Mr. Detective

Mr. Detective
Garis Keturunan Liem



Hampir semua petugas berkumpul di kantor hari ini, tak


terkecuali Bryan. Mereka berdiri dan hormat ketika rombongan Inspektur memasuki


kantor. Inspektur J beserta dua anak buahnya berjalan santai memasuki gedung


kantor polisi.


“Mana Kapten kalian?” tanya Inspektur J pada salah seorang


polisi.


“Siap Pak, Kapten ada di dalam!” jawabnya keras, tegas, dan


tegak persis seperti polisi yang baru lulus akademi.


“Kau tak perlu bersikap kaku seperti ini,” kata Inspektur


sambil menepuk lengan si polisi. "Santai saja!” katanya sambil berlalu,


masuk ke ruang lebih dalam.


Inspektur beserta dua anak buahnya melewati satu demi satu


petugas kantor di devisi kriminal. Devisi yang dipimpin satu anak buahnya, Kapten


Bay. Kapten Bay itu lebih muda beberapa tahun dari Inspektur sendiri, tapi


mereka berteman cukup akrab. Apalagi sebagai atasan, Inspektur J tak membedakan


dengan siapa dia harus berteman. Maka dari itu, bekerja di bawah naungannya


lebih nyaman daripada di bawah atasan-atasan lain.


Kapten Bay hormat, setelah dapat balasan dari Inspektur J,


mereka bersalaman lalu tertawa bersama. Kapten Bay mempersilakan Inspektur


duduk.


“Kupikir devisi ini benar-benar akan dibekukan. Aku sudah


merasa jantungku mau meledak, untung kau datang hari ini.”


“Memangnya kenapa kau sampai begitu?” tanya Inspektur J


sambil menyamankan diri di kursi berbusa tebal. “Ada masalah dengan anak


buahmu?”


“Karena ada berita kalau kau akan datang beberapa hari yang


lalu untuk melihat kinerja anak buahku, kemudian membekukan devisi yang


kupimpin karena mereka tak becus bekerja.”


Inspektur J tertawa. Jelas tidak mungkin baginya membekukan


sebuah devisi kalau tidak ada izin dari atasan. Lagi pula kinerja Devisi


kriminal di kantor polisi ini cukup bagus. Kalau ada kesalahan, paling-paling hanya


ditegur dan dikenakan sanksi ringan.


“Bryan,” panggil Kapten Bay ketika melihat detektif


asuhannya itu lewat. “Ambilkan minum untuk Inspektur J.”


Bryan menoleh kanan-kiri, lalu menunjuk mukanya sendiri.


“Iya, kau. Pergi ke pantry dan ambil minum!” perintah Kapten lagi.


“Tak perlu repot-repot.”


“Tidak repot. Anak buahku rajin semua. Mereka baik dan loyal


terhadap sesama. Jiwa persaudaraan mereka tinggi. Sering membantu satu sama


lain,” terang Kapten sambil tertawa-tawa. “Sekalian kau ambilkan air untukku!”


perintahnya, beralih pada Bryan lagi.


Kalau Kapten Bay tadi tidak bohong soal kebaikan anak


buahnya, Bryan sudah pasti menolak. Anak buah Kapten Bay tidak ada yang


benar-benar baik, kalau ada kasus saja mereka kompak, selebihnya masa bodoh


dengan satu sama lain. Setelah ini Bryan akan ingat, jangan lewat depan ruangan


Kapten kalau ada tamu penting datang, bisa-bisa jadi OB mendadak seperti


sekarang ini.


Bryan mendecih samar, lalu melenggang malas ke arah dapur kantor.


“Mana Luo, aku tidak melihat dia di luar?”


“Mungkin sedang ada pekerjaan. Sebentar lagi dia juga akan datang.”


“Bagaimana kerjanya, mengecewakan atau tidak?”


“Dia mulai berubah. Waktunya banyak didedikasikan untuk


pekerjaan,” tutur Kapten Bay. Iyalah, tidak mungkin Kapten mengatakan kelakuan


Luo yang sebenarnya, sedangkan detektif itu sekarang berada di bawah asuhannya.


“Oh, begitu ya?” Inspektur J mengangguk-angguk.


“Kadang-kadang aku merasa khawatir padanya. Mau jadi apa kalau kelakuannya


tetap seperti itu, tapi baguslah kalau dia sudah mulai berubah.”


Joshua J atau lebih dikenal dengan panggilan Inspektur J,


yang sekarang duduk di depan Kapten Bay. Beliau duda beranak satu. Umurnya


masuk 48, tahun ini. Beliau merasa dekat dengan Luo, tapi Luo tak merasa dekat


dengan Beliau. Mereka adalah ayah dan anak asuh.


Inspektur J menemukan bakat Luo sejak kecil. Luo


dibesarkannya dengan disiplin tinggi dan diajari jadi polisi militer. Dia


dikenalkan dengan dunia intelejen. Karena bakatnya yang luar biasa, dia


direkrut sebagai tim khusus, jadi snipper dengan berbagai keahlian, tapi akhirnya dipindahtugaskan jadi detektif polisi gara-gara dia lalai.


“Bagaimana dengan Liem muda itu?” Inspektur J mulai masuk ke


maksud kedatangannya.


“Kasusnya sudah terbuka, hanya saja mereka belum menyebut


nama dalangnya.”


“Oh!” seru Inspektur J. “Sebenarnya selain mewakili


Presiden, ada hal yang ingin kusampaikan pada kalian. Ini mengenai silsilah


keluarga Liem.”


Bryan datang dengan dua gelas air putih, masing-masing di


sebelah tangan kanan dan kirinya. Kapten Bay memprotes cara Bryan membawanya.


Tidak sopan. Harusnya Bryan membawa nampan. Tapi peduli amat, Bryan bukan OB.


Lagi pula kalau membawa nampan tidak jamin airnya tidak tumpah kalau Bryan yang


membawanya. Sekali lagi, Bryan bukan OB.


Bryan tak berpindah jauh, dia berdiri di samping dua anak


buah Inspektur J yang tak bersuara sejak tadi.


“Beberapa dekade lalu moyang Liem itu memiliki tanah yang


begitu luas. Beberapa di antaranya di wilayah Pi, Khi, dan Fi. Terutama


pulau-pulau pribadinya. Kau tahu pulau-pulau itu sekarang digunakan untuk apa?”


Inspektur J tidak butuh jawaban, dia sendiri langsung menambahkan. “Reaktor nuklir.”


Kapten terkejut, begitu juga dengan Bryan. Mereka tahu ada


reaktor nuklir di sana, tapi tidak tahu kalau tanah-tanah itu milik nenek


moyang Lassy.


“11 reaktor nuklir negara kita ada di tanah keluarga Liem.


Wilayah-wilayah itu memiliki uranium melimpah, hingga pemerintah bisa


mendirikan reaktor nuklir di sana. Sebagai pembangkit listrik, untuk diekspor


nuklir yang digunakan tentara kita. Dari sinilah pendapatan negara di dapat.”


Inspektur J menghentikan penjelasannya. Beliau meraih gelas


air putih yang diletakkan di depannya, meneguk airnya sedikit, lalu kembali


bercerita.


“Pemerintah bukan tak mau membeli tanah-tanah itu atau


melakukan bagi hasil, tapi keluarga Liem sendiri yang menolak. Mereka


menyerahkan hasil itu pada pemerintah, dengan tidak menjual tanah mereka tapi


juga tidak meminta sepeser pun hasilnya. Saat pemerintah memaksa memberikan


sebagian hasil olah nuklir, moyang Liem malah mengalokasikannya untuk


mensubsidi masyarakat. Maka dari itu listrik di negara kita murah.”


Masyarakat sudah merasakan hasil pengolahan nuklir


bertahun-tahun, tapi tidak ada yang tahu cerita di baliknya. Tentang pendapatan


dari bisnis keluarga Liem di bidang pariwisata itu adalah kebohongan, hanya


untuk menutupi kepemilikan tanah kaya uranium milik keluarga Liem.


Pendengar di ruangan Kapten Bay bertambah beberapa orang.


Ada Luo dan Tax, lalu Chang serta beberapa staff.


Mereka kagum dan bangga dengan Moyang Liem yang baik itu. Bryan merasa begitu


beruntung telah memacari salah satu keturunan Liem.


“Lalu keluarga itu terpecah, Liem yang bermukim di luar


negeri dan Liem yang di dalam negeri. Moyang Liem dulu punya dua anak. Semua


tanah yang dimiliki keluarga diberikan kepada anak pertama, Liem yang di luar


negeri. Semua harta benda dan aset perusahaan diberikan pada anak kedua, Liem


yang di dalam negeri. Dihitung sama rata. Anak pertama masih memegang tatanan


sama untuk mendonasikan keuntungan nuklir pada masyarakat sampai sekarang. Tapi


antara dua Liem itu memiliki perjanjian. Bahwa bila semua keturunan Liem


pertama keluar dari negara ini, semua tanah beserta isinya jatuh ke keturunan


Liem kedua.”


“Apa sebelum itu Liem pertama memang sudah banyak yang


berpindah ke luar negeri?”


Ada hal janggal. Kenapa tiba-tiba para Liem mengubah


kewarganegaraan mereka?


Inspektur J menggeleng. “Mereka keluar karena sering


mendapat teror dari orang-orang tak dikenal. Pemerintah sudah menduga itu


kelompok Liem lain, tapi keluarga Liem pemegang tanah tak mau menuduh apalagi


melaporkan saudara mereka sendiri. Dan keadaan itu berlaku sampai sekarang.”


“Oh!” Kapten Bay takjub. “Jadi Lassy itu Liem terakhir dari


keturunan anak pertama yang masih menetap di sini?” Inspektur J menganggukinya.


“Pantas pemerintah sangat peduli padanya.”


“Kekhawatiran pemerintah sudah sampai puncak ketika


mendengar percobaan pembunuhan terhadapnya. Kalau dia mati, seluruh kekayaan


berpindah tangan pada Liem lain. Pemerintah pasti akan rugi besar kalau sampai


tanah-tanah itu diambil paksa.”


Tentunya seluruh garis keturunan Liem tahu soal perjanjian


itu. Ini ada hubungannya juga dengan Kian Pharmacy.


Mereka Liem terkuat dari keturunan kedua, setelah ayah mereka yang lemah itu


mati, anak-anaknya pasti berfikir untuk merebut harta Liem dari pihak lainnya.


Menakut-nakuti Lassy adalah jalannya. Toh, keluarga Lassy lebih sayang pada


anggota keluarga, mereka akan terus menyuruh Lassy keluar negeri daripada


dibunuh di negeri sendiri.


Inspektur J menjatuhkan dokumen tebal ke meja Kapten Bay.


“Itu adalah arsip negara. Silsilah keluarga Liem beserta semua kejadian di masa


lalu sampai masa sekarang ditulis di situ.”


Kalau begitu, cara apa yang bisa mereka gunakan untuk


menyelamatkan negara sekaligus menyelamatkan Lassy Liem? Mencuri surat


perjanjian konyol itu dan meleburkannya, kah?


“Tidak mungkin menghancurkan perjanjian mereka. Tidak


mungkin juga memenjarakan semua Liem yang tinggal di sini tanpa bukti,” kata


Inspektur J.


“Lalu apa yang harus kita perbuat?”


“Hal pertama, berikan kenyamanan tinggal pada setiap Liem


dari keturunan anak pertama. Memberikan rasa aman pada mereka, membujuk agar


mau kembali ke sini dan biarkan mereka beranak-pinak di negeri sendiri.”


Kapten Bay nyengir lebar. Membiarkan Liem beranak -inak


maksudnya apa? Kalau soal keamanan, polisi bisa usahakan, tapi soal membujuk


mereka kembali ke negara ini, itu tugas pemerintah. Kembali soal anak-pinak


tadi, patutkah Lassy berkencan dengan anak buahnya?


“Lassy memacarinya.” Kapten Bay menunjuk pada Bryan. “Lassy


meminta padaku langsung untuk diperbolehkan berkencan dengan Bryan. Aku tahu


itu melanggar aturan, tapi ...”


Inspektur beralih pandang pada Bryan. “Dia kekasih Lassy?”


Beliau agak ragu, padangannya seperti mengatakan kalau Bryan tidak cukup pantas


untuk keturunan Liem. Namun, Beliau segera tersenyum menghilangkan


keraguaannya. “Tidak masalah selama keturunan Liem itu senang. Yang terpenting


membuat mereka nyaman di negara ini,” ulangnya.


Kapten Bay mengangguk-angguk membenarkan.


“Kau tak ada niat akan berpisah dengannya dalam waktu


dekat?” tanya Inspektur J pada Bryan.


Bryan tak bisa menjawab selain menggeleng lalu mengangguk.


"Kalau bisa jangan. Buat dia tergantung padamu dan


memutuskan terus tinggal di sini."


Bisa jadi alasan bagus untuk tetap bersama Lassy, maka dari


itu Bryan mengangguk. Masalahnya, apa Lassy mau terus bersamanya?


“Kalau ada masalah seperti ini lagi, tangkap penjahatnya.


Cari bukti agar dalangnya juga bisa dipenjarakan!”


Sudah jelas seperti itu instruksi dari Inspektur J. Mereka


harus siaga akan apa pun yang terjadi. Selain melindungi rakyat dari tindak


kejahatan, memecahkan kasus dan memenjarakan tersangka, mereka juga punya tugas


menjaga Lassy dan keluarganya kalau berada di negara ini.