Mr. Detective

Mr. Detective
Agak Happy Ending



Muka Lassy berseri-seri pagi ini, padahal beberapa hari


yang lalu mukanya kusut. Daniela penasaran dengan apa yang dilakukan rekan


kerjanya itu untuk meluruskan mukanya?


“Lassy ...” Daniela memanggil.


“Iya, Dan.” Dijawab


dengan cepat dan tegas oleh Lassy. Malahan Lassy menambahkan senyum cerah pada temannya itu.


“Kau kelihatan segar


sekali hari ini.”


“Aku sedang senang,”


jawabnya pendek diikuti senyuman lagi. Saat Daniela masih menerka-nerka, Lassy segera menambahkan, “Aku baru pulang liburan.”


“Jadi, beberapa hari


ini tak masuk kantor kau pergi liburan? Dengan Bryan?” Lassy mengangguk masih dengan senyuman di bibirnya. “Jadi yang membuatmu senang itu


liburannya atau Bryannya?”


“Bryan. Liburannya


adalah bonus,” sahutnya cepat. “Kau tidak iri, kan?”


Daniela gantian


tersenyum, menyerobot senyum cerah yang tadi ditampilkan Lassy. “Aku tidak iri.” Nampak kalau dia sendiri


juga sedang bahagia. “Kau masih ingat lelaki yang menjengukmu di rumah sakit


tempo hari?”


“Inspektur J? Kau


sudah mengingatnya?”


“Ya. Dia teman


ayahku. Dulu aku masih muda saat menyukainya. Kemudian dia menikah dan punya


anak, membuatku patah hati saja. Tapi baru-baru ini aku dengar sudah sejak


beberapa tahun yang lalu dia kehilangan istrinya,” tutur Daniela sambil


tersenyum persis seperti yang dilakukan Lassy tadi. “Sekarang sudah bukan waktunya suka lagi padanya sementara statusnya duda


tua beranak dua. Dia hampir punya cucu.”


Meski apa yang


dikatakannya menyedihkan, Daniela tetap tersenyum seakan apa yang dikatakannya


barusan hanya pemanis bibir. Lalu bagaimana kisah cinta yang dipaksakan Daniela


pada manager pemasaran dari gedung kantor sebelah? Apakah berhenti di sini?


Diniela masih


menaruh harapan pada Pak tua itu. Kalau dia duda, berarti ...


“Ada orang


kehilangan istri, kau malah senang?”


“Tidak,” sangkal


Daniela cepat. “Aku hanya senang bisa menjumpainya lagi.”


Saat itu lift berhenti, pintu terbuka. Andrew


tengah berdiri di depan mereka. Hendak ke lantai atas tampaknya. Otomatis


pembicaraan antara Lassy dan Daniela disudahi.


Lelaki itu tersenyum sejenak, kemudian menyapa Lassy dan Daniela. Dia bergabung bersama keduanya.


“Senang melihatmu


lagi, Las. Kau tampak segar sekali hari ini?”


“Aku baru pulang


liburan, And.”


Mendengar kata


liburan, Andrew langsung ingat perkataan Lassy waktu itu. Lassy liburan dengan kekasihnya,


membuatnya kesal saja. Padahal dia adalah lelaki paling tampan di kantor ini.


Teman dan pekerja paling loyal untuk perusahaan, dan lelaki paling mencintai Lassy di muka bumi ini, tapi kenapa Lassy malah memilih orang lain untuk dijadikan


kekasih. Siapa sih orang itu, sampai bisa mengalahkannya?


“Kita diserahi


pembuatan iklan brand new product dari


perusahaan clothing, Negeri Gajah


Putih. Mau diambil, tidak?” Andrew membahas hal lain, yang penting tidak


tentang kekasih Lassy. Soalnya dia cemburu


berat kalau melihat Lassy bahagia dengan


kekasihnya.


“Perusahaan mana


saja yang ikut dalam perebutan tender itu?”


Andrew menggeleng.


“Tidak ada perebutan tender. Mereka menunjuk langsung perusahaan kita. Aku


sudah terima contoh produknya. Sudah tahu juga jenis kerja sama yang mereka


tawarkan. Tinggal kau baca, kalau setuju bilang segera padaku!”


“Kau sudah


membacanya semua, kan?” Andrew mengangguk. “Kalau menurutmu kerjasama ini


menguntungkan, ambil saja. Kuserahkan tender ini padamu kalau begitu!”


Sebagai hadiah, Lassy memberikan senyum manis pada Andrew. Lelaki


itu pantas menerima apresiasi tertinggi berupa senyuman.


Andrew balas


tersenyum. Memang tidak bisa mendapatkan Lassy sebagai kekasih, tapi setidaknya pertemanan mereka bisa lebih dekat dari


pertemanan lainnya. “Baiklah. Aku akan mengerjakannya!”


Demi Lassy apa sih yang tidak akan Andrew lakukan?


***


Si polisi sedang


membaca brosur dari beberapa bank. Tata cara dan syarat meminjam uang, juga


bunga yang harus dia bayarkan per tahunnya. Lama maksimal pelunasan dan jaminan


yang bisa diterima pihak bank. Dia bingung mana yang harus diambil, tiap waktu


pelunasan yang panjang, bunganya juga makin besar. Padahal tahun ini dia butuh


sekali pinjaman itu.


Bryan mengintip dari


belakang punggung Si polisi. “Kau sedang apa?” tanyanya, sempat mengagetkan si


polisi.


“Eh, Detektif Trevor!”


“Sedang apa?” ulang


Bryan sambil melirik pada kertas-kertas itu.


“Anak kembar saya


tahun ini akan masuk sekolah primary.


Potensi mereka bagus di playgroup dan


TK. Guru-guru mereka merekomendasikan sekolah favorit, tapi biayanya


mahal.”  Dia kembali memperhatikan brosur


di tangannya. “Kata gurunya, kalau mereka sekolah di tempat biasa, akan sayang


kalau potensinya tidak berkembang.”


“Kau berencana


meminjam uang ke bank? Memangnya berapa banyak yang kau butuhkan?”


“Apa Anda akan


meminjami saya uang?” Lumayan kalau memang Bryan mau meminjaminya, kemungkinan


besar tak akan ada bunga seperti di bank.


Polisi ini yang telah


dua kali menyelamatkan nyawa Bryan. Kemarin saat berkelahi dengan geng motor di


kampung labirin, dan dulu sekali saat Lassy diculik pertama kali. Bryan patut berterima kasih. Namun, ucapan terima kasih


yang biasa tidak akan cukup, dengan uang pasti lebih cukup.


“Bukan meminjami,


tapi mau memberimu uang.”


Meski Bryan mendapat


kerutan dahi dari Si polisi, dia tetap mengangguk untuk membenarkan


kata-katanya barusan. Dia segera mengulurkan cek sebesar seratus ribu dolar


yang harusnya jadi milik Ren. Sudah pernah berusaha dikembalikan, tapi ditolak


oleh Lassy. Cek itu harus segera dicairkan


karena akhir bulan ini habis masa berlakunya.


Si polisi tak segera


mengambil cek itu. Hanya melirik saja dia bisa tahu kalau orang yang


mengeluarkan cek adalah Lassy. Si polisi


curiga Bryan memanfaatkan status kekasih, lalu memoroti hartanya Lassy. Kalau dia ikut memakai uang itu, suatu saat


perbuatan Bryan ketahuan, dia juga yang kena.


“Cek ini dari Lassy. Dia tahu kau telah membantu banyak dalam


kasusnya, makanya sebagai ucapan terima kasih dia membagikan uang ini.” Bryan


kembali mengulurkan lembaran cek itu. “Kau dapat setengah, setenganya kembalikan


padaku. Aku harus menyalurkannya pada orang lain.”


Sejujurnya setengah


isi cek itu akan dikantongi Bryan sendiri. Biaya kencannya dengan Lassy. Siapa tahu kekasihnya itu akan minta sesuatu


di luar batas kemampuan kantongnya. Lassy terbiasa mendapat apa yang dia mau, kalau sebagai kekasih, Bryan tidak bisa


memberi yang dimintanya, mau ditaruh di mana mukanya? Selama ini kan Lassy membayar semuanya sendiri, sekali-sekali Bryan


yang bayar meski pakai uang dari Lassy juga.


“Tapi setengahnya


banyak sekali, Detektif.”


“Gunakan saja untuk kebutuhan sehari-hari.” Bryan


berbohong lagi. Bagi Bryan, uang segitu memang banyak. Baguslah kalau bisa


untuk membayar biaya masuk anak kembar Si polisi dan untuk kebutuhan


sehari-hari. “Kau tahu kan, Lassy mengetahui banyak hal di sekitar kita. Jadi,


terima saja, daripada dia kecewa!”


Si polisi


benar-benar menerima cek itu sekarang. “Terima kasih, Detektif,” katanya sambil


Bryan menepuk pundak


Si polisi. “Jangan beritahu siapa-siapa di kantor ini. Pemberian Lassy bersifat rahasia. Orang lain akan iri kalau


sampai tahu kau menerima banyak uang dari Lassy.”


Belum habis Bryan


bicara dengan Si polisi, Narita memanggilnya. Berteriak dengan nada dua oktaf


lebih tinggi dari biasanya karena Bryan tak segera merespon. Bryan menyudahi


urusannya dengan Si polisi, segera menemui wanita itu yang sekarang sudah


berdiri di depan mejanya.


“Ada apa?”


“Nih!” sambil


mengulurkan coklat selebar laptop 10 inci pada Bryan. “Semenjak aku sering


meminta kekasihku membelikan coklat tiap kali dia bepergian, dia punya ide


untuk investasi di pabrik coklat. Ini adalah produk pertama dari hasil


investasinya.”


“Untukku?”


Sejak kapan wanita


itu memberi sesuatu pada Bryan? Tidak pernah dan agaknya tidak akan pernah.


“Untuk Lassy!” katanya ketus.


“Kalau kau


mengidolakan Lassy, kenapa tidak kau berikan


sendiri padanya?”


Wanita itu mendecih.


“Hampir tiap hari kau bertemu dengannya. Apa susahnya memberikan coklat itu


padanya. Aku ini orang yang super sibuk, tidak ada waktu untuk keluar-keluar


yang tidak perlu.”


Ya sudahlah, Bryan


mengalah. Wanita selalu punya alasan aneh yang mau tak mau harus dimengerti


pria.


Bryan mengamati


coklat itu bolak balik. Hanya melihat tanpa mau repot membaca tulisan di lembaran


pembungkus coklat. “Jadi sekarang kekasihmu sudah pensiun dari dunia


kejahatan?” Lalu Narita melotot tajam. Bryan segera mengganti pertanyaan. “Ada


racunnya, tidak?”


“Kalau ada racunnya,


seluruh wanita yang ada di kantor ini sudah mati dari tadi pagi!” bentaknya


galak. Dia bagi-bagi coklat, tapi tidak pada para detektif.


Kali ini Bryan hanya


mengangguk-angguk. Setelah membolak-balik coklat itu, tangannya gatal ingin


menyobek pembungkus dan mencicipinya sedikit. Masih juga menyentuh ujungnya,


Narita sudah menampik tangannya dengan kasar.


“Awas kau buka


coklat itu sebelum sampai ke tangan Lassy.


Kusumpahi diselingkuhi Lassy baru tahu rasa


kau!” ancamnya. Kemudian berjalan pergi ke mejanya sendiri.


***


Lassy tidak bosan mengecapi bibir Bryan. Perang


lidah, bertukar saliva, Lassy juga suka. Walau


terkadang mulut Bryan terasa pahit karena kebanyakan minum bir murahan, Lassy tidak peduli. Walau bau badan Bryan menyengat


karena udara luar yang kotor dan kena sinar matahari seharian, Lassy masih tidak peduli. Begitu juga sebaliknya.


Saat Bryan benar-benar merasa kotor dan berantakan, Lassy selalu menyambutnya dengan muka segar dan bau yang wangi. Semangat


Bryan jadi bertambah untuk mencumbui kekasihnya itu.


Seperti sekarang


ini, bibir mereka saling bertaut, tubuh mereka saling menempel. Hampir-hampir


keduanya melemparkan diri ke sofa terdekat kalau suara Luo tak mengganggu. Mau


tak mau, Bryan dan Lassy harus menyudahi acara


ciuman panas mereka.


“Las, di luar itu mobilnya siapa?” tanya Luo yang


untungnya tidak melihat adegan ciuman Bryan dan Lassy, atau dia akan cemburu


lalu ngamuk-ngamuk pada Bryan.


“Mobilku,” jawab Lassy persis seperti kenyataannya.


“Mobil yang putih


itu?” tanyanya lagi.


“Rumah ini dan semua


yang ada di sekelilingnya adalah milikku,” kata Lassy congkak. Biar Luo tahu kalau dia tidak berbohong tentang kepemilikannya pada


benda-benda berharga di sini. “Memangnya kenapa dengan mobilku?”


“Aku pernah melihat


mobil itu, tapi orang lain yang mengendarainya.”


Itu mobil yang


dicari-cari Luo selama ini. Sebenarnya bukan mobilnya yang terpenting, tapi


wanita eksotis yang mengendarainya. Kemarin lusa Luo melihat mobil yang sama


dengan wanita eksotis yang sama di dalamnya. Luo berhasil mengingat plat


nomornya, tapi belum sempat mencari tahu nama pemiliknya. Sekarang, mobil itu


ada di pelataran rumah Lassy. Barusan dia


mengeceknya, tapi tak ada tanda-tanda keberadaan wanita eksotis itu.


“Biasanya sepupuku


yang memakainya.”


“Sandy atau Cassy?”


timpal Bryan.


“Sandy,” tapi Lassy belum tahu alasan Luo mempertanyakan soal


mobilnya. “Memangnya Sandy membuat masalah dengan mobilku?”


Bryan menggeleng.


“Luo jatuh cinta dengan wanita yang mengendarai mobil itu.”


Bryan menghapuskan


kata ‘eksotis’ seperti yang biasa Luo katakan. Untuk menghindari hal yang tidak


perlu, contohnya, Lassy cemburu dengan Sandy


seperti waktu itu. Tapi kalau memang Sandy yang dimaksudkan Luo, Bryan setuju


Sandy disebut eksotis. Namun, sekarang seeksotis apa pun Sandy tidak akan


mengalihkan dunia Bryan dari Lassy.


“Kau pernah bilang


kalau tidak berhasil mendapatkannya akan kembali menyukai wanita-wanitamu lagi!”


Bryan berpindah pada Luo.


“Tentu saja, tapi


aku tak akan menyerah semudah itu,” katanya mantap. “Jadi wanita itu sepupumu


yang bersama  Sandy itu, ya? Di mana dia


sekarang?”


“Dia bilang akan menginap


di apartemen ...”


“Apartemen mana?”


potong Luo sebelum Lassy menyelesaikan


kalimatnya. “Aku minta alamatnya!”


Lassy melirik pada Bryan, dia mengkodekan kalau


sepupunya sedang berada di apartemen Aiden. Luo perlu diberi alamat Aiden atau


tidak? Bryan langsung mengangguk. Tentu saja karena dia pernah dibuat patah


hati gara-gara Aiden, Luo harus merasakan hal sama.


Lassy menarik ponsel


dari sakunya, mengetik alamat dan mengirimkannya ke nomor Luo. Luo sendiri


segera melesat ke alamat yang baru didapatkannya setelah berterima kasih


berkali-kali pada Lassy.


“Sepertinya akan ada


yang patah hati,” celetuk Lassy.


“Ya.” Bryan


menimpali. “Luo tidak pantas menyukai Sandy.”


“Kalau kau, pantas?”


Bryan meringis.


“Tentu saja tidak.” Dia menarik Lassy mendekat, melingkari tubuh kekasihnya dengan sepasang tangannya yang panjang.


“Akhir-akhir ini aku hanya merasa pantas dengan satu orang saja.”


“Orang itu aku,


kan?” Lassy sangat percaya diri untuk yang


satu ini.


“Hmmm ...” Bryan


pura-pura berfikir.


“Tidak usah


menyangkal, karena aku juga maunya hanya denganmu.”


Bryan menjatuhkan


ciuman singkat di bibir Lassy. “Iya, kau


orangnya.”


“Sudah kutebak


tadi.” Lassy balas mencium Bryan. “Ayo ke


kamar, aku punya sesuatu untukmu!”


Bryan suka bagian


terakhir itu. Kamar.