Mr. Detective

Mr. Detective
Detektif Tertuduh



 


 


“Lassy dalam mode sakit otaknya, apa mungkin dia merencakan


penculikan untuk dirinya sendiri?” Ini pertanyaan dari wanita  yang selalu


menganggap Lassy gila, Fai.


“Kau mulai lagi!” pekik Bryan. Padahal Fai bicara tidak


terlalu keras, tapi kebetulan telinga Bryan sedang dalam mode sensitif. “Kau


kira Lassy gila?”


“Aku tidak bilang begitu!”


“Tutup mulutmu kalau tidak mau kututup paksa!”


Ih, menakutkan kalau Bryan sedang marah. Fai memang menutup


perkara dengan Bryan, bukan berarti dia takut. Hanya kasihan kalau lanjut


berdebat nanti Bryan bisa frustrasi.


“Tapi ada benarnya. Kalau dia bisa membuat ledakan di rumah


sendiri, surat kaleng, juga kecelakaan minor pada mantan kekasihmu, dia pasti


bisa merancang penculikan untuk diri sendiri,” Kasmir menimpali. “Masih ingat


pembahasan kita tempo hari, kan?”


“Kas ….” Bryan protes.


“Penculikan sebelumnya juga dilakukan teman-temannya, kan?”


“Kas ….” Bryan mengulang protesnya.


“Cinta segitiga dengan Martha dan Randy yang ternyata salah


paham. Pertukaran aset dengan sepupunya, dan tuduhan diracun kala itu juga


tidak benar.” Kasmir tidak mau berhenti. “Bagaimana pendapatmu, Chang?”


“Mungkin benar.”


Penyataan Chang membuat Bryan kesal. Dia satu-satunya


detektif yang tahu bahwa hubungannya dengan Lassy bukan setting-an. Beberapa minggu belakangan ini mereka berdua juga


dekat, tapi kenapa Chang tidak membelanya?


Tapi Chang segera menepuk pundak Bryan untuk membesarkan


hati temannya itu. “Mungkin juga tidak. Yang terpenting adalah menemukan Lassy.


Masalah benar atau tidak kejadian ini di-setting olehnya, bisa kalian tanyakan


nanti kalau dia sudah ketemu.”


Kali ini semua setuju dengan Chang, termasuk Bryan. Meski


dia tidak suka kekasihnya dipojokkan, tapi kejadian yang sudah ada tidak bisa


dipungkiri. Sekarang Lassy seperti itu, tapi kalau Bryan bisa mengetahui


penyebabnya dan sudah tahu bagaimana cara menghentikanya, dia akan lakukan cara


itu untuk menyembuhkan Lassy. Seperti yang Dr. Wren katakan tempo hari, Lassy


pasti butuh seseorang yang mengerti dia. Hanya itu intinya.


Ngomong-ngomong soal Dr. Wren, psikolog itu punya hutang


penjelasan padanya. Hasil pembicaraan dengan Lassy kemarin dikatakan ada


hubungan dengannya. Apa itu kode bahwa hanya Bryan yang bisa menyembuhkan


Lassy?


“Aku sudah minta rekaman CCTV dari tempat praktek Dr. Wren.


Coba kau analisa rekaman ini!” Kasmir mengangsurkan flash disk ke


tangan seorang petugas yang lebih ahli dibidang analisis video. “Periksa rute


yang kemungkinan digunakan mobil itu juga!”


“Aku menemukan alamat pemilik asli mobil itu. Kuhubungi dia


sekarang juga.” teriak seorang petugas. Dia langsung meraih gagang telepon di


mejanya, memencet nomor yang tertera di layar komputer, kemudian menunggu


teleponnya di angkat. “Hallo ...,” lalu dia bicara banyak dengan pemiliknya.


Begitu juga dengan petugas-petugas lain. Mereka bekerja


sesuai keahlian masing-masing. Mereka berusaha memecahkan kasus penculikan


Lassy bersama-sama. Kalau sedang tidak peduli dengan teman, mereka akan


mengabaikan satu sama lain, tapi bukan berarti mereka tidak peduli dengan kasus


yang masuk meja kepolisian. Pekerjaan mereka adalah menyelesaikan masalah yang


berkaitan dengan hukum, apa pun perbedaan di antara mereka, selalu terlupakan


kalau sudah bekerja bersama. Gotong royong istilahnya. Satu kasus terpecahkan


merupakan kebanggaan tersendiri bagi anggota kepolisian.


Ada yang mengecek CCTV, mencari data rekan bisnis Lassy,


mendata keluarga jauh Lassy dalam hal ini Liem dari keturunan kedua. Ada yang


langsung menelepon teman-teman Lassy untuk dimintai keterangan, dan banyak lagi


pekerjaan dilakukan petugas-petugas itu.


Bryan terharu, tapi perasaan terharunya terganggu ketika


mendengar perut Luo mengeluarkan suara. Bryan menoleh ke sana, teman detektifnya


itu terpuruk di meja. Tengah merintih lirih sambil memijit kepalanya.


“Kau belum makan berapa hari?”


“Hah?” Luo mendadak sadar. “Aku belum makan, ya?”


Bryan menggelengkan kepalanya prihatin. “Mana kutahu!” Dia


memekik. “Kau baru ada kasus?”


“Iya. Tapi sudah terselesaikan!” Dia menghitung dengan


jarinya. “Kurasa tiga hari sudah terselesaikan. Berkasnya sudah dilempar ke


pengadilan tadi pagi.”


“Selama tiga hari itu, kau ingat telah memakan sesuatu atau


tidak?”


Kalau ada pemukul, apa saja yang penting bisa melukai kepala


orang sampai gegar otak, Bryan akan gunakan untuk memukul kepala temannya itu.


Biar gegar otak. Siapa tahu, kalau gegar otak, tingkah Luo bisa lebih baik.


Tidak seenaknya membuat orang gemas campur geram seperti yang selalu dirasakan


Bryan saat bicara dengan Luo.


“Tentu saja aku makan. Aku membeli satu set makanan mahal di


restoran dekat bandara.” Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet,


kemudian menarik kertas dari dalam sana. “Nih, bon-nya saja masih ada!”


Mengulurkan bon makanan itu pada Bryan. “Aku begini gara-gara Lassy hilang.


Sudah tak bisa kumiliki, sekarang dia diculik pula.”


Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Kepala yang rasanya mau


pecah itu tambah sakit setelah geleng-geleng tadi. Dia memilih meletakkan


kepalanya ke meja.


“Mendengarnya diculik tadi pagi, badanku langsung lemas, perutku


melilit, dan kepalaku sakit bukan main. Sekarang harusnya aku membantumu


menemukan Lassy, tapi kau lihat keadaanku tak memungkinkan begini,” eluhnya


masih sambil memijit kepala. “Kuserahkan pencarian Lassy padamu. Segera temukan


dia biar sakitku ini cepat sembuh!”


Bryan selesai membaca bon itu. Tidak ada yang salah. Memang


benar Luo membeli satu set makanan mahal dari restoran dekat bandara, tapi


tanggal belinya lewat dua hari yang lalu. Setelah itu, makhluk kurang ajar,


suka cari perkara itu makan lagi atau tidak selama dua hari ke belakang ini?


“Kau ingat kapan beli makanan di restoran ini?”


“Tentu saja!” Luo menyengir bukan karena berniat mengejek,


tapi sakit kepalanya pindah ke bagian kanan kepalanya. “Tadi pagi,” katanya


mantap, tapi …. “Eh, kemarin,” dia meralatnya. Kali ini tidak begitu yakin.


“Mungkin kemarinnya lagi. Aku lupa. Konsentrasiku tidak bisa pecah ke hal lain


selama aku sedang menangani kasus. Kau tahu sendiri bagaimana aku!”


“Setelah itu kau makan lagi atau tidak?”


“Pasti lah aku makan.”


Waduh, bagian itu Luo lupa. Atau memang dia belum memakan


apa pun? “Aku tidak ingat. Tapi aku yakin sudah memakan sesuatu.”


“Ya, aku juga yakin kau sudah memakan sesuatu!” pekik Bryan


geram.


Kalau belum makan selama dua hari, jadi lemas, sakit perut,


dan sakit kepala, itu namanya kelaparan. Mengaku shock karena


Lassy hilang itu salah. Bryan hampir saja percaya. Luo memang tidak mencoba


berbohong, timing-nya


dengan penculikan Lassy sangat tepat, tapi dia tidak sadar kalau lemasnya itu


karena lupa belum makan sampai dua hari. Khusus hari ini Bryan menyatakan benci


pada Luo.


“... makan angin!” tambah Bryan. Keras menusuk telinga Luo.


Bryan berpaling dari Luo. Mengabaikan temannya yang sekarang


tengah nyengir lebar menyadari kelalaiannya sendiri.


“Kau tetap harus tahu, Brey, meski aku lemas karena lupa


makan, sejujurnya aku juga mencemaskan Lassy. Sangat cemas!” Bryan tidak


merespon. “Aku akan makan, lalu mandi. Nanti kubantu kau mencari Lassy.”


Karena Bryan masih tidak merespon, Luo bangkit dari


duduknya. Rasanya seperti jetlag, hangover. Pandangannya berputar-putar, tapi dia memaksakan


diri untuk beranjak. Dia mau ke kedai langganan. Beli makanan murah, enak, dan


isinya banyak. Biar kebutuhan makanannya selama dua hari yang telah lewat terpenuhi.


***


“Karena Bryan?” Koor beberapa orang.


Mereka semua menoleh pada Bryan. Sedangkan Bryan hanya


sanggup memandang satu persatu temannya dengan muka masam. Dia dipelototi,


dipandangi dengan amat remeh, bahkan sebagian dari teman kantornya langsung pasang


tampang menuduh.


Bryan tidak menyangka Dr. Wren akan melimpahkan semua


kesalahan yang dibuat Lassy padanya. Padahal selama ini tidak pernah menghasud


apalagi menyuruh Lassy melakukan hal yang tidak-tidak. Tahu sendiri kalau Lassy


itu aset negara. Kepolisian dan negara sangat mengagungkannya, mana berani dia


membuat Lassy melakukan kejahatan? Mana berani dia membuat Lassy mencelakai


diri sendiri demi dirinya? Lagipula Bryan mencintai Lassy meski tidak banyak


orang tahu. Jadi, sangat tidak mungkin dia membuat Lassy seperti itu.


“Kau membuat Lassy jadi seperti orang gila?” Fai yang kontra


terhadap hubungan Bryan dan Lassy membuka perkara lagi. “Ya ampun Brey. Meski


kau diumpankan, tidak seharusnya membuat orang tak bersalah seperti Lassy


melakukan tindakan mengerikan seperti itu!” Dia geleng-geleng kepala.


Melebih-lebihkan seolah apa yang dilakukan Lassy benar-benar mengerikan.


“Aku tidak pernah melakukan apa pun pada Lassy,” belanya


meski tak sedikit pun berpengaruh pada pernyataan yang barusan dilontarkan Dr.


Wren di depan seluruh orang di kantor polisi.


“Kau pasti menghasudnya!” tuduh seseorang lagi.


Bryan menggeleng. “Tidak!”


“Atau jangan-jangan karena merasa terbebani berpacaran


dengan Lassy, kau mengacuhkannya. Kau selalu menganggapnya sekedar klien yang


perlu dilindungi tanpa harus diberi perhatian!” tuduh seorang lain yang bahkan


tidak masuk jajaran detektif. Sekedar lewat, tapi ikut melontarkan tuduhan pada


Bryan. “Mengaku saja. Kita semua sudah tahu meski kau menyangkal!”


“Kau ini bicara apa? Aku tidak mungkin melakukan itu!”


“Yang kita tahu dalam hubungan kalian hanya Lassy yang


cinta. Ditugaskan jadi kekasihnya, apa saja yang kau lakukan selama ini? Sudah membuatnya


bahagia atau belum?”


Fai memulai lagi. Bahkan mukanya dibuat sesadis mungkin. Yang


tadinya dengan seenak jidatnya menuduh Lassy gila, sekarang membela Lassy


mati-matian.


“Kalau dia menyakiti diri sendiri tentu saja karena dia


tidak bahagia denganmu. Perhatian yang kau berikan bohong belaka. Tandanya


Lassy kecewa padamu. Tandanya dia sakit hati dengan perhatian yang sama sekali


belum pernah kau berikan padanya dengan tulus!” katanya lagi.


Di mana Luo, Tax, Kasmir, dan teman-temannya yang lain saat


Bryan dicecar tuduhan seperti ini?


Semuanya ada di dekatnya, tapi hanya diam memandangi Bryan


yang pasang muka memelas ke sana kemari. Berdiri paling dekat adalah Chang.


Chang tahu kalau hubungannya dengan Lassy bukan hubungan percintaan semu.


Perhatian, kasih sayang, dan cinta yang Bryan berikan juga tidak semu seperti


yang dikatakan Fai. Tapi Chang sama sekali tidak bersuara.


Bryan tidak keberatan kalau hubungan betulannya dengan Lassy


dibuka di hadapan seluruh orang, tapi kalau dia sendiri yang mengatakannya, tak


akan ada yang percaya. Butuh orang lain seperti Chang dan Narita untuk


membantunya.


“Kau belum tahu bagaimana sakitnya cinta bertepuk sebelah


tangan. Kalau Lassy sampai melukai diri sendiri hanya untuk menarik


perhatianmu, berarti dia sangat kesakitan. Di sini!” tunjuknya pada dadanya


sendiri. “Sakitnya di sini, Brey!” sekali lagi menunjuk ke dada kirinya.


“Aku tidak bermaksud …”


“Pokoknya aku tidak mau tahu, setelah Lassy ketemu kau harus


memilih satu dari dua hal yang kukatakan ini!" Dia hampir-hampir


menggebrak meja demi menyadarkan Bryan. Tidak peduli meski Bryan atau beberapa


orang lainnya punya jabatan lebih tinggi darinya. Bahkan Kapten Bay yang hendak


memotong pembicaraan pun dihentikan olehnya. “Pacaran betulan dengannya,


belajar mencintainya, dan beri dia perhatian dan kasih sayang yang tulus. Atau


tinggalkan dia, biarkan orang lain membahagiakannya. Karena aku yakin ada orang


yang lebih tepat untuk Lassy di luar sana!”


“Aku sudah pacaran betulan dengannya!” Bryan mencoba


keberuntungan dengan berkata jujur. Namun, hampir seisi kantor meremehkan


pengakuannya. Satu dua orang malah tersenyum sinis padanya.


“Oh ya?” Fai melontarkan pertanyaan sarkas. “Tidak usah


membuat pengakuan yang jelas-jelas bohong!”


Bryan langsung tutup mulut.


Fai meneruskan, “Kalian setuju apa yang kukatakan tadi?” Dia


mengitari seluruh ruangan dengan matanya. Meminta pendapat dari satu persatu


orang yang ada di ruangan itu. Beruntung sekali semuanya mengangguk. Bahkan


Chang ikut mengangguk seperti  kena


hipnotis. “Nah, pikirkan dari sekarang, kau mau lanjut atau berhenti dengan


Lassy?”


Mau tak mau Bryan mengangguk.


Tidak usah bicara soal hubungan bohongan atau betulan dulu.


Yang harus dipikirkan sekarang adalah menemukan Lassy. Saat Lassy ketemu dan


pastinya dalam keadaan sehat, Bryan berniat mengajak Lassy untuk membuka


hubungan betulan mereka di depan seluruh orang. Kalau dilakukan berdua tentu


mereka akan percaya. Saat ini Bryan hanya  bisa mengalah dulu.