
Bryan sudah membaca laporan kejadian yang melibatkan Lassy
di dalamnya. Semua laporan yang masuk ke kepolisian kebanyakan kecelakaan kecil
di mana Lassy jadi korban. Kejadian jatuhnya lampu gantung di ballroom hotel,
di acara lelang amal akhir tahun. Kejadian podium yang tangganya patah di acara
penghargaan pembisnis sukses. Bocornya kapal pemancing yang ditumpangi Lassy
beserta rombongan koleganya. Dan beberapa kejadian lain seperti mobilnya yang
tersenggol mobil lain di kemacetan lampu merah, kesalah pahaman sampai berakhir
dengan perang lempar buah di acara pembukaan pasar buah terbesar di kota
sebelah, dan beberapa lainnya.
Sebagian kejadian tidak dilaporkan ke kepolisian, tapi
pernah disiarkan di TV, di majalah, dan surat kabar. Bagian ini membahas
kesuksesan Lassy dalam membawa perusahaan periklanannya memasuki jajaran
perusahaan top lima di negara ini. Juga tentang profil Lassy yang hampir tiap
bulan mengisi beberapa lembar halaman di majalan bisnis dalam dan luar negeri.
Bryan sudah tahu kehebatan Lassy, makanya dia tidak tertarik
lagi bagian ini. Dia lebih tertarik pada kecelakaan kecil yang menimpa Lassy
hampir tiap tahunnya. Memang orang kaya hidupnya rumit, penuh dengan skandal.
Tetapi kalau skandalnya selalu mengakibatkan kemalangan bagi diri sendiri,
rasanya Bryan saja tidak akan sanggup. Lalu bagaimana bisa kekasihnya itu
bertahan hingga sekarang? Kalau bukan hebat maksimal, apalagi namanya? Bryan
bangga pada Lassy, tapi juga kasihan.
Tempo hari Chang mengatakan kemungkinan Lassy menggila
seperti sekarang dipicu oleh kejadian sebelum-sebelumnya. Selama terjadi
kemalangan itu Lassy selalu mendapat pertolongan terbaik dari berbagai pihak.
Bisa jadi Lassy makin haus dengan perhatian orang terhadapnya, maka dari itu
dia melakukan tindakan menyengsaran diri sendiri. Walau pendapat Chang itu
tidak masuk di akal, bagi seorang psikolog, hal itu wajar.
Dr. Wren, psikolog dari Universitas kota Delta yang sering
dimintai tolong oleh kepolisian didatangkan sore itu. Khusus untuk membahas
masalah Lassy, sebab akibat, dan cara menyembuhkannya. Dr. Wren menjelaskan
panjang lebar soal kasus itu. Dia juga menceritakan kasus sama yang pernah
terjadi sebelumnya. Lassy haus perhatian atau dalam pandangan Dr. Wren haus
kasih sayang, bisa disembuhkan. Dia menyarankan agar orang-orang terdekat,
seperti keluarga, teman, dan kekasih, lebih mendekatkan diri pada Lassy.
Pertama-tama harus menumbuhkan kepercayaan Lassy terhadap orang terdekat, lalu
memberinya kasih sayang dan jaminan keamanan. Hal seperti ini harus dilakukan
bertahap dan dalam jangka waktu yang lama, agar kesembuhannya permanen.
“Berarti Bryan akan terus jadi kekasihnya Lassy?” pertanyaan
itu terlempar begitu saja entah oleh siapa.
Lalu disambut oleh Dr. Wren sendiri. “Brey, ini pertanyaan
serius. Kau benar-benar ingin terus jadi kekasihnya Lassy atau tidak?”
Bryan tidak menjawab, memang tidak tahu harus menjawab apa.
Seseorang lain nyeletuk, mengatakan bahwa Bryan diumpankan pada Lassy. Selama
Lassy masih menjadi aset negara, selama itulah Bryan akan jadi kekasihnya.
Sudah tanda tangan kontrak secara tak kasatmata. Tidak bisa dibatalkan kecuali
Bryan atau Lassy mati sebelum kontrak berakhir. Agak sadis penjelasan ini, tapi
Bryan membenarkannya.
“Meski hanya umpan kau tidak boleh memberi kasih sayang
setengah-setengah pada Lassy. Kau harus ingat bahwa Lassy adalah aset negara,”
kata Dr. Wren. “Ini akan jadi tugas berat, membuat Lassy tergantung padamu agar
tidak lagi mencari perhatian orang lain. Otomatis dia tidak akan mencelakai diri
sendiri dan orang lain juga.”
“Tapi Bryan tidak cinta pada Lassy.” Kasmir mengatakannya
dan Luo menyetujui. Walau protes Luo sudah berkurang sejak mendengar kenyataan
Lassy adalah tersangka peledakan rumah sendiri, kasus surat kaleng, dan mungkin
masih ada hal lainnya, Luo masih menaruh harapan padanya.
“Siapa bilang? Bryan cinta padanya!” sangkal Narita. Chang
tidak sadar mengangguki pernyataan itu.
“Tidak!” Seseorang menyangkal lagi. “Tanya saja pada Bryan!”
“Iya.” Narita tidak mau kalah membenarkan. “Kau saja yang
tanya padanya, biar semua orang di sini tahu!”
“Sudah cukup!” Kapten Bay menengahi. "Masalah cinta
atau tidak, biar Bryan yang mengurusnya sendiri. Kalian diam saja!” Kapten Bay
melotot ke sana kemari. Setelah anak buahnya diam, Kapten baru berhenti
melotot. “Dr. Wren, lanjutkan!”
Dr. Wren mengangguk. “Mencintai bisa jadi sangat sulit, tapi
juga bisa jadi sangat mudah. Hanya bagaimana cara kau menarik ulur hatimu.”
Semua pendengar mengangguk-angguk meski banyak yang tidak mengerti. “Kau juga bisa
melakukannya. Hanya harus menanamkan paham ke otakmu bahwa kau akan bahagia
dengan Lassy, atau dia adalah segalanya bagimu, bisa juga dengan paham semua
yang ada pada Lassy adalah semua yang menjadikanmu menyukainya. Tanpa sadar kau
akan mencintainya lebih dari apa pun di dunia ini.”
Kedengarnya seperti menghipnotis diri sendiri. Menurut para
wanita, itu cara yang mudah. Munurut para lelaki, itu cara yang sulit. Bryan
paling tahu rasanya. Dia sudah mengalami semua fase itu. Sekarang fase di mana
cintanya diuji dengan tingkah menyimpang yang dilakukan Lassy, diuji oleh
ketakutan saat dekat dengan wanita itu, diuji oleh keraguannya terhadap
kekasihnya sendiri sedang terjadi. Bryan sangsi untuk bisa bertahan. Namun,
mengingat Lassy bisa melewati masa-masa sulit ketika harus berjuang sendirian
melawan teror keluarga, Bryan merasa terpacu. Dia juga harus bisa melewati
ujian seperti ini, supaya Lassy bisa diselamatkannya.
“Ujian cinta memang jauh lebih sulit dan rumit dari ujian
apa pun, tapi aku yakin kau pasti bisa!” Narita memberinya semangat. Seperti
halnya dia yang melewati ujian cinta bersama kekasihnya yang seorang berandal,
Bryan juga akan melewatinya. “Kau harus buat Lassy bahagia!”
Bryan pun mengangguk.
Maka dari itu ketika bersama Lassy, Bryan mencurahkan segala
bentuk perhatian padanya. Seperti saat ini, menjemput Lassy di kantornya bahkan
sebelum Lassy menelepon dan menyuruhnya menjemput. Bryan menunggu lima belas
menit sampai Lassy keluar dari kantornya. Membawakan tas kerja dan membukakan
pintu mobil ketika hendak masuk.
Mereka jalan-jalan sebentar, pergi ke pusat perbelanjaan dan
membeli beberapa barang pribadi. Setelah itu Bryan mengajak Lassy makan malam.
Memilih restoran yang mahal dengan suasana yang romantis. Lassy saja sampai
heran, dua kali menanyakan maksud Bryan memperlakukannya seperti itu, tapi
Bryan tidak menjawab sama sekali.
“Kau memberiku coklat?” Lassy memilih satu dari kotak penuh
coklat yang diberikan Bryan padanya. “Aku tidak percaya kau bisa mendapat
coklat seperti ini dengan mudah.”
“Bukan dariku.”
“Sudah kuduga!” Bryan menggerutu. Tadinya mau mengakui
pemberian itu darinya, tapi Lassy akan tahu kalau dia berbohong. “Dari siapa?”
“Temanku. Dia yang membantuku mencarimu ketika kau di culik
Martha dan Bianca.” Bryan meletakkan dompet, borgol, dan pinstolnya di atas
meja. Lalu melepas jaket dan sepatu. Kemudian duduk sebentar di sebelah Lassy.
“Dia ikut kemanapun aku pergi, padahal dia sendiri sedang capek.”
“Teman yang baik,” celetuk Lassy sambil membaca komposisi
coklat di belakang kemasannya.
“Dia tidak benar-benar baik. Memang dia mendukung hubungan
kita, dia penggemarmu sampai memberikan coklat seperti ini segala, tapi dia
suka mengomel.”
“Wanita memang seperti itu.”
“Semua wanita yang ada di kantorku suka sekali mengomel.
Kalau aku ber-partner dengan wanita,
tiap kasusnya selesai, telingaku selalu mengalami penurunan fungsi pendengaran
sementara.” Bryan melengos sejenak, kemudian menatap Lassy dengan senyum yang
dibuat semanis mungkin. “Kau terbiasa dengan banyak orang, tapi aku tidak.”
Lassy membuka coklat itu, menggigitnya sedikit. Coklatnya
rasa Rum. Coklat Belgia yang dipadu dengan Rum Italia. Coklat itu hanya dijual
di Eropa, kecuali seseorang dari negara ini telah pergi ke sana untuk
membelinya. Lassy suka coklat itu. “Memang, tapi aku lebih terbiasa denganmu!”
Lalu menyodorkan coklatnya di depan mulut Bryan. Bryan menggigitnya sedikit.
“Setahuku semua coklat rasanya seperti ini.” Dia mengulurkan
tangannya, melingkar di belakang leher Lassy. Meminta satu gigitan lagi. “Las,
minggu depan kau jadi pindah ke rumahmu?”
Lassy mengangguk. “Saat kita liburan, pembantuku akan
memindahkan barang-barangku ke sana. Sesuai janji, kau harus sering tinggal
bersamaku.”
“Pasti.”
Lassy menggigit coklatnya lagi. Karena Bryan telanjur
mengatakan kalau semua coklat rasanya sama, Lassy tidak lagi membagi coklat itu
meski Bryan memohon sekalipun. Namun, Bryan punya banyak cara yang salah
satunya adalah dengan berusaha merebut coklat itu dari Lassy. Ketika Lassy
masih tak mau membaginya, Bryan mengambilnya dari mulut Lassy. Lalu perang
mulut pun dimulai.
***
Mereka baru mandi. Sekarang tengah berbaring di ranjang.
Berada di sisi-sisi kasur, berjarak dan bersekat guling. Satu sama lain terdiam
lebih dari setengah jam. Mata mereka terpejam, tapi belum tidur.
“Brey!”
“Hm?”
“Aku ingin mengatakan banyak hal padamu.”
Bryan membuka matanya. Menoleh pada Lassy dan tersenyum
ketika pandangan mereka beradu. “Kau mau mengatakan cinta padaku sebelum tidur?
Aku sudah bisa menebaknya. Aku juga mencintaimu!” katanya cukup percaya diri
menebak yang bahkan belum tentu benar.
“Bagian itu kau sudah tahu, aku tak akan mengatakannya
berulang-ulang.” Bryan menggulingkan tubuhnya, mendekat sejengkal. Memasang
kupingnya untuk mendengarkan Lassy. “Ini masalah lain yang kemungkinan kau
belum tahu.”
“Soal apa?”
“Tapi kau tak boleh marah!”
Bryan tersenyum lagi. Terlalu banyak senyum sebenarnya
terlihat aneh, tapi dia melakukannya demi Lassy. Demi menumbuhkan rasa nyaman
untuk kekasihnya itu.
“Soal ledakan rumah ….”
“Kau sendiri yang meledakkannya, kan?”
Lassy memiringkan badannya, menghadap Bryan. Dia Mengernyit
penasaran. “Kau sudah tahu?”
“Bahkan surat kaleng itu juga. Aku dan teman-temanku sudah
tahu.”
“Kau tidak marah?” Lassy tidak enak hati, sampai teman-teman
Bryan tahu perbuatannya itu. “Teman-temanmu tidak marah?” Ketika Bryan
menggeleng lagi, Lassy langsung merasa bersalah. Pasti teman-teman Bryan banyak
direpotkan dengan ulahnya. “Juga kecelakaan itu ….”
“Kecelakaan yang mana?”
Bryan bertanya tentang kecelakaan yang barusan disebutkan
Lassy. Dari raut wajahnya, Lassy menangkap kalau kecelakaan yang dia rancang
baru-baru ini belum diketahui kekasihnya itu. Lassy bermaksud menceritakannya,
dan akan minta maaf atas perbuatan anehnya itu.
“Kecelakaanmu itu kau sendiri yang buat?” Kali ini Bryan
menaikkan nada pertanyaannya. “Kau merancang percobaan pembunuhan untuk diri
sendiri?”
“Tentu saja tidak!”
“Lalu kecelakaan yang mana?” Wajah Bryan mengeras, nampak
gusar dengan pernyataan yang setengah-setengah dari Lassy. “Kalau ada
kecelakaan yang kau buat untuk dirimu sendiri, kepolisian tak akan bersimpati
lagi padamu meski kau dikategorikan sebagai aset negara sekalipun.”
“Kalau negara dan kepolisian tak lagi simpatik padaku, kau
akan tetap simpatik padaku, kan?”
“Las, kita sedang membicarakan kecelakaan.”
“Kita tak akan lagi membicarakan kecelakaan sebelum kau
menjawab pertanyaanku.” Lassy menghembuskan napasnya keras-keras. “Kau akan
simpatik padaku apa pun yang terjadi, kan?"
“Tentu saja!” jawabnya mantap.
“Kalau aku tidak digolongkan sebagai aset negara, tak punya
harta benda, tak punya kedudukan, kau akan tetap simpatik padaku?”
“Aku akan simpatik padamu meski kau bukan siapa-siapa
sekalipun.” Bryan jujur, tapi jawaban itu tidak membuat Lassy puas. “Kau
mengalami banyak hal sulit, tidak ada orang yang tidak simpatik padamu.”
Lassy menyeringai. Tertawa untuk dirinya sendiri. Begitu
menyedihkan dirinya sampai semua orang simpatik padanya? Bahkan kekasihnya
sendiri simpatik karena dia mengalami berbagai hal sulit. Jangan-jangan Bryan
mau berlama-lama jadi kekasihnya karena simpatik? Tidak ada cinta, tidak ada
kasih sayang, semuanya hanya karena simpatik.
“Berarti yang kulakukan selama ini sia-sia.”
“Sia-sia?”
Karena Lassy sudah menduga, hubungan yang diawali dengan
perjanjian, maka berakhir dengan perjanjian pula. Meski Bryan pernah memutuskan
perjanjian itu lalu mengajaknya pacaran betulan, tidak menutup kemungkinan itu
hanya salah satu cara menyalurkan rasa simpatik Bryan dan pihak kepolisian.
Maka sia-sia semua yang dilakukannya untuk membuat Bryan cinta padanya dengan
tulus.
“Soal cinta yang setiap hari kau umbar padaku, apa itu
tulus?”
“Kau mempertanyakan ketulusan cintaku padamu?” tanya balik
Bryan. “Apa aku terlihat seperti orang yang tidak tulus?”
“Kalau hanya bermodalkan simpatik yang kau ubah kalimatnya
jadi cinta, itu namanya tidak tulus.” Lassy tersenyum kecut. Dia menertawakan
diri sendiri. “Aku hanya ingin mencintaimu dan dicintai olehmu. Menyerahkan
segalanya dan melakukan banyak hal untuk tetap bersamamu, tapi sia-sia. Kau
hanya merasa simpatik, tidak lebih.”
Lassy tertawa. Dia membalik badan, memunggungi Bryan dan
tertawa lagi. Tawa sedih, benar-benar sedih.
Ini yang namanya krisis kepercayaan diri. Sebesar apa pun
cinta yang ditunjukkan Bryan, kalau Lassy mengalami krisis kepercayaan diri,
cinta itu akan dianggap main-main. Kalau sudah begini akan susah membuat Lassy
percaya pada Bryan.
Bryan mengalah. Dia mendekat pada Lassy, dekat sekali hingga
menempel di punggung kekasihnya itu. Bryan melingkarkan lengannya di pinggang
Lassy, menempelkan mukanya di belakang leher Lassy, dan menciumi kulit leher
itu.
“Aku memang mengatakan simpatik padamu meski kau bukan
siapa-siapa,” bisiknya sambil mengendus aroma sampo di rambut Lassy. “Tapi aku
juga mencintaimu meski kau bukan siapa-siapa,” tambahnya diikuti kecupan
panjang di belakang leher Lassy. “Coba tanyakan pada hatimu, apa yang barusan
kukatakan jujur atau tidak?” lalu mengeratkan pelukannya.
Mereka bertahan di posisi itu lebih dari lima belas menit.
Bryan mengira Lassy tertidur setelah tak mengeluarkan suara dan tak ada
pergerakan kecuali dadanya yang naik turun. Sampai akhirnya wanita itu
bergerak, hanya sedikit yang langsung membuat Bryan mengeratkan pelukannya
lagi, takut Lassy beranjak dari ranjang. Namun, ketakutan itu tidak terjadi.
Lassy hanya bergerak, meraih tangan Bryan dan menggenggamnya.
“Kecelakaan itu … “ dia diam sejenak. “... aku membayar
orang untuk melukai partner kerjamu
dan mantan kekasihmu,” kata Lassy tiba-tiba. “Hanya luka kecil, tidak
benar-benar membuat mereka celaka. Tapi aku sudah mengatur agar mereka mendapat
dokter terbaik sebagai permintaan maaf. Dan memberikan uang kompensasi secara
tak terduga.”
Sedikit terkejut, tapi Bryan masih bisa bersikap tenang.
“Untuk apa kau lakukan itu?”
Harusnya Bryan bisa menebak alasannya, tapi karena dia tak
mau menggunakan otaknya untuk menebak, Lassy tak akan mengatakan alasannya.