
“Anak ketiga yang dihubungi Lassy mengaku dibayar untuk
mencelakai orang.”
“Di mana dia sekarang?”
“Polisi setempat menahannya.” Kemudian Tax geleng-geleng
kepala. “Dia menangis seharian minta dipulangkan.”
“Aku baru dari sana. Dia sudah kupulangkan.” Luo melenggang
santai, menarik satu kursi dan duduk di depan meja Tax. “Anak itu anak yang
sama dengan yang menabrak Ren tempo hari. Sepertinya dia menabrak secara tak
sengaja, dan juga sudah minta maaf.”
Kasmir memicingkan matanya. Heran, kenapa Luo tiba-tiba
membebaskan orang hanya karena sudah minta maaf? Itu bukan Luo yang selama ini,
kecuali dia ada maksud di balik itu.
Bryan duduk jauh dari mereka, lebih dekat dengan Mint. Dia
dengar pembicaraan Luo dan kawan-kawannya, tapi karena sudah tahu kejadian
sebenarnya, dia tak ikut menimpali.
“Siapa Ren?” Kasmir ingin tahu.
“Mantan kekasih Bryan.”
“Kebetulan atau kesengajaan, anak yang diperintah Lassy
untuk mencelakai orang, juga menabrak mantan kekasih Bryan?” Kasmir mengerling
pada Bryan. “Apa Lassy mengenal mantan kekasihmu?”
“Mereka tidak saling kenal,” potong Luo. “Sudahlah, tidak
usah dibahas. Lagipula Ren ditabrak pakai sepeda, tidak ada luka serius, tidak
ada indikasi kesengajaan.”
“Karena kau menyukai Lassy, makanya kau membelanya.”
“Memang,” kata Luo jujur.
“Itu alasanmu membebaskan tersangkanya?”
“Dia bukan tersangka!” tegas Luo.
Bryan tidak ikut bicara karena dia sedang menulis di handphone-nya.
Selesai menulis pesan berisi ringkasan kejadian semalam, lalu dikirimkanya ke
nomor Dr. Wren. Semenit kemudian Bryan mendapat telepon dari psikolog itu.
Mereka bicara sebentar, kemudian membuat janji temu. Bryan harus membawa Lassy
ke tempat praktek Dr. Wren sore nanti.
Bryan menoel Mint yang duduk tidak jauh darinya. “Lassy yang
menyuruh orang untuk menyerempetmu waktu itu.” Dia bicara pelan, khusus untuk
di dengar Mint. “Dia juga yang memilih dan membayar dokter untuk merawat
lukamu.”
“Pantas saja pengobatanku gratis.” Mint tak habis pikir.
Dicelakai tapi diobatkan juga. Apa maksudnya coba? “Kekasihmu aneh sekali. Apa
jangan-jangan dia punya kepribadian ganda seperti yang dikatakan Fai waktu
itu?”
“Tidak. Dia mengalami krisis kepercayaan diri. Masih soal
yang kemarin, Lassy agaknya haus perhatian.”
Di sisi lain kantor, Tax, Kasmir, dan Luo berdebat soal
kecelakaan yang dialami Ren dengan suara keras. Bryan dan Mint sebaliknya,
mereka diskusi berdua saja. Bryan tak mau kejadian kecelakaannya Mint diketahui
mereka juga.
“Dengan keadaan seperti itu aku harap kau tak menuntutnya.
Oh ya, dia bilang sudah mengirimkan dana kompensasi padamu secara
sembunyi-sembunyi.”
Mint melotot. “Tahu dari mana nomor rekeningku?” Bryan
mengendikkan bahu, tapi dia percaya kalau Lassy bisa tahu banyak hal tanpa
orang lain sadari. Mint langsung menuju komputernya. Membuka halaman login ke akun bank pribadi, kemudian
masuk. Meneliti saldo tabungannya dan mendapati uang puluhan ribu bertambah ke
tabungannya. “Ya ampun, aku jadi tidak tega. Tak ada sedikit luka pun yang
tersisa di kulitku, tapi aku dapat uang sebegitu banyak.”
“Dia ada masalah di sini!” Bryan menunjuk kepalanya sendiri.
“Kasihan. Coba kau bawa Lassy ke tempat Dr. Wren, dia pasti
bisa menyembuhkannya!”
Bryan mengangguk. “Sore ini aku akan bawa dia ke sana.”
Luo memanggil-manggil Bryan. Karena tak ada respon dia memanggilnya
dengan keras. Mau tak mau Bryan dan Mint mengakhiri pembicaraan mereka.
“Eh, Brey.” Luo mulai bicara saat Bryan memberinya
perhatian. “Kau tak akan biarkan Lassy dapat masalah, kan?” Bryan terpaksa
mengangguk. “Kalau begitu kurelakan dia untukmu, tapi kau harus menjaganya!”
Dia sudah berjanji pada semua orang, termasuk pada Lassy
sendiri untuk mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menjaga Lassy. Kalau harus
berjanji lagi untuk Luo, dia tidak keberatan.
“Jangan sampai Lassy melukai diri sendiri! Jangan sampai
Lassy melakukan hal-hal berbahaya! Jangan sampai mereka ini …,” sambil menuding
teman-temannya, “… menangkap Lassy apa pun alasannya!” kata Luo terlalu bijak
untuk ukuran orang yang kebanyakan bicara asal.
.
.
.
Teman Bryan ingin bicara katanya.
Lassy heran kenapa teman Bryan ingin bicara dengannya di
sebuah gedung yang dipenuhi tempat praktek para dokter. Lassy tidak berharap
dibawa ke dokter, apalagi dokter bedah plastik, tetapi Bryan memang hanya
membawanya lewat jajaran tempat praktek dokter bedah plastik. Terus berjalan,
menuju lift, mengajaknya masuk dan
memencet lantai 4 dalam gedung itu.
Sekeluarnya dari lift Bryan meraih tangannya, menggandeng, dan menggenggamnya erat. Bryan membawanya
berjalan melewati satu dua tempat prakter dokter, lalu berhenti di sebuah
ruangan atas nama Dr. Wren. Terdaftar sebagai psikolog.
“Temanmu seorang psikolog?”
Bryan tidak menjawab. Dia mengangkat tangan Lassy lalu
mengecupnya.
“Kau pikir aku kenapa sampai kau membawaku ke psikolog?”
“Ikut aku sebentar!” Bryan menarik Lassy. Membawanya menjauh
dari tempat praktek Dr. Wren dan memasuki kamar mandi. Karena tidak banyak
orang yang pergi ke lantai 4, kamar mandi lantai ini kosong. Bryan berhenti,
Lassy juga. Bryan menghadapkan Lassy padanya, kemudian mulai bicara lagi. “Kau
bisa sewaktu-waktu mencelakai diri sendiri dan orang lain. Aku tak tenang
sebelum memastikan kau baik-baik saja saat aku sedang bekerja.”
Lassy tertawa kecil. Tidak menyangka Bryan tega menuduhnya
demikian. Memang kemarin-kemarin dia melakukan tindakan berlebihan dengan
meledakkan dan melukai teman serta mantan kekasih Bryan, tapi itu ada
alasannya. Bukan hanya sekedar untuk bersenang-senang, bukan juga karena dia
punya kelainan mental seperti yang dipikirkan Bryan.
“Apa membawaku pada psikolog adalah solusinya?” Dia menarik
tangannya dari Bryan. “Kau memperlakukanku seperti orang sakit jiwa.”
“Lassy ….”
Lassy menyetop perkataan Bryan. “Tidak usah menjelaskan
lagi. Aku akan datang pada temanmu itu. Kau tidak usah menemani, juga tidak
usah menjemputku saat selesai nanti!” Bryan akan bicara, tapi Lassy
menghentikannya lagi. “Aku akan pulang naik taksi.”
“Kau marah?”
Lassy menggeleng. Tidak mengatakan apa pun, langsung
berbalik dan keluar dari toilet. Mengacuhkan Bryan yang mengekor sambil terus
memanggil namanya. Lassy baru berhenti ketika sampai depan pintu ruang praktek
Dr. Wren.
“Kau bisa pergi sekarang!”
“Las, aku tidak bisa pergi kalau kau marah begini.”
“Aku tidak marah.” Katanya tidak marah, tapi wajahnya tidak
enak dilihat. Dia juga belum mau disentuh Bryan. “Kalau kau takut sewaktu-waktu
aku bisa melukai diri sendiri dan orang lain, aku memang harus diperiksa
dari apa yang kau bayangkan!”
Bryan tidak membayangkan apa pun kecuali apa yang dikatakan
Dr. Wren tempo hari, tapi agaknya hal itu mengganggu Lassy. “Setidaknya izinkan
aku mengantarmu ke dalam.”
“Tidak perlu. Kembali saja ke kantor polisi dan selesaikan
tugasmu. Aku akan menelepon kalau pemeriksaannya sudah selesai.”
***
“Brey!”
Bryan mendongak, memandang ke asal suara. Ada Narita,
berdiri di depan meja kerjanya. Wanita itu membawa kotak. Tebakan Bryan, coklat
lagi seperti waktu itu. Bryan sedang tak ingin melakukan apa pun kecuali
menunggu telepon dari Lassy atau dari Dr. Wren. Dia tak ingin berlama-lama
mengalihkan pandang dari layar ponsel yang sekarang ada di atas mejanya.
“Taruh saja di situ, nanti aku berikan pada Lassy!” lalu
kembali memandangi layar ponsel.
“Apanya yang ditaruh di situ?” Bryan kembali memandangnya.
“Kotak ini paket yang dikirim dari kantor pusat untuk Kapten Bay, bukan untuk
Lassy!”
“Lalu untuk apa kau memanggilku?”
“Hanya ingin tahu, kenapa kau tertarik sekali memandangi
ponsel. Ada yang ingin meneleponmu?”
Bryan mengangguk. “Menunggu telepon dari Lassy.”
Wanita pendukung hubungan Bryan dan Lassy itu ber 'oh' riang,
kemudian pergi begitu saja.
.
.
.
“Brey!”
Masih melakukan gerakan sama, dari layar ponsel mendongak ke
muka Tax. Teman detektifnya itu tengah memegang setumpuk kertas. Kelihatannya
laporan suatu kasus yang telah terselesaikan. Tapi Bryan jarang sekali ber-partner dengan
Tax, kalau Tax mau memberikan kertas-kertas itu padanya, kemungkinan berisi
laporan lain.
“Taruh di situ, nanti kubaca setelah Lassy menelepon!” lalu
kembali memandangi ponsel yang layarnya masih belum menyala.
“Hah?”
“Taruh di situ!” ulang Bryan.
“Apanya?”
“Laporan itu!” Bryan menunjuk kertas-kertas yang dipegang
Tax. “Taruh di sini!” sambil menunjuk bagian mejanya yang kosong.
Tax menunjuk kertas yang dipegangnya. Bryan mengangguk,
kemudian kembali pada layar ponselnya. “Ini kertas-kertasnya Kapten Bay yang
sudah tak terpakai.” Kelihatan seperti tumpukan kertas-kertas penting. Makanya
Bryan menyangka kertas itu laporan sebuah kasus. “Kapten baru saja menyuruhku
untuk menghancurkannya supaya data di dalamnya tidak diambil dan dipakai orang
sembarangan. Tapi kalau kau mau menolongku menghancurkannya, aku akan sangat
berterima kasih!”
Tax hendak menaruh kertas-kertas itu ke meja, Bryan segera
mencegahnya.
“Aku sedang sibuk. Suruh orang lain saja!” Bryan menutupi
tepian mejanya yang akan ditempati Tax, tapi Tax menaruh kertas-kertas itu di
atas tumpukan berkas yang belum pernah Bryan baca. Dia mulai meninggalkan meja
Bryan. “Heh, ambil kembali sampahmu!”
“Sekarang jadi sampahmu!” sahut Tax. “Sebelum Lassy
menelepon, bawa kertas itu ke mesin penghancur. Kalau kau tidak mau berpindah
tempat, tunggu OB lewat dan suruh dia menghancurkannya!” tambahnya sambil lalu.
.
.
.
“Brey!”
Telepon Bryan berbunyi. Dia segera pasang jari di depan
bibirnya. Tetapi bukan Lassy yang menelepon. Nomor rumah. Bryan tidak tahu
nomor rumah siapa yang tertera di layar ponselnya sekarang. Daripada
menebak-nebak, Bryan memilih segera mengangkatnya.
“Halo!” Seseorang bicara. Bryan kenal suara itu, suara
pembantu Lassy yang sekarang tinggal di rumahnya. Namun yang dipakai menelepon
bukan nomor rumahnya. Pembantu-pembantu itu kini ada di rumah Lassy. “Kalian
sedang ada di rumah Lassy? Untuk apa ke sana, bukankah pindahannya baru akhir
minggu ini?”
Bryan mendapatkan penjelasan. Mereka ada di sana untuk
memeriksa renovasi rumah, mengatur barang-barang lama yang masih bisa dipakai,
dan mulai membersihkan rumah. Pembantu itu juga mengatakan tujuannya menelepon,
yaitu menanyakan keberadaan Lassy karena majikannya itu tidak bisa dihubungi.
“Lassy agak sibuk. Nanti kalau kesibukannya sudah berkurang
akan kusuruh dia menelepon kalian!” lalu telepon itu diakhiri.
Luo masih berada di depan mejanya ketika Bryan mengembalikan
fokus padanya. Agaknya ada yang penting sampai dia tidak beranjak dari hadapan
Bryan.
“Kau tadi mau bilang apa?”
“Itu pembantu Lassy?”
Bryan mengangguk.
“Mereka selalu meneleponmu kalau tidak bisa menelepon
majikan mereka?”
Bryan mengangguk lagi. Habis siapa lagi yang akan ditelepon
pembantu Lassy kalau bukan Bryan. Bryan kan kekasih majikan mereka, otomatis
dia akan tahu ke mana saja dan di mana saja Lassy berada.
“Memacari majikan mereka bukan berarti kau jadi majikan
mereka juga, kecuali kau menikah dengan Lassy.”
“Kalau sudah dapat restu dari semua pihak aku pasti akan
menikahinya,” kata Bryan enteng, bak dapat ilham untuk menikahi Lassy dari
kata-kata Luo barusan.
“Aku bilang begitu bukan berarti aku menyuruhmu
menikahinya!” protes Luo. “Aku lebih memilih Lassy sendiri selamanya dari pada
melihatnya menikah denganmu!" tambahnya dengan sadis.
“Kau bilang sudah merelakannya denganku. Sekarang berubah
pikiran lagi.”
“Kurelakan pacaran, tapi tidak kurelakan menikah denganmu.
Meski hubungan kalian direstui banyak orang, tapi pernikahan yang barusan kau
katakan tidak akan pernah terlaksana. Aku tak mau Lassy menanggung malu karena
menikah denganmu, karena kau tak pantas jadi suaminya!”
“Ya sudah. Aku tak akan menikahinya!”
Pernyataan Bryan membuat Luo puas. Detektif itu mengambil
langkah untuk menjauhi Bryan tanpa menyebutkan apa kepentingannya menemui
Bryan. Bryan yang merasa Luo perlu memberitahukan sesuatu, tidak akan
dibiarkannya pergi begitu saja. Dia menarik kasar bagian belakang baju Luo
sampai si empunya baju hampir jatuh.
“Ada apa?” tanya Luo sambil merengut kesal.
“Kau belum memberitahuku ada urusan apa menemuiku!”
“Memangnya aku harus punya urusan dulu sebelum menemuimu?”
Jadi, benar-benar tidak ada urusan dengannya?
Kalau sudah begitu Bryan tak mau berlama-lama bertatap muka
dengan Luo. Teman detektifnya yang satu itu agak-agak miring otaknya, jadi
Bryan sebagai orang lebih waras harus mengalah. Dia menyuruh atau lebih
tepatnya mengusir Luo pergi dari hadapannya.