
“Di mana aku sekarang?”
Lassy frustrasi. Dia mondar-mandir di depan TV yang menyala.
Menghalangi pandangan seseorang yang tengah duduk di sofa. Lassy diculik, tapi
tidak mengalami kekerasan. Bahkan tidak diikat atau disembunyikan di tempat
gelap. Lassy hidup enak, sekarang pun berada di sebuah hotel mewah yang
kebetulan dia tak tahu letaknya.
“Di mana ini?” tanyanya lagi sambil mengepalkan kedua
tangannya erat.
“Las, bisa kau duduk diam di sebelahku? Aku tak bisa
menonton TV!” pinta orang itu.
“Tidak bisa. Kau menculikku padahal aku sudah menolak.
Kenapa kau melakukannya?” Lassy membentak, kesal sekaligus marah besar. “Kau
benar-benar keterlaluan.”
Seseorang tadi membuang nafas. Dia tidak sedang memaklumi
tingkah Lassy, hanya mencoba tak ambil pusing. Lassy tak memberikan alasan
kenapa dia menolak diajak bersembunyi padahal sudah jelas hidupnya terancam
oleh orang-orang tak dikenal. Bukan bermaksud ingin menculik Lassy, tapi demi
kebaikan sahabatnya itu, dia harus melakukannya.
“Kali ini kau harus menjawab, sebenarnya kenapa kau menolak
ajakanku kemari?”
“Sudah kubilang, aku dalam perlindungan polisi. Kalau kau
membawaku paksa begini bisa-bisa kau disangka penculik. Kau akan dipenjarakan.”
Seseorang itu angkat bahu. “Aku menyelamatkanmu,” dalihnya.
“Menyelamatkan dari apa? Tidak pernah terjadi apa-apa
padaku.”
“Tabrakan itu?”
“Aku memang ditabrak, tapi bukan berarti mereka langsung
merencanakan pembunuhan lagi setelah tahu aku belum mati,” jawab Lassy kasar.
“Aku di bawah lindungan polisi!” ulangnya sambil berhenti mondar-mandir.
Seseorang itu tak terpengaruh. Dia malah asyik
mengganti-ganti chanel mencari acara
yang paling bagus.
“Yang kudengar kau koma karena dikeroyok. Heran, kenapa kau
terlihat baik-baik saja?” Lassy membuka percakapan lagi. Kali ini bukan tentang
dirinya sendiri, tapi tentang sahabatnya itu.
Seseorang tadi angkat bahu lagi. “Aku ini orang hebat.
Nyawaku saja ganda, sudah pasti tak ada orang yang bisa membunuhku dengan
mudah,” jawabnya sombong. “Lagipula kau juga baik-baik saja setelah tabrakan
maut itu. Kulihat cuma kakimu saja yang jadi pincang.”
“Aku tidak pincang!” sangkalnya. “Nanti juga bisa jalan normal
kembali.”
Setelah diingatkan bahwa kakinya cedera, dia baru merasakan
sakitnya sekarang ini. Ngilu tak tertahankan. Dia mulai menyesal kenapa harus
mondar-mandir barusan. Kemudian dia duduk di sebelah sahabatnya itu
Ini sudah hari ketiga dia dipenjara di hotel. Jangankan
keluar ruangan, mengintip saja dia tak diizinkan. Kata sahabat yang
menculiknya, yang sekarang duduk sambil menonton TV dengan nyaman itu, ini demi
kebaikannya. Kalau ada mata-mata musuh melihat, lalu mengirimkan penembak jitu
untuk membunuhnya, akan sia sia usahanya membawa Lassy kemari. Jadi, diawasi
secara ketat adalah tindakan yang diambilnya.
“Martha,” panggil Lassy dengan nada bosan. Bosan setengah
mati. “Apa tidak ada berita yang memuat pencarianku?” tanyanya sambil berharap.
“Tidak. Yang ada malah berita pencarianku,” jawab Martha
santai. “Kelihatannya polisi tak mau repot-repot mencarimu. Mereka pasti mengira
kau sudah mati.”
“Tidak mungkin. Kalau Bryan tahu aku diculik, dia pasti
mencariku,” jawab Lassy congkak. Merasa hidupnya menguntungkan orang banyak,
jelas polisi akan mencarinya. Dia harus ditemukan dalam keadaan hidup, begitu
persepsinya. “Bryan adalah detektif hebat. Kalau sampai dia menemukanku dan
mengira kau penculiknya, jangan minta bantuanku kalau kau dijebloskan ke penjara!”
Martha menatap Lassy malas. Demi apa dia menyombongkan
detektif bernama Bryan itu? Tidak terdengar seperti Lassy selama ini. Manusia
yang hanya peduli tentang pekerjaan dan hidupnya sendiri tiba-tiba menyanjung
orang lain, pasti ada yang salah dengan otaknya?
“Aku berani bertaruh kalau Bryan akan sampai di sini sebelum
....”
“Sebelum Bryan sampai di sini, coba jelaskan apa yang
membuatmu berkali-kali menyebut namanya?”
Lassy mengernyit. Apa dia tidak bilang kalau Bryan itu
detektif yang ditugaskan melindunginya?
“Bahkan saat tidur saja kau menyebut namanya? Jangan bilang
kau rindu padanya.”
Lassy menggeleng mantap, tapi agaknya Martha tak percaya.
“Dia detektif yang ditugaskan untuk melindungiku.”
Cuma detektif pelindung tapi Lassy menyebutnya bak panglima
perang. Detektif pelindung hampir sama derajatnya dengan bodyguard. Menyanjung bodyguard sampai segitunya, kalau tidak ada apa-apanya, tidak akan mungkin Lassy
melakukannya.
“Bryan seorang detektif. Perawakannya pasti tinggi besar,
badannya kekar, otot-ototnya besar, dan dadanya lebar seperti lelaki idamanmu
selama ini,” tebak Martha.
“Idaman apanya?” sangkal Lassy sambil merebut remot dari
tangan Martha lalu mengganti chanel TV. Dia berusaha tidak terpancing lalu
mengatakan memang ada hubungan antara dia dengan Bryan. Nanti bisa ketahuan
kalau memang itulah alasan dia tak mau diajak sembunyi dari orang-orang yang
ingin membunuhnya. “Bryan itu jelek, ototnya lembek, dia juga pendek, dan sama
sekali tidak seperti lelaki idamanku ” lalu mengatakan kebalikannya.
“Dia detektif kriminal, kan?”
Lassy mengangguk.
“Sering kerja di luar ruangan. Pasti kulitnya coklat karena
terbakar matahari. Katamu kau suka yang seperti itu.”
“Iya, tapi Bryan tidak seperti itu.”
“Lalu seperti apa?” pancing Martha.
“Biasa saja.”
“Jujur saja padaku, siapa tahu aku mengizinkanmu menelepon
lelaki itu.”
Lassy mulai terpengaruh. Kalau iya Martha mengizinkannya
menelepon Bryan, dia ingin tahu apa Bryan juga rindu seperti yang dirasakannya
sekarang?
“Kalau dia memang detektif hebat, kau akan kuperbolehkan
menemuinya.”
Martha balik mengangguk.
Dengan jujur Lassy mengatakan, “Dia kekasihku. Tidak bertemu
dengannya, aku jadi sangat merindukannya,” tambahnya lagi. “Sekarang izinkan
aku meneleponnya!” pintanya tak sabar.
Martha hampir tertawa, tapi Lassy memelototinya hingga
tawanya gagal keluar. “Kau bilang dia jelek, bukan tipemu. Kenapa orang jelek
bisa jadi kekasihmu? Kalau menurutku, lebih baik kau tak usah meneleponnya,
apalagi menemuinya!”
“Keparat kau!” teriak Lassy sambil melempar remot ke kepala
Martha. “Jangan main-main denganku!”
Martha sempat berteriak kesakitan. Kepalanya juga belum
sembuh benar, sekarang sudah kena timpuk dari Lassy. Kalau dia kembali lupa
ingatan seperti kemarin-kemarin bagaimana? Sebelum Lassy lebih menyiksanya, dia
mengeluarkan ponsel dari sakunya. Mengaktifkan lalu menyerahkan benda itu pada
Lassy.
“Aku ini orang yang selalu menepati janji. Seperti janjiku
menolongmu kabur dari pembunuh-pembunuh itu, juga janjiku memperbolehkanmu
menelepon kekasihmu.”
“Isshhh!” Lassy mencibir Martha. Sambil menunggu ponsel
siap, Lassy mulai mengingat-ingat nomor telepon Bryan. “Kemana wanita sialan
itu? Kenapa beli makanan saja lama sekali?”
“Seperti kau tak tahu Bianca saja. Bertemu lelaki berkantong
tebal, dia pasti lupa dengan tugasnya. Salah-salah kita bisa mati kelaparan
hari ini,” jawab Martha asal.
Bersamaan bel pintu apartemen dipencet, saat itu juga ponsel
di tangan Lassy berbunyi. Martha mengira Bianca sudah berada di depan pintu.
Dia telanjur bahagia tak jadi kelaparan untuk hari ini. Secepat mungkin pergi
ke depan untuk membuka pintu sedangkan Lassy mengangkat telepon.
“Martha, jangan buka pintu. Ada segerombolan orang tak dikenal di sana.
Bertahan di dalam, aku akan panggil polisi sekarang!" perintah
Bianca, lalu telepon ditutup sepihak.
Kalau Bianca yang menelepon barusan, berarti yang memencet
bel barusan adalah segerombolan orang itu.
“Martha, jangan buka pintunya!” teriak Lassy sambil melompat
dan tertatih-tatih menghampiri sahabatnya.
***
Bianca mendial nomor telepon kantor polisi sembari berlari
cepat menuju lift. Setelah tersambung
dengan seorang petugas, dia segera melaporkan kejadian barusan. Dengan
menyinggung nama Martha dan Lassy, laporan Bianca ditanggapi serius. Petugas
segera mencatat alamat, lalu menyarankan Bianca untuk menjauh dari tempat itu
agar dia selamat. Petugas juga menyuruhnya melapor pada keamanan hotel untuk
mendapat pertolongan awal. Bianca melakukan apa yang diarahkan padanya sebelum
polisi datang.
Wanita penggila uang itu menerobos kerumunan orang setelah
keluar dari lift, dia berteriak minta tolong pada pihak keamanan hotel. Setelah
mendapat perhatian hampir seluruh orang, dia mengatakan bahwa dua temannya yang
berada di salah satu kamar hotel didatangi segerombolan orang jahat. Sesegera
mungkin petugas keamanan mengambil langkah, mengecek kebenaran pengaduan
Bianca.
Seorang petugas keamanan naik lewat lift dan seorang lain lewat tangga darurat. Yang lewat lift sampai lebih cepat, tapi
kedatangannya disambut dengan tendangan keras tepat setelah pintu lift terbuka. Agaknya penjahat-penjahat
itu tahu kedatangannya. Penjaga keamanan itu diseret keluar dari lift lalu dipukuli oleh seorang
penjahat yang badannya gempal. Tenaganya kuat hingga penjaga keamanan tak
sekali pun dapat membela diri. Dia berakhir terkapar di lantai.
“Akan datang yang lain lagi,” tebak penjahat gempal itu.
“Cepat selesaikan. Dobrak saja kalau tak segera dibuka!”
perintah seorang lagi pada kawanannya yang berada di depan pintu kamar Martha.
Tepat selesai kedua penjahat itu bicara, pintu dibuka oleh
Martha. Sama seperti yang didapat petugas keamanan tadi. Martha dapat tonjokan
keras di perutnya sampai jatuh ke lantai. Empat penjahat melangkah masuk. Dua
mengurus Martha dan dua lagi mengejar Lassy yang masuk ke dalam kamar.
Martha ditarik paksa, diberdirikan walau masih
meringis-ringis menahan sakit di perutnya. Seseorang memeganggi tubuhnya dari
belakang sedangkan seseorang lain melepaskan pukulan ke mukanya. Dia ditahan
untuk tak terjatuh demi menerima pukulan berikutnya. Empat, lima pukulan
bersarang di wajahnya. Pelipisnya bocor, hidungnya berdarah, bibirnya robek dan
yang mengenaskan lagi, matanya lebam. Pandangannya kabur dengan banyak darah
mengalir melewati matanya. Begitu Martha berusaha berontak, sebuah tonjokan
lain melesak ke perutnya. Ulu hatinya tertohok membuatnya tak bedaya.
Martha bukan wanita petarung, dia tak tahu sedikit pun cara
membela diri. Dia kalah. Tepat setelah seorang penjahat menarik belati dari
balik jaket kulitnya, tubuh Martha sudah melemas dan berat. Sebelum belati
sempat dihunuskan ke perutnya, Martha pingsan. Tubuhnya kemudian dilepas dan
dibiarkan terjatuh ke lantai.
Dua penjahat yang lain berhasil mendobrak pintu kamar Lassy.
Lassy sudah siap dengan besi di tangannya yang diambil dari gantungan pakaian
dalam lemari. Untuk mempertahankan diri, Lassy memukul lengan seorang penjahat
saat dua orang itu bergegas menghampirinya. Dia dikeroyok. Pukul sana, pukul
sini, hanya satu dua pukulan yang mengenai penjahatnya. Dia berhasil berkelit
saat balasan pukulan demi pukulan ditujukan padanya. Ketika dia mendapat celah
untuk kabur, dia tertangkap. Salah seorang penjahat berhasil menarik rambutnya.
Lassy berteriak merasakan sakit di kulit kepalanya. Tak berselang lama, penjahat
itu menghantamkan kepalanya di tepian ranjang hingga Lassy roboh.
Lassy belum kehilangan kesadarannya, mengumpulkan tenaga
lalu meluncurkan tendangan keras pada **** penjahat itu. Kesakitan
Lassy terbayar lunas dengan raungan kesakitan si penjahat. Ketika seorang lain
sibuk dengan temannya yang kesakitan, Lassy mengambil ancang-ancang untuk lari.
Belum sampai pintu, besi yang tadi dia bawa menghantam bahunya, menghantam
kepalanya dan menghantam punggungnya sampai dia roboh untuk kedua kalinya. Penjahat
itu tak mungkin membiarkan Lassy lari.
Lassy masih belum menyerah, dengan menyeret tubuhnya keluar
kamar, dia menendang pintu sampai mengenai penjahat di belakangnya. Ketika dia
mulai merasa ada kesempatan untuk lari, dua penjahat lainnya menunggu di
hadapannya.
“Kau harus mati hari ini!” kata penjahat itu sambil memukul
Lassy di mukanya.
Lassy pingsan juga seperti Martha.