
Lassy memang tidak berkeliling di rumah Bryan, tapi melihat
tidak ada yang menyapa ketika mereka baru datang tadi, dia mengasumsikan kalau
kekasih Bryan sedang tidak ada di sini.
Dia memperhatikan Bryan yang tengah memakai kaos oblong yang
baru diambilnya dari dalam lemari setelah selesai mandi. Lelaki itu tidak
menarik wajahnya, tapi menarik tubuhnya. Badan besarnya berwarna kecoklatan,
kontras dengan warna kulit Lassy yang putih. Kulitnya kasar, bahkan telapak
tangannya sebagian agak kapalan. Lassy tidak suka melihat telapak tangan lelaki
itu, tapi entah kenapa ketika malam kemarin kulit kapalan itu menyentuh
kulitnya, Lassy suka.
Mungkin kemarin efek malam panas. Setelah kembali normal,
dia masih tidak suka melihat telapak tangan kapalan itu.
“Mana kekasihmu?” Lassy membuka pembicaraan ketika Bryan
sudah berjalan ke arahnya.
“Di rumahnya sendiri,” jawab Bryan sambil masuk ke dalam
selimut.
“Kalian tidak tinggal bersama?”
“Mauku juga begitu, tapi mengingat aku jarang di rumah, dia
tak bisa kuajak tinggal bersama.”
Lassy juga tak pernah tinggal dengan siapa pun. Selama punya
pasangan, tak pernah serius. Jangankan mengajak tinggal bersama dan dikenalkan
teman-temannya, diajak kencan saja hampir tidak pernah. Mereka akan berkencan
kalau Lassy sedang butuh. Sedangkan dengan Bryan, ini adalah malam kedua mereka
tinggal bersama walau di tempat yang berbeda. Rasanya nyaman, ada yang bisa
diajak bicara walau sekedar tanya jawab biasa.
“Lagipula orang tuanya tak akan memperbolehkan kami tinggal
bersama sebelum dia lulus kuliah.”
“Anak kuliahan?” Lassy mencebikkan bibirnya, meremehkan. “Kau
suka yang masih muda ternyata.”
“Tidak juga. Aku pernah berkencan dengan seorang akuntan
yang usianya tujuh tahun lebih tua dariku.”
Masa kencan kilat antara Bryan dan si akuntan terjadi dengan
proses mirip hubungannya dengan Lassy sekarang. Si akuntan yang telah lama
berpisah, bertemu kembali dengan mantan kekasihnya. Mantannya ingin mereka
berpacaran lagi, tapi si akuntan bilang sudah punya kekasih. Karena saat itu Bryan
tak sengaja berdiri di dekat situ, dialah yang diakuinya sebagai kekasih.
“Dia sangat baik. Aku hampir-hampir meninggalkan kekasihku
untuk memilihnya.”
Karena si akuntan sangat baik, sabar, penyayang, Bryan betah
dengannya. Bryan suka rela membantunya jadi kekasih bohongan, tapi ketika dia
mengutarakan maksud untuk terus bersama, Bryan ditolak. Alasannya, karena si
akuntan tak ingin menyakiti hati kekasih Bryan. Dia sangat berterima kasih
sudah ditolong, tapi tak mungkin merebut Bryan dari tangan kekasihnya.
“Sampai sekarang aku tak tahu nama lengkapnya,” sesalnya.
“Kau bisa mengontaknya atau datangi rumahnya.”
Bryan menggeleng. “Aku tak punya nomor telepon atau alamat
rumahnya. Dia benar-benar niat untuk tak melanjutkan hubungan denganku.”
“Dia wanita yang baik,” celetuk Lassy. Lassy sendiri tak
bisa seperti itu. Kalau dia nyaman dengan sesuatu, tentu akan berusaha
mendapatkannya. Dia kan tipe wanita yang tidak mau menyerah. “Semoga dia
mendapatkan kekasih yang baik juga.” Dia mendoakan, bukan berarti tak ada
maksud. Lassy bersyukur, kalau Bryan telah bersama si akuntan tentu tak mungkin
bisa bersamanya sekarang ini.
Kalau Lassy bisa nyaman dengan Bryan, bisa jadi dia akan
merebut Bryan dari kekasihnya. Dia punya segala hal dan Bryan butuh hal-hal
yang hanya bisa diberikan oleh Lassy. Uang contohnya, kebebasan dan juga
kepuasan di bidang apa pun. Bryan baru saja bilang kalau hatinya bisa goyah
dengan orang lain, bukan tak mungkin hatinya goyah juga pada Lassy. Tidak
sekarang, tapi nanti atau sebentar lagi.
“Ngomong-ngomong di mana sepupumu itu?”
“Sansi?”
“Sansi?” Bryan bingung. “Kemarin kau tak memanggilnya
begitu.”
“Sandy Liem nama aslinya, dia sering dipanggil Sansi.”
Bryan ber 'Oh' pendek.
“Sandy Seksi, dia menjuluki dirinya sendiri seperti itu.
Bagiku Sansi sama dengan Sandy Sialan.” Tidak mau membicarakan Sandy, Lassy
mulai menurunkan tubuhnya, merebah tepat di samping Bryan. “Walau dia jelek,
dia penggoda nomor satu di keluargaku.”
baik.”
Lassy tertawa sarkas. “Memang, tapi sayangnya bukan. Bukan
penggoda sembarangan maksudnya.” Seperti yang kemarin malam contohnya. Dalam
tidurnya saja, Bryan tertarik padanya, apalagi kalau Sandy sampai menggodanya
dalam keadaan sadar. “Dia menggoda tapi yang digoda malah menempatkan diri
seperti lelaki murahan. Kemarin malam contohnya. Sudah tahu dia yang datang
padamu, tapi kau yang merengek untuk tidur dengannya.”
Duh, mulut Lassy tidak ada remnya. Sepupu sendiri dihina-hina.
“Aku tidak merengek.”
“Menyangkal saja sesukamu!”
“Kuakui aku butuh, tapi aku tidak merengek!” bantah Bryan
lagi. “Aku hanya sedang mimpi erotis, rasanya seperti nyata. Kalau kau tidak
datang mungkin aku tak menyadari keberadaan sepupumu,” terangnya sebagai wujud
pembelaan diri. “Dia sepertinya hebat di atas ranjang.”
Tapi Bryan tidak menyesal Lassy datang malam kemarin. Meski
dia tidak jadi tidur dengan sepupu Lassy, setidaknya dia bisa tidur dengan
Lassy. Betapa beruntunnya dia, sebentar lagi dapat sejuta dolar, bonus
berlimpah dari atasan, dan bisa bersama Lassy pula. Bryan sudah bertekat,
kalau Lassy yang minta, dia bersedia melayaninya. Persetan dengan omongan
Kapten Bay tempo hari.
“Semua orang juga bilang begitu.”
“Lalu di mana dia sekarang?”
Lassy menggendikkan bahu. “Dia keluar setelah tak berhasil
tidur denganmu. Mungkin mencari pelampiasan. Dan selama tak menghubungiku, aku
tak tahu dia berada di mana.” Tepat selesai mengucapkan kalimatnya, ponsel
Lassy berdering. Saat dicek, itu dari sepupunya. “Panjang umur!” kata Lassy
sebelum menjawab panggilan itu.
“Las, rumahmu hancur, kupikir kau ikut hancur di dalam sana,” kata Sandy seenak lidahnya mengucap. "Pasti kekasih tampanmu itu yang menyelamatkanmu. Di mana kalian
sekarang?” tanyanya tak terdengar kalau dia benar-benar khawatir.
“Di rumah kekasihku.”
“Beri aku alamatnya, aku akan ke sana!”
“Untuk apa? Kau mau ikut menginap di sini? Tidak bisa, tak
ada tempat untukmu tidur.”
“Aku bisa tidur dengan siapa pun, berdua atau bertiga. Berikan alamatnya
cepat!” paksa Sandy. "Sejujurnya aku khawatir padamu, juga dengan kekasihmu itu. Kalau
dia butuh bantuan, aku bisa ....”
Lassy mematikan sambungan lalu mematikan ponselnya. Dia
tidak percaya pada Sandy. Kekhawatiran apa yang ditawarkan sepupunya kalau
ujung-ujungnya membicarakan soal Bryan? Lassy tak suka berbagi dalam hal ini.
“Dia bilang apa?”
Bryan benar-benar ingin mendengar kabar sepupu Lassy itu.
Sampai-sampai nadanya ketika bertanya pada Lassy seperti orang kasmaran. Lassy
meliriknya tajam, tapi Bryan tidak peka.
“Menanyakan keadaanku lalu memberitahukan kalau dia telah
dapat tempat tinggal untuk sementara. Partner-nya sekarang sangat memuaskan, dia tak bisa meninggalkannya terlalu cepat.” Lassy berbohong dengan lancar.
Lassy berharap Bryan menganggap Sandy sebagai wanita binal
yang tak pantas didekati, tapi nyatanya Bryan berpikiran lain. Dia menganggap
Sandy sebagai wanita unik, pasti bisa memuaskan pasangan dengan baik.
“Kenapa tak memberikan alamatku? Dia bisa ke sini
besok-besok.”
“Dia tak akan tertarik untuk datang kemari.” Lassy menarik
selimutnya bersiap tidur, tapi ketika melihat bekas luka di lengan, dia
mengurungkan niatannya. “Dokter menyarankanku untuk memakai Bio Oil agar
luka-lukaku cepat kering, lalu menghilang bersama bekas-bekasnya.”
“Kau tak suka bekas luka? Rekan kerja wanita di kantorku
hampir semua menyukai bekas luka. Mereka bilang itu keren.”
“Kalau luka-lukaku, apa ini keren?”
Bryan jelas menggeleng. Tubuh Lassy lebih cocok mulus tanpa
bekas luka. Bekas gigitan bolehlah, apalagi kalau dia yang membuatnya akan
terlihat makin seksi.
“Belikan Bio Oil kalau kau keluar rumah besok!”
“Baiklah.”
“Hm, aku mau tidur. Aku sangat mengantuk setelah meminum
obat tadi.”
Bryan membiarkan Lassy tidur, sedangkan dia sendiri belum
bisa tidur. Sedang berpikir keras, apa yang akan didapatkannya besok ketika
berhadapan dengan Kapten Bay? Semoga dia tidak diliburkan mendadak.