Mr. Detective

Mr. Detective
Upgrade Kasus



Terjadi kepanikan di dalam


ruang rawat Lassy. Ketika Andrew dan Daniela masuk ruangan itu, kamar Lassy


kosong. Infus masih menggantung di tempatnya, tapi jarumnya tercabut dan ada


darah di tempat tidur. Ranjangnya berantakan dan kursi di dekat ranjang itu


terguling. Daniela sudah mengecek dalam kamar mandi, sedangkan Andrew bertanya


pada suster yang kebetulan lewat. Mereka berdua sama-sama tak dapat jawaban di


mana Lassy saat ini.


Seperti yang Daniela dan


Andrew dengar dari cerita Lassy, bisa jadi tabrak lari itu memang rencana


pembunuhan. Walau luka parah dan harus melakukan serangkaian operasi kecil,


Lassy belum mati sekarang ini. Pembunuhnya pasti tahu berita Lassy yang


selamat, lalu merencanakan pembunuhan lagi padanya. Menurut mereka, baru saja


ada yang terjadi di kamar ini. Mungkin Lassy diculik dan akan dibunuh.


Andrew panik, dia berteriak


memanggil suster jaga atau siapa pun yang ada di dekat situ. Selagi Andrew


berteriak memanggil bantuan, Daniela menelepon polisi dan melaporkan kejadian


penculikan itu. Polisi menyanggupi untuk segera mengirimkan personilnya ke


rumah sakit. Beberapa pegawai rumah sakit datang. Ada dokter juga yang ikut


menghampiri keduanya. Mereka ditanya, kenapa sampai membuat keributan


sedemikian rupa?


“Tenang dulu!”


“Kami tidak bisa tenang


sementara teman kami diculik!” pekik Andrew.


“Iya, tapi bisakah kalian


memberitahukan identitas teman kalian itu?” pinta seorang dokter. “Kami tidak


bisa membantu kalau kalian panik begini.”


“Teman kami, Lassy, telah


diculik!” terang Andrew masih panik. “Teman kami yang ditabrak semalam itu,”


lanjutnya.


“Dia dirawat di ruang VIP


7. Sekarang keadaan ruangan itu kacau balau\,” tambah Daniela. “Ada kemungkinan


dia diculik oleh orang yang menabraknya semalam.”


Dokter yang menangani Lassy


datang menghampiri kerumunan. Dokter itu segera meminta perhatian dari semua


orang. Beliau bertanya soal keributan yang sedang terjadi. Setelah mendapatkan


keterangan dari Andrew dan Daniela, dokter malah tersenyum dan menyarankan


keduanya untuk tenang.


“Nona Liem baru saja menjalani


operasi ulang. Dia akan segera dibawa kembali ke kamarnya setelah suster


selesai berbenah di ruang operasi,” terang dokter itu dengan tenang.


“Jadi Lassy tidak diculik,


Dok?” Dokter cuma tersenyum ringan menanggapi kesalahpaham itu. “Kenapa dia


harus menjalani operasi lagi, bukannya operasinya sudah selesai semua siang


tadi?”


“Benar, tapi Nona Liem


jatuh dari ranjangnya dan melukai engkelnya yang baru dioperasi. Kami lakukan


operasi kembali.” Bahkan dokter baru keluar dari ruang operasi. Belum mengganti


baju operasinya dengan pakaian kerja saat mendengar ribut-ribut ini. “Kalian


tidak perlu khawatir begitu, operasinya berhasil tapi butuh pemulihan lebih


lama.”


“Syukurlah,” ucap Daniela


lega. “Maaf semuanya, kami telah membuat kehebohan di sini. Maaf sekali lagi.”


Kerumunan bubar, dokter


yang menangani Lassy juga sudah meninggalkan tempat. Tinggal mereka berdua yang


merasa bersalah telah melakukan tindakan bodoh seperti itu. Mereka terlalu


panik dengan hilangnya Lassy, padahal di rumah sakit dilarang berisik. Ada CCTV


di mana-mana, kalau ada penculikan pasti diketahui oleh pihak keamanan rumah


sakit. Setelah ini apa yang akan mereka katakan kalau polisi yang tadi


ditelepon datang ke rumah sakit?


Untungnya ada Bryan.


Polisi yang dikirimkan ke


rumah sakit sudah ditangani oleh detektif itu. Mereka dipersilakan kembali ke


kantor polisi setelah mendengar penjelasan dari Bryan. Andrew dan Daniela juga


sudah minta maaf sebelum polisi-polisi itu pergi. Sekarang ketiganya kembali ke


ruang rawat Lassy.


Lassy tengah tidur karena


pengaruh obat yang diberikan dokter. Dia berbaring di ranjangnya lagi,


diselimuti oleh suster, dan ditata posisi kakinya agar tak terjadi pergeseran


di bagian yang baru dioperasi. Jarum suntik dan kantung infus sudah diganti


dengan yang baru. Semuanya sudah kembali normal.


“Terima kasih atas bantuannya,”


“Tidak masalah. Itu bagian


dari pekerjaan saya.” Bryan memang berkeinginan bicara dengan Andrew dan


Daniela. Tentu saja ini mengenai kasus Lassy. “Ada yang ingin saya ... aku


tanyakan pada kalian.” Bryan mengubah gaya bicara setelah lidahnya agak sedikit


mati rasa setelah mencoba bicara formal.


“Soal percobaan pembunuhan


Lassy?” Andrew antusias. “Kami siap membantu, Pak.”


Daniela sependapat dengan


Andrew. “Kami akan menjawab semuanya. Apa pun itu untuk teman kami.”


Bryan mengangguk. Dia tidak


memerlukan kertas dan pulpen lagi. Diingat-ingat saja. Toh, ingatannya sangat


baik. Namun, dia menolak dipanggil Pak, detektif, atau panggilan apa pun yang


membuat umurnya terdengar lebih tua dari kenyataan. Jadi, dia menyuruh keduanya


memanggil dengan namanya saja. Dan pembicaraan tidak lagi menggunakan bahasa


yang terlalu formal.


“Tentang tender baru yang


kalian menangkan, menurut kalian apakah ada kemungkinan terjadi persaingan


bisnis yang tidak sehat?”


“Karena kami hanya


berbisnis dan mendapatkan klien dengan presentasi yang baik, kurasa itu


bukanlah hal yang curang,” terang Daniela. “Kami mengikuti prosedur. Punya


pekerja-pekerja yang kreatifitasnya tinggi untuk menyusun rangkaian iklan


dengan baik. Kalau kami menang itu sudah wajar.”


“Sayangnya, menang tender


cukup sering membuat kami dapat masalah dari perusahaan periklanan lain.”


Andrew tak mau kalah dari Daniela. Dia membuat bagiannya sendiri untuk


diceritakan. “Aku tahu bagaimana rasanya kalah tender. Aku pernah kalah dari


perusahaan periklanan kecil. Aku marah dan membenci perusahaan itu, tapi itu


pulalah yang memotifasiku untuk bekerja lebih baik dan menang di tender


berikutnya,” lanjutnya dengan bangga.


Bukan itu yang ingin


didengar Bryan. Dia harus mengorek lagi. Kali ini lebih spesifik. “Adakah perusahaan


besar yang kemungkinan kalian curigai dalam hal ini?”


“Banyak sekali perusahaan


besar yang pernah terlibat perebutan tender dengan kami, tapi sepertinya tak


ada yang menunjukkan kebencian sampai seperti ini setelah kalah tender,” jawab


Daniela. “Aku tidak punya gambaran.”


“Ada, Dan. Kau masih ingat


Mega Advertising? Perusahaan itu pernah bersitegang dengan perusahaan kita.”


Memang bukan murni masalah


perusahaan, ini lebih kepada dendam pribadi. Putri dari pemilik Mega


Advertising menyukai seorang lelaki, tapi lelaki itu menyukai Lassy. Wanita itu


membenci Lassy dan memutuskan memerangi Lassy dalam segala hal. Dia masuk


perusahaan ayahnya, bekerja giat, dan terus berebut tender dengan Lassy. Mereka


selalu terlibat perebutan di setiap tender. Ada Lassy, pasti ada wanita itu.


Kalau tender itu tidak jatuh ke tangan Lassy, pasti jatuh ke tangannya. Lassy


sempat geram, buntutnya mereka bertengkar. Pertengkaran itu terjadi lebih dari


enam bulan yang lalu.


“Tapi kejadian itu tidak


membuat persahabatan perusahaan kami dengan Mega Advertising hancur,” terang


Daniela. “Itu cuma masalah pribadi.”


Bryan tahu itu. Dia pernah


mencatatkan di jurnalnya bahwa perseteruan karena cinta bisa jadi sumber


malapetaka. Makanya dia tidak begitu tertarik dengan cinta-cintaan.


“Siapa nama wanita


itu?"


“Martha. Martha Labaron.”


“Apa dia punya koleksi


mobil mewah?”


“Kok bisa tahu?” celetuk


Andrew.


Daniela menoel Andrew.


Jelas-jelas Bryan seorang detektif, pasti tahu banyak hal.


“Maaf! Maaf!” Andrew


tersenyum kikuk. “Martha memang pengguna mobil mewah. Dia mengoleksi mobil mewah


semenjak bertengkar dengan Lassy.”


Bryan banyak bertanya dan


dia cukup mendapat jawaban bagus dari Andrew dan Daniela. Dia menelepon ke


kantor, menyuruh polisi menyelidiki Martha dengan bukti-bukti yang sudah


didapat dari keterangan Lassy sebelumnya. Kalau memang Martha pelakunya, ini


akan jadi mudah. Bryan berharap Martha ditangkap dan terbukti atas tindakan


tabrak lari itu. Segera diadili dan dipenjara. Kemudian dia bebas dari tugas


ini, lalu kembali pada timnya.


*****


Bryan kembali ke kantor


dikeluarkan dari tim, sekarang kena penalti tak jelas begini. Bukannya disuruh


mengusut dan menangani kasus tabrak lari, malah disuruh mengawasi Lassy.


Dilarang ikut campur di lapangan pula. Makanya saat datang ke kantor dia


dimarahi Kapten Bay.


Demi Tuhan, Bryan jadi


membenci Lassy. Dalam keadaan seperti ini dia masih diharuskan kembali ke rumah


sakit.


Bryan mendapat telepon


sebelum masuk ruang rawat Lassy. Dari Luo, yang dilimpahi kasusnya Lassy.


“Ada apa kau meneleponku?


Mau mengejekku?”


“Aku turut prihatin padamu, tapi bukan itu alasan aku


menelepon.”


Bryan mendesah lesu


mendengar suara temannya.


“Mobil yang diceritakan Lassy itu memang salah satu dari


koleksi Martha. Tepatnya Martha punya lima mobil sport, tapi kelima mobilnya


hilang beserta pemiliknya semenjak tiga hari yang lalu. Garasi di rumah itu


juga dibuka paksa sampai rolling dor-nya bengkok.”


“Bisa jadi bukan Martha


pelakunya?” tebak Bryan. Luo membenarkan dari balik telepon. “Kenapa tidak dia


saja pelakunya? Lebih mudah mencarinya, lalu menjebloskannya ke penjara.”


Aparat negera sebetulnya tidak


baik berkata seperti itu. Sebelum ini Bryan tak pernah betindak semacam ini,


tapi karena sedang tidak merasa cocok dengan tugas barunya, dia menganggap


sah-sah saja mengatakannya. Toh, tak ada yang mendengarnya kecuali Luo.


Luo tertawa di seberang


telepon. “Setelah kasus Lassy selesai,


aku yakin kau akan dikembalikan ke posisi semula,” katanya, sekedar


membesarkan hati Bryan. “Eh, jangan


sampai Kapten Bay tahu aku memberitahumu soal perkembangan kasus ini. Bisa-bisa


aku juga turun pangkat jadi pengawal sepertimu.”


“Akan kuusahakan,” jawab


Bryan dongkol. Bryan ditarik dari kasus besar, Luo juga. Tapi yang membuatnya


kecewa adalah statusnya sekarang ini. Jadi detektif pengawal bukanlah impian


Bryan. “Ngomong-ngomong kau mau titip salam untuk Lassy tidak, aku akan ke


kamarnya sekarang ini?”


“Untuk apa?”


“Bukankah dia cantik,


pintar, dan kaya. Siapa tahu tiba-tiba dia menyukaimu?”


“Tidak, terima kasih.” Luo merasa diledek. Dia menyesal pernah mengira Lassy sebagai


wanita muda yang cantik. “Dia perawan


tua. Aku bukan penyuka wanita-wanita berumur.”


“Tapi dia kaya raya,”


tambah Bryan


“Untukmu saja!” Luo


mematikan telepon sepihak.


Walau hati sedang kesal,


setidaknya Bryan sedikit terhidur bisa mengejek rekan kerjanya itu.


Suster selesai membantu


Lassy makan saat Bryan masuk. Lassy akan mengupas jeruk saat pandangannya


bertabrakan dengan Bryan. Wanita itu mengernyit tajam kemudian menghela nafas


jengah. Dia tidak suka melihat Bryan kembali ke hadapannya. Melempar jeruknya


ke arah Bryan, tapi lelaki itu dengan mudah menghindar. Dia masih seorang


detektif yang sangat cekatan kalau orang lain mau tahu.


Lassy memekik dan memegangi


bahu kanannya. Dia lupa lengan kanannya itu harus dibatasi pergerakannya karena


tulangnya masih sakit efek kecelakaan kemarin.


Suster panik. Menjauhkan


apa pun dari hadapannya dan langsung menangani Lassy.


“Kenapa kau ke sini lagi?”


Lassy marah. “Aku tak ingin melihat mukamu!”


“Kalau begitu tutup saja


matamu biar kau tak perlu melihat mukaku,” jawab Bryan acuh tak acuh.


“Kurang ajar! Aku akan


lapor polisi supaya kau dipenjara atas tuduhan percobaan pembunuhan.”


“Oh ya?” Bryan malah


mendudukkan diri di sofa dengan santai. “Tidak ada bukti aku melakukan


percobaan pembunuhan padamu.”


Penyebabnya adalah kejadian


tadi siang. Ketika suster datang hendak memandikan Lassy, suster itu minta


bantuan Bryan. Lassy menolak dan Bryan juga menolak, tapi dalam penolakan


Bryan, dia menyisipkan kalimat yang memancing emosi Lassy. Bryan mengatakan


lebih suka menyentuh mayat dari pada menyentuh tubuh Lassy. Bryan benar, karena


Lassy terus mengaduh saat suster menyentuh badannya. Bagaimana kalau sampai Bryan


membantu, bisa jadi Lassy teriak-teriak. Saat suster keluar hendak mengambil


sesuatu, Lassy dan Bryan bertengkar. Lassy hampir-hampir melompat turun dari


ranjangnya untuk memukul Bryan agar detektif kurang ajar itu tak meremehkannya.


Pada akhirnya Lassy melupakan rasa sakit di kakinya yang baru dioperasi, tapi


berakhir jatuh dari ranjang. Jarum suntiknya sampai terlepas dan darah dari


bekas tusukan di lengannya pun terus keluar, lalu dia pingsan.


Beberapa detik melihat


Lassy tak bergerak di lantai, Bryan jadi panik. Dia berlari keluar untuk


memanggil suster, meneriaki dokter, meminta pertolongan sementara Lassy masih


tergeletak di lantai. Itulah kenapa Lassy dioperasi ulang oleh dokter.


“Suster, panggilkan polisi


untuk menangkapnya!”


Suster itu bingung,


kemudian memilih menuruti kemauan Lassy. Dia mengemasi barangnya dan bergegas


pergi. Sebelum menghilang di balik pintu, Bryan mengatakan padanya akan


menyelesaikan ini baik-baik. Suster mengangguk lalu pergi secepatnya.


Suster itu juga yang tadi


siang bersama mereka. Bryan panik ketika Lassy dibawa ke ruang operasi. Suster


datang dan menenangkan Bryan karena masih menyangka kalau Bryan suaminya Lassy.


Setelah operasi selesai, suster itu baru tahu kalau Bryan dan Lassy bukanlah


suami istri. Lassy adalah korban tabrak lari dan Bryan adalah polisi yang


menangani kasusnya. Suster keliru menganggap mereka suami istri karena teman


yang digantikan shift-nya pagi tadi mengatakan demikian. Siapa tahu kalau


pasangan yang dimaksudkan itu ada di kamar sebelah.


“Kalau kau berhenti


berteriak, aku akan memberitahumu sebuah kabar gembira?”


“Tidak perlu, aku sedang


tidak gembira sekarang ini!” tolak Lassy kasar.


“Ini tentang tabrakanmu


itu.”


Lassy diam,


mempertimbangkan.


“Berita baik dan berita


buruk. Aku akan mulai dari berita baiknya.” Padahal Lassy belum mengiyakan.


Tapi ... sudahlah. Berita baik, tidak boleh ditolak. “Kasusmu ini masuk


kriminalitas tingkat menengah. Dan memang iya, ada orang yang ingin


membunuhmu.”


“Apa itu kabar baiknya?”


Bryan mengangguk.


Demi Tuhan, Lassy telah


mengalami percobaan pembunuhan dan Bryan bilang itu berita baik?


“Baik dari mananya kalau


aku mau dibunuh orang?”


“Tentu saja baik dari mata


polisi. Polisi punya pekerjaan yang lebih menantang dari sekedar kasus tabrak


lari.”


Seandainya Lassy punya


jeruk lagi, dia rela lengan kanannya sakit demi bisa menimpuk muka Bryan.


“Kami juga sudah mengetahui


pemilik mobil yang menabrakmu itu.”


“Siapa dia?”


“Martha, orang yang pernah


berseteru denganmu masalah laki-laki.”


Berseteru dengan Martha


memang iya. Lassy hanya tak setuju kalau dia dikatakan berseteru dengan Martha


hanya karena seorang lelaki. Dia menanggapi tantangan Martha karena wanita itu


sering merebut tender darinya. Lassy menyayangi pekerjaannya melebihi dirinya


sendiri, itulah yang membuatnya terkadang sebal terhadap Martha.


“Berita buruknya, dia


menghilang sejak tiga hari yang lalu bersama seluruh mobil mahalnya.”


Lassy menggumamkan kalimat


‘Masak sih? Tidak mungkin!’ lirih sekali sampai Bryan tak bisa menangkapnya.


“Wanita kurang ajar itu ternyata. Pasti akan kubalas nanti!” Tetapi


perkataannya tidak terdengar meyakinkan.


Bryan hanya menggeleng.


Kebanyakan orang kaya sangat pendendam. Pantas polisi selalu punya kasus yang


menumpuk sepanjang tahun karena masalah balas dendam.


Untuk sementara cuma itu


yang Bryan bisa katakan pada Lassy. Tentang benar atau tidaknya Martha dalang


dari tabrak lari ini, Bryan belum yakin.