Mr. Detective

Mr. Detective
Tragedi Hampir Berdarah



“Di mana aku sekarang?”


Lassy frustrasi. Dia mondar-mandir di depan TV yang menyala.


Menghalangi pandangan seseorang yang tengah duduk di sofa. Lassy diculik, tapi


tidak mengalami kekerasan. Bahkan tidak diikat atau disembunyikan di tempat


gelap. Lassy hidup enak, sekarang pun berada di sebuah hotel mewah yang


kebetulan dia tak tahu letaknya.


“Di mana ini?” tanyanya lagi sambil mengepalkan kedua


tangannya erat.


“Las, bisa kau duduk diam di sebelahku? Aku tak bisa


menonton TV!” pinta orang itu.


“Tidak bisa. Kau menculikku padahal aku sudah menolak.


Kenapa kau melakukannya?” Lassy membentak, kesal sekaligus marah besar. “Kau


benar-benar keterlaluan.”


Seseorang tadi membuang nafas. Dia tidak sedang memaklumi


tingkah Lassy, hanya mencoba tak ambil pusing. Lassy tak memberikan alasan


kenapa dia menolak diajak bersembunyi padahal sudah jelas hidupnya terancam


oleh orang-orang tak dikenal. Bukan bermaksud ingin menculik Lassy, tapi demi


kebaikan sahabatnya itu, dia harus melakukannya.


“Kali ini kau harus menjawab, sebenarnya kenapa kau menolak


ajakanku kemari?”


“Sudah kubilang, aku dalam perlindungan polisi. Kalau kau


membawaku paksa begini bisa-bisa kau disangka penculik. Kau akan dipenjarakan.”


Seseorang itu angkat bahu. “Aku menyelamatkanmu,” dalihnya.


“Menyelamatkan dari apa? Tidak pernah terjadi apa-apa


padaku.”


“Tabrakan itu?”


“Aku memang ditabrak, tapi bukan berarti mereka langsung


merencanakan pembunuhan lagi setelah tahu aku belum mati,” jawab Lassy kasar.


“Aku di bawah lindungan polisi!” ulangnya sambil berhenti mondar-mandir.


Seseorang itu tak terpengaruh. Dia malah asyik


mengganti-ganti chanel mencari acara


yang paling bagus.


“Yang kudengar kau koma karena dikeroyok. Heran, kenapa kau


terlihat baik-baik saja?” Lassy membuka percakapan lagi. Kali ini bukan tentang


dirinya sendiri, tapi tentang sahabatnya itu.


Seseorang tadi angkat bahu lagi. “Aku ini orang hebat.


Nyawaku saja ganda, sudah pasti tak ada orang yang bisa membunuhku dengan


mudah,” jawabnya sombong. “Lagipula kau juga baik-baik saja setelah tabrakan


maut itu. Kulihat cuma kakimu saja yang jadi pincang.”


“Aku tidak pincang!” sangkalnya. “Nanti juga bisa jalan normal


kembali.”


Setelah diingatkan bahwa kakinya cedera, dia baru merasakan


sakitnya sekarang ini. Ngilu tak tertahankan. Dia mulai menyesal kenapa harus


mondar-mandir barusan. Kemudian dia duduk di sebelah sahabatnya itu


Ini sudah hari ketiga dia dipenjara di hotel. Jangankan


keluar ruangan, mengintip saja dia tak diizinkan. Kata sahabat yang


menculiknya, yang sekarang duduk sambil menonton TV dengan nyaman itu, ini demi


kebaikannya. Kalau ada mata-mata musuh melihat, lalu mengirimkan penembak jitu


untuk membunuhnya, akan sia sia usahanya membawa Lassy kemari. Jadi, diawasi


secara ketat adalah tindakan yang diambilnya.


“Martha,” panggil Lassy dengan nada bosan. Bosan setengah


mati. “Apa tidak ada berita yang memuat pencarianku?” tanyanya sambil berharap.


“Tidak. Yang ada malah berita pencarianku,” jawab Martha


santai. “Kelihatannya polisi tak mau repot-repot mencarimu. Mereka pasti mengira


kau sudah mati.”


“Tidak mungkin. Kalau Bryan tahu aku diculik, dia pasti


mencariku,” jawab Lassy congkak. Merasa hidupnya menguntungkan orang banyak,


jelas polisi akan mencarinya. Dia harus ditemukan dalam keadaan hidup, begitu


persepsinya. “Bryan adalah detektif hebat. Kalau sampai dia menemukanku dan


mengira kau penculiknya, jangan minta bantuanku kalau kau dijebloskan ke penjara!”


Martha menatap Lassy malas. Demi apa dia menyombongkan


detektif bernama Bryan itu? Tidak terdengar seperti Lassy selama ini. Manusia


yang hanya peduli tentang pekerjaan dan hidupnya sendiri tiba-tiba menyanjung


orang lain, pasti ada yang salah dengan otaknya?


“Aku berani bertaruh kalau Bryan akan sampai di sini sebelum


....”


“Sebelum Bryan sampai di sini, coba jelaskan apa yang


membuatmu berkali-kali menyebut namanya?”


Lassy mengernyit. Apa dia tidak bilang kalau Bryan itu


detektif yang ditugaskan melindunginya?


“Bahkan saat tidur saja kau menyebut namanya? Jangan bilang


kau rindu padanya.”


Lassy menggeleng mantap, tapi agaknya Martha tak percaya.


“Dia detektif yang ditugaskan untuk melindungiku.”


Cuma detektif pelindung tapi Lassy menyebutnya bak panglima


perang. Detektif pelindung hampir sama derajatnya dengan bodyguard. Menyanjung bodyguard sampai segitunya, kalau tidak ada apa-apanya, tidak akan mungkin Lassy


melakukannya.


“Bryan seorang detektif. Perawakannya pasti tinggi besar,


badannya kekar, otot-ototnya besar, dan dadanya lebar seperti lelaki idamanmu


selama ini,” tebak Martha.


“Idaman apanya?” sangkal Lassy sambil merebut remot dari


tangan Martha lalu mengganti chanel TV. Dia berusaha tidak terpancing lalu


mengatakan memang ada hubungan antara dia dengan Bryan. Nanti bisa ketahuan


kalau memang itulah alasan dia tak mau diajak sembunyi dari orang-orang yang


ingin membunuhnya. “Bryan itu jelek, ototnya lembek, dia juga pendek, dan sama


sekali tidak seperti lelaki idamanku ” lalu mengatakan kebalikannya.


“Dia detektif kriminal, kan?”


Lassy mengangguk.


“Sering kerja di luar ruangan. Pasti kulitnya coklat karena


terbakar matahari. Katamu kau suka yang seperti itu.”


“Iya, tapi Bryan tidak seperti itu.”


“Lalu seperti apa?” pancing Martha.


“Biasa saja.”


“Jujur saja padaku, siapa tahu aku mengizinkanmu menelepon


lelaki itu.”


Lassy mulai terpengaruh. Kalau iya Martha mengizinkannya


menelepon Bryan, dia ingin tahu apa Bryan juga rindu seperti yang dirasakannya


sekarang?


“Kalau dia memang detektif hebat, kau akan kuperbolehkan


menemuinya.”


Martha balik mengangguk.


Dengan jujur Lassy mengatakan, “Dia kekasihku. Tidak bertemu


dengannya, aku jadi sangat merindukannya,” tambahnya lagi. “Sekarang izinkan


aku meneleponnya!” pintanya tak sabar.


Martha hampir tertawa, tapi Lassy memelototinya hingga


tawanya gagal keluar. “Kau bilang dia jelek, bukan tipemu. Kenapa orang jelek


bisa jadi kekasihmu? Kalau menurutku, lebih baik kau tak usah meneleponnya,


apalagi menemuinya!”


“Keparat kau!” teriak Lassy sambil melempar remot ke kepala


Martha. “Jangan main-main denganku!”


Martha sempat berteriak kesakitan. Kepalanya juga belum


sembuh benar, sekarang sudah kena timpuk dari Lassy. Kalau dia kembali lupa


ingatan seperti kemarin-kemarin bagaimana? Sebelum Lassy lebih menyiksanya, dia


mengeluarkan ponsel dari sakunya. Mengaktifkan lalu menyerahkan benda itu pada


Lassy.


“Aku ini orang yang selalu menepati janji. Seperti janjiku


menolongmu kabur dari pembunuh-pembunuh itu, juga janjiku memperbolehkanmu


menelepon kekasihmu.”


“Isshhh!” Lassy mencibir Martha. Sambil menunggu ponsel


siap, Lassy mulai mengingat-ingat nomor telepon Bryan. “Kemana wanita sialan


itu? Kenapa beli makanan saja lama sekali?”


“Seperti kau tak tahu Bianca saja. Bertemu lelaki berkantong


tebal, dia pasti lupa dengan tugasnya. Salah-salah kita bisa mati kelaparan


hari ini,” jawab Martha asal.


Bersamaan bel pintu apartemen dipencet, saat itu juga ponsel


di tangan Lassy berbunyi. Martha mengira Bianca sudah berada di depan pintu.


Dia telanjur bahagia tak jadi kelaparan untuk hari ini. Secepat mungkin pergi


ke depan untuk membuka pintu sedangkan Lassy mengangkat telepon.


“Martha, jangan buka pintu. Ada segerombolan orang tak dikenal di sana.


Bertahan di dalam, aku akan panggil polisi sekarang!" perintah


Bianca, lalu telepon ditutup sepihak.


Kalau Bianca yang menelepon barusan, berarti yang memencet


bel barusan adalah segerombolan orang itu.


“Martha, jangan buka pintunya!” teriak Lassy sambil melompat


dan tertatih-tatih menghampiri sahabatnya.


***


Bianca mendial nomor telepon kantor polisi sembari berlari


cepat menuju lift. Setelah tersambung


dengan seorang petugas, dia segera melaporkan kejadian barusan. Dengan


menyinggung nama Martha dan Lassy, laporan Bianca ditanggapi serius. Petugas


segera mencatat alamat, lalu menyarankan Bianca untuk menjauh dari tempat itu


agar dia selamat. Petugas juga menyuruhnya melapor pada keamanan hotel untuk


mendapat pertolongan awal. Bianca melakukan apa yang diarahkan padanya sebelum


polisi datang.


Wanita penggila uang itu menerobos kerumunan orang setelah


keluar dari lift, dia berteriak minta tolong pada pihak keamanan hotel. Setelah


mendapat perhatian hampir seluruh orang, dia mengatakan bahwa dua temannya yang


berada di salah satu kamar hotel didatangi segerombolan orang jahat. Sesegera


mungkin petugas keamanan mengambil langkah, mengecek kebenaran pengaduan


Bianca.


Seorang petugas keamanan naik lewat lift dan seorang lain lewat tangga darurat. Yang lewat lift sampai lebih cepat, tapi


kedatangannya disambut dengan tendangan keras tepat setelah pintu lift terbuka. Agaknya penjahat-penjahat


itu tahu kedatangannya. Penjaga keamanan itu diseret keluar dari lift lalu dipukuli oleh seorang


penjahat yang badannya gempal. Tenaganya kuat hingga penjaga keamanan tak


sekali pun dapat membela diri. Dia berakhir terkapar di lantai.


“Akan datang yang lain lagi,” tebak penjahat gempal itu.


“Cepat selesaikan. Dobrak saja kalau tak segera dibuka!”


perintah seorang lagi pada kawanannya yang berada di depan pintu kamar Martha.


Tepat selesai kedua penjahat itu bicara, pintu dibuka oleh


Martha. Sama seperti yang didapat petugas keamanan tadi. Martha dapat tonjokan


keras di perutnya sampai jatuh ke lantai. Empat penjahat melangkah masuk. Dua


mengurus Martha dan dua lagi mengejar Lassy yang masuk ke dalam kamar.


Martha ditarik paksa, diberdirikan walau masih


meringis-ringis menahan sakit di perutnya. Seseorang memeganggi tubuhnya dari


belakang sedangkan seseorang lain melepaskan pukulan ke mukanya. Dia ditahan


untuk tak terjatuh demi menerima pukulan berikutnya. Empat, lima pukulan


bersarang di wajahnya. Pelipisnya bocor, hidungnya berdarah, bibirnya robek dan


yang mengenaskan lagi, matanya lebam. Pandangannya kabur dengan banyak darah


mengalir melewati matanya. Begitu Martha berusaha berontak, sebuah tonjokan


lain melesak ke perutnya. Ulu hatinya tertohok membuatnya tak bedaya.


Martha bukan wanita petarung, dia tak tahu sedikit pun cara


membela diri. Dia kalah. Tepat setelah seorang penjahat menarik belati dari


balik jaket kulitnya, tubuh Martha sudah melemas dan berat. Sebelum belati


sempat dihunuskan ke perutnya, Martha pingsan. Tubuhnya kemudian dilepas dan


dibiarkan terjatuh ke lantai.


Dua penjahat yang lain berhasil mendobrak pintu kamar Lassy.


Lassy sudah siap dengan besi di tangannya yang diambil dari gantungan pakaian


dalam lemari. Untuk mempertahankan diri, Lassy memukul lengan seorang penjahat


saat dua orang itu bergegas menghampirinya. Dia dikeroyok. Pukul sana, pukul


sini, hanya satu dua pukulan yang mengenai penjahatnya. Dia berhasil berkelit


saat balasan pukulan demi pukulan ditujukan padanya. Ketika dia mendapat celah


untuk kabur, dia tertangkap. Salah seorang penjahat berhasil menarik rambutnya.


Lassy berteriak merasakan sakit di kulit kepalanya. Tak berselang lama, penjahat


itu menghantamkan kepalanya di tepian ranjang hingga Lassy roboh.


Lassy belum kehilangan kesadarannya, mengumpulkan tenaga


lalu meluncurkan tendangan keras pada **** penjahat itu. Kesakitan


Lassy terbayar lunas dengan raungan kesakitan si penjahat. Ketika seorang lain


sibuk dengan temannya yang kesakitan, Lassy mengambil ancang-ancang untuk lari.


Belum sampai pintu, besi yang tadi dia bawa menghantam bahunya, menghantam


kepalanya dan menghantam punggungnya sampai dia roboh untuk kedua kalinya. Penjahat


itu tak mungkin membiarkan Lassy lari.


Lassy masih belum menyerah, dengan menyeret tubuhnya keluar


kamar, dia menendang pintu sampai mengenai penjahat di belakangnya. Ketika dia


mulai merasa ada kesempatan untuk lari, dua penjahat lainnya menunggu di


hadapannya.


“Kau harus mati hari ini!” kata penjahat itu sambil memukul


Lassy di mukanya.


Lassy pingsan juga seperti Martha.