir keras. Memang kau tak lihat?”


suara Kapten Bay sinis.


“Maksudku, sedang apa di rumah sakit ini?”


“Salah satu agenku baru saja dilamar Lassy. Itu kau!”


Bryan menunjuk dirinya sendiri.


“Iya kau! Lassy menyukaimu dan meminta izinku untuk


memacarimu.”


Bryan menampakkan gestur tak sukanya. Mukanya dibuat sejijik


mungkin agar dia terlihat tak tahu menahu soal masalah ini.


“Dia tak mau kasusnya diteruskan dan mengancam segera pergi


dari negara ini kalau kau tak mau jadi kekasihnya.”


“Biar saja dia pergi. Toh, keluarga besarnya menginginkan


itu!”


“Lalu kau mau dimutilasi algojonya Presiden?” Luo


menakut-nakuti.


“Aku sudah punya kekasih!” belanya.


Luo menepuk dadanya. “Begini saja, Kapten, mintalah Lassy


agar menyukaiku. Aku bisa jadi kekasihnya. Nanti akan kubujuk dia agar tetap


memecahkan masalah ini,” tuturnya. “Aku janji akan merubah sifatku jadi lebih


baik dan jadi detektif yang hebat nantinya.”


Luo sudah hebat, tapi kelakuannya yang belum hebat.


“Kau juga punya kekasih!” tambah Bryan.


“Tidak juga. Aku baru memutuskannya kemarin.”


Kapten Bay memutuskan untuk mematuhi perintah Presiden. Ini


tentang kecintaanya pada negara sendiri. Soal uang dari keluarga besar Liem


yang telah berhamburan, ditransfer ke segala pihak, dia bisa meminta bendahara


negara untuk menggantinya. Kapten Bay cukup memikirkan bagaimana cara membuat


Lassy nyaman tinggal di negara ini, walau harus mengorbankan Bryan sekalipun.


Masalahnya, keluarga Liem itu bukan orang sembarangan.


Mereka memang terkenal dengan sebutan konglomerat berhati baik, tapi


selentingan yang beredar di kepolisian, keluarga Liem punya hubungan dengan


mafia-mafia kelas dunia. Sering menyewa jasa-jasa pempraktek kejahatan demi


kepuasan pribadi. Walau belum ada bukti yang pernah ditemukan, bisa jadi mereka


pernah membunuh, memanipulasi, atau sebangsa kejahatan kelas dunia lainnya.


Kapten Bay cuma takut akan hal itu.


“Bagus,” celetuk Kapten Bay pada Luo, tapi dia segera


berpindah pada Bryan. “Kau setujui saja Lassy jadi kekasihmu. Masalah kekasih


lamamu, putuskan saja dia!”


“Kapten!” protes keduanya anak buahnya. Kompak.


“Kubilang suruh Lassy menyukaiku, jangan Bryan. Dia terlalu


mencintai kekasihnya."


Bryan menyambung kata-kata Luo, “Aku tidak menyukai wanita


itu.”


“Tidak. Tidak begitu. Ini demi kebaikan kita semua.” Kapten


Bay memutuskan untuk bercerita. Toh, di lorong ini tak ada siapa pun yang


mungkin mendengar pembicaraan mereka. “Begini, kita terancam diberhentikan


secara tak terhormat kalau sampai Lassy keluar dari negara ini. Seperti yang


pernah kukatakan kemarin-kemarin bahwa Lassy Liem itu membawa keberuntungan


tersendiri untuk negara.”


“Lalu apa hubungannya dengan kekasih? Aku atau Bryan yang


jadi kekasihnya tidak ada bedanya.”


Kapten Bay tidak mengerti cinta anak muda zaman sekarang.


Sudah tahu anak buahnya tidak ada yang menarik, perilakunya ganjil, Lassy malah


menyukai salah satunya. Secara terang-terangan meminta padanya agar Bryan


diperbolehkan jadi kekasihnya pula. Itu agak di luar logika. Dan sekarang, satu


lagi anak buahnya berusaha jadi orang ketiga.


Masalah percintaan zaman sekarang lebih pelik daripada


masalah politik


Kapten Bay menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Begitu kalau kau tak pernah jatuh cinta!”


Kapten Bay menyindir Luo. Cinta tak bisa dipaksa, hanya itu


hal pasti yang dikehatui Kapten Bay. Sedangkan Luo yang diketahuinya suka gonta-ganti


pasangan, tentu tidak mengenal yang namanya cinta.


“Dia menyukaimu, Brey. Itu suatu keberuntungan untuk kita.


Kalau kau memacarinya, lalu berhasil membujuknya untuk tetap tinggal di negara


ini, status kita terselamatkan.”


Bryan mengangguk asal.


“Kalau kau juga bisa meminta padanya membujuk keluarga


besarnya agar tak mengusik negara kita, itu akan lebih baik lagi.”


“Aku tidak mengerti,” ucap Luo. Begitu pun Bryan sama tak


mengertinya.


“Kujelaskan ini nanti di kantor. Untuk sementara, turuti


dulu apa yang Lassy minta darimu. Dia akan pulang hari ini, kan?”


Bryan mengiyakan dengan anggukan.


“Bagaimana pengecekan rumah Lassy?” tanyanya berpindah pada


Luo.


“Bersih. Aku sudah pastikan sendiri. Anak buahku akan ada di


sana sampai Lassy datang.”


“Bagaimana dengan kekasihku?” Bryan menyela.


“Putuskan saja dia!” Karena Bryan sepertinya keberatan,


Kapten Bay buru-buru menambahkan, “Kalau kau terlalu mencintainya, jadikan dia


selingkuhan. Tapi ingat, Lassy harus jadi prioritas utama. Jangan sampai Lassy


tahu kau sudah punya kekasih.”


“Tapi jangan sentuh Lassy!” ancam Luo. “Kalau semua ini


sudah selesai, aku akan merebutnya darimu!”


Kapten Bay cepat berdiri dan memukul kepala Luo. “Sudah


kubilang kalau kau tak pernah jatuh cinta jangan banyak berharap! Lassy tak


akan mau denganmu, dia sudah jatuh cinta pada Bryan!”


“Tapi aku jatuh cinta padanya, Kapten!”


“Jatuh cinta kepalamu!” maki Kapten Bay dengan pukulan kedua


ke kepala Luo. “Kembali ke kantor, aku belum menerima laporan darimu sejak dua


hari kemarin!” perintahnya pula.


Luo berpamitan pada Bryan, menyelipkan salam untuk Lassy,


kemudian meninggalkan tempat sambil menggerutu.


“Brey, walaupun tubuh Lassy itu bagus, kusarankan kau memang


tak menyentuhnya!” kata Kapten Bay sambil menepuk pundak detektif asuhannya.


“Itu yang dinamakan barang bagus pembawa bencana. Kau paham maksudku?”


Soal keluarga Liem yang bisa berbuat apa pun demi anggota


keluarganya, kan? Bryan paham. Dia tidak akan menyentuh Lassy demi


keselamatannya sendiri.


“Bagus. Ingat saja tentang bonus besar yang akan kau terima


di akhir pekerjaan ini. Jadi, kau bisa fokus.” Bryan menurut. “Aku akan kembali


ke kantor.”