
Kapten Bay menggebrak meja kerjanya.
“Apa lagi yang kau lakukan di sini? Kau meninggalkan Lassy
agar mati lebih cepat, ha?” bentak Kapten ketika Bryan menampakkan diri di
ruangan atasannya itu. “Di mana kau meninggalkannya?”
“Di rumahku, Kapten.”
“Kau pikir tak ada orang yang tahu rumahmu sampai kau berani
meninggalkan Lassy di sana? Bagaimana kalau kejadian kemarin terulang? Kalau
Lassy mati, kau mau menukar nyawanya?” bentak Kapten sekali lagi.
Bryan datang pagi-pagi untuk menemui detektif yang kemarin
menyelidiki ledakan di rumah Lassy. Ledakan yang diketahui berasal dari tabung
gas bocor itu ternyata tidak demikian kenyataannya. Selang tabung gas memang
bocor, menurut yang dikatakan penjaga rumah ada gas yang keluar dari lubang
kecil di selang itu. Hasil penyelidikan, ditemukan bekas natrium di bak cuci
piring. Diperkirakan jumlahnya banyak sebelum terjadi ledakan. Kemungkinan
unsur yang digolongkan alkali tanah itu meledak setelah terkena tetesan air
dari keran yang tak tertutup rapat, lalu gas yang tersebar dalam ruangan ikut
menyumbang daya ledaknya. Pertanyaannya, siapa orang yang cukup tahu soal
natrium yang bisa meledak kalau terkena air?
Belum lengkap Bryan menerima penjelasan dari temannya,
Kapten Bay datang. Entah angin apa yang membawa atasan Bryan itu datang dua jam
lebih cepat dari jamnya masuk kantor. Bryan jadi kena marah.
“Aku tak bisa menggantikanmu dengan orang lain. Jadi,
kembali sekarang. Jagai Lassy!” usir Kapten Bay keras dan tegas.
“Siap, Kapten!”
Bryan buru-buru keluar dari ruangan Kapten Bay. Dia tak
menghiraukan teman-teman yang memandanginya penuh ekspresi kasihan. Kapten Bay
sering sekali marah pada bawahannya, apa lagi kalau pekerjaan mereka gagal.
Maka dari itu, pandangan kasihan dari rekan kantor sudah jadi makanan
sehari-hari. Malah pandangan kasihan seperti itu sering berubah jadi ejekan
tanpa kata.
“Brey,” Luo menghentikan Bryan di depan kantor. “Kenapa
buru-buru?”
“Kapten Bay mengusirku.”
“Kenapa?”
“Aku tak boleh meninggalkan Lassy.”
“Bukankah dia baik-baik saja?” Iya, baik-baik saja dan aman.
Luo saja tahu, kenapa Kapten Bay tidak? “Sudahlah, dia ada di rumahmu. Kau
pulang sekarang atau nanti, Kapten Bay tak akan tahu. Bagaimana kalau kita
sarapan dulu, kau belum makan, kan?”
“Aku akan makan di rumah.”
“Ayolah, aku yang traktir kali ini.”
Bryan keberatan, tapi dia setuju setelah Luo mengatakan akan
menceritakan perihal penangkapan kemarin. Bryan benar-benar ingin tahu aksi
heroik teman-temannya menangkap perampok mobil itu. Mereka pergi ke kedainya Alan,
tempat biasa para polisi mengisi perutnya, memesan makanan untuk dinikmatinya
sambil bercerita panjang lebar. Bryan menceritakan ledakan di rumah Lassy
sebatas sepengetahuannya, lalu Luo menceritakan soal penangkapan para pencuri
mobil itu.
Sembilan orang ditangkap. Polisi memprediksi ada anggota
perampok yang tak datang malam itu. Perampok berhasil diinterogasi, sebagian
besar dari mereka adalah pembalap jalanan. Pemimpinnya adalah mantan pembalap
mobil profesional yang karirnya habis setelah mendapat kecelakaan. Setelah tak
mampu kembali ke dunia balap resmi, dia mengumpulkan orang-orang yang suka
balapan untuk mengadakan balapan liar. Puncaknya, mereka melakukan pencurian
mobil untuk dipakai balapan. Mereka tidak menjual atau memakai mobil curian itu
selain untuk balapan. Aksi pencurian itu sudah berjalan sekitar dua tahun,
sering berpindah dari kota satu ke kota lain. Namun, untuk urusan tabrak lari
Lassy Liem, mereka menyangkalnya. Prinsip mereka tidak sekalipun melukai orang
lain dalam aksi perampokannya.
“Apa kelompok itu juga yang mencuri mobil Martha?”
“Ya, mereka mencuri semua koleksi mobil Martha,
menyembunyikannya di gudang itu untuk digunakan balapan minggu depannya.
Sebenarnya mereka akan memindahkan mobil-mobil itu, tapi tidak jadi karena polisi
keburu menemukannya. Mereka juga mengaku tak tahu menahu soal hilangnya dua
mobil Martha dan tabrakan yang dialami Lassy malam itu.”
“Apa ada kemungkinan mereka berbohong?”
“Tentu saja. Mereka pelaku kriminal, berbohong itu sudah
satu paket dalam diri mereka.” Luo menghentikan makannya, dia berpusat pada
penjelasan yang di utarakan Luo. “Tapi ada kemungkinan bahwa mereka mengatakan
yang sebenarnya. Ada anggota mereka yang membelot lalu mengambil mobil itu
lebih dulu. Atau memang ada orang lain yang mengambilnya, digunakan untuk
percobaan pembunuhan.”
“Kalau begitu, kejadiannya harus sangat kebetulan. Si pelaku
yang berjumlah sedikitnya dua orang melihat kelompok itu menyembunyikan mobil
di gudang, lalu terbesit ide mencuri untuk membunuh Lassy,” tebak Bryan.
“Bisa jadi.” Luo manggut-manggut. “Tapi Bagaimana soal
kekerasan yang menimpa Martha dan anak buahnya di gudang itu?”
Bryan menggeleng tak menemukan jawaban. Dia tak ikut sedikit
pun penyelidikan ini, jelas tak tahu sama sekali jalan ceritanya.
“Kemungkinan lain, Martha adalah satu dari orang-orang yang
mengetahui kelompok itu menyembunyikan mobilnya di sana. Ketika Martha dan anak
buahnya ingin mengambil mobilnya kembali, terjadi keributan. Kemudian Martha
dan anak buahnya dianiaya sampai hampir mati.”
Kalau cerita itu benar, Martha terlalu ceroboh sampai
bertindak sendiri tanpa bantuan polisi. Mendapati dia dan anak buahnya yang
berjumlah empat orang dianiaya sampai seperti itu, membuktikan kalau lawannya
adalah orang-orang kuat. Namun itu hanya beberapa kemungkinan, masih ada banyak
kemungkinan lainnya. Polisi perlu bekerja keras untuk mengungkap kasus
perampokan dan penganiayaan yang punya hubungan dengan kasus tabrak lari dan
percobaan pembunuhan itu.
“Apa dua mobil yang hilang itu sama dengan ciri-ciri mobil
yang digunakan untuk menabrak Lassy?”
“Ciri-cirinya sama, identik malah. Kita sedang mencari
keberadaan dua mobil itu sebelum terlalu lama hilang, lalu berakhir di tumpukan
barang bekas yang telah didaur ulang.” Luo meneguk minumannya, menyamai gerakan
Bryan yang juga minum untuk membasahi tenggorokan. “Pelakunya pasti mendapat
perintah dari seseorang untuk membunuh Lassy.”
“Apa seluruh kandidat tersangka yang waktu itu sudah
dimintai keterangan?”
“Ya, kecuali Martha. Dia baru sadar kemarin sore, tapi
keadaannya terlalu memperhatinkan. Dia tak bisa diajak bicara.”
Sebenarnya Bryan ingin melihat Martha juga. Mengingat dia
baru diusir Kapten Bay karena meninggalkan Lassy, pasti kena marah lagi kalau
tahu tak segera pulang tapi malah pergi ke rumah sakit.
“Setelah kunjunganku ke rumah sakit untuk menemui Martha,
ternyata wanita itu hampir sama cantiknya dengan Lassy.”
Bryan mengerutkan dahi. “Kau tidak sedang menargetkannya
jadi kekasih juga, kan?”
“Kalau Lassy dan Martha sama-sama sudah sehat, aku akan
menawari mereka untuk jadi kekasihku. Lassy yang pertama, Martha yang kedua.”
Luo mengubah nada tegang ketika membicarakan kasus ke mode mesum setelah
membicarakan wanita. “Lalu kekasih ketigaku adalah wanita tengah malam waktu
itu.”
“Kau benar-benar maruk.”
Luo meringis senang. “Hah!” lalu menjentikkan jarinya
setelah mendapat ide mendadak. “Bagaimana kalau Lassy diungsikan di rumahku.
Kujamin dia aman seribu persen!”
“Tidak, terima kasih!” balas Bryan. “Dia di rumahku saja.
Lebih baik aku menanggung bosan dengan terus menempeli Lassy daripada dia pidah
ke rumahmu lalu aku digorok Kapten Bay.
“Tapi di rumahmu tidak aman.”
“Kataku.”
Dia berulang kali menerobos masuk rumah Bryan walau rumah
itu sudah ditutup rapat semua celahnya. Bukan cuma rumah Bryan sebenarnya, dia
juga bisa masuk tempat mana pun dengan mudah. Hasil pelatihan dari tim khusus
dulu masih dikuasainya dengan baik. Untungnya dia bekerja di kepolisian, kalau
tidak, pasti Luo bisa membobol semua tempat. Dia akan jadi maling terprofesional
kalau sampai itu terjadi.
“Kau yang membuatnya tidak aman. Kalau sampai kau melakukan
yang iya-iya dengannya, bagaimana?”
Bryan mendecih, menyangkal dengan tegas.
“Karena statusnya adalah kekasihmu sekarang ini, siapa tahu
kau tiba-tiba khilaf.”
“Justru kalau dia di rumahmu, kau akan melakukan yang
tidak-tidak padanya.”
“Tidak. Tentu saja aku akan melakukannya kalau Lassy sendiri
yang minta,” jawab Luo jujur. Sejujur dirinya mendambakan kejadian itu jadi
kenyataan suatu hari nanti. “Atau aku tidur di rumahmu saja malam ini, biar
kita bisa sama-sama menjaga Lassy.”
“Tawaranmu kutolak. Ada dua pembantu Lassy di sana,
kedatanganmu akan menambah sesak rumahku.”
“Ooo, ada pembantu Lassy,” Luo mengangguk-angguk ambigu.
“Aku tak khawatir lagi sekarang,” katanya, lalu kembali meneguk minumannya.
“Mereka bisa melindungi Lassy lebih baik darimu. Kau juga tak mungkin melakukan
yang iya-iya pada Lassy kalau ada mereka, kan?” kata Luo sambil tertawa-tawa
kecil.
“Ada atau tidak aku tetap tak mungkin melakukan yang
tidak-tidak pada Lassy. Memang aku sepertimu, apa?” protes Bryan. “Aku tak mau
dimarahi lagi kalau Kapten Bay tahu aku masih di sini. Aku pergi sekarang!”
Bryan meninggalkan Luo yang terus terkekeh. Selain
menertawakannya karena mengatakan tak mungkin melakukan yang iya-iya pada
Lassy, temannya itu juga menertawakannya karena terus dimarahi Kapten Bay.
*****
Seseorang yang pernah dibilang unik oleh Bryan, tengah
membukakan pintu untuknya. Dia berdiri menggelayut di kusen pintu sambil
tersenyum manis.
Seksi sekali.
“Hai, kekasihnya Lassy!” sapanya.
“Hai, sepupunya Lassy!” sapa balik Bryan
“Sandy Liem.” Sandy Mengulurkan tangan yang segera dijabat
oleh Bryan. “Kau bisa memanggilku Sansi.”
“Sandy Seksi.”
“Darimana kau tahu? Oh, pasti Lassy yang memberitahukannya
padamu.”
“Sebenarnya iya, tapi aku sudah menduga kalau Sansi adalah
kependekan dari Sandy Seksi,” jawab Bryan sok tahu. Dia cari perhatian dari
Sandy. “Bryan Trevor. Panggil aku Bryan!”
“Bry ... an?” panggil Sandy mengetes dengan suara seksinya.
“Kau mau masuk sekarang atau terus berada di depan pintu?”
Bryan masuk setelah melepaskan jabatan tangannya dengan
Sandy. Sama-sama berjalan ke dalam rumah sambil terus bercengkrama.
“Kupikir kau tak tahu Lassy kubawa kemari.”
“Aku tahu, tapi tak tahu alamatmu. Sebagai sepupu, setelah
mendengar ledakan itu tentu aku cemas, makanya aku berusaha mencari alamatmu
lalu segera kemari,” kata Sandy terdengar seperti kebenaran di telinga Bryan.
“Syukur semua baik-baik saja, termasuk kau.”
Bryan mendadak jadi senang sekali walau cuma bercakap-cakap
dengan Sandy. Dari suaranya saja, Bryan langsung terpikat. Dia tiba-tiba ingin
menyentuh Sandy, memeluknya paling tidak, atau menciumnya kalau bisa. Bryan
menahan hasratnya. Dia punya kemampuan itu, kemampuan untuk menjaga harga diri
dengan tetap berpegang teguh pada satu kekasih saja.
Bisa jadi keinginan Bryan itu efek dari keahlian menggoda
yang dimiliki Sandy, seperti yang dikatakan Lassy kemarin. Kalau memang benar,
dia harus bertahan dari godaan sepupu Lassy.
“Terima kasih telah mengkhawatirkanku juga.”
Sandy mengangguk lucu. “Jadi ...?” Bryan teralihkan
perhatiannya. “Kau seorang detektif?”
“Eh hem.”
“Itu hebat sekali,” pujinya. “Aku selalu suka dengan
cerita-cerita detektif, tapi belum pernah secara langsung melihat aksi
heroiknya.”
“Aku dan timku biasa melakukannya.”
“Bisa kau ceritakan padaku?” Bryan berfikir sejenak. Ingin,
tapi belum bisa menceritakannya sekarang. Dan Sandy tahu itu. “Tidak harus
sekarang. Bisa lain waktu,” lanjutnya sambil pasang senyum manis, luar biasa
manis.
Duh, Bryan tergoda dengan senyum itu.
“Tentu saja,” jawabnya tanpa ragu.
Sandy menawarkan makanan, Bryan hampir menggandeng wanita
itu dengan mesra ke ruang makan kalau Lassy tidak berdehem menghentikan mereka.
Bryan langsung tersadar setelah melihat muka garang kekasihnya itu.
“Detektif Bryan, kau tak melihat kekasihmu duduk di sini
dari tadi?” tanya Lassy yang memang sedang duduk di sofa. Dia memegang buku
panduan menjadi detektif berkarakter milik Bryan. “Atau Si Sandy Sialan itu
telah memperdayamu sampai kau lupa daratan?”
“Sandy Seksi, sepupuku sayang,” Sandy meralatnya.
“Maaf!” Bryan segera menghampiri Lassy. Mencium kening
kekasihnya itu sebelum duduk di sebelahnya. “Aku baru saja menemui Luo.”
“Siapa Luo? Apa dia juga detektif sepertimu?” sahut Sandy
tak mau kalah.
“Aku lebih suka bicara berdua. Kau bukan bagian dari itu.”
Sandy mengangkat kedua tangannya. Tidak marah.
“Kau punya pekerjaan katamu, selesaikan itu sekarang akan
lebih baik daripada mengganggu sepasang kekasih yang akan bermesraan!”
“Kalian akan bermesraan?” tanyanya sok polos.
“Apa perlu kujelaskan?”
Lassy meliriknya tajam. Tampaknya ada kode-kode yang cuma
dipahami oleh keluarga Liem saja, yang keluar dari mata menuju mata. Sandy
langsung pergi setelah kode-kodean itu berakhir, bahkan tanpa mengatakan apa
pun.
“Ada berita apa lagi?” tanya Lassy beralih ke Bryan.
“Penangkapan sebuah geng perampok mobil.”
“Apa itu ada hubungannya dengan kecelakaan yang kualami.”
“Sedikit banyak memang ada. Bahkan penangkapan ini jadi kunci
kasus penganiayaan yang dialami Martha.” Lassy tertarik, bahkan sampai
meninggalkan buku bagus yang sedang dipegangnya. “Martha juga sudah sadar, tapi
belum bisa dimintai keterangan.”
“Kau bisa meneruskannya nanti?” Bryan sedikit kecewa
ceritanya harus dipotong. “Aku butuh obatku dulu sekarang ini.”
Bryan mengerutkan dahi, merasa ada yang janggal ketika Lassy
menyebut kata obat barusan.
“Kau tak lupa membelikanku Bio Oil, kan? Aku sudah sangat
risih melihat bekas lukaku tak kunjung mengelupas dan hilang.”
Bryan bingung. “Bio Oil?” Lassy pesan obat seperti itu
padanya. Dia lupa. Ini gara-gara Kapten Bay yang marah-marah padanya tadi, juga
Luo yang menahannya di kedai makan langganan mereka. “Aku lupa. Bagaimana kalau
besok kuantar kau ke apotek untuk membelinya.”
Seketika Lassy menampakkan ketidak sukaannya. “Beli sekarang
atau kupotong uang sejuta dolarmu!” ancam Lassy datar tapi sungguhan.
Lassy ingin memuluskan tubuhnya lagi, demi siapa juga kalau
bukan Bryan? Lagipula Lassy membayarnya, jadi boleh sekali dua kali dia
memerintah lelaki itu.