
Untuk kesekian kalinya ponsel di meja terus bergetar.
Pemiliknya yang dari tadi mencoba untuk mengabaikan, sekarang merasa amat
terganggu. Ini lewat tengah malam dan siapa orang yang tega mengganggu tidur
seorang gadis cantik seantero kota ini?
Pemilik ponsel itu menyerah. Dengan terus menggerutu,
diulurkan tangannya untuk meraih ponsel di nakas. Setelah meraba-raba sejenak
dia mendapatkan telepon genggam itu. Dia menggeser tanda angkat di layar sentuh
tanpa melihat nama makhluk terkutuk mana yang berani mengganggunya. Dia akan
memarahinya, atau kalau tega dia akan membiarkan telepon itu terangkat lalu
meletakkannya di meja tanpa repot-repot mendengar perkataan penelepon.
“Halo!” jawabnya dengan suara malas campur marah.
“Ren!” Suara itu langsung mengenyahkan semua pemikiran buruknya. Kantuknya pun
hilang dalam sekejap. "Kau
bisa buka jendelamu, aku ada di luar sekarang!"
Ren segera bangkit dari kasurnya. Dia tahu siapa yang
sedang menelepon. Itu Bryan, kekasih tercintanya. Enam bulan yang lalu mereka
bertemu. Dan itu adalah pertemuan terhebat menurut Ren. Seperti kisah yang ada
di TV-TV. Seorang mahasiswa bertemu pujaan hatinya di area kampus. Pujaan
hatinya adalah seniornya. Ini klise sekali.
Tetapi kisah cinta Ren dan Bryan tidak cuma seperti
itu. Bryan bukan mahasiswa, itu kenyataannya. Ketika bertemu Ren di kampus, dia
sedang menyamar. Bryan sedang menyelidiki pola penyebaran narkoba di kalangan
anak sekolah. Dari kampus itulah Bryan dan teman-temannya menangkap pengedar
narkoba kelas menengah. Ren hampir saja menjadi korban benda haram itu kalau Bryan
tak segera datang mencegahnya. Pertemuan pertama itulah yang membuat mereka
saling jatuh cinta lalu memutuskan berpacaran setelahnya.
“Brey, kenapa tengah malam begini kau datang kemari?”
“Aku perlu
tempat menginap.”
“Kau mau menginap di sini?” Ren tergesa-gesa memakai
sandal bulunya lalu bergegas ke jendela kamarnya. “Kenapa dengan rumahmu?”
“Kunci
rumahku tertinggal di kantor. Aku baru sadar saat sudah di tengah jalan. Daripada
aku kembali ke kantor, kuputuskan untuk numpang tidur saja di rumahmu.”
Rumah Bryan dan Ren itu berlawanan arah dari kantor
polisi tempat Bryan bertugas. Kalau Bryan bilang lebih memilih menginap di
rumah Ren daripada kembali ke kantor untuk mengambil kunci rumah, siapa juga
yang akan percaya?
Ren membuka jendela kamarnya. Di luar memang ada Bryan
yang segera menoleh ke atas tepat setelah jendela dibuka. Bryan melambaikan
tangannya namun Ren menanggapinya dengan senyum kecut. Ren meminta Bryan segera
naik dan menyuruhnya berhati-hati agar tak menimbulkan suara saat memanjat ke
kamarnya.
Kedatangan Bryan memang bukan hal asing di rumah ini,
tapi soal menginap, tentu saja orang tua Ren tak akan mengizinkan. Maka dari
itu, setiap Bryan ingin menginap, dia akan memanjat dinding belakang kamar Ren
yang ada di lantai dua. Bryan akan datang setelah keluarga Ren sudah mulai
tidur. Dia masuk lewat jendela dan keluar pagi-pagi sekali sebelum keluarga Ren
bangun.
Bryan mengawasi sekitar, kalau ada orang lewat ketika
dia memanjat dinding nanti dia dianggap pencuri. Setelah menurutnya aman, Bryan
segera mengambil ancang-ancang. Dia melompat ke papan kayu yang sengaja dibuat
Ren di bawah jendela kamarnya, agar memudahkan Bryan masuk. Bryan tinggal
berdiri di papan itu. Dia hanya perlu meraih tepian jendela, mengangkat
tubuhnya lalu masuk ke kamar. Ren menutup kembali jendela kamarnya, menguncinya
rapat. Dia juga menutup gorden jendela itu.
“Brey, ada apa datang kemari malam-malam begini?”
“Sudah kubilang aku mau menginap.” Bryan mengantongi
ponselnya ke saku jaket setelah mematikannya. Dia melepas jaket itu dan
melemparkannya ke kursi kayu. “Kunci rumahku tertinggal di kantor, tadi sudah
kukatakan padamu.”
Bryan mendekat pada Ren, tapi gadis kuliahan itu
segera beranjak ke tepian tempat tidurnya. Dia mematikan lampu kecil di atas
nakas. Ren harus memastikan keberadaan Bryan di rumah ini tak diketahui orang.
Dengan adanya cahaya, bayanganya dan Bryan bisa saja ditangkap oleh orang di
luar kamar. Ren tak mau ketahuan sering menyembunyikan Bryan di kamarnya.
Setelah mematikan lampu, dia kembali mendekat pada
Bryan.
"Kunci rumahmu tertinggal di kantor?” Ren
mencebikkan bibirnya. “Aku tidak percaya. Lagipula kau selalu meletakkan kunci
cadangan rumahmu di dalam pot tanaman"
Bryan berhasil meraih pinggul Ren. Dia membawa Ren
menempel padanya. “Baiklah, akan kukatakan yang sebenarnya. Aku merindukanmu.”
Ren meringis lucu mendengar Bryan menggombal.
“Terakhir aku menginap di sini itu sebulan yang lalu.
Aku merindukan ranjang empuk dan selimut hangatmu.”
Bryan punya rumah yang bisa dibilang bagus. Bryan
membayar orang untuk membersihkannya setiap hari, tapi nyatanya dia sendiri
jarang di rumah. Ranjangnya terlihat sangat mewah, tapi karena Bryan jarang
tidur di situ, ranjang itu jadi terkesan dingin. Beda dengan ranjang di kamar
kekasihnya. Walau tak sebesar punyanya, milik Ren hangat dan nyaman. Bryan suka
tidur di situ, apalagi kalau tidurnya dengan si empunya ranjang.
“Tapi kenapa malam sekali kau kemari, kau mengganggu
tidurku?”
“Maafkan aku kalau begitu!” Bryan menyatukan bibir-bibir
mereka untuk beberapa saat. “Aku ada pekerjaan baru yang sangat menyita
waktuku. Aku lelah sekali dan cuma dengan melihatmu lelahku akan hilang.”
Meski Bryan adalah detektif yang kaku, dia suka
menggombal. Buktinya Ren selalu digombalinya. Bryan senang sekali mengumbar
cinta di hadapan kekasih kecilnya itu, berbanding terbalik kalau sudah di
lapangan. Mulutnya itu lebih sering mencaci dari pada berkata baik.
“Ren, katakan padaku kau memaafkanku?”
“Lagipula kau sudah di sini.”
“Akan kutebus kesalahanku ini nanti.”
“Dengan apa?” Ren membalas dengan mengalungkan
lengannya ke leher Bryan.
“Dengan mengajakmu liburan mungkin. Seperti yang kau inginkan
selama ini. Kau ingin berlarian, bermain pasir, dan berenang di pantai kan?”
“Ya ampun, Brey. Kau menggambarkan keinginanku seperti
aku ini anak kecil saja.”
“Kau memang anak kecil bagiku. Anak kecil yang sudah
mencuri hatiku.”
Ren menghela nafasnya, mengabaikan gombalan Bryan.
Bryan mengangkat tubuh kekasihnya. Dia membawanya ke
ranjang dan menjatuhkannya di atas kasur. Bryan sendiri segera melepas
sepatunya, lalu menyusul Ren. Bryan menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya dan Ren,
kemudian memeluk tubuh kekasihnya itu posesif.
“Begini baru nyaman,” celetuk Bryan sambil mengeratkan
lengannya ke tubuh Ren.
“Brey.”
“Hm?”
“Aku tahu kau mencintai pekerjaanmu. Aku juga suka kau
punya pekerjaan seperti itu, tapi kau harus janji untuk terus berhati-hati.
Berjanji jangan sampai terluka sedikit pun.”
“Memangnya kenapa? Kau tak percaya padaku. Sudah kukatakan
aku ini detektif hebat, tak akan terjadi apa-apa denganku.”
“Kau selalu sombong, Brey.”
“Aku tidak sombong, ini namanya optimis. Selama kau
jadi kekasihku, kapan kau tak berdoa untuk keselamatanku? Tak pernah kan? Maka
dari itu aku akan selalu baik-baik saja.”
“Tapi aku yang selalu khawatir.”
Bryan tahu pekerjaannya beresiko. Bryan tahu
keluarganya sama khawatirnya seperti Ren, tapi itu pekerjaan Bryan. Dia suka
jadi detektif. Dia suka menantang bahaya. Dia juga lebih suka suara berondongan
peluru daripada suara musik. Jadi detektif itu adalah hidupnya. Dan kalau semua
orang mengkhawatirkannya, dia cukup menjaga agar dirinya tetap hidup tiap kali
selesai tugas.
“Kau tahu kan kalau jadi detektif itu sudah jadi
cita-citaku sejak kecil?”
“Kau tak mungkin meninggalkannya?” Ren bergumam agak
keras. Kepalan tangannya dipukulkan ringan ke dada Bryan. “Aku tahu itu. Tapi
kau harus berjanji akan tetap hidup untukku.”
“Pasti akan kulakukan segala cara untuk tetap hidup,
tapi kau harus membantuku juga.” Bryan melonggarkan pelukannya. Dia memundurkan
posisi kepala Ren cuma untuk menyematkan ciuman di keningnya. “Beberapa hari
ini dingin sekali dan tadi aku harus berdiri di luar rumahmu hampir setengah
jam untuk memastikan keadaan aman. Kau sudah lihat sendiri separo badanku
“Ya, bahkan aku merasa seperti memeluk balok es,” lanjut
Ren. “Tapi aku tahu ke arah mana kau bicara.”
“Kalau kau tak menolongku, aku akan mati membeku.”
Ren hampir-hampir menjauhkan diri dari Bryan. “Kau
bisa mandi air panas.”
“Ada yang lebih ampuh dari air panas.” Bahasa
detektifnya adalah misi yang hanya bisa dipecahkan dengan kerja tim. Jadi perlu
lebih dari satu orang untuk melakukan pekerjaan itu. Bryan sudah menetapkan Ren
sebagai partner-nya malam ini, mereka harus saling bantu. Sekarang Bryan setengah
membeku, Ren sebagai partner harusnya membantu mencairkannya. “Bagaimana? Kau
setuju tidak?”
Ren mendengus, tapi dia tak pernah menolak.
“Kau ada kuliah pagi?”
“Tidak.”
“Aku beruntung malam ini.” Bryan menggulingkan Ren
hingga telentang. Dia sendiri menyibakkan selimut lalu merangkak naik ke atas tubuh
Ren. “Aku selalu suka menginap di sini.”
Bryan menundukkan wajahnya, dia menelusupkan kepalanya
di sekitaran leher Ren. Sedang mencari celah, kulit Ren yang mana tak tertutup
kain piyama, itulah yang diciumnya.
“Aku tidak pernah bilang iya, Brey,” protes Ren walau
dirinya sendiri sudah menggeliat-geliat kegelian.
“Tapi kau juga tak bilang tidak,” kata Bryan di sela
ciuman-ciumannya.
Bryan menangkup muka Ren dengan kedua telapak
tangannya. Dia sempatkan tersenyum pada kekasih kecilnya itu sebelum menghujani
mukanya dengan ciuman.
***
Lassy terkantuk-kantuk, tapi tiap kali kesadarannya
terenggut rasa kantuk, tiap kali itu juga matanya terjaga. Dia sedang sendirian
sekarang. Kesepian di ruang rawat yang luas di rumah sakit.
Meski Lassy sudah lama berdamai dengan kesendirian,
dia tidak benar-benar sanggup mengatasi kesepiannya. Selama ini dia bersikeras
untuk tinggal sendirian di negara ini, tapi nyatanya dia tidak benar-benar
sanggup. Bukan karena tidak sanggup beradaptasi dengan kerasnya dunia kerja,
tapi tidak sanggup jauh dari orang-orang yang dicintainya. Jauh dari keluarga,
jauh dari teman, dan sekarang jauh dari pembantu, sopir, dan penjaga rumahnya.
Dia benar-benar sendirian.
Ngomong-ngomong soal sendirian, detektif yang katanya
akan ada di sekitarnya sampai tengah malam, malah menghilang sebelum tengah
malam. Mengingat lelaki itu, membuat rasa jengkel Lassy tumbuh makin dalam.
Ingin mencakar wajahnya sampai berdarah-darah. Ingin menempeleng kepalanya
sampai gegar otak. Pokoknya ingin menganiaya Bryan sampai lelaki itu bersujud
minta ampun padanya. Baru setelah itu memasukkannya dalam karung, lalu
melemparkannya ke laut lepas.
Lassy menghela napas berat. Kenapa dia memikirkan
Bryan? Membuat pikirannya jadi tambah rumit saja.
Dia ingin tidur, tapi tiba-tiba kepikiran tentang
tabrak lari yang dialaminya. Masak iya, Martha yang melakukannya? Kelihatannya
tidak mungkin. Sedendam-dendamnya Martha pada orang lain, untuk melakukan
tindak kejahatan tidaklah mungkin. Martha bukan tipe orang yang seperti itu.
Ketika dia sedang memikirkan siapa orang dibalik
tabrak lari itu, pintu ruang rawatnya didorong pelan. Dalam ruangan agak
sedikit gelap. Lampu utama dimatikan, menyisakan lampu kecil untuk berjaga-jaga
kalau pasien bangun dan ingin meninggalkan ranjang tanpa kesulitan. Lassy
menduga yang tidak-tidak. Jika memang benar ada orang yang ingin membunuhnya,
tentunya orang itu tidak akan berhenti sebelum dia mati.
Mungkinkah pembunuh itu datang ke sini sekarang?
Lassy tiba-tiba punya keinginan mengutuk Bryan.
Detektif itu meninggalkannya sendirian di saat dirinya butuh dilindungi.
Saat Lassy benar-benar tak bisa menggerakkan badannya,
terutama kakinya, hal yang dia lakukan untuk melindungi diri adalah meraih
botol air dari meja sebelah ranjangnya. Menyembunyikannya dalam selimut,
sementara dia pura-pura tidur.
Pintu didorong makin lebar, pelan-pelan dua orang
masuk ke dalam ruangan. Satu berbisik, satu lainnya menimpali dengan bisikan
juga. Satu mendebat dengan keras, dan satu lainnya mendesah dengan lemah.
“Lihat, Lassy tidur dengan baik sekarang ini!” kata
seorang yang tadinya mendesah lemah. Suara wanita. “Kalau kau berkeinginan
menjagainya di sini, kenapa harus menyeretku serta? Aku punya pekerjaan penting
pagi-pagi besok. Dan dengan kau seret ke sini, aku tidak jamin bisa
menyelesaikan pekerjaanku tepat waktu!” eluhnya keras.
“Pekerjaan apa?” bantah suara lainnya. Suara lelaki.
“Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan di kantor, kan?” Dia mendengus
dengan keji. “Diam-diam kau punya pekerjaan sambilan. Pasti berkaitan dengan
lelaki yang berusaha kau dapatkan itu!”
“Diam kau!”
“Ya ya ya!” Dia berkata dengan nada malas. “Kau selalu
menang!”
“Aku mau langsung tidur!” Katanya sambil berjalan
pelan juga ke sofa terdekat. Menempatkan pantatnya dengan tepat sofa, kemudian
menata bantal sofa di tepi tempat duduk panjang itu. “Sementara aku tidur,
jangan coba macam-macam dengan Lassy!”
“Macam-macam apa? Aku tidak seperti yang kau
pikirkan!”
Sementara dua tamu tak diundang itu melakukan
interaksi yang tidak membahayakan, Lassy menarik kesimpulan kalau keduanya
adalah teman dekatnya, Andrew dan Daniela. Lassy lega sekaligus bersyukur.
Dalam keadaan sendirian, kedua temannya itu mau datang untuk menemaninya.
Tiba-tiba dadanya terasa hangat. Kesepian karena jauh dari keluarga tidak lagi
terasa begitu menyesakkan.
Lassy berdehem untuk mengkode teman-temannya bahwa dia
mendengar percakapan mereka. Daniela memekik kaget. Andrew buru-buru
menghampiri sakelar lampu dan menyalakan lampu utama.
“Ada yang masih berusaha membuat menu sarapan untuk
dikirim ke perusahan sebelah ternyata!” celetuk Lassy setelah lampu utama
dinyalakan Andrew.
“Ah, kenapa kau tidak tidur saja!” eluh Daniela.
Dia cemberut. Menjadikan wajah cantiknya jadi tidak
cantik lagi, terutama setelah mukanya ditekuk-tekuk seperti surat kabar lama.
Daniela menjadi penggemar manager pemasaran perusahaan
yang bergerak di minuman kemasan. Kantornya ada di gedung sebelah kantor
mereka. Sejak pertama kali bertemu, Daniela menyatakan tertarik dengan lelaki
itu. Sudah melakukan banyak cara, tapi entah kenapa lelaki itu sama sekali
tidak menangkap sinyal yang diberikan Daniela. Semua orang curiga lelaki tu
pura-pura tidak tahu kalau Daniela menyukainya. Meski begitu Daniela belum menyerah
sampai saat ini. Ya, dia memang wanita yang gigih, sekaligus agak-agak gila.
“Dan ...”
“Tutup mulutmu. Aku mengantuk!” Daniela membungkam
Lassy bukan karena dia benar-benar mengantuk. Dia tidak mau dinasehati soal
lelaki dari kantor sebelah. “Aku mau tidur. Jangan bangunkan aku kecuali ada
gempa bumi berkekuatan lebih dari 7 skala richter!” Dia merebahkan diri di sofa. Memejamkan
matanya seketika itu juga.
Lassy dan Andrew tahu dia tidak akan tidur secepat
itu. Tetapi mereka tidak akan menganggu Daniela sekarang ini.
Andrew mematikan lampu utama lagi. Dia mendatangi
ranjang Lassy, menarik kursi dan duduk tepat di sebelah ranjang.
“Kenapa kau belum tidur?”
Lassy mengeluarkan botol minum dari dalam selimut.
Meletakkannya kembali di meja.
“Untuk apa kau memasukkan botol air dalam selimut?”
Lassy meringis kecil. “Kukira kalian penyusup. Aku
tidak bisa meraih apa pun kecuali botol air ini. Untuk berjaga-jaga saja,”
katanya sambil tertawa garing.
“Kalau ada penyusup, kau pukul dengan botol air
sekecil itu pun tidak akan mempan.” Andrew menopang dagu dengan kedua
tangannya, sementara pandangannya di arahkan pada Lassy yang masih rebahan di
ranjang rawat. “Jadi, kenapa kau belum tidur lewat tengah malam begini?”
Lassy mengantuk tadi, entah kenapa tidak bisa tidur sekarang.
“Aku terlalu banyak tidur siang tadi. Sekarang tidak
bisa tidur. Beruntung kau datang ke sini. Kalau kau tidak mengantuk juga,
temani aku ngobrol, ya!”
Menemani Lassy mengobrol adalah hal yang selalu
disukai Andrew. Dia menyukai Lassy sejak lama, kalau bisa ngobrol selain yang
berkaitan dengan pekerjaan, Andrew tidak mungkin akan menolak meski harus
mengorbankan waktu istirahatnya sekalipun.