Mr. Detective

Mr. Detective
Detektif Juga Punya Rasa Takut



“Bams,” gumam Lassy.


Dituliskan di kertas yang dipegangnya sekarang, Bams adalah


asisten wakil manager keuangan di perusahaannya. Lassy tahu dengan jelas


wakilnya Daniela, Andreas. Mereka sering bertemu dalam berbagai rapat dan


berbagai acara, tapi asistennya Andreas, Lassy tak mengingatnya sama sekali.


Yang dituliskan juga dalam laporan, wakil manager keuangan sama sekali tak tahu


kalau asistennya melakukan banyak kecurangan. Wajar, asisten selalu tahu


pergerakan atasannya, sedangkan atasan tidak tahu sama sekali pergerakan


asistennya. Seperti semua kegiatan Lassy diketahui Sulami, tapi Lassy tak tahu


sama sekali kegiatan sekretarisnya itu.


Bams berhasil mengajak beberapa orang dalam perusahaan untuk


melakukan kecurangan bersama, tapi beberapa bulan setelahnya dia mengundurkan


diri. Itu alasan kenapa tindakan mereka agak kacau belakangan ini.


“Itu salinan dokumen dari tim penyidik di kantormu?” Bryan


sudah berdiri di luar kamar mandi, menggosok rambutnya yang basah saat Lassy


menyebutkan nama barusan. Dia mendekat. Mengumpulkan beberapa kertas,


menyatukannya, lalu mendorongnya ke arah Lassy. Dia menempati sebelah ranjang


itu kemudian. “Butuh berapa lama menyelesaikan masalah perusahaanmu?”


Lassy mengalihkan pandang pada Bryan. Kali ini kekasihnya


itu tidak sembarangan lagi telanjang setelah mandi. Seperti beberapa hari lalu,


mentang-mentang berada di rumah sendiri, di kamar sendiri, Bryan telanjang saat


keluar dari kamar mandi bertepatan dengan pembantu Lassy yang sedang


mengantarkan minuman. Bryan tidak malu, pembantu Lassy yang malu. Kaget sampai


menjatuhkan nampan beserta seluruh isinya ke lantai kamar. Lassy mengomeli


Bryan, dan sejak saat itu Bryan selalu membawa baju ganti ke kamar mandi.


“Tidak akan lama lagi,” jawabnya sambil kembali membaca


lembaran di tangannya.


“Siapa Bams? Pelaku?” Bryan menarik satu bantal, menempatkan


di belakang punggungnya sebelum dia bersandar.


Lassy mengiyakan. “Sayangnya dia sudah mengundurkan diri sebelum


aku tahu ada masalah di perusahaan. Dia berhasil menarik banyak karyawan untuk


bekerjasama menggerogoti uang perusahaanku.”


Bryan mengambil alih kertas itu, membacanya selagi Lassy


menambahkan penjelasan.


“Agaknya orang ini cukup pintar. Dia tahu cepat atau lambat


kecurangannya akan ketahuan. Maka dari itu, dia membujuk karyawan lain sebelum


keluar dari perusahaanku, lalu pergi sebelum ketahuan hanya untuk menyamarkan


jejak.”


“Bukti sudah terkumpul?” tanya Bryan lagi.


“Sudah, bahkan siapa saja yang terlibat sudah diketahui.”


Lassy mengumpulkan sisa kertas yang berserak, mengambil yang dipegang Bryan


juga. Menyatukannya dan mengembalikannya dalam map. “Daniela ditemani tim yang


kusewa membuat laporan ke kantor polisi tadi siang. Mulai besok polisi akan mengambil


alih semuanya,” tambahnya sambil meletakkan map di meja.


“Setelah masalah perusahaanmu selesai, kau akan bertukar


aset kembali dengan Cassy?"


Tentu saja. Lassy sendiri risih terus didesak sepupunya itu.


Dia juga tidak nyaman menggunakan nama sepupunya di bawah perusahaan. Agak


bersalah karena dengan seenak jidat meminjam kekayaan Cassy yang kemudian


membuat sepupunya itu dituduh yang bukan-bukan. Tetapi demi perusahaannya,


Lassy terpaksa melakukan hal itu. Untungnya sebentar lagi masalah perusahaan akan


selesai. Dengan begitu mereka bisa kembali bertukar aset, dan lalu tinggal


berterima kasih pada Cassy.


“Kau akan kembali ke rumahmu?” Lassy mengangguk lagi.


Kemarin-kemarin jauh dari Lassy membuat Bryan agak tidak rela, tapi setelah


tadi siang, dia malah ingin menjaga jarak dari Lassy. “Kau masih perlu


dilindungi polisi?”


Lassy menggeleng dan gelengan itu entah kenapa membuat Bryan lega.


“Tidak perlu ada polisi lagi di rumahku. Cukup ada kau!”


Lassy tersenyum manis sekali. Jarang-jarang dia tersenyum tanpa sebab begini. Kali


ini karena Bryan telah membuatnya nyaman. Maka dari itu dia tersenyum bahagia.


“Kau akan tinggal di rumahku, kan?”


Sejujurnya Bryan mulai memikirkan tinggal di rumah Lassy.


Selama ini di mana pun dia tidur tidak jadi masalah. Dia punya rumah juga


jarang ditinggali. Tinggal di rumah Lassy selain lebih dekat dengan kekasihnya


sendiri juga lebih mudah mengawasi Lassy dari orang-orang yang berniat


mencelakainya. Tapi itu sebelum Tax mengatakan soal pendapatnya tadi siang,


juga sebelum teman wanitanya di kantor mengatakan bahwa kemungkinan Lassy  akan tega menyengsarakannya.


Bukan Bryan takut dengan tindak kekerasan yang mungkin akan


dilakukan Lassy padanya, seperti selama ini dia berjibaku dengan bahaya tanpa


rasa takut sedikit pun. Tetapi Bryan takut kalau dia akhirnya mati di tangan


kekasihnya dengan cara yang tidak elit. Itu mencoreng nama baik seluruh


detektif polisi di dunia ini.


Dan bila hal itu terjadi pada Bryan, pemerintah akan


menetapkan kematiannya sebagai kasus yang tak bisa dipecahkan karena


pembunuhnya adalah orang yang keluarganya punya andil besar dalam membangun


negara.


Bryan ngeri membayangkannya.


Lassy kebal hukum.


Cih! Bryan mendecih hebat dalam hati.


“Kau kenapa?”


Bryan menutup matanya saat Lassy mendekat. Bukan ekspresi


menutup mata saat hendak berciuman, tapi menutup mata dengan ekspresi tak ingin


melihat muka Lassy.


“Aku tidak menyuruhmu meninggalkan rumahmu dan pekerjaanmu.


Hanya ingin kau menjadikan rumahku sebagai persinggahan. Kau tidak perlu


bersikap seperti ini!”


“Bersikap seperti apa? Kalau aku sudah kembali ke kesatuan


detektif, aku akan jarang pulang.” Bryan berdalih. “Tidak akan punya cukup


waktu untuk singgah di rumahmu, bahkan di rumahku sendiri.”


“Setidaknya kau akan pulang entah kapan, dan aku mau kau


pulang ke rumahku!”


“Memangnya kau tidak keberatan aku jarang mengunjungimu?”


“Tidak keberatan!” jawab Lassy mantap.


“Kau juga tidak bisa meneleponku kapan pun kau mau, kecuali


aku yang meneleponmu duluan.” Lassy mengernyitkan dahi menyangka Bryan menyembunyikan


sesuatu. Namun Bryan segera menjelaskan, “Aku mungkin sedang berada di lokasi


pengintaian, jadi tidak bisa sembarangan dihubungi.”


kekasih seorang detektif, kan?” Lassy menangkap maksud Bryan sekarang. “Tapi


jangan coba-coba selingkuh di belakangku. Kau sudah janji menjadikanku sebagai


kekasih satu-satunya untukmu!”


Sialnya Bryan mendengar kalimat barusan sebagai ancaman


terberat yang pernah dia terima. Lassy adalah orang yang angkuh dan bisa


melakukan segala macam hal dengan uang dan kekuasaannya, tapi Bryan baru sadar


sekarang kalau sifat seperti itu bisa berimbas buruk padanya juga. Bryan


membayangkan seumpama waktu bisa diulang, dia akan menolak menjadi penjaga


khusus untuk Lassy. Menolak tawaran jadi kekasih bayaran atau kekasih betulan.


Menolak untuk jatuh cinta pada ....


Ah, jatuh cinta itu yang sekarang menempatkan Bryan di posisi


sulit. Satu sisi dia mencintai Lassy luar dalam, tapi di sisi lain dia takut


pada kekasihnya sendiri.


“Aku mencintaimu,” ucap Bryan bukan tanpa maksud. Dia


berusaha meredam seumpama Lassy ingin bertindak buruk padanya. “Aku


mencintaimu, apa mungkin aku selingkuh?”


“Tidak,” Lassy tersenyum lagi, lebih mendekat lagi. “Aku


tahu kau tak akan melakukannya.” Dia mendekatkan badannya, mencodongkan


tubuhnya lalu mengecup bibir Bryan sekilas. “Aku juga mencintaimu.” Mencium


Bryan sekali lagi.


Lassy mengangkat tubuhnya sendiri, berpindah ke pangkuan


Bryan untuk bermanja- manja. Mengecupi bibir Bryan berkali-kali, kemudian


menggunakan tangannya untuk mengelus dada Bryan. Menarik tepian kaos kekasihnya


ke atas untuk dilepaskan, tapi Bryan menghentikan gerakannya.


Tidak menyerah, Lassy mengecupi leher Bryan, rahangnya,


wajahnya, telinganya. Sekali lagi, Bryan menghentikannya.


Bryan meraih kedua tangan Lassy, mengecupnya sebelah kiri


kemudian sebelah kanan, lalu mengajaknya tidur dengan dalih esok hari ada


jadwal pekerjaan yang padat. Padahal itu hanya dalih karena dia agak ketakutan


berada dekat dengan Lassy.


***


Lassy ingin memanjakan Bryan, berdandan cantik dan


berpakaian seksi pagi ini. Tidak seperti akan pergi kerja, tapi seperti akan


berpesta. Dia hanya butuh satu ciuman dan sebuah kalimat pujian, setelah itu


jiwa raganya akan dia serahkan pada kekasihnya. Tapi apa yang diterimanya


ketika dia mulai menggelendot manja pada Bryan?


“Las, kau bisa telat kerja. Hal-hal seperti ini, bisa kita


lakukan nanti malam.”


Pernyataan apa itu? Jelas Lassy tidak terima.


Ini masih terlalu pagi untuk ukuran telat kerja. Yang perlu


Bryan ingat, Lassy adalah pemilik perusahaan, apakah telat kerja patut jadi


ketakutannya?


Tadinya Lassy benar-benar bersemangat untuk memulai hari,


setelah mendapati reaksi yang tidak sesuai dengan yang diinginkannya, dia jadi


malas. Bahkan kemalasannya bukan hanya untuk bekerja, tapi juga untuk melihat


Bryan. Dia segera berganti pakaian. Memakai baju yang biasa saja, kemudian


mengatakan pada Bryan kalau dia akan keluar dengan teman-temannya.


Perkataan Lassy itu tentu saja membuat Bryan curiga. Setelah


dibuatnya hilang mood, jelas Lassy ingin menghindarinya. Bryan yang ingin


menjaga jarak dengan Lassy, tapi kalau Lassy menanggapinya dengan reaksi yang


sama, runyam juga urusannya. Bukankah Bryan telah didapuk sebagai kekasih


sekaligus jaminan bagi negara untuk membuat Lassy tetap tinggal di sini? Kalau


Bryan membuat kesalahan, salah-salah dia kena marah dari atasan-atasannya.


“Aku minta maaf!” kata Bryan cepat.


“Minta maaf untuk apa?”


Bryan tidak mengatakan, langsung menarik lengan Lassy dan


memenjarakan wanita itu di pelukannya. Setelah puas memeluk, dia menarik ke


atas dagu Lassy, mendongakkan muka kekasihnya itu, kemudian menghadiahinya


dengan ciuman.


Bryan mengecup lembut bibir Lassy, menambahkan lumatan, lalu


mengakhirinya dengan hisapan panjang. Dan Lassy tidak menolak. Malah


membalasnya dengan baik.


“Kenapa menciumku?” meski begitu dia tetap bertanya.


“Karena aku tahu kau marah padaku?”


Lassy mendesah panjang. “Baguslah kau tahu!” katanya


congkak. “Kau tahu Brey, aku susah payah membahagiakanmu, tapi di mataku kau


tak melakukan hal sama. Sepertinya cuma aku yang berjalan di jalur yang disebut


pasangan kekasih ini.”


Muka Lassy benar-benar tidak enak dipandang. Meski wanita


itu cantik, tidak memberinya banyak ekspresi masam, tapi Bryan bisa menangkap


ketidaksukaan menguar dari wajah itu. Lassy mulai curiga dengan kelakuan


mengambil jarak yang dilakukan Bryan. Jadi Bryan memang harus mengambil jalan


lain. Bersikap biasa saja sampai semua bukti jelas dan kepolisian bisa memberi


saran untuk mengatasi masalah ini.


“Kau masih meragukanku?”


“Aku berusaha mempercayaimu. Bagaimanapun, gelagatmu tidak


menunjukkan seperti lelaki setia.” Lassy mendengus keras. Dia ingin bersama


Bryan, tapi agaknya susah. “Aku tahu kau juga mencintaiku, tapi bukan berarti


kau tidak akan merasa bosan padaku.”


“Las ..” protes Bryan. “Mungkin kau betul bahwa suatu saat


aku bisa bosan padamu, tapi bukan berarti aku akan meninggalkanmu, Dan kalaupun


aku melakukan itu, kau bebas melakukan apa pun untuk mencegahku. Aku serahkan


hidupku padamu!” katanya, lain di bibir lain di hati. Dia tidak mungkin


menyerahkan hidupnya untuk jadi bulan-bulannya Lassy yang punya bekingan


keluarga besar. Ini hanya bentuk pencegahan supaya hal itu tidak terjadi. “Aku


bersumpah untuk hidupku dan pekerjaanku, aku mencintaimu dan tidak akan


berubah.”


“Kau serius?”


“Apa aku belum mengatakan cinta padamu sebelum ini?”


Tentu saja sudah. Bahkan berkali-kali. Tetapi pemikiran


Lassy sendiri yang membuat ucapan cinta Bryan teragukan. Lassy mulai bingung


dengan diri sendiri. Dia terlalu posesif atau serakah atau malah keduanya.


Lassy memurukkan kepalanya di dada Bryan. Melingkarkan kedua


lengannya di pinggang detektif penjaga merangkap kekasihnya itu, kemudian


membisikkan permintaan maaf dan kalimat cinta. Dia perlu sadar diri kalau


tindakannya bisa memecah hubungan mereka. Bryan mengerti. Membalas pelukan itu


dan menghapus kesalahpahaman kecil yang baru saja terjadi.