
Detektif Luo sudah hampir dua jam berinteraksi dengan korban
tabrak lari. Selama itu juga, dia tak melihat teman yang ditugaskan jadi
pengawal Lassy. Luo sekali lagi menjelaskan pada Lassy dan kedua sahabatnya
bahwa Bryan ditugaskan untuk mengawalnya, sedangkan Luo yang ditugaskan untuk
mengurus masalah di lapangan.
Selama bersama Lassy dan kedua sahabatnya, Luo mendapat
tanggapan baik.
Luo pernah bilang kalau dia tak tertarik dengan wanita tua,
walau wanita itu cantik, pintar dan kaya. Pernyataan itu dicabutnya sendiri
setelah melihat Lassy yang sebenarnya berbanding terbalik dengan apa yang
dikatakan Bryan. Lassy adalah wanita muda yang cantik. Dia jauh lebih menarik
daripada semua wanita yang pernah dikencaninya. Melihat muka Lassy, Luo seakan
disadarkan bahwa kekasihnya yang baru sebulan dipacari, tidak ada apa-apanya
dibanding Lassy.
Ah,Luo harus segera memutuskan kekasihnya itu.
“Masih ingat lelaki yang kau jadikan rebutan dengan Martha?”
“Kita tidak pernah berebut lelaki!” Lassy hampir membeci Luo
sama seperti dirinya membenci Bryan karena menganggapnya berebut lelaki dengan
Martha. Lassy tak mau martabatnya jatuh hanya gara-gara lelaki. “Perseteruanku
dengan Martha itu murni masalah bisnis.”
“Martha suka lelaki itu, tapi lelaki itu suka dengan Lassy,”
terang Daniela.
“Lassy tak menyukainya,” lanjut Andrew. Andrew bangga
mengatakannya, seakan lelaki itu memang tak pantas disukai Lassy. Yang pantas
disukai Lassy adalah dirinya.
“Bukankah kalian bersedia untuk diam tadi!” tegur Luo pada Daniela
dan Andrew. Itu perjanjiannya. Kalau mereka mau tetap di dalam ruangan, mereka
tak boleh bicara sedikit pun. “Atau kalian mau keluar sekarang!”
“Maaf. Maaf, Detektif,” ucap Daniela dan Andrew hampir
bersamaan. “Kami akan diam,” lanjut Andrew.
Luo kembali pada Lassy. Dia menantikan keterangan langsung
dari mulut wanita itu. Sementara fokus dengan jawaban yang akan dilontarkan
Lassy, dia juga fokus memandangi wajah dan tubuh Lassy meski tanpa mengubah
ekspresi wajahnya, tanpa menggerakkan bola matanya. Lassy dan kedua temannya
tak akan tahu dia mengagumi wajah cantik itu. Dia detektif hebat, poker face sudah jadi makanannya
sehari-hari.
“Namanya Randy Lauren. Dia tinggal di Mars apartemen.”
“Kau pernah ke sana?”
“Tidak. Dia yang menyebutkan alamatnya sendiri padaku,”
terang Lassy. “Dia memang populer, tapi aku tidak mungkin menyukainya.”
Andrew menepuk pundak Daniela dan tersenyum senang mendengar
jawaban Lassy. Sedangkan Daniela memelototinya karena merasakan sakit dari
tepukan itu. Luo mengabaikan mereka, kemudian bertanya,
“Kenapa?”
Karena Lassy punya alasan yang tak bisa dikatakannya pada
Luo. “Dia lebih tepat disebut penggoda daripada lelaki baik-baik,” katanya
kemudian.
Luo tersenyum, membenarkan tindakan Lassy. Seorang penggoda
tak pantas untuk disukai. Luo langsung tersadar kalau kekasihnya kemungkinan
adalah wanita penggoda juga. Wanita itu ditemukannya di sebuah pesta, titelnya
sebagai wanita baik-baik agak meragukan. Daripada bingung, dia akan putuskan
wanita itu secepatnya. Kalau perlu, keluar dari sini langsung menemui wanita
itu dan memutuskannya.
“Kami akan menyelidikinya,” kata Luo, lalu menghirup udara
sedalam dalamnya. Dia menghembuskan nafasnya sambil menegakkan punggungnya dari
kursi. “Kau tahu kalau informasi sekecil apa pun bisa menjadi jalan untuk
menangkap pelaku tabrak lari yang menimpamu ini?” Lassy mengangguk. “Kalau kau
teringat sesuatu, apa pun itu, kau bisa ceritakan pada Bryan dan dia akan
meneruskannya padaku. Atau langsung menghubungiku.”
Luo menarik selembar kartu nama dari saku dalam jas-nya lalu
menyerahkannya pada Lassy.
“Waktumu tersita terlalu banyak, aku harus menyudahi
interogasi ini sekarang. Terima kasih sudah bekerja sama.”
“Sama-sama.” Lassy menjabat tangan yang diulurkan Luo. Dia
juga segera menariknya setelah detektif itu seakan enggan untuk melepaskan
tautan tangan mereka. “Ngomong-ngomong, Detektif Bryan tidak datang hari ini?”
“Aku meminta waktu khusus denganmu. Dia akan datang setelah
aku pergi.” Padahal Luo sendiri tidak tahu di mana rekannya itu berada. Dari
tadi pagi ponselnya tidak aktif. Setahu Luo, kalau ponsel Bryan tidak aktif,
tidak ada orang yang tahu keberadaan lelaki itu kecuali Ren, kekasih kecil
temannya itu. “Aku pergi sekarang.”
Setelah berada di luar ruangan Lassy, dia segera mengambil
ponsel di saku, lalu menghubungi nomor Ren. Luo hampir yakin kalau Bryan ada di
sana. Dia sering menyarankan Bryan untuk meninggalkan gadis kuliahan itu, tapi
mereka masih saja berhubungan. Bukan Luo iri dengan hubungan mereka. Ren masih
muda, terlalu baik, terlalu naif, tidak cocok untuk lelaki seukuran Bryan. Dulu
gadis itu polos, sekarang kepolosannya sudah rusak gara-gara Bryan. Belum lagi
identitas Bryan sebagai detektif polisi, terlalu dekat dengan tindak
kriminalitas, takutnya Ren jadi sasaran balas dendam kriminal yang pernah
ditangkap Bryan. Ren jelas tak bisa membela diri.
“Detektif Luo,” sapa
Ren masih dengan suara seraknya. Dia baru bangun. “Mencari Bryan?”
Luo melihat arlojinya. Pukul sepuluh. Luo menghela nafas.
Dia tahu apa yang dilakukan Bryan pada Ren sampai jam segini mereka baru
bangun. Bryan benar-benar biadab. Dia mesum dan suka memanfaatkan Ren.
Sebenarnya semua detektif hampir sama biadabnya dengan Bryan, termasuk Luo
sendiri, tapi Luo masih tahu diri. Dia tak mungkin bertindak mesum pada anak
kecil. Anggap saja begitu, karena Ren selalu tampak seperti anak-anak di mata
Luo. Itu juga yang jadi alasannya menyuruh Bryan memutuskan Ren.
“Bangunkan dia. Katakan Kapten Bay menunggunya di rumah
sakit.”
“Kapten Bay?” Ren terdengar panik. Bryan akan dimarahi kalau tak
segera datang. “Iya, akan kubangunkan.” Ren memanggil-manggil Bryan.
Setelah mengatakan kalau Kapten Bay menunggunya di rumah sakit, Bryan mengumpat
beberapa kali.
“Kau bisa usir Kapten Bay dari sana?” pinta Bryan yang
berhasil mengambil alih ponsel Ren.
“Oh, Kapten Bay tidak ada di sini. Aku cuma ingin kau bangun
dan ke rumah sakit sekarang. Lassy butuh kau lindungi!” Bryan mendecih karena
telah dibohongi. “Aku tidak yakin ini benar atau tidak, tapi firasatku
mengatakan orang yang menginginkan kematiannya tak akan berhenti sebelum dia
benar-benar mati.”
“Firasatmu bagus.”
“Lassy tidak boleh terluka. Dia terlalu cantik untuk
mendapat luka lagi.”
“Kenapa kau jadi
melow seperti itu? Mengkhawatirkan Lassy pula?”
“Karena kau telah membohongiku.” Luo menebak Bryan akan
tertawa kalau dia bilang Lassy adalah wanita yang menarik, tapi dia tidak
peduli. “Dia wanita yang menarik.”
Tawa Bryan benar-benar pecah. Entah kenapa tawa itu
menghilang begitu saja.
“Aku mau tertawa lebih panjang, tapi Ren membungkam
mulutku.”
Sekarang giliran Luo yang tertawa. Luo tahu Bryan menginap
di kamar Ren tanpa diketahui orang tua kekasihnya itu. Kalau Bryan membuat gaduh,
mereka pasti akan ketahuan.
“Jadi itu yang membuatmu berubah pikiran?”
“Seperti yang kau bilang, tubuhnya bagus. Aku sempat
membayangkan halus kulitnya sebelum mendapatkan luka-luka itu.”
Bryan tertawa lagi, tapi tawanya hilang lagi.
“Dia cantik, pintar, kaya, dan tubuhnya bagus. Aku berharap
dia mau jadi kekasihku setelah kasus ini selesai.”
“Dia yang tak akan
mau jadi kekasihmu. Apa kau tak bisa lihat kalau kau bukan tipenya?”
“Siapa tahu setelah aku berhasil menemukan pelakunya, dia
akan merasa hutang budi padaku, lalu membayarnya dengan setuju jadi kekasihku.”
“Sepertinya kau
sedang bermimpi. Aku tak mau membahas mimpimu yang ketinggian itu. Aku akan
segera datang. Kau akan di sana sampai aku datang, kan?”
“Aku akan pergi. Teman Lassy ada di sini sampai kau datang.
busukmu!”
“Akan kulakukan!”
***
Suster berbalik setelah melihat Lassy tertidur. Tidak tega
membangunkan wanita itu untuk makan siang. Ketika suster hendak pergi, Bryan
telah ada di belakangnya.
“Makanan untuk Lassy?”
Suster itu mengangguk. “Nona Liem sedang tidur.”
“Berikan padaku. Aku tahu dia akan segera bangun. Nanti
kuberikan makanan itu padanya.”
Suster tidak curiga. Diserahkannya nampan itu pada Bryan.
Isinya makanan lengkap dan lezat, minuman manis, dan buah segar. Terlalu mewah,
harusnya bubur saja cukup.
Bryan membawanya masuk setelah suster itu pergi. Bukan
meletakkanya di meja dekat ranjang Lassy, tapi membawanya ke sofa. Sambil duduk
di sofa, dia memakannya. Meski Bryan sudah makan di rumah Ren, dia masih lapar.
Soalnya cuma sepiring berdua.
Lassy terbangun satu jam kemudian. Saat matanya terbuka,
pemandangan yang ada di hadapannya adalah muka Bryan. Lassy menyesal membuka
matanya terlalu cepat. Dia mau tidur lagi, sayangnya tidak bisa.
“Kudengar kau mau rawat jalan di rumah. Kenapa?”
“Bukan urusanmu!”
“Aku ditugaskan untuk melindungimu, jelas itu jadi
urusanku.”
”Aku tak menyukai rumah sakit.”
“Memangnya dokter mengizinkanmu pergi? Kau luka parah dan
baru saja menjalani operasi. Ini masih hari kedua kau berada di sini.”
“Aku akan pergi dari sini secepatnya!”
“Apa kau tahu kalau kau keluar dari sini aku akan
mengikutimu?”
Lassy tidak menjawab, tapi dia tahu.
“Kalau kau pulang, berarti aku akan tinggal di rumahmu juga.
Memangnya kau rela aku tinggal di sana? Kalau ada barang berharga yang kucuri,
bagaimana?”
“Kalau kau mencuri sesuatu di rumahku, aku bisa beli yang
baru,” kata Lassy, congkak. Dia memang kaya, pantas kalau mengatakan itu.
“Jangan coba-coba mencegahku keluar dari rumah sakit!”
Bryan tidak akan mencegahnya. Dia tahu dengan uangnya, Lassy
bisa melakukan apa pun, termasuk untuk keluar dari rumah sakit lebih cepat.
Kalau perlu, wanita itu bisa memindahkan rumah sakit beserta alat-alatnya ke
rumahnya. Bryan tak khawatir. Toh, walau Bryan sering bolak balik datang ke
berbagai rumah sakit demi pekerjaannya, dia tetap tak suka hawa-hawa magis dari
rumah sakit. Dia lebih tertarik dengan suasana yang nyaman dan hangat,
contohnya seperti kamarnya Ren.
Dia berharap rumah Lassy juga senyaman itu.
“Kapan kau akan pulang?”
“Tiga hari lagi.”
Bryan menyeringai, itu tandanya dokter telah mengelabuhinya.
Tiga hari lagi luka Lassy sudah mulai mengering. Kaki bekas operasiannya juga
sudah bisa digerakkan walau belum bisa berjalan. Sudah pantas kalau Lassy
diberikan rawat jalan. Wanita itu pintar, tapi tidak benar-benar pintar.
“Aku punya rumah yang besar. Punya banyak kamar, kau bisa
tidur di salah satunya.”
“Oh,” Pendapatnya tentang rumah besar sangat negatif. Sunyi,
sepi, dan mencekam, seperti rumah neneknya di kampung halaman, di kota kecil
yang jauh dari sini. “Semua keluargamu ada di luar negeri, kau tinggal dengan
siapa di rumah?”
“Aku punya dua pembantu, penjaga rumah dan sopir keluarga.
Rumahku tidak sesepi yang kau bayangkan.”
“Kupikir kau salah satu orang kaya yang tak dianggap oleh
keluarga. Keluargamu tak satu pun tinggal di sini. Setelah mereka dikabari
keadaanmu, tak seorang pun datang untuk melihatmu.”
Lassy tersenyum simpul untuk menyangkal pendapat Bryan.
“Riwayat keluargamu bagus, semua jadi orang kaya di luar
negeri. Tapi kenapa mereka tidak kembali ke sini kalau sudah sukses di luar
sana?”
Lassy selalu dibujuk untuk tinggal di luar negeri oleh
keluarganya, tapi dia keukeuh untuk tinggal di negara sendiri. Lassy mau
membuktikan kalau dengan tinggal di sini, dia juga bisa menjadi pembisnis kelas
atas. Keluarga Lassy turun temurun punya jiwa bisnis yang kental. Mulai kakek
buyutnya, kakeknya, ayah, dan paman-pamannya. Sepupunya dan Lassy sendiri,
semuanya sukses dengan bisnis masing-masing. Keluarga Lassy punya peruntungan
tersendiri di dunia bisnis, dan itu cuma terjadi bila mereka keluar dari negara
ini. Hampir seperti kutukan. Di luar negeri mereka menduduki list orang-orang kaya dunia, di dalam
negeri mereka merugi terus. Maka dari itu, Lassy mau membuktikan kalau kutukan
itu tidak benar.
“Mereka lebih suka begitu,” jawab Lassy santai. “Sepupuku
akan datang seminggu lagi. Itu tandanya keberadaanku selalu dianggap oleh
keluarga.”
Perut Lassy berbunyi.
Lassy lapar. Tadi pagi dia makan sangat sedikit karena harus
bertemu Luo. Setelah Luo pergi, dia tidur lama sekali. Sekarang perutnya
meminta jatah makanan.
Perut Lassy berbunyi sekali lagi. Setelah Lassy dan Bryan
mengabaikannya tadi, sekarang tak bisa lagi.
“Kau mau makan sesuatu?”
“Aku akan panggil suster. Mereka sudah terlambat dua jam untuk
memberikan makan siangku.”
“Sebenarnya suster sudah kemari. Dia meninggalkan makanan
untukmu, tapi karena kau tidur terlalu lama, aku memakannya. Kupikir kau tak
akan mau memakan makanan dingin,” terang Bryan sambil menunjuk meja di depan
sofa. Di sana ada piring bekas makanan yang dimaksud. Lassy sempat melihat ke
sana, lalu mengeluarkan ekspresi tertekan. “Jangan cemberut begitu. Aku akan
mengganti makananmu!”
“Aku tidak sedang cemberut!” sangkal Lassy. Dia sedang
pasang muka marah dan Bryan menganggapnya cemberut. Bryan memang rabun atau
begitu pikir Lassy. “Sudahlah, aku bisa beli makanan sendiri.”
“Kau tak bisa pergi kemana-mana.”
Memang Lassy tak bisa pergi kemana-mana, tapi dia bisa
menelepon. Lassy mengeluarkan ponsel dari balik bantalnya. Dia mendial nomor
dan meletakkan telepon itu di telinganya.
“Kau tak perlu menelepon, aku bisa keluar sebentar untuk
membelikanmu makanan,” kata Bryan, kalang kabut. Dia cemas kalau Lassy menyebut
namanya sebagai orang kurang ajar yang mencuri makan siang pasien. Kalau berita
seperti itu sampai ke telinga atasannya, dia bisa kena marah lagi. “Aku
benar-benar ingin menggantinya.”
“Tidak perlu!” tolak Lassy yang teleponnya masih belum
tersambung. “Aku bisa membeli makanan lain. Seperti yang kau tahu, aku punya banyak
uang kalau hanya untuk membeli makanan.”
Bryan mendengar nada-nada kesombongan dari Lassy.
Wanita itu sedang pamer kekayaan atau cuma perasaan Bryan
saja?
Setelah menunggu untuk beberapa detik, telepon Lassy
tersambung
“And, aku lapar sekali. Aku telat makan dua jam dan jatah
makan siangku dimakan seseorang yang tak dikenal.” Lassy berhenti sejenak
mendengarkan Andrew bicara dari seberang telepon. Andrew menyebutkan beberapa
jenis makanan yang ingin dibelikan untuk Lassy, dan semuanya memang makanan kesukaan
Lassy “Iya, kau tahu saja makanan kesukaanku. Terima kasih, And.”
Telepon ditutup tanpa basa-basi.
“Kau memang kaya dan diperhatikan banyak orang,” celetuk
Bryan agak tidak minat.
“Sekarang kau tahu itu!”
Lassy menyeringai. Membuat dirinya superior di depan Bryan,
rasanya sangat menyenangkan. Sedangkan Bryan hanya bisa menahan nafas, sebelum
kemudian menghembuskannya dengan diam-diam.
Cantik
memang, sayangnya sombong dan pemarah, batin
Bryan.