
“Lassy dalam mode sakit otaknya, apa mungkin dia merencakan
penculikan untuk dirinya sendiri?” Ini pertanyaan dari wanita yang selalu
menganggap Lassy gila, Fai.
“Kau mulai lagi!” pekik Bryan. Padahal Fai bicara tidak
terlalu keras, tapi kebetulan telinga Bryan sedang dalam mode sensitif. “Kau
kira Lassy gila?”
“Aku tidak bilang begitu!”
“Tutup mulutmu kalau tidak mau kututup paksa!”
Ih, menakutkan kalau Bryan sedang marah. Fai memang menutup
perkara dengan Bryan, bukan berarti dia takut. Hanya kasihan kalau lanjut
berdebat nanti Bryan bisa frustrasi.
“Tapi ada benarnya. Kalau dia bisa membuat ledakan di rumah
sendiri, surat kaleng, juga kecelakaan minor pada mantan kekasihmu, dia pasti
bisa merancang penculikan untuk diri sendiri,” Kasmir menimpali. “Masih ingat
pembahasan kita tempo hari, kan?”
“Kas ….” Bryan protes.
“Penculikan sebelumnya juga dilakukan teman-temannya, kan?”
“Kas ….” Bryan mengulang protesnya.
“Cinta segitiga dengan Martha dan Randy yang ternyata salah
paham. Pertukaran aset dengan sepupunya, dan tuduhan diracun kala itu juga
tidak benar.” Kasmir tidak mau berhenti. “Bagaimana pendapatmu, Chang?”
“Mungkin benar.”
Penyataan Chang membuat Bryan kesal. Dia satu-satunya
detektif yang tahu bahwa hubungannya dengan Lassy bukan setting-an. Beberapa minggu belakangan ini mereka berdua juga
dekat, tapi kenapa Chang tidak membelanya?
Tapi Chang segera menepuk pundak Bryan untuk membesarkan
hati temannya itu. “Mungkin juga tidak. Yang terpenting adalah menemukan Lassy.
Masalah benar atau tidak kejadian ini di-setting olehnya, bisa kalian tanyakan
nanti kalau dia sudah ketemu.”
Kali ini semua setuju dengan Chang, termasuk Bryan. Meski
dia tidak suka kekasihnya dipojokkan, tapi kejadian yang sudah ada tidak bisa
dipungkiri. Sekarang Lassy seperti itu, tapi kalau Bryan bisa mengetahui
penyebabnya dan sudah tahu bagaimana cara menghentikanya, dia akan lakukan cara
itu untuk menyembuhkan Lassy. Seperti yang Dr. Wren katakan tempo hari, Lassy
pasti butuh seseorang yang mengerti dia. Hanya itu intinya.
Ngomong-ngomong soal Dr. Wren, psikolog itu punya hutang
penjelasan padanya. Hasil pembicaraan dengan Lassy kemarin dikatakan ada
hubungan dengannya. Apa itu kode bahwa hanya Bryan yang bisa menyembuhkan
Lassy?
“Aku sudah minta rekaman CCTV dari tempat praktek Dr. Wren.
Coba kau analisa rekaman ini!” Kasmir mengangsurkan flash disk ke
tangan seorang petugas yang lebih ahli dibidang analisis video. “Periksa rute
yang kemungkinan digunakan mobil itu juga!”
“Aku menemukan alamat pemilik asli mobil itu. Kuhubungi dia
sekarang juga.” teriak seorang petugas. Dia langsung meraih gagang telepon di
mejanya, memencet nomor yang tertera di layar komputer, kemudian menunggu
teleponnya di angkat. “Hallo ...,” lalu dia bicara banyak dengan pemiliknya.
Begitu juga dengan petugas-petugas lain. Mereka bekerja
sesuai keahlian masing-masing. Mereka berusaha memecahkan kasus penculikan
Lassy bersama-sama. Kalau sedang tidak peduli dengan teman, mereka akan
mengabaikan satu sama lain, tapi bukan berarti mereka tidak peduli dengan kasus
yang masuk meja kepolisian. Pekerjaan mereka adalah menyelesaikan masalah yang
berkaitan dengan hukum, apa pun perbedaan di antara mereka, selalu terlupakan
kalau sudah bekerja bersama. Gotong royong istilahnya. Satu kasus terpecahkan
merupakan kebanggaan tersendiri bagi anggota kepolisian.
Ada yang mengecek CCTV, mencari data rekan bisnis Lassy,
mendata keluarga jauh Lassy dalam hal ini Liem dari keturunan kedua. Ada yang
langsung menelepon teman-teman Lassy untuk dimintai keterangan, dan banyak lagi
pekerjaan dilakukan petugas-petugas itu.
Bryan terharu, tapi perasaan terharunya terganggu ketika
mendengar perut Luo mengeluarkan suara. Bryan menoleh ke sana, teman detektifnya
itu terpuruk di meja. Tengah merintih lirih sambil memijit kepalanya.
“Kau belum makan berapa hari?”
“Hah?” Luo mendadak sadar. “Aku belum makan, ya?”
Bryan menggelengkan kepalanya prihatin. “Mana kutahu!” Dia
memekik. “Kau baru ada kasus?”
“Iya. Tapi sudah terselesaikan!” Dia menghitung dengan
jarinya. “Kurasa tiga hari sudah terselesaikan. Berkasnya sudah dilempar ke
pengadilan tadi pagi.”
“Selama tiga hari itu, kau ingat telah memakan sesuatu atau
tidak?”
Kalau ada pemukul, apa saja yang penting bisa melukai kepala
orang sampai gegar otak, Bryan akan gunakan untuk memukul kepala temannya itu.
Biar gegar otak. Siapa tahu, kalau gegar otak, tingkah Luo bisa lebih baik.
Tidak seenaknya membuat orang gemas campur geram seperti yang selalu dirasakan
Bryan saat bicara dengan Luo.
“Tentu saja aku makan. Aku membeli satu set makanan mahal di
restoran dekat bandara.” Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet,
kemudian menarik kertas dari dalam sana. “Nih, bon-nya saja masih ada!”
Mengulurkan bon makanan itu pada Bryan. “Aku begini gara-gara Lassy hilang.
Sudah tak bisa kumiliki, sekarang dia diculik pula.”
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Kepala yang rasanya mau
pecah itu tambah sakit setelah geleng-geleng tadi. Dia memilih meletakkan
kepalanya ke meja.
“Mendengarnya diculik tadi pagi, badanku langsung lemas, perutku
melilit, dan kepalaku sakit bukan main. Sekarang harusnya aku membantumu
menemukan Lassy, tapi kau lihat keadaanku tak memungkinkan begini,” eluhnya
masih sambil memijit kepala. “Kuserahkan pencarian Lassy padamu. Segera temukan
dia biar sakitku ini cepat sembuh!”
Bryan selesai membaca bon itu. Tidak ada yang salah. Memang
benar Luo membeli satu set makanan mahal dari restoran dekat bandara, tapi
tanggal belinya lewat dua hari yang lalu. Setelah itu, makhluk kurang ajar,
suka cari perkara itu makan lagi atau tidak selama dua hari ke belakang ini?
“Kau ingat kapan beli makanan di restoran ini?”
“Tentu saja!” Luo menyengir bukan karena berniat mengejek,
tapi sakit kepalanya pindah ke bagian kanan kepalanya. “Tadi pagi,” katanya
mantap, tapi …. “Eh, kemarin,” dia meralatnya. Kali ini tidak begitu yakin.
“Mungkin kemarinnya lagi. Aku lupa. Konsentrasiku tidak bisa pecah ke hal lain
selama aku sedang menangani kasus. Kau tahu sendiri bagaimana aku!”
“Setelah itu kau makan lagi atau tidak?”
“Pasti lah aku makan.”
Waduh, bagian itu Luo lupa. Atau memang dia belum memakan
apa pun? “Aku tidak ingat. Tapi aku yakin sudah memakan sesuatu.”
“Ya, aku juga yakin kau sudah memakan sesuatu!” pekik Bryan
geram.
Kalau belum makan selama dua hari, jadi lemas, sakit perut,
dan sakit kepala, itu namanya kelaparan. Mengaku shock karena
Lassy hilang itu salah. Bryan hampir saja percaya. Luo memang tidak mencoba
berbohong, timing-nya
dengan penculikan Lassy sangat tepat, tapi dia tidak sadar kalau lemasnya itu
karena lupa belum makan sampai dua hari. Khusus hari ini Bryan menyatakan benci
pada Luo.
“... makan angin!” tambah Bryan. Keras menusuk telinga Luo.
Bryan berpaling dari Luo. Mengabaikan temannya yang sekarang
tengah nyengir lebar menyadari kelalaiannya sendiri.
“Kau tetap harus tahu, Brey, meski aku lemas karena lupa
makan, sejujurnya aku juga mencemaskan Lassy. Sangat cemas!” Bryan tidak
merespon. “Aku akan makan, lalu mandi. Nanti kubantu kau mencari Lassy.”
Karena Bryan masih tidak merespon, Luo bangkit dari
duduknya. Rasanya seperti jetlag, hangover. Pandangannya berputar-putar, tapi dia memaksakan
diri untuk beranjak. Dia mau ke kedai langganan. Beli makanan murah, enak, dan
isinya banyak. Biar kebutuhan makanannya selama dua hari yang telah lewat terpenuhi.
***
“Karena Bryan?” Koor beberapa orang.
Mereka semua menoleh pada Bryan. Sedangkan Bryan hanya
sanggup memandang satu persatu temannya dengan muka masam. Dia dipelototi,
dipandangi dengan amat remeh, bahkan sebagian dari teman kantornya langsung pasang
tampang menuduh.
Bryan tidak menyangka Dr. Wren akan melimpahkan semua
kesalahan yang dibuat Lassy padanya. Padahal selama ini tidak pernah menghasud
apalagi menyuruh Lassy melakukan hal yang tidak-tidak. Tahu sendiri kalau Lassy
itu aset negara. Kepolisian dan negara sangat mengagungkannya, mana berani dia
membuat Lassy melakukan kejahatan? Mana berani dia membuat Lassy mencelakai
diri sendiri demi dirinya? Lagipula Bryan mencintai Lassy meski tidak banyak
orang tahu. Jadi, sangat tidak mungkin dia membuat Lassy seperti itu.
“Kau membuat Lassy jadi seperti orang gila?” Fai yang kontra
terhadap hubungan Bryan dan Lassy membuka perkara lagi. “Ya ampun Brey. Meski
kau diumpankan, tidak seharusnya membuat orang tak bersalah seperti Lassy
melakukan tindakan mengerikan seperti itu!” Dia geleng-geleng kepala.
Melebih-lebihkan seolah apa yang dilakukan Lassy benar-benar mengerikan.
“Aku tidak pernah melakukan apa pun pada Lassy,” belanya
meski tak sedikit pun berpengaruh pada pernyataan yang barusan dilontarkan Dr.
Wren di depan seluruh orang di kantor polisi.
“Kau pasti menghasudnya!” tuduh seseorang lagi.
Bryan menggeleng. “Tidak!”
“Atau jangan-jangan karena merasa terbebani berpacaran
dengan Lassy, kau mengacuhkannya. Kau selalu menganggapnya sekedar klien yang
perlu dilindungi tanpa harus diberi perhatian!” tuduh seorang lain yang bahkan
tidak masuk jajaran detektif. Sekedar lewat, tapi ikut melontarkan tuduhan pada
Bryan. “Mengaku saja. Kita semua sudah tahu meski kau menyangkal!”
“Kau ini bicara apa? Aku tidak mungkin melakukan itu!”
“Yang kita tahu dalam hubungan kalian hanya Lassy yang
cinta. Ditugaskan jadi kekasihnya, apa saja yang kau lakukan selama ini? Sudah membuatnya
bahagia atau belum?”
Fai memulai lagi. Bahkan mukanya dibuat sesadis mungkin. Yang
tadinya dengan seenak jidatnya menuduh Lassy gila, sekarang membela Lassy
mati-matian.
“Kalau dia menyakiti diri sendiri tentu saja karena dia
tidak bahagia denganmu. Perhatian yang kau berikan bohong belaka. Tandanya
Lassy kecewa padamu. Tandanya dia sakit hati dengan perhatian yang sama sekali
belum pernah kau berikan padanya dengan tulus!” katanya lagi.
Di mana Luo, Tax, Kasmir, dan teman-temannya yang lain saat
Bryan dicecar tuduhan seperti ini?
Semuanya ada di dekatnya, tapi hanya diam memandangi Bryan
yang pasang muka memelas ke sana kemari. Berdiri paling dekat adalah Chang.
Chang tahu kalau hubungannya dengan Lassy bukan hubungan percintaan semu.
Perhatian, kasih sayang, dan cinta yang Bryan berikan juga tidak semu seperti
yang dikatakan Fai. Tapi Chang sama sekali tidak bersuara.
Bryan tidak keberatan kalau hubungan betulannya dengan Lassy
dibuka di hadapan seluruh orang, tapi kalau dia sendiri yang mengatakannya, tak
akan ada yang percaya. Butuh orang lain seperti Chang dan Narita untuk
membantunya.
“Kau belum tahu bagaimana sakitnya cinta bertepuk sebelah
tangan. Kalau Lassy sampai melukai diri sendiri hanya untuk menarik
perhatianmu, berarti dia sangat kesakitan. Di sini!” tunjuknya pada dadanya
sendiri. “Sakitnya di sini, Brey!” sekali lagi menunjuk ke dada kirinya.
“Aku tidak bermaksud …”
“Pokoknya aku tidak mau tahu, setelah Lassy ketemu kau harus
memilih satu dari dua hal yang kukatakan ini!" Dia hampir-hampir
menggebrak meja demi menyadarkan Bryan. Tidak peduli meski Bryan atau beberapa
orang lainnya punya jabatan lebih tinggi darinya. Bahkan Kapten Bay yang hendak
memotong pembicaraan pun dihentikan olehnya. “Pacaran betulan dengannya,
belajar mencintainya, dan beri dia perhatian dan kasih sayang yang tulus. Atau
tinggalkan dia, biarkan orang lain membahagiakannya. Karena aku yakin ada orang
yang lebih tepat untuk Lassy di luar sana!”
“Aku sudah pacaran betulan dengannya!” Bryan mencoba
keberuntungan dengan berkata jujur. Namun, hampir seisi kantor meremehkan
pengakuannya. Satu dua orang malah tersenyum sinis padanya.
“Oh ya?” Fai melontarkan pertanyaan sarkas. “Tidak usah
membuat pengakuan yang jelas-jelas bohong!”
Bryan langsung tutup mulut.
Fai meneruskan, “Kalian setuju apa yang kukatakan tadi?” Dia
mengitari seluruh ruangan dengan matanya. Meminta pendapat dari satu persatu
orang yang ada di ruangan itu. Beruntung sekali semuanya mengangguk. Bahkan
Chang ikut mengangguk seperti kena
hipnotis. “Nah, pikirkan dari sekarang, kau mau lanjut atau berhenti dengan
Lassy?”
Mau tak mau Bryan mengangguk.
Tidak usah bicara soal hubungan bohongan atau betulan dulu.
Yang harus dipikirkan sekarang adalah menemukan Lassy. Saat Lassy ketemu dan
pastinya dalam keadaan sehat, Bryan berniat mengajak Lassy untuk membuka
hubungan betulan mereka di depan seluruh orang. Kalau dilakukan berdua tentu
mereka akan percaya. Saat ini Bryan hanya bisa mengalah dulu.