
Suara tembakan terdengar berulang di dalam ruang latihan.
Setelah tiga tembakan terakhir, Bryan memberanikan diri
mendekat pada Luo. Luo menarik kertas penuh lingkaran dengan bentuk badan
manusia itu ke arahnya. Dia meneliti. Sepuluh tembakannya tak ada yang keluar
dari tiga lingkaran terdalam.
“Dua tembakan meleset.”
“Itu tidak meleset. Paru-parunya masih kena.”
“Tapi kalau yang kau tembak penjahat profesional, dia tidak
akan mati,” Bryan mencoba memprovokasi. “Dia bahkan masih bisa membalas
tembakanmu.”
Tidak masalah. Toh, Luo cuma latihan. Kalau dibandingkan
dengan Bryan, dia jauh lebih baik. Terakhir mereka adu tembak, Luo ada di
posisi pertama dan Bryan di posisi empat. Luo pernah jadi penembak jitu di
satuan khusus sebelum dipindahtugaskan karena prestasinya terus menurun. Dia
terlalu banyak tingkah dan penyamarannya sering gagal karena hal-hal sepele.
Dipindahkan di bagian investigasi kriminal sudah beruntung, daripada
dibebastugaskan selamanya.
Luo mengunci pistol tembaknya, meletakkan pistol itu di
meja.
“Bagaimana rumah Lassy, bagus kan? Besar dan mewah.” Luo
mengajak Bryan keluar dari ruang latihan tembak. Mereka berjalan ke ruang lain
dan duduk di bangku panjang. “Kalau kau tak betah di sana, aku bisa
menggantikanmu,” katanya sambil menyelonjorkan kaki. “Kalau kau butuh teman,
aku bisa menemanimu.”
“Menemaniku atau menemani Lassy?”
Luo nyengir lebar menanggapi perkataan itu.
"Kenapa kau tak pasang kamera di sana? Rumah itu tak
bisa dijaga dua tiga orang saja.”
“Lassy tak mengizinkan. Dia bilang akan ada adegan panas di
antara kalian. Dia tak mau terekam CCTV.”
Luo tak suka saat Lassy mengatakan itu. Kalau yang
ditugaskan untuk memacari Lassy adalah dirinya, dia akan setuju penolakannya.
Padahal pemasangan CCTV demi kebaikan Lassy juga.
“Aku cuma berharap kau tak terbawa emosi lalu benar-benar
melakukan adegan panas dengannya.” Luo tak bisa memaksa, karena bagaimanapun
pemasangan kamera dan penyadap harus atas persetujuan pemilik.
“Aku bukan orang yang seperti itu. Lassy yang menyukaiku,
bukan sebaliknya. Lagipula kau tahu aku punya kekasih yang jauh lebih manis
darinya.”
Luo menyarankan untuk kembali ke kantor. Ada berkas yang
ingin ditunjukkannya. Bryan ikut saja. Jarak ruang latihan tembak dan kantor
kerja mereka tak begitu jauh. Cukup menyusuri lorong-lorong sepanjang dua ratus
meter, berputar ke depan dan di sanalah jalan masuk kantor mereka.
Sembari berjalan, Bryan menambahkan, “Lassy bukan orang yang
spesial tanpa jabatan dan hartanya.”
“Tapi bagiku dia spesial. Tubuhnya bagus.” Itu adalah hal
yang selalu dilihat Luo pertama kali. Dia suka wanita-wanita yang punya tubuh
bagus. Lassy adalah wanita kesekian yang disebutnya demikian. “Aku pernah
membayangkannya telanjang di depanku.”
“Jangan bayangkan lagi karena sekarang dia kekasihku.”
“Cuma untuk sementara,” tangkis Luo. “Ngomong-ngomong soal
kekasihmu, aku bertemu Ren di malam aku akan menginterogasi Randy.”
Malam itu, saat Luo meminta Bryan join dengannya di Bar, Bryan tak bisa datang. Luo berhasil
memasukkan obat ke minuman Randy, dia bahkan sudah membawa lelaki itu keluar
Bar. Hanya saja saat hendak masuk mobil, Luo melihat Ren ada di seberang jalan.
Tampaknya anak kuliahan itu kemalaman dan sedang menunggu taksi yang tak
kunjung lewat. Walau Luo membutuhkan informasi dari Randy, dia tak mungkin
membiarkan Ren sendirian di jalanan malam itu. Dia menelepon Ren dan
menyuruhnya menunggu, sedangkan dia sendiri mengantar Randy ke hotel terdekat,
memesankan kamar, kemudian menyerahkan lelaki itu pada petugas hotel untuk
diurus.
“Lalu informasinya?” tanya Bryan sambil membuka ruang kantor
mereka. Kantornya sepi, di ruangan luas itu hanya ada tidak lebih dari sepuluh
pekerja. Yang lainnya kemungkinan ada tugas lapangan.
“Kau tak tanyakan keadaan Ren dulu?” Luo duduk di kursinya.
“Kalau pulang denganmu, dia pasti dalam keadaan baik-baik
saja.”
Benar, Ren baik-baik saja. Tetapi Luo jadi berpikir kalau
Bryan benar-benar telah membagi cintanya dengan Lassy.
“Aku ini detektif profesional. Agar antara Lassy dan Ren tak
tahu satu sama lain, aku harus bisa membagi waktu.”
Bermain kucing-kucingan dengan semua orang lebih tepatnya.
Bryan menyembunyikan kesepakatannya dengan Lassy. Dia mengaku tak menyukai
Lassy dan setuju memacarinya atas dasar tugas. Harus berpura-pura juga bahwa
Lassy tak tahu tentang Ren, padahal wanita itu tahu segalanya.
“Informasinya?” tanyanya ulang.
Luo membuka laci, mengeluarkan map paling atas dan
menyerahkannya pada Bryan. “Itu kususun semalam.” Bryan langsung membaca kertas
pertama. “Randy punya banyak kekasih di luar sana. Dia bilang kalau berhasil
mendapatkan Lassy, dia akan berhenti jadi lelaki penggoda.”
“Dia jenis penggoda yang terhormat,” celetuk Bryan sambil
memandangi foto-foto Randy yang pernah dilihatnya sebelum ini. Beberapa foto
lainnya menunjukkan muka seorang wanita yang mirip dengan Randy. Bahkan ada foto
mereka berdua. “Siapa wanita ini?”
“Bianca Loren, kakak kandung Randy. Mereka berdua mirip satu
sama lain, bukan hanya mirip wajahnya, tapi juga mirip kelakuannya.” Kakak-adik
Loren itu sama-sama memiliki jiwa penggoda. Randy mengencani wanita-wanita
kaya, Bianca juga. Banyak lelaki kaya yang pernah dikencaninya.”
Nama-nama wanita kaya itu tengah dibaca Bryan. Kebanyakan
dari mereka adalah pengusaha muda kaya atau wanita dengan warisan berlimpah.
Dari kencannya itu, Randy mendapatkan banyak uang.
“Coba baca nama-nama lelaki yang pernah dikencani Bianca!”
Bryan lanjut membaca daftar.
Shaun Wine di urutan teratas, pemilik perusahaan kontruksi
berskala global. Pernah menjadikan Bianca sebagai selingkuhan meski sudah
memacari putri rekan bisnisnya. Mereka berhubungan selama dua tahun.
Di urutan kedua ada Mattew, dia pernah menjadi menteri olah
raga. Dia pemilik klub sepak bola di devisi utama. Juga punya beberapa persen
saham di beberapa klub sepak bola di negara tetangga, dan beberapa saham di
cabang olah raga lain. Dia punya sport center terbesar di ibu kota. Ada Gym,
sanggar yoga, pelatihan klub karate, dan banyak lagi jenis olahraga yang
dikelolanya. Bisnisnya tersebar di semua kota di negara ini.
“Apa mereka ada hubungannya dengan Lassy?”
Luo angkat bahu, tidak yakin. Tapi informasi
sebanyak-banyaknya kadang kala bisa membantu memecahkan kasus.
“Mereka pernah atau masih menjadi klien di perusahaan Lassy.”
Bryan ber-oh panjang.
“Kita masih mengusut sindikat perampokan mobil besar-besaran
di Showroom Mikey Jordan.”
Luo menjentikkan jarinya memaksa Bryan mengingat kejadian
tiga bulan yang lalu. Kasusnya dilimpahkan pada duo detektif lain yang masih
satu tim dengan mereka. Kasus itu masih belum jelas sampai sekarang. Seakan
perampoknya menghilang dari permukaan bumi.
“Semua mobil ditinggalkan di pelabuhan tanpa lecet sedikit
pun.”
Mikey masuk di daftar ketiga. Diterangkan dalam kertas yang
dibaca Bryan bahwa pengusaha jual beli mobil itu, sekali dua kali mem-booking Bianca sebagai teman kencan.
“Cuma ada satu mobil yang benar-benar hilang. Mikey sendiri
bukan kandidat tersangka, tapi kejadian yang menimpanya bisa dijadikan referensi
pencurian mobil Martha.”
Martha mengalami pencurian yang sama. Sebagian mobilnya
ditemukan dalam keadaan utuh dan dua lainnya hilang. Bisa jadi pencurian itu
dilakukan oleh kelompok yang sama. Pertanyaannya sekarang, apa hilangnya mobil
Martha dan Mikey ada hubungannya dengan kasus tabrak lari Lassy?
Tim sudah dibentuk. Yang tadinya menangani pencurian di Showroom Mikey, ditambahkan personil
untuk mengusut pencurian mobil Martha. Siapa tahu dua kasus itu ada
hubungannya. Tim yang mengurusi kasus Lassy, menuangkan laporannya di lembar
belakang yang akan dibaca Bryan.
Martha masuk sebagai kandidat penabrak atau dalang dibalik
tabrakan yang dialami Lassy, tapi sisi namanya dicentang oleh Luo, yang berarti
Martha sudah diselidiki secara mendalam. Toh, orangnya masih belum sadar hingga
saat ini.
Kandidat lainnya adalah Cassy Liem, dia mantan model, desaigner, pemilik butik, dan pemilik
agensi model. Lahir di kota Beta, sekarang tinggal dan berkarir di luar negeri.
Diterangkan bahwa Cassy Liem adalah kerabat dari Lassy. Ibu
Cassy dan ayah Lassy adalah saudara. Penemuan penyidik mengatakan bahwa Cassy
sering datang menemu Lassy. Dipastikan bahwa wanita itu adalah utusan keluarga
untuk membujuk Lassy pindah ke luar negeri. Kedatangannya setahun yang lalu
telah menyabotase perusahaan Lassy hingga saham perusahaan turun drastis. Bulan
berikutnya, lima klien yang mendaftar pembuatan iklan tiba-tiba mengundurkan
diri. Dan yang terjadi belum lama ini, dua bulan yang lalu tepatnya, aset
perusahaan berpindah nama menjadi milik Cassy.
“Lassy tidak lagi kaya?”
Luo menggeleng. “Semua kekayaannya ditukar dengan aset Cassy
di luar negeri,” terangnya. “Saat ini Lassy dan teman-temannya mengusahakan
pertukaran kembali. Mereka tak ingin berpindah dari sini.”
“Orang ini cantik.”
“Bukan hanya cantik, tapi juga cerdik. Tapi sayangnya
kelakuannya tak secantik wajahnya.” Luo teringat penjelasan Kapten Bay tadi
pagi. Keluarga Lassy bisa menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan
mereka, dan melukai Lassy juga opsi bagi mereka. Tabrakan hebat itu pun bisa
jadi mereka yang merancangnya. “Cassy pernah meracuni Lassy. Tujuannya
melumpuhkan syaraf otak, lalu memanipulasi pikirannya.”
“Hanya agar wanita itu bisa dibawa pergi dari sini?”
“Ya.” Berlebihan kedengarannya. Melukai anggota keluarga
cuma untuk membuatnya keluar dari negara sendiri. “Karena dosis yang digunakan
terlalu tinggi, tubuh Lassy tak mampu menerimanya. Dia koma tiga hari walau
racun itu sudah dikeluarkan dari tubuhnya. Beruntung dia bisa hidup lagi dan
gembiranya ... otaknya sehat. Dia seperti terlahir kembali dengan volume otak
lebih besar. Maka dari itu, Lassy jadi lebih jenius akhir-akhir ini.”
Apa itu yang membuat Lassy mampu menebak banyak hal?pikir Bryan serius.
“Mungkin dialah sepupu yang akan datang. Kau harus hati-hati
saat menghadapinya nanti.”
“Aku mahir dalam hal ini.”
“No No No, bukan itu!” Luo menggerak-gerakkan telunjuknya. “Hati-hati agar kau tak tergoda
dengannya. Jangan sampai kau mentiga dengan Cassy juga!”
Bryan mencebikkan bibirnya.
“Aku serius. Dilihat dari wajahnya, dia tipe wanita penggoda.”
“Dilihat dari wajahku, aku bukan lelaki yang mudah tergoda,” balas Bryan.
Luo menarik kembali map di tangan Bryan padahal partner-nya belum selesai membaca
lembar-lembar lain. Seharusnya Bryan tak tahu masalah ini, dia cuma ditugaskan
menjagai Lassy. Soal penyelidikan, penyergapan, serta lain-lain dilakukan oleh
Luo dan kawan-kawannya. Luo tahu Bryan akan gatal kalau tak bekerja di
lapangan, jadi sedikit informasi akan menyejukkan pikiran temannya itu. Bryan hanya
perlu bersyukur karena Luo memberinya bocoran.
“Aku akan menceritakan lebih banyak kalau sudah dapat
bukti-bukti lain.” Nampaknya Luo sudah mengantongi banyak petunjuk. “Segera ada
pengejaran dan penangkapan, setelah itu kau baru boleh tahu cerita selanjutnya.”
“Ck!” Bryan kesal.
“Sudahlah, kau kembali saja ke rumah kekasih barumu. Ingat,
nanti kalau Cassy datang, kau harus bisa jaga diri!” tutur Luo. “Jangan sampai
tertarik untuk merayunya. Aku takut dia menusukmu dari belakang!” tambahnya
sambil tertawa terpingkal-pingkal.
“Tidak lucu!” celetuk Bryan.
Kalimat seperti itu cocoknya ditujukan untuk Luo, bukan
padanya. Bryan masih punya otak kalau harus merayu sepupu Lassy. Lagipula dia
sudah punya dua kekasih, tidak merasa kekurangan lagi.
“Kau tak mau makan malam denganku sebelum aku kembali?”
Luo melihat jam tangannya. Ini masih jauh dari jam makan
malam, tapi kalau Bryan menawarkan, biasanya dialah yang membayar. Sekalian
menghemat uangnya, Luo mengiyakan.
“Aku suka masakan di tempat Alan. Kedainya tidak begitu
ramai kalau jam segini.”