Mr. Detective

Mr. Detective
Orang Asing



Bryan kembali ke rumah Lassy seperti janjinya. Dia datang


sebelum jam jaga polisi habis. Setelah menerima sedikit arahan dari polisi


jaga, Bryan mempersilakan mereka pulang. Selepas makan malam Daniela juga


berpamitan. Lassy menyibukkan diri dengan berkas-berkas perusahaan yang tadi


ditinggalkan Daniela, sedangkan Bryan berkeliling lagi di area luar rumah.


“Oh, Detektif Bryan,” sapa penjaga rumah yang saat itu juga


berada di luar rumah. “Anda ingin berkeliling, bagaimana kalau saya temani?”


“Boleh juga.” Bryan ikut lelaki itu melangkah menuju gerbang


depan sekedar mengecek pagarnya. “Rumah sebesar ini selalu jadi target


perampokan. Bagaimana kalian mengatasinya?”


“Sudah dipasang alat keamanan yang disambungkan kabel-kabel


terpendam di sekeliling rumah, Pak. Kalau ada yang masuk tanpa prosedur, alarm


akan berbunyi. Lima menit kemudian polisi akan sampai di sini,” terang lelaki


itu bangga.


Tugasnya tiap sore adalah mengecek sekeliling pagar, lalu malamnya


mengecek sekeliling rumah. Jika semua dalam keadaan baik, dia bisa segera


istirahat. Walau hanya dengan prosedur seperti itu, rumah Lassy aman-aman saja.


“Penjahat sekarang sudah sangat canggih, jangankan cuma


membobol rumah dengan keamanan seperti ini, membobol dunia virtual dengan


keamanan lebih canggih saja mereka mampu.”


Kalau itu di luar kemampuan penjaga rumah. Baginya


pengamanan di rumah ini sudah sangat canggih.


“Bagaimana Lassy keluar dan masuk rumah kalau dia pulang


malam?”


“Nona membawa remot pembuka gerbang dan kunci rumah


sendiri.” Bukan sesuatu yang asing ditelinga Bryan. Rumahnya juga punya sistem


yang sama, tapi baginya masih terlalu rawan untuk ukuran rumah mewah seperti


ini. “Selama ini belum pernah ada orang asing yang berusaha masuk kemari.”


Bryan masih mengikuti lelaki itu sampai berbelok ke bagian


kiri bangunan. Di atas mereka ada balkon sebuah kamar. Lampu kamar itu menyala


dan kebetulan Lassy pemilik kamarnya. Lassy keluar, melongok ke bawah lewat


balkon saat percakapan Bryan dan penjaga rumah terdengar olehnya.


“Brey ...,” Keduanya mendongak. “Setelah selesai, pergilah


ke sini!” Bryan mengangguk dan Lassy menghilang dari balkon.


Tinggal bagian belakang rumah. Tukang kebun secepat mungkin


mengajak Bryan ke sana.


“Siapa saja yang bisa dengan mudah keluar masuk rumah ini


selain kalian berlima?”


“Nona Dani dan Tuan Andrew,” jawabnya. “Juga seluruh


keluarga Liem. Sebenarnya, Pak, rumah ini adalah rumah kelurga, bukan hanya


milih Nona Lassy saja.”


Bryan menyipitkan matanya. Itu artinya memang ada saudara


Lassy yang sering datang, mungkin yang namanya Cassy itu. Kalau Cassy benar


memiliki sifat seperti yang diterangkan Luo, bisa jadi dialah sumber ancaman


Lassy. Bryan akan tanyakan itu besok kepada seluruh pekerja di rumah ini.


Sekarang dia harus mengizinkan penjaga rumah istirahat dan dia sendiri perlu


menemui si empunya rumah.


“Cepat selesaikan pekerjaanmu dan segera istirahat. Aku akan


menemui Lassy!”


“Baik, Pak.”


Bryan melenggang ke dalam rumah. Sudah sangat hafal dengan


seluk beluknya. Dia segera melangkah ke lantai atas dan tak salah memasuki


kamar tidur Lassy.


Masih dengan terpincang-pincang Lassy mendekati Bryan dan


menyerahkan sebuah kertas padanya.


“Apa ini?”


“Kau bisa baca, kan?”


Sebuah kertas, cek lebih tepatnya. Cek bernilai 100.000 ribu


dolar yang sudah ditanda tangani Lassy, tapi nama penerimanya masih kosong.


“Kenapa memberikan uang sekarang, pekerjaanku belum


selesai.”


“Tulis saja nama kekasihmu dan biarkan dia yang


memilikinya!”


Lassy bercanda, kah? Uang sebanyak itu diambil dari


bagiannya lalu diberikan secara cuma-cuma untuk Ren? Sesayang-sayangnya Bryan


pada Ren, dia tak mungkin memberikan uang sebegitu banyak pada kekasihnya. Dia


sendiri juga yakin kalau Ren tak akan mau menerima. Lagipula, Ren sedang tak


membutuhkan uang.


“Ini uang muka?”


“Bukan,” sangkal Lassy. “Bayar jasa karena aku telah


meminjammu,” katanya setelah kembali duduk di ranjangnya.


Ren punya bayaran sendiri? Bryan


heran, royal sekali wanita di depannya ini. Mengeluarkan banyak uang seakan


mencari uang tidaklah sulit.


“Kau sudah tahu di mana


kamarmu?”


Bryan mengangguk.


“Kalau begitu kau boleh pergi sekarang!”


Bryan jadi seperti bawahan di rumah ini. Dia detektif,


posisinya harusnya lebih tinggi daripada Lassy. Seharusnya dialah yang


memerintah, bukan sebaliknya. Tapi mengingat Lassy adalah pemilik rumah, dia


klien yang harus dijaga, serta dialah orang kaya yang akan memberinya uang satu


juta dolar, Bryan ikut saja. Disuruh tidur bukan berarti dia diperintah, kan?


“Jika butuh bantuanku, kau boleh bangunkan aku kapan pun!”


Lassy hanya mengangguk.


***


Yang Bryan ingat, dia tengah tidur di ranjang empuk di rumah


Lassy. Menggunakan selimut tebal dan dalam ruangan yang hangat. Tapi saat ini


dia merasa kedinginan sampai membuatnya menggigil. Perasaan kedinginan itu baru


berkurang saat satu tubuh hangat merayap ke atas tubuhnya, dua pasang tangan


melingkar di pinggangnya, dan kepala dengan rambut yang begitu harum merebah ke


dadanya. Tubuh mereka menempel, kulit mereka bergesek, kehangatan pun mulai


menyebar.


Siang tadi Bryan memang terlibat pembicaraan dengan Luo soal


urusan ranjang, tidak disangka saat ini dia memimpikan hal yang demikian.


Tubuh itu duduk di perutnya. Tangan halusnya meraba dada,


membentuk tarian erotis, menimbulkan gesekan yang membuat desahan demi desahan


lolos dari bibirnya. Napas-napas hangat disusul kecupan-kecupan ringan


menghujaninya. Bryan ingin balas melumat bibir itu, tapi sebelum keinginannya


kesampaian, bibir itu sudah beralih ke rahangnya. Pindah ke leher, bahu, dada,


lalu membuat deretan kecupan di sepanjang iganya.


Mimpinya indah sekali. Bryan suka karena rasanya seperti


nyata, sampai tak mau membuka mata barang sejenak. Dia bisa merasakan tubuh di


atasnya menegang. Bryan ingin menyentuhnya di titik paling sensitif. Membuatnya


melayang hingga terlepas bersama jeritan kenikmatan. Bryan melakukannya,


mencoba mengulurkan tangan dan menemukan kulit halus teraba tangannya. Entah


bagian tubuh mana, yang jelas Bryan tak mau berhenti menggerakkan tangannya.


Awalnya Bryan mendengar desahan dan rintihan syarat


kenikmatan, kemudian suara pintu yang ditendang paksa muncul sebagai


background. Beberapa detik berikutnya tubuh hangat di atasnya menghilang,


disusul suara jeritan dan makian.


Bryan masih berharap tubuh hangat itu kembali, tapi ...


“Brey, bangun!” Lassy penempeleng Bryan hingga si empunya


kepala kaget dan terbangun dengan nyawa berserakan. “Tidak bersama semalam saja


kau sudah berniat meniduri sepupuku?”


Bryan masih linglung. Yang ditangkap matanya sekarang adalah


Lassy tengah melotot ke arahnya. Ada satu wanita asing baru berdiri dari lantai


dengan wajah kesal dan bawaannya ingin marah. Meski begitu wanita itu segera


mimpi erotis, tidak ada sangkut pautnya dengan tuduhan yang dilayangkan Lassy


padanya.


“Kau merusak acaraku!” kecam wanita itu dengan wajah yang


terlihat tenang.


“Kau yang merusak acaraku!” tuding Lassy kejam. Ekspresinya


berbanding terbalik dengan wanita satunya. “Bryan kekasihku. Enak saja kau


sentuh-sentuh dia! Kau mulai berani cari gara-gara denganku, ya!”


“Memang kapan aku tidak berani mencari gara-gara denganmu?”


Wanita itu menyeringai, “Kalau kau tak datang kita sudah melakukannya tadi,”


katanya masih tak ada takut. Pembawaannya sarat akan ejekan. “Begini saja,


kupinjam dia malam ini dan kau bisa minta apa pun dariku.”


“Jangan harap!” Lassy mengkode Bryan untuk beranjak dari


ranjang.


Bryan menurut. Dia turun dari ranjang, mengambil baju dan


sepatu yang sebelum tidur dia letakkan di depan meja rias, kemudian memakainya.


“Kau tak memperbolehkan aku menyentuh kekasihmu, tapi kau


meninggalkannya di sini, Las.” Wanita asing itu memperhatikan Bryan yang tengah


mengenakan celananya. Dia menyeringai ketika mendapati Bryan meringis kecil.


“Kau pasti tak bisa memuaskan kekasihmu,” tuturnya. “Aku bisa lebih hebat


darimu.”


Lassy mengabaikan tuduhan sepupunya. Dia menuding sekali


lagi. “Bagaimana bisa kau ada di sini, ha?”


“Harusnya kau berterima kasih karena aku yang ada di sini,


bukan Cassy.”


“Bukankah seharusnya minggu depan?”


“Surprise!”


ucapnya riang. “Tapi ternyata aku yang mendapat kejutan,” lanjutnya sambil


mengerling ke arah Bryan.


Lassy geram. Berdecak kesal. “Brey, tidur di kamarku!”


Lassy menarik paksa Bryan keluar kamar walau belum selesai


memakai kemejanya. Sepupunya sempat menyindir, yang ditanggapi Lassy dengan


dengusan. Kemudian wanita itu tertawa keras-keras ketika Lassy dan Bryan sudah


keluar dari kamar.


“Em ... siapa dia?”


Lassy melirik Bryan tajam seperti hendak menguliti. Dia


menjawab singkat. “Sandy.”


Bryan pernah membaca nama Sandy di daftar nama keluarga


Liem. Dia hanya tidak tahu bagaimana rupanya, dan tidak tahu kalau wanita itu


akan datang hari ini.


“Bagaimana dia bisa berada di kamar itu?”


“Tentu saja dia bisa. Dia sepupuku.” Lassy memasang wajah


bengis, meski pada Bryan ekspresi seperti itu tidak mempan. “Dia perayu ulung.


Awas saja kau sampai tertarik padanya!”


Sandy punya akses masuk rumah, sama seperti keluarga Liem


lainnya. Wanita itu sebenarnya baik, cuma kadang-kadang usil sampai membuat


orang lain jadi sebal padanya. Hal barusan contohnya. Untungnya selama ini


Sandy tidak ikut-ikutan memaksa Lassy untuk pindah ke luar negeri. Jadi, Lassy


membiarkan dia berbuat semaunya di sini.


“Sial!” umpat Bryan. Lassy yang sudah mulai berjalan sambil


sedikit meloncat-loncat kecil, berhenti hanya untuk menoleh padanya. “Kupikir


aku tadi bermimpi.”


Mendapati Bryan kesulitan dengan selangkangannya, Lassy


buru-buru balik badan. Dia tidak mau tahu masalah Bryan. Salah sendiri, mimpi


tidak tahu tempat. Mimpi bersama Sandy pula. Lassy tidak sudi membantunya.


Lassy kembali berjalan, masih sedikit meloncat-loncat. Dia


menggapai kenop pintu kamarnya. Membukanya dan menarik Bryan masuk.


“Ini tak bisa kuselesaikan sendiri. Aku tidak terbiasa.”


Setelah menutup pintu kamar, Lassy menarik Bryan ke pintu


satunya, pintu menuju kamar mandi. Mendorongnya ke dalam secara kasar.


“Terbiasa atau tidak, kau tak punya pilihan. Kau kekasihku sekarang. Jadi


jangan ada hubungan dengan siapa pun termasuk sepupuku!” perintah Lassy sambil


bersiap menutup pintu kamar mandi.


“Ya, kau kekasihku ...,” sindir Bryan. Dia merebut gagang


pintu, lalu menutupnya sendiri. “... kekasih yang tak punya belas kasihan,”


tambahnya lebih kepada diri sendiri.


Coba kalau saat ini Bryan bersama Ren, hal seperti ini tak


akan terjadi. Selalu ada yang menyambutnya di saat Bryan butuh pelukan. Dapat


servis terbaik dari kekasihnya itu atas dasar cinta. Semua yang dipinta Bryan


akan jadi kenyataan kalau yang berada di sampingnya adalah kekasih kecilnya.


Membandingkan Lassy dengan Ren, Bryan jadi ngilu sendiri. Bukan, bukan Bryan


yang ngilu, tapi Bryan kecil dalam celananya.


Belum selesai meratapi nasib, tiba-tiba pintu dibuka,


menampilkan sosok Lassy yang langsung melipat tangannya di dada.


“Keluar dari sana!” perintahnya.


Bryan bergeming. Pasang muka heran.


“Keluar dari sana, cepat!”


“Aku harus menyelesaikan di sini, kau bilang.”


“Memang, tapi itu tadi. Aku bukannya orang yang tega


melihatmu seperti ini. Sekarang keluar dari sana!”


Bryan hanya menggaruk kepalanya. Tidak yakin kenapa Lassy bisa


begitu plin-plan saat ini.


“Kau tak perlu tidur dengan orang lain, kau bisa tidur


denganku.”


Bryan mengernyit, walau dia masih dalam keadaan tegang, dia


tak berniat meniduri Lassy. Ingat betul kalimat terakhir yang disarankan Kapten


Bay, tapi ...


“Cepat keluar dari sana dan naiklah ke ranjang!”


Walau tak berniat tidur dengan Lassy, dia menurut. Kalau dia


tak bisa puas untuk malam ini, setidaknya ada yang membantunya lepas. Untuk


urusan kepuasan, dia bisa mendatangi Ren besok. Pelan-pelan dia meninggalkan


kamar mandi, berjalan ke ranjang dengan perasaan campur aduk.


“Kau yakin mau tidur denganku?” tanya Bryan ketika Lassy


melepas baju tidurnya, menyisakan bra dan celana dalamnya yang senada. Ada


banyak bekas luka dan memar ungu kecoklatan di tubuh itu yang bisa dilihat


Bryan dengan jelas. Dia meringis kasihan. Namun, Bryan tidak memungkiri bentuk


tubuh Lassy yang bagus. “Kau membayarku cuma untuk jadi kekasihmu.”


“Ini satu paket,” jawab Lassy sambil mengobrak-abrik


lemarinya. Tak menemukan yang dicari, dia menggeledah laci. Mengambil barang


dari laci itu, lalu menghampiri Bryan di ranjang. “Anggap saja reward.”


Reward?  Bryan geleng kepala


dengan kelakuan wanita itu.


Suka-suka Lassy mau bilang apa. Dia Bos-nya di sini.


Lagipula  Bryan telanjur tergoda tubuh


seksi kekasih barunya meski beberapa luka di tubuh itu agak tidak enak dilihat.


Lassy menarik ujung kemeja Bryan untuk mengelap bibir


kekasihnya itu dengan cara yang tidak normal. “Kau pasti sudah mencium


sepupuku!” Itu tuduhannya, makanya Lassy menggosok bibir Bryan secara brutal.


“Menjijikkan! Awas saja kau sampai melakukannya lagi!” Lalu menyatukan


bibir-bibir mereka.


Kata Luo, Cassy adalah wanita penggoda dari keluarga Liem.


Kata Lassy, Sandy adalah penggoda dari keluarganya. Tetapi Bryan mendapati


Lassy sendiri punya aura penggoda itu juga. Kesimpulan yang bisa Bryan tarik,


keluarga Liem kemungkinan punya aura penggoda secara turun-temurun.


Ah, bahas itu lain kali saja. Dia tidak patut menyibukkan diri


dengan sifat turunan keluarga Liem karena sekarang dia harus fokus pada Lassy.


Bryan melingkarkan lengannya ke pinggang Lassy, lalu


membalas ciuman wanita itu.