
“Dan … Dani!” Lassy tak mendapat tanggapan. “Daniela!”
panggil Lassy untuk ketiga kalinya.
Daniela masih memandang ke pintu keluar ruang rawat Lassy.
Sejak Kapten Bay beserta rombongannya keluar beberapa menit yang lalu. Daniela
merasa dejavu, melihat salah satu orang di rombongan tadi.
Lassy memukul keras Daniela sampai temannya itu terkejut,
gelagapan, dan salah tingkah.
“Kau ini kenapa?”
“Aku sepertinya pernah lihat orang besar tadi.”
“Kapten Bay? Beliau sudah pernah menemui kita di rumah sakit.”
“Bukan-bukan. Yang besar satu lagi.” Daniela beralih pada
Bryan. “Siapa orang itu?”
“Inspektur J,” jawab Bryan sekenanya, tapi benar itu yang
dimaksud Daniela.
“Inspektur, ya? Dia mirip dengan tetanggaku dulu. Dia berteman
dengan ayahku walau mereka tidak sepantaran. Siapa ya, aku sedikit lupa!”
Daniela memperhatikan Bryan yang kebingungan terhadap keterangannya. “Jay. Iya,
itu namanya.” Daniela tertawa, bertepuk tangan bangga pada diri sendiri.
“Joshua namanya.”
Teman lassy itu jadi lesu kembali, tebakannya salah. “Jadi
bukan, ya?”
“Kalau kau penasaran, temui dia agar lebih jelas. Bryan pasti tahu alamat rumahnya.”
“Tidak,” sangkal Bryan. “Tapi aku tahu alamat kantornya.”
“Kalian ini, aku cuma ingat tetanggaku. Kalau bukan, ya
sudah.” Daniela tampak kecewa tapi dia menutupinya. “Badanku capek sekali. Aku
pulang sekarang, mau istirahat!” Dia langsung pergi sebelum diiyai Bryan dan Lassy.
“Dia jatuh cinta!” celetuk Lassy.
“Pada Inspektur J?” Bryan bergidik. “Inspektur J itu duda
beranak satu, dua dengan Luo. Sebentar lagi putrinya menikah dan pasti akan
punya anak. Mana mungkin Daniela suka dengan calon kakek-kakek sepertinya?”
“Dulu,” ralat Lassy. ”Dani pernah bercerita kalau waktu
kecil dia sangat menyukai teman ayahnya.” Lassy tak mau lagi membahasnya.
Daniela sudah pasti tahu cinta seperti itu tidak akan berhasil. “Tadi sepupuku
menelepon,” alihnya ke topik lain.
“Sandy?”
“Bukan!” pekik Lassy. Kenapa Bryan ingat terus dengan Sandy?
Bikin sebal saja. “Cassy. Dia bilang pernah ditemui polisi karena kasusku.
Bilang pada kawan-kawanmu, Cassy tak ada hubungannya dengan semua ini.”
“Cassy Liem?” Bryan mengernyitkan dahi, kenapa Lassy membela
Cassy tapi tidak membela Sandy? Dia mengabaikan pertanyaan itu untuk sementara.
“Inspektur J tadi sudah menjelaskan banyak hal.” Bryan mengambil tempat seperti
biasanya, duduk di sebelah Lassy. “Jadi itu alasan kau sangat dipentingkan
pihak negara? Memang sejak dulu kau keturunan orang kaya, kan?”
“Kalau negara saja berlaku baik padaku, kau juga harus
melakukannya. Aku ini bukan orang sembarangan, kau tahu!”
“Aku tahu!”
“Dua hari lagi aku akan pulang, akan tinggal di rumahmu
selama renovasi rumahku masih berjalan.”
“Paham. Tapi kau harus bayar sewa.”
Lassy marah, “Sejuta dolar masih kurang banyak?”
“Kau belum memberikan sepeser pun padaku.”
“Nanti,” kata Lassy kesal. “Kuberi uang sewa sekalian. Aku
orang kaya, sewanya akan kubayar sepuluh kali lipat dari yang kau minta.”
Tentu saja Lassy sanggup melakukan apa pun dengan uangnya,
tapi Bryan tak mau dibayar dengan uang. Kalau dia minta apa yang dikatakan
Inspektur J tadi, apa Lassy bisa memenuhinya? Jadi kekasihnya saja seumur
hidup, atau paling tidak sampai Bryan menemukan kekasih baru yang setara dengan
Lassy, baru wanita itu boleh meninggalkannya.
“Katakan saja berapa uang sewa yang kau minta!”
Bryan tidak menggubris Lassy. Dia berdiri, menundukkan
kepala dan mencium Lassy dengan cepat. Lassy berhenti marah, tapi langsung
bingung. Selama Lassy kebingungan, Bryan menciumnya lagi. Selesai dengan ciuman
itu, Bryan memakai jaketnya, lalu mulai berjalan menjauh.
“Kau mau ke mana?” Lassy belum minta penjelasan soal ciuman
barusan.
“Cari makan malam. Aku lapar!”
***
Kasus Lassy hampir berakhir. Setelah memberikan peringatan
pada anak cucu Liem kedua yang tinggal di negara ini, Kapten Bay akan menyegel
berkas milik Lassy lalu menyimpannya dalam lemari arsip. Kepolisian tinggal
mengikuti arahan pemerintah, jadikan pemberitahuan massal bahwa Lassy beserta
keluarganya adalah aset negara. Mereka adalah orang-orang yang dapat perlindungan
khusus. Apabila ada siapa pun dengan sengaja atau tidak, melakukan tindak
kejahatan terhadap mereka, akan ada tuntutan hukum dengan sanksi berat.
Luo baru saja pulang dari tugas itu, tugas mendatangi Luka Liem dan Luki Liem, memberi pengertian seperti saran Kapten Bay. Pengertian bahwa Liem bersaudara pewaris Kian Pharmacy itu harus menjaga sikap terhadap saudara jauhnya. Dia juga menambahkan, akan berhadapan dengannya atau petugas-petugas lain kalau sampai mereka berbuat buruk pada Lassy dan saudara-saudaranya. Bukan hanya dua bersaudara Liem itu,
seluruh kerabat dari Liem yang tinggal di negara ini akan mendapat peringatan yang sama.
Ok, itu bukan peringatan, tapi ancaman yang dikeluarkan
langsung dari mulut Luo. Bagi Luo mengancam akan menimbulkan efek jera pada
mereka. Lagi pula untuk keselamatan Lassy dan saudara-saudaranya, kepolisian
tidak bisa main-main. Luo akan merasa bersalah kalau Lassy terluka untuk
kesekian kalinya, karena Lassy adalah satu dari tiga wanita yang sangat
diidamkannya.
“Upss!” Narita membalikkan badannya saat menemukan Luo
berdiri telanjang di ruang ganti pria. “Kenapa tak memakai bajumu di kamar
mandi!” protes wanita itu.
“Ini ruang ganti, siapa pun boleh ganti baju di sini.
Telanjang pun diperbolehkan. Lagi pula kenapa kau masuk ruang ganti pria?” Luo
tak mengindahkan dengusan wanita itu. Dia asik menggosok rambut basahnya dengan
handuk yang entah milik siapa. “Aku baru mandi, segar sekali,” katanya pamer.
“Aku juga tahu kau baru mandi,” protesnya. “Aku mencari
Bryan, bukan untuk melihatmu telanjang. Pakai sesuatu untuk menutupi
selangkanganmu!”
Bukannya segera bergerak, Luo menengok ke bawah. Memang dia
telanjang, lalu kenapa? Di sini tidak ada larangan untuk telanjang. Kalau
wanita itu datang, dialah yang harus menyesuaikan diri. Luo menggeser tubuhnya,
berdiri di depan cermin besar dan berpose seperti bina raga. Dia kekar, abs-nya
sempurna, dan proporsi tubuhnya pas. Dengan kulit kecoklatan eksotisnya, dia
bisa berbangga diri saat tak ada seorang wanita pun menolaknya. Kecuali wanita
buta tentunya.
Ketika Narita menoleh, bukannya kagum melihat Luo yang pamer
dengan keindahan tubuhnya, dia malam memasang wajah jijik. Dan inilah satu dari
wanita buta itu. Matanya melihat tapi hatinya buta. Itu terbukti dari Narita
yang memilih kekasih seorang kriminal dari pada rekan kerjanya sendiri, atau
orang lain yang lebih baik.
“Kubilang pakai bajumu!” bentak wanita itu.
“Kau tak mengatakan seperti itu tadi.”
“Terserah, yang penting aku tidak mau melihatmu telanjang!
“Kalau begitu berpura-puralah tak melihatku,” kata Luo
santai.
Narita mendecih keji. “Aku punya mata dan mataku tidak
Iya, hatinya yang buta, batin Luo.
“Setidaknya pakai handukmu!”
“Handukku hilang”
“Lalu yang kau pakai menggosok rambutmu itu?”
“Ini milik Bryan!”
“Pantas.”
“Pantas apanya?”
“Selain tak punya malu, kau juga suka menggunakan barang
orang lain tanpa izin. Pantas Lassy lebih memilih Bryan daripada kau.”
Luo kesal kalau membahas soal itu. Dia sudah minta
berkali-kali agar Bryan memutuskan Lassy, tapi selalu ditolak dengan berbagai
alasan. Apalagi hampir semua orang termasuk Kapten Bay mendukung hubungan
mereka. Kalau Bryan bukan temannya, dengan tangannya sendiri akan diputuskan
hubungan keduanya.
“Suka-suka kau lah. Kau telanjang atau tidak, aku juga tak
akan tertarik padamu. Katakan di mana Bryan dan aku segera pergi dari sini!”
“Asal kau tahu, wanita tengik, tubuhku lebih bagus dari
Bryan, prestasiku lebih tinggi darinya, dan pengalamanku berpacaran lebih
banyak dari dia juga.”
“Tapi yang kutahu tubuhmu, prestasimu, dan juga pengalaman
cintamu tak membuat Lassy tertarik,” tegas wanita itu. “Sayang sekali, aku tak
mau berdebat dengan orang sepertimu. Aku cuma mau Bryan.”
“Bryan tak mau denganmu.”
“Ok, kuralat. Lassy mau Bryan dan aku perantaranya. Ada telepon untuknya, sekarang!"
Luo dan Narita adu mata. Saling melotot memancarkan
listrik-listrik kebencian di antara keduanya. Narita dengan tampang bengisnya
masih berdiri di dekat pintu ruang ganti sambil mengepalkan kedua tangannya.
Luo tersinggung karena dibilang kalah dari Bryan soal Lassy. Dia unggul
segalanya dari teman detektifnya itu, tapi cinta tak pernah berpihak padanya. Eh, sebenarnya selalu berpihak, terbukti dengan banyaknya wanita yang pernah dikencaninya, tapi tidak untuk dirinya dan Lassy.
Luo masih berdiri di depan cermin dengan tubuh bugilnya. Dia
hendak mengeluarkan suara eraman seperti singa jantan kalau tidak dikagetkan
seseorang yang sama telanjangnya keluar dari bilik mandi.
“Kalian sedang apa?”
Melihat Bryan sama-sama telanjang, Luo tertawa kencang. Tadi
siapa yang mengatakan kalau dia tak tahu malu? Membeda-bedakannya dengan Bryan
yang ternyata sama tak tahu malunya dengannya? Narita saja yang belum tahu
kalau hampir semua detektif di sini tak punya malu, mereka bisa saling
telanjang dalam ruangan yang sama kalau sedang istirahat sepulang tugas.
“Kenapa kau tertawa?” Bryan penasaran kenapa Luo tertawa begitu seru.
“Kenapa kau telanjang?” bentak Narita. Dia cuma ditanggapi
kerutan dahi oleh Bryan. “Bangsat kau, Brey! Seharusnya tak kubela kau di depan
Luo!” Dia mencak-mencak, menendang tempat sampah di dekatnya tapi tidak terguling.
Dengan wajah tidak bersalah, Bryan bertanya, “Kau membelaku untuk apa?”
“Ishhh. Cepat pakai bajumu!” bentaknya lagi.
“Aku perlu mengeringkan tubuh dulu. Handukku hilang,”
jawabnya sama santainya seperti jawaban Luo tadi.
“Handukmu dicuri Luo,” pekiknya keras.
“Kau mencuri handukku?” tanya Bryan sesantai orang bodoh
bertanya pada orang bodoh lainnya. Pasalnya dua lelaki dewasa sedang tanya
jawab dalam keadaan sama-sama telanjang, kalau bukan orang gila, pasti orang bodoh.
“Pinjam. Handukku tertinggal di loker. Itu, kau pakai
handukku saja!” jawab orang bodoh satunya sambil menunjuk handuk yang
tergantung di lemari loker.
Selain tidak tahu malu, memakai barang orang tanpa izin, Luo
juga seorang pembohong. Narita melotot, mengeratkan giginya, berasa mau
menerkam duo orang bodoh di depannya. “Aku tak mau tahu, dalam waktu lima menit
kau sudah harus berada di depan mejaku atau kubilang pada Lassy kalau kau tak
datang ke sini hari ini!” ancamnya sambil memalingkan tubuh dengan kasar.
“Lassy meneleponku?” tanggapannya biasa saja. “Dia bisa
menelepon ke nomorku, kenapa harus perantara dia?” Sambil menarik handuk Luo
dari lemari, dia dan Luo menggosok badan dengan cepat, hampir seperti adu balap
mengeringkan badan. “Ada apa dengan wanita itu?”
“Dia sakit hati karena Tax mengancam memenjarakan kekasihnya.”
Bryan ber-oh pendek. “Sudah kubilang untuk mencari kekasih
lain, tapi dia bilang cinta.”
“Biar dia makan tuh cinta!”
Luo dan Bryan terkekeh besamaan.
“Ngomong-ngomong …,” lanjutnya setelah selesai tertawa dan
mulai prosesi pasang baju. “... kapan kau putus dengan Lassy?”
Bryan berhenti menggenakan celana panjangnya. Dia
menyempatkan duduk dan berpikir sejenak. Entah demi persahabatan atau demi
Lassy, Luo ikut duduk di dekat Bryan, menunggu temannya itu berfikir.
“Entahlah,” jawab Bryan membuat Luo menghela nafas malas.
“Daripada batinmu tersiksa karena harus berkencan dengan
Lassy, sedangkan hatimu memilih pacar kecilmu itu, lebih baik kau putuskan dia.
Biar aku yang menggantikan posisimu!” katanya bijak. Terlalu bijak untuk sebuah
maksud yang jelas sudah diketahui seluruh anggota kepolisian.
“Aku sudah tak berhubungan lagi dengan Ren,” jawabnya lesu,
tapi tidak sedih. “Aku mau dengan Lassy saja.”
“Kau putus dengan pacar kecilmu itu?”
Tidak melihat ekspresi kaget Luo, Bryan mengangguk.
“Lalu kau mau terus dengan Lassy sebagai pelampiasan? Kau
tahu Brey, Lassy itu bukan orang yang tepat untukmu. Dia punya skandal besar
dengan keluarga dan pemerintah. Kalau terus bersamanya, bisa jadi sisa hidupmu
terbuang sia-sia. Cari kekasih lain saja!” tuturnya penuh pengharapan. “Lassy
bisa membawamu pada masalah terus-menerus, kau bisa mati kapan saja sebagai
tumbalnya. Saranku, selamatkan dirimu dan serahkan dia padaku!” kata Luo mantap.
“Kupikir juga begitu.”
Luo ingin merangkul Bryan, mengutarakan kesenangan hatinya karena
perkataan Bryan barusan.
“Tapi sepertinya aku menyukainya!”
Lalu Luo segera mengharamkan keinginannya tadi. Merangkul
Bryan itu najis sebelum temannya itu memutuskan Lassy dan menyerahkan wanita
itu padanya.
“Aku selalu merindukannya kalau kita jauh.”
“Apa?” Luo memekik sampai Bryan terkaget.
“Apanya yang apa?”
“Kau bilang selalu merindukannya?” pekik Luo sambil pasang
muka horor.
Melihat muka itu, Bryan tahu kalau Luo akan marah. “Kau
salah dengar!” jawab Bryan sambil bergegas memakai celananya. Dia menggosok
rambutnya sedikit lagi agar tak terlalu basah. “Aku lupa ponselku mati, mungkin
aku memang ditelpon Lassy.”
Bryan segera mengambil kemeja, pistol, dan beberapa barang pribadi.
“Lima menitku habis, kita bisa bicara lagi nanti!” pamitnya
sambil tersenyum paksa.
Bryan tergesa-gesa keluar ruang ganti sambil telanjang dada.
Menghindar dari Luo adalah pilihan tepat saat ini. Bryan tak mau terjadi
pertumpahan darah. Dia belum mau mati karena memang belum mau berpisah dengan Lassy.