
“Kau mau uangnya kuberikan dalam bentuk cek atau kutransfer
ke rekeningmu? Kalau kau mau cash, aku tak punya uang cash sebanyak itu.” kata
Lassy sambil menata diri merebah ke ranjang Bryan. “Membawa uang cash dalam
jumlah banyak berisiko kena rampok.”
Bryan baru datang, baru masuk kamar dan Lassy sudah
membicarakan soal uang. Dia mengerti kalau hubungan mereka akan segera
berakhir. Seperti perjanjiannya dulu, Lassy aman dan Bryan dapat uangnya.
Nyatanya, Bryan sendiri tidak begitu rela berpisah dengan Lassy. Satu juta
dolar tidak lagi membuatnya tergoda, tapi pemilik uang itulah yang lebih
menggoda sekarang ini.
Dia memperhatikan Lassy. Wanita itu masih cantik seperti
biasanya. Meski luka di tubuhnya bertambah banyak, dia tidak kehilangan pesonanya.
Wanita itu juga masih angkuh seperti biasanya. Ekspresi mukanya tidak pernah
terlihat lemah. Seakan perlindungan tidaklah begitu penting baginya, karena dia
bisa melindungi diri sendiri. Tapi Bryan menyukai wanita itu, wanita cantik
tapi angkuh itu.
“Perjanjiannya kau akan bertugas menjagaiku sampai kapan?”
Bryan secara alami melengos, berhenti memperhatikan Lassy.
“Sampai kasusmu berakhir.” Bryan melepas jas, melemparnya ke sofa. Dia juga
melonggarkan dasinya lalu menjatuhkan diri di sofa yang sama. “Setelah itu semua
terserah padamu, mau minta polisi menjagaimu tiap hari atau kau mau menyewa bodyguard sendiri. Kalau dari kepolisian
cukup membayar kompensasi wajar, tidak semahal kalau menyewa bodyguard.”
“Begitu, ya?” Lassy bersandar ke ranjang dan mulai memainkan
ponsel pintarnya. “Kalau menurutmu bagaimana baiknya?”
“Sewa detektif pribadi lebih aman.”
“Kau mau aku menyewamu, lalu memberimu uang lebih banyak?”
Bryan tak menjawab, karena bukan itu maksudnya.
“Aku akan membayarmu lagi setelah keluar dari sini. Renovasi
rumah butuh waktu yang lama, sedangkan aku tak bisa tinggal di sini lebih lama
lagi. Apartemen Sandy kosong, dia pulang ke sini selalu tinggal di rumahku atau
rumah partner-nya itu. Aku bisa
gunakan apartemennya untuk sementara waktu.”
“Pembantumu?”
“Kubawa serta. Apartemen Sandy bisa menampung mereka semua.”
Lassy kaya, itu kenyataan yang tak bisa dilupakan Bryan.
Kalau soal uang jelas Bryan kalah telak. Seumpama Bryan mau Lassy tetap
tinggal, memperpanjang kontraknya sebagai kekasih untuk seumur hidup tentu akan
susah kalau membandingkan kekayaan mereka berdua.
Memang Bryan bukan orang yang kekurangan. Untuk hal ini,
harta Bryan tak mungkin bisa memperpanjang kebersamaannya dengan Lassy. Perlu
cara lain, menyewanya sebagai detektif pribadi contohnya, tapi Lassy baru saja
menolaknya. Selain itu, Bryan sendiri adalah detektif pemerintah, tak bisa
disewa siapa pun tanpa izin atasannya. Lagipula kewajibannya melayani negara,
bukan melayani perseorangan.
Bryan melepas sepatu sebelum berdiri dari sofa. Dia
mengeluarkan dasi yang sudah longgar, melepas ikat pinggang, lalu menarik
keluar ujung kemejanya. Bryan berjalan ke ranjang, menjatuhkan diri di kasur,
tengkurap di sebelah Lassy.
“Kau sudah makan?”
Tumben sekali. Pertanyaan Lassy hampir seperti pertanyaan
istri pada suaminya yang baru pulang kerja. Bryan jadi terbawa perasaan.
“Pembantuku membuat makanan enak hari ini.”
“Aku sudah makan dengan Luo. Kami punya kedai langganan yang
murah meriah tapi tak kalah enak.”
Bukan menyindir Lassy yang apa-apa harus serba sehat, enak,
dan mahal. Kedainya Alan memang langganan hampir seluruh pegawai kantor polisi,
apalagi kalau tanggal-tanggal tua, kedainya akan ramai.
“Kau mau dengar apa yang kulakukan hari ini?”
“Tidak!”
“Kenapa? Ini soal penyelesaian kasusmu.”
“Tidak. Aku mau tahu beres saja. Lagipula ini sudah kesekian
kalinya kau meninggalkanku dengan alasan dipanggil Kapten Bay ke kantor. Kapten
Bay tidak pernah memanggilmu selama kau ditugaskan untuk menjagaiku, kan?”
Lassy meletakkan ponselnya di meja. “Kau bosan bersamaku, kan? Makanya terus
cari alasan untuk menjauh.”
“Tidak, siapa bilang begitu?” Bryan berguling, telentang
lalu menggeser badannya lebih dekat pada Lassy. “Aku memang berbohong, bukan
karena bosan padamu.”
“Lalu untuk apa? Membiarkanku sendirian agar ada yang
menculikku lagi? Kelihatannya kau senang kalau aku diculik dan disiksa, kau
jadi ada pekerjaan ke sana kemari dengan alasan menyelamatkanku.”
Demi Tuhan Bryan tak mungkin setega itu. Kehilangan Lassy
dia sanggup melihat Lassy diculik lagi. Bryan sering izin ke kantor karena dia
rindu bekerja, dia rindu berjemur di bawah terik matahari, rindu berjaga di
semak-semak sepanjang malam, juga berlarian, berkelahi, lalu adu tembak. Dia
rindu mendapat luka dan tentu saja merindukan keberhasilan menangkap penjahat
dengan aksi heroik ala detektif. Bryan hanya ingin menjadi kekasih Lassy, tanpa
embel-embel sewaan dan bodyguard.
Jadi, selain bisa bermesraan layaknya pasangan lainnya, Bryan tetap bisa
menjalani rutinitas pekerjaannya.
“Aku ingin bekerja lagi.”
“Menjagaiku bukan bagian dari pekerjaan?”
“Pekerjaan, tapi aku butuh yang lebih penting, yang lebih
heroik.”
“Aku tidak penting maksudmu?”
Bryan jadi gelagapan, salah berkata-kata.
Segera dia duduk bersandar di tempat yang sama dengan Lassy.
Dia mau menjelaskan kalau Lassy itu penting, bukan cuma untuk negara tapi untuk
diri Bryan juga.
“Las ...”
Namun dia agak bimbang. Mengatakan Lassy penting bagi
dirinya belum tentu bisa membuat hubungan mereka akan bertahan. Lagipula dari
awal hubungan mereka sudah dimulai dengan cara yang salah, jelas tidak mungkin
bertahan seperti yang diharapkan. Atau lebih baik dia jujur tentang perasaannya
saja? Menyudahi, kemudian memulai yang baru.
“... kalau aku mengembalikan uang itu, bagaimana?”
“Berarti kau tipe orang yang dermawan. Aku bisa terima uang
itu kembali, nanti kusalurkan pada badan amal.”
Bryan bukannya senang dibilang dermawan, dia malah lesu.
Kehilangan tenaga dalam waktu singkat. Bryan memurukkan kepalanya di bahu Lassy,
mendengus lemah tak bergairah.
“Memangnya kenapa tiba-tiba kau menolak uang sebanyak itu?”
“Tidak apa-apa. Aku ingin jadi dermawan saja,” jawabnya
frustrasi.
Bryan dan Lassy tak bicara lagi. Lassy kembali sibuk dengan
ponselnya setelah dapat pesan. Karena kelihatannya pesan itu penting, Bryan ikut
membaca isi pesan di ponsel Lassy. Tentang pekerjaan. Andrew mengatakan kalau
perusahaan mereka menang tiga tender. Semuanya klien lama yang merilis produk
baru. Selalu suka dengan ide-ide cemerlang dari perusahaan Lassy, maka dari itu
mereka tak segan menjalin kerja sama lagi.
“Las ...”
Lassy meletakkan ponselnya
lagi sebelum menanggapi Bryan. “Apa?"
“Kita bicara jujur-jujuran saja.”
“Aku jujur, kau saja yang suka berbohong.”
Mulut Lassy sering kali mengeluarkan kata-kata sarkas kalau
diajak bicara. Bagaimana Bryan tidak patah semangat kalau begini? Dia mau jujur
soal perasaannya, tapi jadi takut ditolak.
“Bukan itu.” Bryan menegakkan badannya sebelum mulai. “Sepertinya
aku menyukaimu.”
“Jadi itu alasanmu mengembalikan uang dariku? Kau mau jadi
kekasihku betulan?”
Bryan tersenyum kecil, kemudian mengangguk mantap.
“Karena apa? Bisa mendapatkan uang lebih banyak dari itu
maksudmu?”
Bagian ini Bryan mengerutkan dahi. Dia tahu derajatnya jauh
di bawah Lassy, tapi tidak menyangka Lassy menuduhnya demikian.
“Aku tidak tertarik!” Kata Lassy mantap.
Dan benar ketakutan Bryan terjadi. Dia ditolak dengan alasan
yang sangat tidak berperikemanusiaan. Salah Bryan sendiri, dia menerima tawaran
berpacaran dengan imbalan uang. Giliran benar-benar jatuh cinta, akhirnya hanya
dapat penghinaan. Dicurigai mengincar uang lebih banyak oleh wanita itu. Kalau
diteruskan salah-salah dia dicurigai bakal dompleng ketenaran.
“Ya sudah, tidak apa-apa,” kata Bryan sambil menggeser diri
ke tepi. Dia menjauh dari Lassy agar terlihat tidak mempermasalahkan penolakan
tadi. “Aku mencoba jadi dermawan, simpan kembali uangmu itu. Soal yang tadi,
lupakan saja!”
Bryan mengangkat diri dari ranjang, menjauh dari Lassy
sambil memereteli kancing kemejanya.
Pembicaraan berakhir begitu saja. Lassy tidak puas. “Kau mau
ke mana?” tanya Lassy, bingung dengan tingkah Bryan.
Melarikan diri setelah ditolak.
“Mandi!”