
Chang baru saja mengamuk. Hari itu dia sampai di Italia,
hari itu juga dia harus kembali. Sesaat setelah mengaktifkan ponsel, seorang
petugas yang ada di dalam negeri menghubunginya, mengatakan bahwa Chassy baru
saja tiba. Chang langsung menukar tiketnya untuk penerbangan kembali. Sampai di
tempat, dia dikejutkan dengan pembebasan tiga pembisnis tawanannya. Jelas dia
mengamuk, pasalnya tidak ada yang mengaku saat dia menanyakan siapa yang
membebaskan ketiganya. Teman-temannya menyingkir dan tak ada yang mau menjawab
pertanyaannya. Kalau Kapten Bay tak datang saat itu, Chang sudah pasti
menghancurkan seisi kantor.
Lain Chang, lain juga dengan Tax dan Luo, keduanya pergi ke
Singapura dan kembali hari itu juga. Mereka berhasil menyelidiki hubungan
Martha dan Bobby. Bobby sepupu Martha yang tinggal di Singapura, dia datang
untuk melihat keadaan Martha. Dia akan membawa dan merawat sepupunya itu di
Singapura, tapi karena dokter tak mengizinkan Martha dibawa bepergian untuk
saat ini, Bobby pulang sendirian. Luo dan Tax tak memeriksa lebih dulu apakah
Martha benar-benar ikut ke sana, jadinya salah informasi. Mereka berhasil
menanyai Bobby, tapi tak berhasil menemukan Martha.
“Maaf, Pak Andrew, keberadaan Nona Liem tidak bisa kami
beritahukan kepada anda. Setelah kejadian ledakan itu, kami dari pihak
kepolisian menyembunyikan dan mengawal ketat Nona Liem,” jawab Fai, mencoba
ramah meski sebenarnya jengkel setengah mati. “Tentu, untuk saat ini kami
berani jamin keadaan Nona Liem baik-baik saja. Sangat baik malahan. Setelah
kami berhasil mengusut kasus tabrakan dan ledakan rumah itu, Nona Liem pasti
bisa ditemui lagi. Mohon pengertiannya, ini demi kebaikan Nona Liem,” dia
berbohong.
Ini ke tiga belas kalinya Andrew menelepon kepolisian untuk
menanyakan keadaan Lassy. Karena dia tak tahu sama sekali soal ledakan dan
kepindahan Lassy ke rumah Bryan, dia mulai mencari Lassy. Tak menemukan Lassy
di mana pun, lalu menelepon ke kantor polisi. Tiga belas kali menelepon dan
tiga belas kali pula dia menerima jawaban yang sama. Kepolisian tidak mau ada
yang tahu bahwa Lassy diculik atau publik akan menganggap kinerja mereka buruk.
Toh, sekarang Bryan dan kawan-kawan sedang mencari Lassy.
“Begini saja, bila keadaan benar-benar memungkinkan, pihak
kami akan mengizinkan Nona Liem untuk menelepon Anda.” Fai mendengarkan Andrew
bicara, lalu dia mengiyakan semua perkataan itu. “Tentu, kami berjanji soal
itu. Terima kasih atas kepercayaannya, Pak.” Tanpa menunggu lama dia menutup
telepon.
Sedikit penasarah, Harry bertanya, “Siapa?”
“Biasa, orang yang akhir-akhir ini menelepon menanyakan
keadaan Lassy,” jawabnya santai. "Ngomong-ngomong apa hubungan Andrew
dengan Lassy? Bukankah mereka cuma rekan kerja?”
“Memangnya rekan kerja tak boleh saling mengkhawatirkan satu
sama lain?”
Mengkhawatirkan rekan berlaku juga di kepolisian. Tapi
agaknya ada beberapa yang tak melakukannya. Malahan, satu dua di antara mereka
suka mengumpankan partner-nya demi
menarik penjahat keluar dari persembunyian agar mereka bisa menangkapnya.
“Mungkin dia punya perasaan khusus untuk Lassy.”
“Apa dia belum tahu kalau Lassy jadi kekasih Bryan?”
“Mungkin saja. Semoga dia tak menjadikan Bryan sebagai rival
kalau tahu soal itu,” kata Harry sambil memeriksa email masuk.
Fai mencoba membandingkan. “Bryan kalah tampan dari Andrew.”
“Bukan hanya itu. Dia juga kalah kaya dan kalah pintar.”
Fai setuju dengan Harry, tapi sebelum dia menimpali, orang
yang mereka bicarakan melangkah masuk kantor. Bryan bertanya karena merasa ada
yang menyebut namanya. Untungnya Bryan tak mendengar dengan jelas pembicaraan
mereka, hingga kedua petugas itu bisa leluasa mengangkat bahu.
Bryan lusuh, kotor, dan berantakan. Saat berangkat hingga
sekarang dia belum mandi. Pengejaran yang dia lakukan sampai ke Kota Kapa,
gagal total. Tidak, tidak begitu gagal. Hanya salah target. Fokusnya adalah
menemukan Lassy, untuk itu dia mengejar tiga orang yang salah satunya mirip
Lassy di stasiun. Sampai di kota Kapa, dia dibantu oleh polisi lokal. Mereka
sudah menemukan lalu menangkapnya. Namun, ketiga orang itu mengaku tak tahu
menahu soal Lassy. Mereka cuma gadis-gadis pelancong yang berniat liburan ke
kota Kapa ketika tiba-tiba seseorang datang lalu menawarkan uang agar mau
menggunakan kostum dan bergaya seperti yang dipinta orang itu. Mereka juga tak
ingat sama sekali muka orang yang menyuruhnya.
“Brey, kusarankan kau segera mandi sebelum Kapten Bay
mengomel untuk ketiga kalinya pagi ini.” Chang, Luo dan Tax sudah kena omel,
lalu Bryan akan menyusul kena omel kalau tidak menuruti sarannya. “Kau bau,
amat sangat bau,” katanya sambil mengibaskan telapak tangan di depan hidung dan
mulutnya
Bryan mengendus bajunya sendiri, merasa tak mendapati apa
yang dikatakan si petugas, dia beralih ke ketiaknya. Bryan akhirnya mengernyit.
“Cuma sedikit,” dalihnya.
Pantas Narita dari tadi duduk jauh-jauh darinya. Malah
sekarang pulang duluan sebelum melapor ke kantor.
“Aku masih belum menemukan Lassy, kau paham!”
“Apa hubungannya kau tidak mandi dengan belum menemukan
Lassy?” tanya Fai sambil mengernyit, benci. “Aku tahu dia kekasihmu, tapi coba
kau pikirkan, saat menemukaannya tapi kau dalam keadaan bau, apa yang akan
dikatakan Lassy padamu?”
“Dia akan berterima kasih lalu akan bilang, ‘Aku
mencintaimu, Brey!’” jawab Bryan lumayan percaya diri. “Cinta tak peduli dengan
bau badan.”
“Lalu dia akan memelukmu dan menciumu?” tanya Fai sambil
mencebik jijik.
Bryan mengangguk mantap.
“Mimpi saja kau! Aku berani bertaruh dia akan memutuskanmu
sehari setelahnya.”
Bryan kepikiran, bisa jadi Lassy akan memutuskannya sehari setelahnya
persis seperti omongan temannya itu. Lassy tipe wanita yang gila kebersihan.
Bau badan sepertinya tak bisa ditolerirnya.
“Dan kau bilang apa tadi? Cinta?” Fai mencibirnya. “Kau
tahu, secinta-cintanya Lassy padamu, dia akan memilih orang lain yang lebih
bersih dan tak bau.”
“Biasanya aku juga tak bau.” Dia membuat pembelaan ringan.
“Maka dari itu mandi sekarang juga!”
Fai benar, tidak ada cinta yang bisa dihubungkan dengan bau
badan. Fai juga benar, sehari setelah semua berakhir, Lassy pasti akan meninggalkannya
sesuai perjanjian mereka. Tapi Bryan bertekad saat menemukan Lassy nanti, dia
ingin dapat ucapan terima kasih serta pelukan hangat dari kekasihnya itu. Meski minus kata cinta dan ciuman, yang
penting dapat sesuatu sebelum mereka benar-benar berpisah.
“Aku akan mandi,” putusnya, langsung melenggang ke arah
kamar mandi kantor.
“Baguslah. Kudoakan Lassy mempertahankanmu setelah ini!”
ujar Fai tidak serius.
Bryan berdecak kesal, tapi dia terus berjalan.
“Brey,” panggil Harry yang baru saja menerima email lumayan
penting. “Mandi yang cepat, aku dapat informasi bagus untukmu!”
Bryan hendak berhenti, tapi mengurungkan niat ketika
jelas-jelas karena bau badannya, dia tidak diterima di lingkungan kantor. Dia
mengangguk, lalu segera pergi.
***
“Kapten, Cassy Liem bersedia menemui kita siang ini. Di
restoran Perancis seberang J.O apartemen. Jam setengah dua belas …” petugas itu
melihat jam tangannya. “... satu setengah jam dari sekarang.”
“Bagus, kau bisa menemuinya nanti!”
“Siap, Kapten!”
“Tidak, tidak, tidak!” tolak Chang. “Cassy Liem itu
“Hah, tidak bisa Chang. Dia bagianku,” protes si petugas.
“Kau tahu apa soal interogasi? Aku detektif hebat di sini,
aku yang pantas menemuinya.”
“Ini bukan interogasi penjahat. Kita menemui Cassy Liem cuma
untuk mengajukan pertanyaan biasa. Kalau kau yang datang, salah-salah kejadian
memenjarakan tiga pembisnis itu akan terulang lagi.”
“Terserah, tapi aku mau menemui Cassy Liem siang ini.
Menghalangi jalanku, mati saja kau!”
Yang lain malas ikut bicara, kalau Chang sudah adu mulut,
dialah yang harus menang. Semua dikumpulkan untuk menerima tugas baru dari
Kapten Bay, bukan menyerobot tugas orang lain. Tapi entahlah, Chang terobsesi
sekali ingin menemui Cassy.
“Ribut di sini, kalian berdua yang mati!” potong Kapten Bay.
Chang dan petugas tadi seketika diam. “Nama-nama kalian sudah kucatat di sini.”
Kapten Bay marah sambil menepuk tumpukan kertas yang dipegangnya. “Semua punya
tugas masing-masing, termasuk kau!” tunjuknya pada Chang.
Cassy datang ke negara ini, Martha tidak ikut ke Negeri
Singa, dan Lassy juga tak ada beritanya keluar dari kota Delta, bisa dikatakan
semua orang itu masih ada di kota. Kapten Bay telah menyusun agenda baru dan
membagi-bagi tugas pada anak buahnya. Kali ini tidak salah lagi, sebelum
Inspektur J datang nanti sore, mereka akan menemukan titik terang.
Kemarin kepolisian banyak mendapatkan keterangan soal kasus
Lassy Liem, tentang Kian Farma, serta hubungan pencurian mobil dan tabrakan
disengaja itu. Komunitas pembalap liar yang tempo hari sempat ditangkap,
perwakilan mereka datang dan menjelaskan bahwa ada beberapa anggota tak resmi
mereka yang dicurigai terlibat tindak kekerasan terhadap Martha. Sebagai rasa
terima kasih kepada pihak kepolisian karena mereka tidak dipenjara, tapi
diberlakukan sebagai tahanan luar, kelompok itu mengadakan penyelidikan sendiri
terhadap anggota. Mereka menemukan beberapa kecurangan yang dilakukan lima
orang. Agar tahu lebih dalam, nama-nama mereka telah diserahkan pada polisi
beserta bukti-bukti sementara. Hanya butuh sehari bagi kepolisian untuk
melengkapi bukti.
Lima orang yang dilaporkan itu memang terlibat penganiayaan
terhadap Martha. Mereka adalah agen ganda, selain ikut komunitas pembalap liar,
mereka juga bekerja pada Martha. Mengingat kelimanya adalah anggota tidak tetap
di kelompok pembalap, juga pekerja paruh waktu di tempat Martha, bisa jadi
mereka ikut kelompok lain lagi. Orang seperti mereka adalah tipe penjahat yang
lebih tertarik dengan uang tanpa peduli soal loyalitas. Siapa yang bisa
menawarkan uang lebih banyak, dialah bosnya. Kemungkinan ada orang yang
menawari mereka uang untuk membunuh Martha.
Mengenai Kian Pharmacy,
pemiliknya memang benar punya moyang yang sama dengan Lassy. Pemilik Kian Frama
satu kakek buyut dengan ayah Lassy. Pemiliknya meninggal empat bulan yang lalu
setelah sakit lebih dari enam bulan sebelumnya, menjadikan harta warisan dan
seluruh asetnya jatuh ke anak-anaknya. Soal peredaran obat yang dilarang itu, tentu
berkaitan dengan perpindahan tampu kekuasaan. Tanpa sepengetahuan pemilik baru,
seseorang telah mengeluarkan obat perusak otak, atau memang salah satu anak itu
sengaja memberikan izin pengeluarannya secara bebas.
Dua hal itulah yang akan diselidiki oleh para detektif.
Terlepas dari Chang, Tax, Luo dan Bryan yang tak mendapatkan apa pun di kasus
ini, mereka akan dapat tugas itu nantinya.
“Chang, kau pimpin sepasukan polisi ke distrik tiga. Ada
pergerakan pembalap jalanan di sana. Bagaimanapun caranya temukan lima berandal
itu.”
“Siap, Kapten!” jawab Chang.
Tentu Chang siap, dia dapat tugas yang lebih memacu adrenalin
dari pada menginterogasi Cassy.
Kapten Bay beralih ke tugas berikutnya. “Kau, kau dan kau,”
tunjuk Kapten Bay pada Tax, Luo dan seorang petugas. “Pergi ke St. 71 Blok 701,
ada beberapa petugas yang sudah menunggu kalian di sana. Geledah semua rumah,
seluruh ruang di gedung itu!” perintah Kapten Bay.
“Ada kemungkinan Martha di sana?” Luo mengajukan pertanyaan.
“Kamera pengintai di jalanan menunjukkan sosok mirip Martha
berjalan masuk ke blok 701.”
Martha pernah beberapa kali datang ke blok itu sebelumnya.
Memang tidak pasti apa yang dikunjungi Martha di sana. Mengingat di sana pernah
tinggal sekelompok pembunuh bayaran, mereka perlu waspada. Bukan berarti dengan
diketahuinya tempat tinggal pembunuh bayaran, lalu pembunuhnya tidak pernah
datang ke sana lagi. Bisa saja, tiba-tiba mereka kembali ke sana tanpa
diketahui pihak polisi. Namanya juga pembunuh, apalagi buron, bisa berada di
mana pun asal tak tertangkap. Karena hal itu, mungkin Martha terlibat sesuatu
hal berkaitan dengan pembunuhan.
“Waspada di lantai 3 rumah no. 2, pernah tinggal
pembunuh-pembunuh bayaran. Bisa saja mereka kembali ke sana tiba-tiba."
“Siap, Kapten!"
Kapten Bay mengangguk, lalu kembali dengan tugas berikutnya.
Hampir seluruh detektif dan petugas polisi dapat tugas, mulai hal paling mudah
hingga tersulit. Giliran Bryan, dia cuma dapat perintah untuk melihat keadaan
sepupu Lassy di rumahnya sebelum kemudian kembali ke jalanan untuk mencari
Lassy. Kapten Bay tak mau tahu, sebelum Inspektur J datang sore nanti, Bryan
harus mengetahui keberadaan Lassy. Kalau tidak, Bryan dilarangnya datang ke
kantor selamanya.
“Laksanakan tugas masing-masing!”
“Siap!” jawab serentak petugas-petugas itu.
Sebagian kembali ke meja kerjanya, sebagian lagi berkemas
untuk penyergapan. Chang sendiri sudah keluar paling awal. Beda dengan Bryan
yang penampilannya sudah lebih baik daripada saat dia datang, tapi gesture
badan malasnya tetap sama.
“Brey,” panggil Harry.
“Apa?” jawabnya malas.
“Aku punya data pembicaraan telepon rumah Lassy, baru saja
dikirim oleh operator ke emailku.” Dia berkutat dengan komputernya, lalu
meng-klik gambar print untuk mencetak
kiriman data itu. “Tunggu sebentar!” Tiga lembar cetakan selesai, segera
diambil dan diserahkan pada Bryan.
Bryan memeriksanya. “Apa yang janggal di sini?”
“Lembar pertama intensitas telepon masih sama, dari
keluarga, dua teman Lassy, dan beberapa klien. Hampir semuanya panggilan masuk
diangkat oleh pembantu Lassy. Lihat di lembar kedua dan ketiga. Ada beberapa
nomor asing masuk.”
“Bagaimana dengan Sandy Liem?”
“Sepupu Lassy yang baru datang itu?” Harry menggeleng pelan.
“Tidak, panggilan itu dilakukan sebelum sepupunya datang.”
“Kau sudah mengecek nomor-nomor ini?”
“Tentu,” jawabnya. “Pembantu-pembantu Lassy memang sering
melakukan panggilan keluar, semua nomor telah di data. Untuk tiga nomor itu,
mereka menyangkal. Pasti Lassy yang melakukan panggilan,” terangnya. “Sudah
kucek, ketiga nomor terdaftar dengan nama pemilik fiktif. Dan sekarang
nomor-nomor itu tidak aktif.”
Bryan menerima lembaran lain dari petugas itu. “Ini posisi
terakhir nomornya aktif?”
Harry mengangguk.
“Aku akan menyisir tempat-tempat itu,” putusnya. “Tapi
bisakah kau minta isi percakapan ini?”
“Tidak,” jawabnya sambil menggeleng kuat. “Pihak operator
tidak menyediakan layanan itu.”
“Baiklah, aku berangkat sekarang.”
Harry bergumam lirih, “Semoga kekasihmu cepat ketemu!”