
Di kantor polisi.
“Lassy?” tanya Kasmir setelah melihat temannya mengakhiri
pembicaraan kemudian mengantongi ponselnya. Bryan hanya mengangguk lesu.
“Kenapa kau perlakukan dia seperti itu? Kalau dia tahu kau sengaja melakukannya,
bagaimana kalau suatu saat dia balas dendam padamu? Itu akan merepotkan
kepolisian?”
“Kita yang menyelamatkan dan melindunginya selama ini, dia
tidak akan balas dendam hanya karena aku menutup teleponnya. Lagipula kita
memang sibuk, Kas.”
“Sibuk membicarakan kekasihmu itu lebih tepatnya!” Kasmir
membuat cemoohan dengan suaranya. “Mengingat dia meledakkan rumahnya sendiri,
mengirim surat kaleng berbentuk ancaman pada diri sendiri dan teman-temannya,
aku rasa dia bisa membuat alasan untuk balas dendam atas apa yang kau lakukan
padanya.”
“Jangan menakutiku!”
“Aku tidak menakutimu. Hanya bicara kenyataan saja.”
Ini menyangkut kasus surat kaleng itu.
Ternyata anak sekolahan yang menyiapkan dan mengirim surat
kaleng ke rumah Lassy, rumah Martha, serta apartement Bianca dan Randy adalah
salah satu anak yang sekolahnya dibiayai Lassy. Pendekatannya sama, anak itu ditelepon Lassy lewat nomor ibunya. Diajak jalan-jalan, belanja, dan makan, kemudian dibelikan ponsel pribadi.
Lewat telepon pribadi itulah Lassy memintanya untuk membuat lelucon surat
kaleng.
“Aku bingung apa motifnya kali ini.”
Hanya lelucon? Sepertinya itu bukan motif sama sekali. Sama
dengan Tax kemarin yang juga bingung menentukan motif kejahatan yang dibuat
oleh Lassy. Mengherankan. Lassy meledakkan rumah sendiri, mengancam diri
sendiri, agaknya kalau bukan karena gangguan mental tidak ada lagi motif lain
yang cocok untuk Lassy. Karena kebangetan kalau Lassy melakukan semua hal itu
hanya untuk bersenang-senang.
“Kita tunggu tim menemukan adik si guru TK itu. Apa yang
Lassy minta darinya?”
“Itu sama saja kau menuduh Lassy.”
“Memang aku menuduhnya.”
“Aku juga menuduhnya!” serobot Tax yang diam-diam
mendengarkan pembicaraan Bryan dan Kasmir. Dia pernah dijanjikan disponsori
liburannya oleh Lassy, tapi bukan berarti harus membela kalau wanita itu memang
bersalah. “Hanya saja tuduhan yang sudah terbukti tidak ada pengaruhnya bagi
Lassy.”
Fai yang kemarin menyebut Lassy gila, kali ini ikut bicara
lagi. “Sepertinya kekasihmu mengalami kerusakan otak yang lumayan parah.”
“Kau mulai lagi!” tegur Bryan. “Berani bicara seperti itu
kalau orangnya ada di sini?”
“Ya ampun Brey, kau keterlaluan saat membelanya!”
Bryan membalas, “Kau keterlaluan saat mengatainya!”
Perkara dengan si wanita ditutup sementara.
Kembali kepada Kasmir. Temannya itu menopang dagu dengan
tangan kanan, tangan kirinya membuka lembaran laporan yang disusun staff kantor polisi. Membuka lembar
pertama, lembar ke dua, berhenti di lembar ke tiga. Dia membaca di sana.
“Kapan Lassy diracuni sepupunya itu?”
“Bukan sepupunya yang meracuni Lassy.”
Kasmir lupa kalau Lassy sudah menjelaskan soal itu. Lalu dia
mengangguk-angguk setelah diingatkan.
“Dia sudah mendapat ancaman dari dulu. Dia jelas tahu siapa
yang meracuninya, tapi tidak pernah menyebutkannya pada kepolisian,” terang
Tax, kali ini Bryan yang mengangguk-angguk.
Kasmir melanjutkan, “Tadi aku hendak menyimpulkan, setelah
diracuni dan jadi jenius itulah Lassy mulai bertingkah konyol. Tetapi kalau dia
sudah mendapat ancaman jauh sebelum itu, berarti motif untuk bersenang-senang
atau karena Lassy mengalami kerusakan otak tidak berlaku lagi.”
Tax mulai setuju.
Bryan belum tahu harus setuju atau tidak, tapi dia
mendengarkan.
“Mengingat dia banyak merekayasa keadaan, tidak menutup
kemungkinan kalau semua yang dialaminya selama ini adalah hasil rekayasanya
juga.”
Para wanita langsung merinding mendengarnya. Lassy bukan
orang yang kuat, tapi isi otaknya menakutkan. Ototnya tak bisa merobohkan tiang
bambu, tapi otaknya bisa menghancurkan tembok beton, istilahnya begitu.
“Itu akan jadi tugas Bryan untuk mengetahui motif Lassy!”
Bukan dari Tax, Kasmir atau pegawai lainnya. Itu dari Chang yang baru datang
bersama Luo. “Satu-satunya orang yang bisa mendekatinya hanya kau, Brey. Jangan
perlakukan dia berbeda dari sebelumnya kalau kau tidak mau ketahuan telah
mencurigainya. Dia bisa menjadikanmu sasarannya!”
“Kenapa kau jadi ikut-ikutan menakutiku?” Bryan senang jadi
kekasih Lassy, hanya saja temuan kepolisian tentang kekasihnya itu akhir-akhir
ini membuatnya sedikit takut. “Ayolah, aku tidak bisa mencurigai kekasihku
sendiri!”
Chang hanya menyeringai. Tidak serius menakut-nakuti Bryan,
tapi serius dengan misi yang dikatakannya. “Coba kalian cari kejadian apa saja
yang melibatkan Lassy di dalamnya. Dalam hal ini Lassy yang jadi korban!”
“Untuk apa?”
“Untuk mencari referensi. Motif seseorang melakukan tindakan
pengrusakan tidak hanya kejahatan, bisa juga karena sesuatu yang baik.”
“Kalau kau beranggapan seperti itu, kemungkinan memang ada
benarnya. Aku akan mencari semua kasus terdaftar yang melibatkan Lassy!” Kasmir
menarik diri dari pembicaraan.
Luo menepuk pundak Bryan. “Walau Lassy yang kita ketahui
sekarang terlihat lebih menakutkan dari sebelumnya, aku masih menyukainya.”
Namun, yang dikatakannya barusan tidak semenggebu sebelum-sebelumnya. “Mungkin
kau memang ditakdirkan untuk Lassy!” Dan Luo ikut-ikutan menarik diri. Pergi ke
Setelah semuanya kembali ke meja masing-masing, Bryan pun
mengambil langkah sama. Dia menuju mejanya sendiri. Menyiapkan pertanyaan untuk
korban yang akan ditemuinya sore ini mungkin akan membuatnya melupakan Lassy
sejenak. Chang mendekat padanya, berkata lirih agar hanya Bryan yang bisa
dengar.
“Lassy menyukaimu betulan, itu bisa jadi perlindungan yang
hebat untukmu.”
***
Bryan hampir tertidur ketika Lassy tiba-tiba menjatuhkan
diri di sebelahnya.
“Kau menyukai orang lain, kan?”
Bagai ditarik dengan kekuatan besar, Bryan membuka matanya
karena terkejut. Apa Lassy tidak salah bicara? Begitu yang dipikirkannya.
“Dapat pemikiran dari mana?”
“Dari tindakanmu selama beberapa hari ini yang terkesan
menjauhiku.”
Seperti kata Chang, dia tidak boleh ketahuan. Bryan menarik
Lassy, membawa ke pelukannya. Mengecup dahinya, kemudian kembali memejamkan
mata. “Memangnya ada orang yang bisa menandingi pesonamu di dunia ini?”
“Tidak ada, tapi perselingkuhan terjadi bukan hanya karena
pasangan tidak memiliki pesona.” Namun, dia tetap melingkarkan lengannya di
sekitaran pinggang Bryan. “Juga karena pintar menggunakan kesempatan.”
“Aku memang punya banyak kesempatan, sayangnya hati ini
tidak mengizinkanku menggunakan kesempatan itu.” Bryan menarik tangan Lassy,
meletakkan telapak tangan itu ke dadanya. “Rasakan detak jantungku. Jantung ini
hanya berdetak cepat terhadap dua hal, kalau aku sedang mengejar penjahat dan
kalau aku sedang dekat denganmu!”
Lassy mendengus, tapi menyeringai. Dan kemudian tertawa
kecil. “Aku tidak suka kau gombali!”
“Aku tahu.”
“Aku lebih suka kau cium.”
“Aku juga tahu itu.” Bryan membuka matanya, sekali lagi
menarik Lassy dan memberinya ciuman. “Kalau kau mulai merasa ragu, kau harus
ingat kalau aku mencintaimu!”
“Kalau kau punya kesempatan dan tak bisa menggunakannya,
tapi ada orang yang memaksamu, aku akan membuatnya berhenti.” Sebelum ini
kalimat seperti ini akan terdengar seperti kecemburuan semata, tapi sekarang
lebih terdengar seperti ancaman. Bryan sadar, tapi harus tetap tenang. “Aku
juga mencintaimu. Sangat mencintaimu!” Kemudian mengubur mukanya di leher Bryan.
***
“Brey, serahkan ini pada Lassy!” Narita muncul lagi kali
ini. Meletakkan kotak besar di meja Bryan. Dia mengambil sticky notes dari
meja sebelah, lalu menulisinya. Sebuah ucapan sederhana yang ditujukan pada
Lassy, kemudian merekatkannya di atas kotak itu. “Ini coklat bermerek yang
kupesan dari kekasihku. Jangan coba-coba mengambilnya kalau Lassy belum
melihatnya dulu!”
“Pasti ilegal!”
“Jangan mentang-mentang kekasihku orang yang kau tandai
sebagai pelaku kriminal, lalu semua darinya bersifat ilegal!” tudingnya. “Ini
dibeli pakai uangku, tahu!” Dia melempar segepok sticky notes ke
meja sebelah, lalu meninggalkan Bryan ke mejanya sendiri.
Detik berikutnya, Mint meletakkan berkas ke atas mejanya.
“Baca dulu, kalau sudah cukup serahkan ke pengadilan untuk di proses!”
“Tanganmu sudah sembuh?”
Luka di wajah Mint sudah hilang. Baru kemarin wanita itu
terlihat babak belur, sekarang sehat. Tangannya juga sudah terbebas dari
perban. Hanya sisa goresan melintang, itu pun samar-samar saja. Hebat. Seakan
dia punya kemampuan menyembuhkan diri dengan cepat. Mint membawa kantong
plastik lagi. Bryan bisa melihat di dalamnya ada beberapa roti lapis.
“Dokter terlalu membesar-besarkan luka kecil. Luka gores
saja diperlakukan seperti luka sayatan senjata tajam,” jawabnya sambil
melenggang santai menjauhi Bryan. “Jangan melirik rotiku seperti itu, aku tetap
tidak akan membaginya padamu!”
Yang ketiga datang ke meja Bryan adalah Kasmir. Lelaki itu
meletakkan foto-foto Lassy dari berbagai sudut. “Aku tidak sedang menyuruh
orang untuk menguntit kekasihmu. Ini foto-foto yang diambil dari CCTV dari
beberapa kejadian. Rincian kejadian itu akan kucetakkan untukmu nanti!"
“Ada lagi?”
“Memangnya kau mau apa lagi?” Bryan segera menggeleng. “Hari
ini aku punya pekerjaan yang harus kuselesaikan. Jangan menggangguku dulu.”
Kasmir melangkah menjauhi Bryan.
Setelah tiga orang itu, siapa lagi? Bryan siap menerima
orang berikutnya, tapi yang datang kali ini adalah Luo. Meletakkan ponselnya di
meja Bryan sambil pasang muka muram.
“Gawat!”
“Apanya yang gawat?” Bryan meraih ponsel itu, mengeceknya
dengan teliti, tapi tak ada apa-apa di sana. “Apanya yang gawat? Tidak ada apa
pun di handphone-mu!”
“Yang gawat bukan handphone-ku, untuk apa kau melihatnya!”
“Kalau begitu untuk apa juga menaruhnya di mejaku?”
“Memangnya tidak boleh?”
Kenapa mereka malah meributkan ponsel? Kembali pada kata
‘gawat’ yang barusan di ucapkan Luo.
“Kekasihmu kecelakaan!”
“Apaaa!" Bryan memekik, melonjak dari kursinya.
“Astaga, aku salah ucap!” Luo mendorong Bryan untuk tenang. “Mantan
kekasihmu kecelakaan. Sekarang dia ada di rumah sakit!”
“Ren?”
Luo mengangguk. “Dia ditabrak orang!”