
Bryan keluar dari rumah Ren dengan muka muram. Dia dan Ren
tidak bertemu dan juga tidak saling kontak lebih dari seminggu. Hari ini
datang, niat Bryan akan mengajaknya kencan, sekaligus memberikan uang berbentuk
cek yang diberikan Lassy untuk ongkos sewa dirinya.
Bertamu seperti biasanya, Bryan duduk di sofa bersama orang
tua Ren. Sembari menunggu Ren yang sedang apa di kamarnya, mereka ngobrol.
Awalnya obrolan ringan seperti biasa-biasanya, tapi ujung-ujungnya ada kalimat
tidak mengenakan keluar dari mulut ayahnya Ren.
“Ayah bukan tidak setuju hubungan kalian, tapi umurmu dan
Ren terpaut cukup jauh. Dia masih kuliah, itu pun baru semester berapa? Dia
masih sangat hijau untuk urusan pacar-pacaran.”
Bryan jelas tahu ke mana arah pembicaraan itu. Bukan kali
ini saja ayahnya Ren membicarakan hal yang sama.
“Bagaimana kalau kalian mengambil jarak dulu, setidaknya
sampai dia lulus dan bisa mandiri.”
Alasan lainnya, Bryan seorang detektif. Dia terus berurusan
dengan penjahat. Kalau suatu hari penjahat itu balas dendam pada Bryan lewat
Ren, putrinya itu bisa berbuat apa? Ren cuma remaja yang bahkan berkelahi
melawan anak kecil pun kalah, lalu bagaimana bisa dia berurusan dengan bahaya
yang lebih besar? Sebagai orang tua, Ayah dan Ibunya khawatir. Lebih baik
dibenci anaknya sekarang karena memisahkan hubungan mereka daripada suatu hari
nanti menyesal.
Ren mendengarnya tadi, di bagian ketika ayahnya meminta
Bryan tak datang lagi ke rumah mereka. Istilah orang tua, memisahkan hubungan
mereka secara halus, tapi dampaknya buruk untuk Ren. Anak kuliahan itu langsung
berlari kembali ke kamarnya. Mengunci pintu dan tak mau bicara pada siapa pun.
Alhasil sekarang Bryan bingung sendiri. 100 ribu itu mau diberikan pada siapa?
Tidak mungkin juga dikembalikan pada Lassy.
Yang membuat Bryan lesu dan tak bersemangat adalah statusnya
sekarang. Dia sudah bukan kekasih Ren. Sebentar lagi masalah Lassy terpecahkan,
tentunya hubungan mereka juga segera berakhir. Bryan kacau kalau harus sendiri.
Memang untuk mencari pasangan itu bukan perkara sulit, tapi juga tidak mudah.
Membayangkan Ren yang tak banyak menuntut, cinta padanya, dan mau diajak apa
saja tanpa protes, Bryan tak begitu rela kehilangan gadis itu. Kemudian
membayangkan Lassy, meski kekasihnya yang satu itu bukan tipe wanita manis
seperti Ren, setidaknya Lassy kaya. Dia untung satu juta dolar karena
memacarinya. Kalau Bryan mau yang seperti mereka, harus cari di mana?
Sedang bingung-bingungnnya, Bryan melihat Sandy yang
berjalan sendirian di area itu. Menemukan Sandy sudah seperti menemukan oase di
padang pasir. Kegalauannya putus dengan Ren, dan sebentar lagi berpisah dengan
Lassy, terhapuskan seketika. Bryan segera menghampirinya, menawarkan tumpangan
ketika wanita itu mengaku mobilnya mogok karena lupa mengisi bahan bakar.
Awalnya basa-basi, akhirnya Bryan memberanikan diri mengajak wanita itu makan
siang. Sandy setuju, karena kebetulan dia juga sangat lapar.
Sesampainya di restoran, Sandy turun lebih dulu. Sibuk
dengan mobilnya, Bryan tidak tahu ada mobil lain mendekat, membuka pintu,
kemudian menarik Sandy ke dalamnya. Ketika Bryan sadar, mobil itu sudah melaju
pergi. Ketika dia mengejar, mobil itu sudah hilang, berbelok entah ke mana.
.
.
.
“Luo, catat laporanku barusan!” bentak Bryan pada partner detektifnya. “Catat! Cepat
catat!” perintahnya lagi.
“Aku bukan polisi bagian pelaporan. Kalau kau mau melapor,
sana pada tempatnya!” Luo malah asyik membaca komik detektif setelah mengusir
Bryan.
“Sandy benar-benar diculik. Aku melihatnya sendiri.”
“Bukankah kau juga seorang detektif, kenapa tak mengejar
penculiknya?” Luo mengalihkan fokusnya dari komik di tangan ke arah Bryan. “Kau
malah kemari.”
Bryan mendengus seketika. Dia kemari bukan berarti tak
mengejarnya, Bryan kehilangan jejak. Melapor ke kantor adalah tindakan tepat
untuk minta bantuan. Luo salah satu detektif yang pas untuk dimintai bantuan,
tapi begini tanggapan yang Bryan dapat dari temannya itu.
Tax lewat, dia menyapa Bryan dan Luo sejenak tapi langsung
pergi ketika Bryan hendak laporan soal penculikan. Chang juga lewat, dia malah
sama sekali tak melirik teman-teman detektifnya itu. Bryan menghentikan
langkahnya, tapi Chang menolak. Katanya dia punya tugas yang sangat penting,
tidak dapat ditunda. Alhasil Bryan kembali pada Luo.
“Ayolah, bantu aku menemukan penculik itu!” pinta Bryan.
Dia merasa bersalah karena hilangnya Sandy saat wanita itu
bersamanya. Kalau keluarga Lassy tahu, dia pasti disalahkan.
“Heh, kau yang di sana!” tuding Bryan pada seorang polisi
yang sedang menyeruput kopinya. “Carikan nama pemilik mobil Audi warna putih
dengan nomor DT 4103N!” perintahnya.
“Untuk apa?” tanyanya setelah meletakkan cangkir kopi dan
beralih mengigit roti.
“Dia menculik Sandy!”
“Siapa Sandy?” tanyanya lagi setelah menelan rotinya.
“Jangan banyak tanya, cari saja!” bentak Bryan.
Petugas itu mendesis. Dia segera mengalihkan pandang
langsung menuju komputer. Petugas itu menunduk dan berkutat dengan keyboard-nya.
“Siapa Sandy?” tanya Luo meneruskan pertanyaan petugas tadi.
“Dia sepupunya Lassy.”
Luo meninggalkan komiknya lagi, fokus pada Bryan. “Sepupunya Lassy diculik?”
Apa mungkin ini masih masalah yang sama dengan yang dihadapi
Lassy? Gagal membunuh Lassy lalu beralih pada sepupunya? Luo jadi penasaran.
“Kenapa kau tak bilang dari tadi kalau Sandy itu sepupunya
Lassy!”
“Kukira kau sudah tahu. Bukannya dia sudah ke sini
sebelumnya?”
“Hah, kau pikir aku bisa mengingat seluruh nama orang yang
datang kemari?” tegur Luo seenaknya. “Kalau dia benar-benar diculik, ini pasti
ada hubungan dengan gagalnya pembunuhan terhadap Lassy.”
Mendengar pembicaraan barusan, semua petugas yang ada di
kantor segera bersiap. Siapa tahu jasanya digunakan.
Bryan menceritakan lagi kronologi kejadian penculikan itu.
Semua mendengarkan dengan saksama. Satu sama lain segera menimpali dengan kemungkinan-kemungkinan
yang terjadi, hingga Narita mengeluarkan sebuah pertanyaan padanya.
“Kau bilang kalian sedang berada di depan restoran saat
sepupunya Lassy?”
Bryan langsung gelagapan. Semua orang menghentikan
pekerjaannya demi mengalihkan pandang pada Bryan. Dia terintimidasi. Bryan
tidak berselingkuh dengan Sandy, kejadian tadi baru dalam tahap pendekatan.
“Tidak!” jawab Bryan yakin. Amat yakin. “Dia baru menjenguk Lassy
dan mobilnya mogok. Sekalian menawarinya tumpangan, aku mengajaknya makan
siang,” terangnya.
“Lassy tahu kau mengajaknya makan siang?”
Bryan menggeleng. “Mereka sepupuan, kalau aku beramah tamah
dengan sepupu Lassy itu sudah wajar.”
“Wajar dari mananya?” Sama-sama wanita, kalau mendengar ada
wanita lain diselingkuhi, dia ikut merasakan sakitnya. “Kau sedang ada di
perumahan itu, lalu mobil Sandy mogok di daerah yang sama. Alasan klise. Pasti
kalian janjian di sana. Apalagi hari ini kau bilang belum menemui Lassy, tapi
sudah mengajak orang lain makan siang.”
“Itu cuma ajakan makan biasa. Aku tidak ada hubungan apa pun
dengannya!” bantah Bryan.
“Aku tahu isi otakmu, Brey.”
“Iya, iya terserah kau. Yang penting aku tidak selingkuh.”
“Kau tidak selingkuh, tapi akan selingkuh,” tambah Narita
tak mau kalah.
“Sudah, jangan bahas ini lagi. Sekarang ini menemukan Sandy
lebih penting. Terlambat sedikit dia bisa dibunuh!” kata Bryan khawatir.
Luo gusar tadinya, ingin sekali meninju Bryan yang
jelas-jelas mau menyelingkuhi Lassy. Kemudian keinginannya tertunda ketika dia
sadar kalau Bryan selingkuh, jalan menggantikan posisi temannya itu akan lebih
mudah. Luo menarik sebelah sudut bibirnya kemudian.
“Aku bisa membantumu, tapi dengan satu syarat.”
“Aku tahu apa syaratnya. Aku tidak akan melakukannya!”
“Ya sudah, cari saja selingkuhanmu itu sendiri.” Bryan
menggebrak meja Luo, si empunya masih anteng menanggapinya. “Aku tak tega melihat Lassy kau selingkuhi, lebih baik kau serahkan dia padaku. Akan kurawat dia dengan baik.”
“Aku tidak selingkuh!” bantah Bryan keras. “Kau tak mau
membantu, aku cari sendiri. Semoga Kapten Bay dengar kelakuanmu ini!” Bukannya
merasa terancam, Luo malah mengendikkan bahunya. “Kalian juga tak mau
membantuku?” tanya Bryan beralih ke petugas-petugas lain.
“Kami bantu, tapi soal selingkuh ….”
Bryan memotong perkataan itu dengan mengumpat pada semua
orang yang ada di situ. Dia sudah tegaskan kalau tidak ada perselingkuhan
antaranya dan Sandy, masih saja teman-temannya tak percaya. Bryan benar-benar
tak bisa melihat penculikan Sandy diabaikan. Sandy bisa kehilangan nyawa
nantinya.
“Brey ... Brey,” panggil seorang petugas sebelum Bryan
beranjak. “Nama pemilik mobil itu, Aiden Smith. Dia manager pemasaran di
perusahaan penjual barang elektronik. Di pusat dagang elektronik Zerox.”
Zerox adalah perusaahan penjualan merangkap distributor
terbesar di bidang elektronik. Nampaknya masalah Lassy berhubungan dengan
orang-orang berkelas. Perusahaan-perusahaan besar dan tentu orang-orang hebat.
“Aku dapat nomor teleponnya.”
Bryan segera berlari ke mejanya sendiri. Dia mengambil
telepon, lalu mendial nomor-nomor yang dibacakan si petugas. Menunggu beberapa
detik, lalu telepon itu diangkat.
“Apa benar ini Tuan Aiden Smith, menager pemasaran Zerox Elektronik?” Bryan tampaknya mendapat
pembenaran dari sebarang. “Saya Joshua Luo, Detektif kepolisian pusat, ingin
menanyakan beberapa hal kepada Anda. Apa Anda sedang sibuk sekarang?”
Luo melotot tajam, karena dengan kurang ajar Bryan telah
menggunakan namanya tanpa izin.
“Kalau ingin bertemu denganku sekarang, tidak bisa. Aku sedang makan
siang dengan kekasihku. Kalau nanti sore, aku akan sediakan waktu,” jawab Aiden. “Maaf Detektif, apa ada masalah serius berkaitan denganku?” tanyanya khawatir.
“Iya, sedikit serius, tapi belum tentu berkaitan dengan
Anda.” Bryan hampir yakin, dari nada bicaranya, manager pemasaran itu tak tahu
menahu soal kejadian penculikan. Mungkin saja, mobil Aiden dicuri seperti milik
Martha waktu itu, lalu digunakan untuk kejahatan. “Saya bisa menemui Anda
nanti, tapi boleh saya bertanya sesuatu sekarang?”
“Bila benar-benar mendesak, tentu saja boleh.”
“Apa Anda kehilangan mobil?” tanya Bryan to the point.
“Mobil?” Aiden terdengar bingung. “Tidak, aku menggunakan mobilku barusan.”
“Ada kasus penculikan yang kemungkinan pelakunya menggunakan
mobil Anda saat melakukan aksinya.”
“Benarkah?” Aiden sedikit khawatir. Dia meminta izin untuk
menengok mobilnya di luar restoran, tapi masih menemukan mobil itu di tempat
yang sama. “Mobilku masih di tempat sama, Pak.”
“Mobil Anda merek Audi warna putih dengan nomor polisi DT
4103N?”
“Benar, itu mobilku.” Di sebelahnya seseorang menanyakan
ada masalah apa pada lelaki itu. Walau cuma lewat telepon dan terdengar
lamat-lamat, Bryan seperti kenal dengan suara itu, tapi dia tak yakin. “Tidak tahu, San.
Polisi mengatakan mobilku digunakan untuk menculik orang,” jawab
Aiden pada seseorang itu.
“Anda dengan siapa sekarang?”
“Kekasihku. Sedang makan siang,” jawab Aiden ragu-ragu. “Kalau memang ini
sangat mendesak, aku bisa ke kantor polisi sekarang!”
“Tidak perlu Tuan Smith. Kemungkinan ada yang membuat
duplikan plat mobil Anda. Kami akan mencari tahu lebih lanjut. Kalau perlu
keterangan dari Anda, kami akan menghubungi lagi.”
“Tentu, Pak. Aku akan sangat senang kalau bisa membantu.”
“Terima kasih.”
Bryan menutup teleponnya. Hampir membanting gagangan itu
dengan kasar, tapi urung, karena hampir semua orang memandang padanya.
Perasaannya langsung tidak enak. Dia barusan dengar Aiden Smith menyebutkan
panggilan ‘San’ pada kekasihnya. Apa San itu berarti Sandy, atau San-San yang
lain? Kalau benar Sandy adalah kekasih Aiden, berarti penculikan tadi hanya salah paham biasa?
“Bagaimana?”
“Belum jelas,” jawab Bryan ambigu. “Aku akan mengurusi ini
sendiri. Ini tidak begitu pelik seperti kasus Lassy.”
“Kau tidak mau perselingkuhanmu terbongkar, kan?” sekali
lagi Narita menuduh.
“Aku tidak selingkuh,” bantah Bryan lagi sambil mengambil
langkah cepat meninggalkan kantor.