
Sudah sangat sore, tapi Lassy sama sekali belum
meneleponnya. Jangan-jangan marahnya belum hilang, lalu memutuskan tak
menelepon walaupun sudah selesai bicara dengan Dr. Wren. Bryan tidak sabar, dia
langsung mengambil ponselnya dari meja untuk menelepon Lassy. Beberapa kali
Bryan tak mendapati teleponnya ditanggapi Lassy. Sampai akhirnya Bryan menyerah
untuk menelepon Lassy dan berpindah menelepon Dr. Wren.
Dr. Wren mengatakan Lassy sudah meninggalkan tempat
prakteknya sejak beberapa jam yang lalu. Soal hasil pembicaraannya dengan
Lassy, Dr. Wren bilang tidak terjadi kesalahan apa pun. Hanya sedikit cara
licik untuk mendapatkan apa yang dia mau, tapi bisa dengan mudah diatasi. Dr.
Wren juga mengatakan bahwa apa yang dilakukan Lassy itu semua berkaitan dengan
Bryan sendiri. Lebih jelasnya akan dijabarkan besok saat Dr. Wren berkunjung ke
kantor polisi.
Kemudian Bryan menelepon kantor Lassy. Langsung tersambung
dengan Sulami. Sekretaris Lassy itu mengatakan kalau Bos-nya tidak kembali ke
kantor sejak Bryan menjemputnya tadi siang. Sulami juga menyebutkan kalau malam
ini Lassy punya janji makan malam dengan Martha dan Bianca, kemungkinan Lassy
langsung menuju ke tempat dua temannya itu berada. Sulami menyarankan Bryan
untuk menghubungi salah satu dari teman Lassy itu.
Menelepon Martha, wanita itu mengaku belum keluar kantor.
Makanya belum bertemu Lassy. Menelepon Bianca, wanita itu malah mengatakan
bahwa pertemuan mereka dibatalkan oleh Lassy sejak siang tadi. Lalu Bryan harus
menelepon siapa lagi untuk mengetahui keberadaan Lassy? Jangan-jangan Lassy
pergi dengan Randy, saudara Bianca? Ah, tidak mungkin. Bukankah Lassy dengan
tegas sudah mengatakan kalau mereka tidak ada hubungan apa pun?
Bryan sudah pulang, tapi tak mendapati Lassy di rumah. Sudah
menanyai pembantu-pembantunya lagi, tapi mereka masih belum mendapat ide untuk
menjawabnya dengan benar. Bahkan satu sama lain saling pandang dengan wajah
keheranan. Harusnya Bryan yang lebih tahu keberadaan Lassy. Terbalik kalau
Bryan bertanya pada mereka.
“Dimana Lassy sekarang?” tanyanya lebih kepada diri sendiri.
“Dia juga tak mengangkat telepon dariku.” Bryan berkeluh kesah pada orang-orang
di dalam rumahnya. “Tadi siang Lassy sedikit marah, tapi dia masih berjanji
untuk menelepon setelah urusannya selesai.”
Belum selesai berkeluh kesah pada pembantu Lassy, Bryan
menemukan cara. Dia segera menelepon seseorang di kantor. Kebetulan Narita yang
mengangkatnya. Dia segera meminta bantuan untuk mengecek CCTV di gedung praktek
dokter-dokter itu. Terutama CCVT di lantai tempat praktek Dr. Wren.
“Aku tahu itu melanggar aturan, tapi kau bisa melakukannya
secara diam-diam, kan?” Wanita di seberang teleponnya menolak, tapi Bryan tak
menyerah minta tolong. “Lassy marah saat aku membawanya menemui Dr. Wren. Dia
menyuruhku meninggalkannya di sana, lalu berjanji menelepon setelah sesi temu
dengan Dr. Wren selesai, tapi sampai sekarang dia tidak menelepon. Handphone-nya
mati, dan semua orang tak tahu keberadaannya.”
Bryan mengatakannya dengan nada frustrasi membuat Narita
merasa kasihan. Wanita itu minta waktu beberapa menit untuk memanipulasi izin
agar diberi akses masuk dan melihat CCTV gedung dari jarah jauh. Bryan menunggu
beberapa menit itu dengan agak tidak sabar.
Ponsel berdering nyaring. Melihat nomor kantor polisi yang
tertera di layar, Bryan segera mengangkatnya.
“Lassy keluar dari ruangan Dr. Wren pukul 04.50 sore. Dia melewati pintu utama
gedung pukul 5 lebih sedikit. Berdiri di tepi jalan, sepertinya menunggu taksi
lewat. Namun, yang tertangkap secara samar oleh kamera depan gedung, Lassy
ditemui seseorang. Tidak jelas siapa orang itu, tapi dia laki-laki. Dia membawa
Lassy pergi setelah sebuah mobil berhenti di depan mereka,” terang
wanita itu.
“Menurutmu Lassy di ajak atau dibawa paksa?"
“Sebentar-sebentar!" Narita meneliti ulang CCTV
itu. Masih blur tapi dia mendapat sedikit pencerahan. “Lassy sepertinya
dapat ancaman. Dia ditodong dengan benda tajam, tidak begitu terlihat apa benda
itu, tapi aku yakin sekali. Lalu sedikit didorong ke dalam mobil,” terangnya
lagi. Masih sedikit belum dapat pencerahan. Namun, kemudian .... "Astaga,
Lassy diculik!” pekiknya
“Apaaa!”
Bryan syok karena ini kali kedua dia kehilangan Lassy karena
penculikan.
***
Semalam Bryan kembali ke kantor, menemui Narita untuk
melihat sendiri isi CCTV itu. Sayangnya Narita mengatakan bahwa dia telanjur
menghapus CCTV yang dia dapat dari pihak pemelihara gedung. Hanya beberapa foto
saja yang dia ambil dan cetak dari gambar CCTV itu. Dia juga tak mau memintanya
lagi karena takut ketahuan kalau izinnya palsu. Kalau Bryan berkeras ingin
melihat hasil rekaman CCTV itu, dia menyarankan untuk datang langsung ke pusat
pengendali CCTV di gedung praktek dokter itu.
Tetapi Bryan tidak pergi. Mau tak mau dia harus puas dengan
foto yang dicetakkan Narita. Toh, seseorang yang katanya menghampiri dan
mengancam Lassy itu terlihat di foto. Hanya tidak jelas dan tak tampak mukanya.
Dia terlihat menggandeng lengan Lassy atau menelusupkan lengan ke pinggang
kekasih Bryan itu. Tidak ketahuan apa yang dipegang orang itu, yang jelas Bryan
juga meyakini kalau ada benda tajam di sana. Lalu foto mobil, foto seseorang
yang berada di dalam mobil itu, foto Lassy ketika didorong masuk, dan foto
belakang mobil yang menunjukkan plat nomornya.
Narita banyak membantu malam itu. Mencari pemilik mobil yang
ternyata curian. Mencari siapa kemungkinan penjahatnya dengan mendata saudara
dekat, saudara jauh, teman, dan relasi bisnis Lassy. Juga mencari kemungkinan
orang yang sama di daftar pencarian penjahat. Namun, tak menemukan orang yang
tepat dengan ciri-ciri di foto. Dia juga membantu Bryan mengecek CCTV di semua
jalur. Hanya menemukan di tiga titik, kemudian hilang. Mobil curian yang
membawa Lassy itu lenyap seperti masuk portal ke dunia gaib.
Narita menyerah karena dia memang tidak ahli dalam menangani
CCTV. Dia butuh tim lengkap, tidak bekerja sendirian seperti sekarang ini.
Narita memutuskan pulang setelah lewat pukul tiga dini hari.
.
.
.
sudah tahu kalau Lassy adalah kekasih Bryan. Kalau Lassy hilang harusnya Bryan
yang cemas. Dan memang Bryan cemas, cemas setengah mati setelah kemarin malam
kekasihnya positif diculik. Tetapi yang sekarang tengah gemetaran, tubuhnya
lemas, dan mau ambruk adalah Luo. Tubuhnya condong ke kanan, menabrak badan
Bryan. Kemudian condong ke kiri, menabrak badan Chang. Begitu terus
berkali-kali selama Kapten Bay belum mengizinkan mereka keluar dari ruangannya.
Kapten sedang memegang dagunya, berjalan mondar-mandir hanya
untuk melemaskan otot betisnya yang kaku. Beliau sedang berfikir keras,
menyusun rencana untuk memecahkan kasus penculikan Lassy kali ini. Kalau
penculikan sebelumnya adalah setting-an,
kali ini jelas bukan, karena ada bukti-buktinya
“Kejadiannya kemarin, kan?” Kapten Bay berhenti hanya untuk
bertanya pada Bryan, setelah bawahannya itu mengangguk, Beliau mondar mandir
lagi. “Lalu apa yang sudah kau dapatkan?”
“Foto-foto penculik, plat mobil, dan kemungkinan rute
perjalanan mereka.”
“Bagus.” Kapten mengangguk senang. “Lassy punya banyak musuh
dari dalam, selidiki semua orang terdekatnya. Data semua klien yang berpotensi
melakukan kejahatan pada Lassy, juga orang-orang yang kemungkinan ada dendam
padamu!” Kapten menunjuk Bryan.
Bryan menunjuk hidungya sendiri. Tidak percaya Kapten
menjadikanya salah satu penyebab hilangnya kekasihnya sendiri. “Aku tidak punya
musuh, Kapten!” katanya dengan sangat yakin.
“Siapa tahu!” Kapten berkeras. “Awalnya memang tidak punya
musuh, setelah memacari Lassy kau jadi punya,” sambil menunjuk Luo sebagai
contohnya.
Kalau dalam keadaan sehat, Luo pasti menentang kalimat
barusan. Sekarang Luo sedang kelihatan cemas melebihi Bryan. Di mata Kapten
Bay, itu jadi bukti bahwa orang-orang di dekat Bryan juga punya potensi melakukan
kejahatan pada Lassy.
“Aku tidak tahu kau sedang cemas betulan atau pura-pura.
Yang harus kau tahu, cemasmu tidak akan membantu menemukan Lassy!” Kapten Bay
mengingatkan Luo.
Lagipula cemasnya Luo juga tidak akan membawa Lassy ke
pelukannya. Lassy sudah jadi milik Bryan.
“Kembangkan penemuan itu, lalu cari Lassy sampai ketemu.
Jangan sampai kejadian percobaan pembunuhan dulu terjadi lagi!” Kapten Bay
mengeram. “Temukan dia dalam keadaan sehat!”
“Siap, Kapten!” koor ketiganya.
Hanya Bryan dan Chang yang menjawab dengan lantang. Bukan
berarti Luo tidak semangat untuk menemukan Lassy, dia hanya sangat lemas hari
ini.
Setelah keluar dari ruangan Kapten Bay, Bryan dan Chang
memapah Luo. Mereka mendudukkannya di kursi terdekat. Bryan kembali ke mejanya
untuk mempelajari penculikan Lassy lebih lanjut, begitu juga Chang yang
membantu sebisanya.
“Kuatkan dirimu. Kali ini kita akan menemukan Lassy sebelum
dia terluka seperti dulu!” Chang menyarankan. “Bryan yang kekasihnya saja
tegar, kenapa kau jadi cemas?” lalu tidak peduli lagi dengan keadaan Luo.
“Aku tidak cemas, aku lemas,” jawab Luo lirih. “Badanku
gemetaran begini. Kepalaku pusing, dan perutku melilit.”
“Aku tahu berita penculikan Lassy membuatmu terkejut, tapi
keterkejutanmu tidak akan mempengaruhiku ...” Bryan berkata tanpa menoleh sedikit
pun pada Luo. “Sampai kapanpun dia hanya akan jadi kekasihku!”
Bryan cemas bukan main, tapi dia tidak akan menyia-nyiakan
waktu untuk gemetaran seperti Luo. Dia harus bertindak cepat sebelum ada
kejadian penganiayaan seperti ketika Lassy diculik dulu. Seperti instruksi
Kapten Bay tadi.
Meninggalkan Luo yang sedang tak punya tenaga. Semua orang
sibuk dengan kasus ini, pada kasus-kasus lain juga yang menumpuk butuh
dipecahkan. Kecemasan Luo tidak pantas dibahas.
“Siapa yang menangani kasus penipuan di perusahaannya
Lassy?” Tax bersuara. Seorang polisi yang baru masuk kantor, niatan melapor
pada Kapten Bay, berhenti mendadak. Dia mengacungkan tangan sambil celingak
celinguk mencari posisi datangnya suara tadi. “Kasus itu sudah ditutup?”
Kemudian menemukan Tax yang sebagian badannya tertutup oleh map-map tertumpuk
tinggi di mejanya.
“Kami baru menemukan posisi penjahat terakhir. Hari ini
penyergapan. Memangnya kenapa dengan kasus itu?"
Tax menggeleng santai. “Lassy diculik. Karena penjahat itu
tahu bahwa dia masuk daftar pencarian orang, kemungkinan dia yang menculik
Lassy.”
“Benarkah?” Si polisi melotot. Tidak terkejut karena
khawatir, tapi terkejut karena senang kasusnya berkembang jadi lebih besar.
Kalau dia bisa menangkap penjahatnya dan menemukan Lassy, Si miliarder yang
diculik itu, mungkin dia bisa dapat penghargaan, naik pangkat atau paling tidak
dapat bonus dari atasan. “Kalau begitu aku akan menangkap penjahatnya dengan
tanganku sendiri dan memastikan Nona Liem ketemu dalam keadaan sehat!”
Tax tersenyum miris. Dia membayangkan masa lalu, sebelum
masuk jajaran detektif elit, apa dirinya dulu juga seperti itu? Terlalu senang
dan congkak kalau dapat kasus bagus. Sok bisa menyelesaikan apa pun dengan
kemampuan sendiri. Tax tak bisa mengingat kelakuannya di masa lalu, tapi semoga
dia tidak begitu.
Dia menyingkirkan masa lalu, kembali ke kasus Lassy.
“Katakan padaku kalau kau sudah menangkap penjahat itu dan menemukan Lassy
dalam keadaan selamat. Tapi kalau tak menemukan Lassy, lapor langsung pada
Kapten Bay!” Polisi itu mengangguk masih sambil menyunggingkan senyum. “Ya
sudah. Teruskan pekerjaanmu!”
Si polisi meneruskan jalannya ke ruangan Kapten Bay.