Mr. Detective

Mr. Detective
Ledakan



Pagi ini Luo pulang dari pengintaian. Hampir terjaga dua


kali dua puluh empat jam, dia sudah mirip zombie. Badannya lesu, mukanya pucat,


matanya sayu dengan lingkar hitam di sekitarnya. Ketika Bryan datang dan duduk


depan mejanya, Luo tengah menyesap kopi buatan OB kantor.


“Kau tak berniat pulang dan beristirahat sejenak?”


“Setelah melapor pada Kapten Bay, aku akan pulang dan


tidur.” Luo menyeruput kopinya lagi. “Katakan pada Lassy aku tak jadi datang


pagi ini. Mungkin nanti sore atau besok pagi.”


Kalau Luo mengundur pertemuan sesukanya, bisa jadi alasannya


bertemu Lassy tidak ada hubungannya dengan kasus yang dia tangani.


“Bagaimana dengan rencana penangkapan hari ini?”


“Semua agen sudah siap di posisi. Dan beberapa jam lagi


penjahat-penjahat itu akan ada di sel tahanan.”


Bryan melirik Luo yang tidak semangat sama sekali. Bryan


tahu selelah-lelahnya detektif, Luo masih punya cukup stamina untuk ikut


penyergapan itu. Kalau rekan timnya sedang dalam keadaan seperti ini, tentu ada


penyebabnya.


“Kau tak diikutsertakan dalam penyergapan?” tanya Bryan


terkesan mengejek. Kalau memang nasibnya dan Luo sama, Bryan berniat


menjabat tangannya.


“Ini adalah penyergapan kelompok yang diduga jadi tersangka


pencurian mobil. Aku tak bisa ambil bagian di dalamnya,” jawabnya setelah


menyesap kopinya lagi. Dia butuh asupan caffein lebih banyak agar bisa terjaga sampai atasannya datang nanti. “Kemarin malam aku dan Tim mengintai beberapa tersangka lain, tapi cuma aku yang kehilangan


jejak,” kata Luo malas. Dan itulah jawaban yang ditunggu Bryan, jawaban yang


menyebabkan rekannya tak bersemangat. “Padahal kalau tadi malam aku berhasil


mengumpulkan bukti, tersangka bisa langsung ditangkap.”


Luo melakukan semuanya dengan benar bersama partner-nya. Mereka pergi ke pusat olah


raga karena malam itu ada pesta perayaan kemenangan sampai pagi. Salah satu tim


milik Matthew memenangkan perlombaan terbaik se-Asia, dan tersangka yang


dikuntit Luo serta partner-nya mengadakan


pertemuan dengan Matthew.


Kesalahan teknis terjadi ketika Luo memegang teropong,


mengawasi gerak gerik tersangka di kerumunan. Melihat orang lain datang, sontak


Luo mengalihkan teropongnya ke orang itu. Seorang wanita cantik dan seksi


mengalihkan perhatian Matthew, mereka berbicara bak rekan lama. Ketika


pembicaraan selesai, wanita itu pergi begitu saja. Bukan mengawasi tersangka,


Luo malah mengawasi gerakan wanita itu berjalan sampai masuk mobil dan


melajukan mobil itu pergi. Berita baiknya, Luo telah tertarik dengan wanita


lain selain Lassy Liem. Berita buruknya, dia kehilangan bukti transaksi dan


kehilangan jejak tersangkanya.


Rekan Luo marah sekali, mengomel sampai dua kali penempeleng


Luo. Untung mereka sama-sama detektif, dengan cepat keluar dari persembunyian


dan berbaur di kerumunan. Mereka menemukan tersangkanya lagi, tapi tak


menemukan bukti apa pun untuk melakukan penangkapan. Lalu keduanya pulang dengan


tangan kosong pagi tadi.


Bryan tertawa sejenak. “Apa yang membuatmu gagal?”


“Wanita bertubuh eksotis.”


“Oh, jadi kau sudah menyukai wanita lain lagi, sekarang?”


ejek Bryan.


“Kau tak akan tahu rasanya terpesona. Wanita yang kulihat


semalam itu seksi bukan main. Tubuhnya bagus dan pas.”


“Kau bilang Lassy juga punya tubuh yang bagus, apa itu


patokan untuk mencari wanita yang bisa kau kencani?”


“Itu salah satunya. Salah duanya, tubuhnya pas,” terang Luo


sambil membuat bulatan ke depan dengan kedua tangannya. Artinya pas di


pelukannya. “Dia wanita kedua yang akan kukencanai setelah Lassy,” katanya,


merubah ekspresi lesunya jadi gembira.


Bryan menekuk kepalanya ke kiri dan kanan, menimbulkan


gemeletuk di pangkal leher. Luo menirukannya dengan gaya yang sama. Lumayan,


kaku di lehernya menghilang dan staminanya naik.


“Aku jadi bersemangat,” kata Luo. “Dari tadi aku tak tidur


untuk mencari tahu siapa wanita itu, tapi tak ketemu juga.”


“Semua gambar wajah penduduk negara ini tersimpan di server


kepolisian. Kau tinggal mengakses data kependudukan.”


“Sudah kulakukan. Bahkan aku menyuruh pembuat sketsa untuk


melukiskan wajahnya, tapi hasilnya nihil.”


“Berarti kau belum beruntung.”


“Sial memang! Dari semalam sampai sekarang aku tak bisa


melupakan wajahnya.” Luo mengambil sebuah map, mengigit-gigit tepian map itu


untuk menyalurkan kegeramannya. “Aku bisa gila kalau begini terus.”


“Kau memang sudah gila sejak dilahirkan. Hampir menjadi maniak.”


“Maniak apanya? Jaga ucapanmu! Kalau ada orang lain yang


mendengarnya, mereka bisa salah paham. Semua orang bisa menghindariku nanti,”


protesnya.


“Tidak diucapkan semua orang sudah tahu juga.”


Luo berdecak malas. Se-tim dengan Bryan tidak pernah


membuatnya bahagia. Kurang baik apa Luo kepadanya? Dia membantu apa pun yang


dibutuhkan Bryan, tapi mana balasannya? Bryan memacari Lassy dan sekarang


mengatainya maniak hanya karena gonta-ganti pasangan. Apa salah kalau Luo jatuh


cinta berkali-kali? Harusnya Bryan tahu itu. Sebenarnya bukan cuma Bryan yang


bersikap demikian, hampir semua anggota tim, termasuk atasannya sendiri juga


melakukan hal yang sama. Kalau begini, Luo merasa jadi anak tiri di timnya


Kapten Bay.


“Tapi aku ingat mobil wanita itu,” kata Luo spontan. “Merk,


jenis, dan warnanya aku ingat betul.” Luo segera menyingkirkan cangkir serta


map-map yang ada di hadapannya. Dia terfokus lagi pada komputernya, menuliskan


merk mobil, type dan warna mobilnya. Setelah menekan tombol cari, menunggu


beberapa saat, muncullah ribuan nama pemilik kendaraan yang sama di layar


monitornya. "Sial!” umpatnya lagi. “Aku lupa plat nomornya.”


Bryan tertawa untuk yang kedua kalinya. “Lupakan saja, kalau


memang jodoh kau pasti akan bertemu lagi dengannya!”


“Tidak semudah itu. Gara-gara dia, buruanku lepas. Jadi, aku


harus mendapatkannya sebagai ganti rugi,” kata Luo sambil ikut tertawa seperti


maniak.


“Kasihan sekali nasib wanita itu. Semoga dia tak pernah


bertemu denganmu!”


“Bukannya mendoakan yang baik, teman macam apa kau ini!”


Bryan mau menimpali, Kapten Bay mendahuluinya. Kapten Bay


berdehem di depan keduanya, membuat Bryan dan Luo kaget. Mereka spontan berdiri


dan hormat pada atasannya itu, tapi duduk kembali setelah tak dapat respon.


“Tumben sekali kalian hormat padaku?”


“Kaget, Kapten,” jawab Luo jujur.


“Ini pekerjaan detektif yang semalam gagal mengintai


tersangkanya? Kau mengintai siapa, ha?” tanya Kapten Bay geram. “Buang radar playboy-mu itu kalau kau sedang


bertugas. Paham!”


“Paham, Kapten!” jawab Luo tegas.


“Sudah diberitahu berkali-kali tetap saja seperti ini.”


Kapten Bay geleng-geleng kepala. “Cari partner-mu


dan masuk ruanganku setelah ini!”


“Siap!” Luo berdiri lalu pergi mencari rekannya semalam.


Kapten Bay masih di tempat dengan Bryan. Beliau mengalihkan


pandang pada anak buahnya itu dan mengernyit tak suka dengan kelakuan satu lagi


detektif di timnya.


“Sedang apa kau di sini?”


“Menjemput Luo. Dia bilang akan menemui Lassy pagi ini, tapi


barusan dia membatalkannya,” jawab Bryan sama jujurnya dengan Luo.


“Kau ini sama saja dengannya.” Kapten Bay kembali


menggeleng. “Kalau dia mau menemui Lassy, dia bisa datang sendiri ke rumahnya.


Kalau kau ke sini, siapa yang akan menjaga Lassy?”


“Tadi dua petugas polisi sudah datang sebelum aku kemari.”


“Lalu kau lepas tangan karena ada dua petugas di sana?


Pikirkan, kalau terjadi apa-apa di rumah Lassy dan dua petugas serta seluruh


orang di sana tak bisa melindunginya. Lassy mati, siapa yang tanggung jawab?”


Bryan tak menjawab. Atasannya ini sedang marah, gawat kalau


dia sampai kena skors dan potongan gaji.


“Aku lebih rela kau yang mati dari pada Lassy. Paham!”


“Paham, Kapten!” jawab Bryan persis seperti yang dilakukan


“Kembali ke rumah Lassy dan lindungi dia dengan nyawamu!”


“Siap!”


***


Saat Bryan berkendara menuju rumah Lassy, dia mendengar


suara ledakan cukup keras dari depan. Beberapa ratus meter mendekati rumah


Lassy. Bryan menekan pedas gas, menambah kecepatan laju mobilnya, lalu berhenti


tepat di depan pagar rumah Lassy. Ledakan tadi tepat di dalam sana, di rumah


Lassy. Hampir sepertiga rumah lebur karena ledakan hebat tadi. Seluruh dapur,


sayap kanan rumah dan setengah lantai atas mengalami rusak berat.


Bryan meninggalkan mobilnya di depan gerbang. Dia berlari ke


dalam area rumah dan berusaha mengecek keadaan di sana. Bryan cemas, Lassy dan


semua yang ada di sana bisa saja jadi korban ledakan barusan. Kalau memang itu


terjadi, dialah yang patut disalahkan.


Ketika Bryan hendak menerobos masuk rumah, penjaga rumah


mencegahnya. Mengatakan bahwa Lassy dan yang lainnya baik-baik saja. Mereka


sudah keluar rumah sebelum ledakan itu terjadi. Hanya saja mereka terkejut


mendapati hal barusan.


“Kalian tidak apa-apa?” tanya Bryan pada semua orang di


situ.


Semuanya terlihat lemas karena kaget, termasuk dua polisi


penjaga. Namun, mereka kembali sigap, segera menelepon kantor polisi dan


pemadam kebakaran. Memang tidak ada tanda-tanda rumah Lassy akan terbakar habis


karena bahan yang dipakai membangun rumah berkwalitas super, tapi banyak barang


berharga yang bisa ikut terbakar kalau api kecil yang belum padam menjalar ke


bagian lain ruangan.


“Pak, Nona Lassy sangat tidak sehat,” adu seorang pembantu


sambil menunjukkan di mana Lassy sekarang berada.


Lassy sedang meringkuk di pondok kecil di taman samping


rumah. Untungnya pondok itu terpisah jarak dengan bangunan rumah. Bisa


disinggahi untuk sementara. Bryan memeriksa Lassy dan memang Lassy terlihat


tidak sehat. Lassy mengaku kaget setengah mati dengan ledakan barusan.


Jantungnya hampir-hampir berhenti berdetak karenanya. Belum lagi telinganya


yang sampai saat ini masih berdengung.


“Kalian sudah menelepon polisi dan pemadam kebakaran?”


“Sudah, Pak.”


“Bagus,” puji Bryan. “Lalu siapa yang terluka saat ini


selain Lassy?”


“Kami memang terkejut, tapi baik-baik saja,” jawab polisi


satunya.


Bryan paham. Dia menunjuk Jack dan penjaga rumah untuk tetap


di tempat bersama polisi penjaga sampai polisi lain dan pemadam kebakaran


datang. Bryan sendiri mengaba dua pembantu Lassy untuk mengikutinya. Lassy


adalah prioritas utamanya, maka dari itu dia membawanya beserta dua pembantu


untuk diamankan di tempat lain. Bryan membopong Lassy, dibantu pembantu Lassy,


dia berhasil memasukkan Lassy di mobilnya. Kemudian Bryan membawa ketiganya


menyingkir jauh dari rumah itu. Membawa mereka ke rumahnya sendiri.


“Jauh lebih kecil dari rumahmu, tapi bisa ditinggali untuk


sementara,” kata Bryan setelah membawa Lassy masuk rumah. “Aku akan menelepon


dokter agar mengecek keadaan kalian bertiga.”


“Tidak perlu, Pak. Kami baik-baik saja. Hanya butuh


istirahat sejenak,” kata seorang pembantu. “Mungkin untuk Nona Lassy saja!”


“Baiklah,” jawab Bryan. “Aku akan mengabarkan keberadaan


kalian di sini. Akan ada detektif yang datang dan menanyai kalian nantinya.


Kalau kalian belum siap, aku akan minta mereka datang lebih lambat.”


Bryan mengaba pembantu-pembantu itu untuk membawa Lassy ke


kamarnya. Pembantu-pembantu itu juga dipinjami kamar tamu oleh Bryan. Mereka


disuruhnya istirahat dulu sampai dapat kunjungan dari dokter dan juga polisi.


Seperginya Lassy dan pembantunya, Bryan mulai menghubungi


kawannya. Awalnya dia menghubungi Luo tanpa peduli kalau Luo sendiri sedang


beristirahat setelah dua hari tak cukup tidur, ternyata Luo tak menjawab


panggilannya. Bryan menelepon detektif lain namun kawannya yang itu juga tak


menjawab, mungkin sedang tugas. Panggilan ke orang ketiga, Bryan mendapat


respon. Detektif yang ditelepon Bryan sudah ada di tempat kejadian. Dia


melaporkan keberadaan Lassy, meminta seseorang datang untuk menanyai serta


minta diteleponkan dokter untuk memeriksa kondisi Lassy.


Ini adalah satu jam setelah kejadian. Dokter selesai


memeriksa Lassy dan sekarang sedang mengemasi barangnya.


“Tidak apa-apa. Hal seperti ini sering dialami orang karena sebuah kejadian mengejutkan. Dengan


kondisi Nona Lassy yang sehat, dia akan segera pulih,” terang dokter pada


kerumunan orang di kamar Bryan.


“Bagaimana dengan luka bekas kecelakaannya, Dok?”


“Asal rajin bergerak, kakinya akan bisa digunakan secara


normal dalam waktu dekat,” terang dokter. “Saya tidak bisa memberi resep lagi


karena sekarang Nona Lassy masih mengkonsumsi obat lain. Berikan air putih yang


banyak untuk membantu proses penyembuhan,” tambahnya.


Dokter diantar Bryan keluar rumah. Sedangkan detektif kawan


Bryan telah selesai menginterogasi dua pembantu Lassy. Sekarang dia beralih pada


si majikan.


“Sebelum aku mengajukan pertanyaan, kau bisa bercerita dulu


pada kami,” kata detektif itu setelah nyaman duduk di samping Bryan.


“Aku merasa tak enak badan hari ini.” Lassy melirik sejenak


pada Bryan, mengatakan ‘salahmu’ dengan tatapan itu, tapi Bryan pura-pura tak paham. “Aku ke dapur untuk mencari


pembantu, aku ingin dibuatkan honey lemon


tea oleh salah satu dari mereka. Saat pembantuku ke dapur, aku ikut


dengannya. Di sana kami mencium bau gas. Aku dan pembantuku memeriksa sejenak


dan mendapati ada selang yang longgar,” terang Lassy.


Penjaga rumah dipanggil untuk mengencangkan regulatornya.


Namun, bau gasnya terus tercium walau sudah menyalakan kipas angin dan membuka


seluruh jendela. Ketika diperiksa lagi, ada bagian selang yang bocor. Lassy


memerintahkan semua untuk keluar rumah, sementara tukang kebun mencari alat


untuk melepas selang itu. Ketika semua orang jauh dari dapur, terjadilah


ledakan itu, beruntung polisi jaga tidak terluka walau mereka ada di dalam


rumah.


“Kau bilang selangnya longgar? Longgar seperti apa? Murnya


longgar atau karet selangnya sudah mengalami perenggangan?”


“Murnya longgar.”


“Sebelah ujung atau pangkal?”


“Yang dekat dengan tabung gas.”


“Berapa lama usia satu set kompor itu?” Ini pertanyaan aneh,


tapi mungkin semua detektif akan menanyakan itu walau Lassy tak tahu jawabannya.


Lassy menggeleng. “Mungkin seusia rumahku. Atau kalau


pembantuku telah menggantinya beberapa kali, aku tidak tahu.”


Pembantunya sering membuat daftar belanjaan. Apa yang perlu


dibeli, dibuang, dan diganti dengan yang baru, ditulis lalu dilaporkan pada


Lassy. Karena terlalu percaya dengan pembantunya, Lassy tak pernah mengecek


laporan dari pembantunya, apalagi barangnya. Dia cuma mengeluarkan uang dan


tahu beres saja.


Detektif itu mengangguk. “Apa ada sesuatu yang sedang


menyala, yang mungkin bisa menyulut ledakkan gas itu ketika kalian akan


keluar?”


“Kita tidak menyalakan apa pun kecuali kipas angin.”


Detektif itu mendapat pesan dari menyidik di TKP. Dia


bermaksud untuk datang ke sana dengan segera menyudahi tanya jawabnya pada


Lassy.


“Untuk saat ini cukup sampai di sini. Aku akan menemuimu


kalau ada sesuatu yang perlu kutanyakan lagi.”


Lassy mengangguk.


“Kabar lebih jelasnya akan kusampaikan pada Detektif Bryan. Kau bisa cari tahu darinya.”


“Detektif, tolong periksa ruang kerjaku. Kalau bisa, selamatkan


semua dokumen yang ada di sana!” pinta Lassy.


“Akan kuusahakan.”


Detektif itu diantar Bryan untuk keluar rumah. Dia


mengatakan pada Bryan bahwa ada yang sedikit janggal walau seisi rumah kompak


bilang bahwa ledakan itu diawali dari tabung gas yang bocor. Tim penyidik


menemukan beberapa hal, tapi belum diberitahukan secara jelas. Bryan akan


dikabari lagi setelah kawannya itu tahu lebih lanjut.