
Luo dan Tax seakan berlomba lari ke dalam hotel tempat
dilaporkannya Martha dan Lassy berada. Mereka diikuti segerombolan polisi yang
langsung terbagi dua. Satu bagian ikut Luo lewat tangga, satu lagi ikut Tax
lewat Lift.
Tax dan gerombolan yang mengikutinya sampai lebih dulu.
Pemandangan yang pertama mereka lihat adalah dua orang penjaga keamanan yang
terkapar babak belur di lantai. Tax meninggalkan dua orang petugas untuk
mengurusi penjaga-pejaga itu. Dia bergegas ke kamar yang dilaporkan, tapi cuma
ada sisa-sisa penganiayaan di sana. Tidak ada Martha, tidak ada Lassy, juga
penjahat yang dikatakan. Tax segera keluar.
“Mereka pasti ke atas!” seru Tax ketika melihat Luo sudah
bergabung. Dia, Luo dan beberapa polisi kembali ke lift dan menekan tombol lantai paling atas. “Apa yang akan mereka lakukan pada Martha dan Lassy?” tanyanya dalam perjalanan ke atap.
Luo menggeleng. “Aku tidak akan menebak.”
“Mereka berdua punya apa sampai harus dikejar
penjahat-penjahat?”
Tax mendengus. Gerakan tubuhnya menandakan tidak sabar ingin
segera sampai atas dan beraksi melawan penjahat-penjahat itu. Beda dengan Luo,
dia punya pengalaman lebih banyak. Bisa tenang, tapi otaknya menyusun strategi
paling tepat untuk digunakan di situasi seperti ini.
“Ada berapa orang yang dilaporkan tadi?” tanya Tax berpindah
ke polisi-polisi di belakangnya.
“Lebih dari lima.”
“Menurut laporan, mereka berbadan besar dan terlihat tenang
saat memasuki gedung hotel. Mereka sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini
tampaknya.”
“Pembunuh bayaran maksudmu?” tanya Tax
Si polisi mengangguk.
Setelah bunyi 'Ting', pintu lift terbuka di lantai paling atas. Mereka harus naik satu lantai
lagi dengan tangga.
“Ingat, waspada! Apa pun bisa terjadi di situasi seperti
ini,” kata Luo. “Setelah melewati pintu, dua ikut Tax ke kanan, dua lagi ikut
aku ke kiri!” abanya.
“Siap, Pak!”
Luo memimpin rekan-rekannya. Naik lewat tangga landai menuju
atap gedung, lalu mendekat ke pintu. Pengaman pintu atap rusak, sudah pasti
penjahat-penjahat itu ada di sana. Sesuai aba-aba Luo, mereka membagi tim ke
kanan dan ke kiri. Mencoba tidak berisik dan mencari tempat penjahat-penjahat
itu berada. Setelah ketemu mereka mendekat tanpa menimbulkan suara lalu
menyergap penjahatnya.
Adu tembakan tak terelakkan. Dua polisi tertembak, tapi
semua penjahat dapat terus bersembunyi. Hingga akhirnya peluru
penjahat-penjahat itu habis dan memutuskan berkelahi satu sama lain.
Polisi-polisi kewalahan melawan satu penjahat saja. Tax untungnya berhasil
memenangkan perkelahian dengan seorang penjahat, meski dapat luka lebam,
sayatan senjata tajam, dan kesusahan berdiri tegak karena kelelahan.
Lain polisi-polisi dan Tax, Luo malah dengan mudah
melumpuhkan dua penjahat yang terlihat paling kekar. Tak ada luka sedikit pun
di tubuhnya selain napas-napasnya yang memburu karena terlalu keras berkelahi.
Menit berikutnya bantuan datang, beberapa polisi lain ikut bergabung dan
keempat penjahat berhasil diringkus.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Luo yang nafasnya sudah kembali
normal.
“Sialan, aku hampir kalah dengan penjahat itu.”
“Yang penting penjahatnya berhasil ditangkap dan kau tidak
mati.” Luo menepuk lengan kanan Tax, temannya itu langsung menjerit. “Tergores
sedikit saja reaksimu seperti wanita.”
“Tergores kepalamu!” bentak Tax. Sudah tahu sayatan pisaunya
sampai mengeluarkan darah banyak di lengan, masih tega Luo menepuk bagian itu,
mengatainya seperti wanita pula. “Lain kali aku tidak mau ber-partner denganmu!”
“Jangan mengeluh terus, bantu aku cari Lassy dan Martha!”
Mereka mencari ke sekeliling atap, tapi tidak ketemu.
Polisi-polisi juga ikut mencari ke sudut terkecil juga tidak mendapatkan hasil,
sampai seseorang melongok ke bawah gedung baru mereka menemukannya. Martha
ditemukan di gondola yang digunakan untuk membersihkan kaca gedung. Sepertinya
dia dilempar penjahatnya, tapi tersangkut di situ. Walau wanita itu mengalami
patah tulang dan kemungkinan gegar otak juga, tapi dia masih hidup.
“Mana Lassy?”
“Kau sadar atau tidak kalau penjahat barusan cuma ada empat
orang?”
Tax celingak-celinguk melihat ke sekitar, kemudian
mengangguk membenarkan.
“Kalau laporannya lebih dari lima orang, kemana yang
lainnya?”
“Mereka membawa Lassy,” tebak Tax. “Lewat mana? Menunggu
kita pergi ke atap lalu mereka menyelinap turun?”
“Kemungkinan begitu. Ayo cari mereka sebelum jauh!”
Luo berlari lagi diikuti Tax yang belum menyerah walau sudah
babak belur. Setelah menghubungi petugas di bawah gedung untuk mewaspadai
sekitar, mereka segera meluncur ke bawah. Kebetulan Bryan sudah berada di
tempat kejadian perkara dan yang menerima pesan barusan adalah polisi di
dekatnya. Bryan segera patroli ke sekeliling gedung apartemen itu untuk
menemukan Lassy dan penjahatnya.
Bryan melihat tiga orang mencurigakan di parkiran mobil. Dua
orang di antaranya menyeret sesuatu, orang tampaknya. Karena tidak jelas, dia
segera berlari mendekat. Dari jarak pandangannya yang makin dekat, dia melihat
tubuh Lassy-lah yang diseret-seret itu. Seseorang membukakan pintu mini van,
dua lainnya mengangkat dan melempar Lassy ke dalamnya. Bryan geram melihat
perlakukan tiga penjahat itu. Dia segera mendatangi ketiganya sebelum mereka
meninggalkan parkiran.
Disusul oleh beberapa petugas polisi, Bryan mengejutkan
penjahat-penjahat itu. Mereka terlibat adu pukul. Satu roboh, satu bangkit dan
berkelahi lagi. Begitu terus hingga seorang penjahat berhasil mencekik Bryan
sampai detektif itu menggelepar tak mampu mengambil nafas. Salah seorang polisi
berinisiatif mengeluarkan pistol, mengarahkannya pada si penjahat dan menarik pelatuknya.
Dia berhasil menembak punggung penjahat yang mencekik Bryan. Penjahat itu
meninggalkan Bryan yang masih berusaha mengisi paru-parunya dengan oksigen, dia
mendatangi si polisi ingin membalas, tapi sebuah tembakan lain diluncurkan
hingga melubangi dada kirinya. Lelaki gempal itu ambruk dan tak bergerak lagi.
Penjahat lainnya berhasil ditangkap dengan bantuan Luo dan Tax.
Tujuh penjahat berhasil diatasi, empat luka ringan, dua luka
berat karena tembakan, dan satu mati di tempat. Lassy dan Martha juga telah
***
“Detektif,” panggil seorang suster. “Nona Lassy sudah
sadar.”
“O, ok.” Bryan terkejut karena senang.
“Nona Lassy ingin bertemu dengan Anda. Silakan masuk!”
“Terima kasih.”
Bryan masuk ruangan di mana ada Lassy terbaring dengan
segala perban di tubuhnya. Hampir persis seperti pertama kali Bryan melihatnya.
Sesaat setelah Bryan duduk, suster dan dokter yang baru saja memeriksa Lassy
berpamitan sambil membawa seluruh peralatannya keluar.
“Hallo!”sapa Bryan.
“Hallo kepalamu! Setelah aku dihajar, baru kau menemukanku?” marahnya. “Kau benar-benar kekasih tak berguna!”
“Aku berusaha menemukanmu secepatnya, tapi kalah cepat
dengan penjahat-penjahat itu.”
Bianca sudah bercerita. Sebenanya dia dan Martha yang
membawa Lassy. Tujuannya bukan menculik, tapi diajak bersembunyi. Mereka adalah
sahabat, bukan rival berebut kekasih seperti yang diketahui publik selama ini.
Lagi pula adiknya, Randy, dianggap adik juga oleh Lassy dan Martha. Tidak lebih dari
itu. Menurut cerita Bianca, sekitar dua bulan ini Lassy sering mendapat surat
ancaman untuk segera meninggalkan negara. Kalau dilihat dari ancamannya jelas
bukan dari keluarga Lassy sendiri. Ada pihak lain yang menginginkan dia pergi.
Awalnya ancaman itu dianggap biasa saja oleh Lassy, seiring berjalannya waktu
dia sering diganggu, diteror akan dibunuh juga. Puncaknya, dia ditabrak sampai
hampir mati.
Keterlibatan Martha dan Bianca berawal ketika mereka akan
makan malam. Mereka dihadang oleh beberapa preman yang juga menginginkan
kematian Lassy. Dengan bantuan Randy, mereka berhasil melawan, bahkan sampai
melaporkannya ke polisi. Preman-preman itu mengaku disuruh tapi tidak tahu
siapa yang menyuruhnya. Preman itu dipenjara, sedangkan Lassy, Martha, Bianca,
dan Randy masih berkeliaran seperti biasa tanpa peduli keselamatan mereka.
Lalu Martha mengalami perampokan. Setelah dia mengetahui tempat disembunyikan
mobil-mobilnya itu, dia ke sana bersama anak buahnya tanpa melapor ke polisi.
Nyatanya sebagian anak buahnya berkhianat, memukuli Martha sampai hampir mati,
lalu mencuri mobilnya dan berusaha membunuh Lassy. Mereka juga mau membunuh
Bianca dan Randy, tapi karena kakak-adik itu tak pernah menetap di satu tempat,
mereka selamat sampai saat ini.
“Kau beberapa hari tak sadarkan diri, bagaimana keadaanmu
sekarang?” tanya Bryan tidak peka. Sudah tahu Lassy sakit, dia masih tanya.
“Lebih buruk dari yang kemarin-kemarin,” jawabnya seperti
yang benar-benar dirasakannya sekarang. Selain rasa sakit, tidak ada kata lain
yang bisa dideskripsikannya. “Aku tak bisa menggerakkan tanganku, kakiku,
badanku, dan kepalaku sakit.”
“Kata dokter itu efek kau tak bangun lebih dari tiga hari.
Nanti kau juga akan kembali normal.”
“Sialan!” umpatnya. “Apa banyak luka di mukaku?” tanyanya
khawatir. Khawatir dia cacat permanen di bagian wajah, lalu tidak ada orang
yang menyukainya. Kalau benar, itu akan jadi berita paling buruk bagi Lassy.
“Sedikit. Nanti kubelikan Bio Oil untuk menghilangkan bekas
lukanya.”
Lassy mendengus tak terima. Kalau Bryan bilang begitu,
kemungkinan wajahnya akan berubah jelek setelah ini.
“Jangan khawatir begitu. Luo bilang kau masih tetap cantik
walau penuh luka di mukamu.”
“Kalau menurutmu?”
Bryan menggaruk pipinya. “Sama,” jawabnya tak mau cari
alternatif jawaban lain.
“Ya sudahlah. Kalau kekasihku sendiri tidak yakin, berarti
aku memang akan jadi jelek,” kata Lassy pasrah. “Aku akan operasi plastik
nanti.”
“Tidak perlu,” tolak Bryan. “Aku tidak bohong, kau masih cantik
seperti kemarin-kemarin.”
Lassy mencebik, tidak percaya.
“Lagi pula mau kau cantik atau jelek, aku menerimamu apa
adanya,” kata Bryan mengungkapkan posisinya sebagai kekasih yang setia. “Aku
serius kali ini.”
Lassy mengiyakan saja meski hatinya sedang dalam suasana yang
buruk.
“Bagaimana keadaan Martha?”
“Dia belum sadar.”
“Bagaimana keadaan Bianca?”
“Dia baik.”
“Bagaimana penjahat-penjahatnya?”
“Kau sendiri sedang sakit, tak perlu tanya keadaan orang
lain,” bujuk Bryan. “Istirahat saja yang banyak!”
Lassy bergumaman ringan. “Aku baru bangun, kau tak memberiku
ciuman selamat sadar dari sekarat?” Lassy tidak bermaksud melucu, dia memang
sedang ingin dicium Bryan.
“Akan kuberikan, tapi dengan satu syarat. Setelah ini kau
jangan hilang lagi. Kalau kau jauh-jauh dariku, aku susah menjagaimu.”
“Tak usah banyak bicara, cium saja aku!”
Bryan berdiri, mendekat ke ranjang Lassy, lalu mencondongkan
badannya ke depan. Menyejajarkan kepalanya dengan kepala Lassy, dan menempatkan
posisi bibir mereka tepat atas bawah.
“Aku merindukanmu, kau tahu!” kata Bryan sebelum menyatukan
bibir-bibir mereka.
Bryan melingkarkan tangannya ke badan Lassy. Tidak
benar-benar mengeratkan pelukannya, tapi sekedar memeluk ringan. Bibir mereka
menyatu dengan erat. Satu sama lain menyesap, melumat dan menghisap. Bryan
meraup bibir Lassy, hampir memasukkan lidah ke mulut kekasihnya kalau saja
sebuah deheman tidak menginterupsinya.
“Sebaiknya kalian berhenti sebelum Kapten Bay masuk ke sini!”
itu suara Chang yang seketika membuat Bryan menjauh dari
Lassy. Setelah berita darinya soal kedatangan Inspektur yang dipercepat itu
tidak benar, dia diancam skorsing seminggu oleh Kapten Bay. Namun, karena Chang
telah berhasil menangkap orang-orang yang telah menghajar Martha dan menabrak
Lassy, hukumannya dihapuskan. Dia tetap dapat marah dari Kapten Bay dan hampir
seluruh anggota kepolisian yang kesal karena berita bohongnya itu.
“Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan cepat, setengah jam
saja. Setelah itu kau boleh melanjutkan yang tadi,” kata Chang langsung mengambil
tempat di sofa.