
Chang benar-benar kalap, dia menangkap orang sesukanya.
Shaun Wine, Mikey Jordan dan Matthew. Dia mau menangkap lebih banyak lagi, tapi
orang yang diinginkannya tidak diketemukannya. Hanya tiga orang itu yang
akhirnya dipenjarakan tanpa bukti apa pun. Chang melarang siapa pun membukakan
pintu sel mereka bertiga tanpa izinnya. Bahkan dia mengancam akan menembak
kalau ada yang berani meski itu Kapten Bay sendiri. Dia tak punya bukti memang,
tapi instingnya menyuruh demikian.
“Aku baru saja melakukan video call dengan Cassy Liem, dia
benar-benar ada di Italia sekarang ini. Dia wanita yang cantik, seksi, dan
kaya,” puji Narita dengan muka muram. Diam-diam iri oleh seluruh keturunan Liem
yang mempunyai banyak kelebihan. Kenapa dia tidak lahir di keluarga itu juga?
“Wajahnya mengingatkanku pada seseorang.”
“Siapa?”
“Model dan artis Demi Alexander,” jawabnya. “Aku pernah
menghadiri fans meeting-nya.”
“Tangkap dia!” perintah Chang.
“Kau gila. Atas dasar apa dia harus ditangkap? Karena dia
mirip dengan Cassy?” cibir Narita.
“Kau benar, aku gila,” eluhnya sendiri.
“Bagus kau sadar. Sekarang lepaskan tiga pembisnis yang kau
penjarakan itu!”
“Tidak, tidak. Itu lain soal. Mereka ada hubungan dengan
kasus ini. Instingku bilang begitu.”
“Hanya modal insting? Sinting kau!” maki Narita. “Tunggu
Kapten Bay tahu dan kau yang akan menggantikan ketiga orang itu dalam sel.”
“Dari pada kau mengoceh terus, carikan aku tiket PP ke
Italia yang terbang besok.” Chang mulai beranjak. “Aku akan kembali tengah
malam nanti.”
“Aku menolak!” kata Narita cepat.
“Lalu tenggorokanmu berlubang karena peluruku?”
“Bangsat kau!” makinya sekali lagi. Chang sudah jauh, bahkan
sudah menghilang ditelan belokan lorong kantor saat Narita mulai mengomel.
“Ada apa denganmu?” Tax mengagetkan Narita. Tiba-tiba berada
tepat di belakangnya, lalu mengeluarkan suara keras-keras. “Mengomel tak baik
untuk kesehatan.”
“Karena Chang dengan seenak jidatnya menyuruhku mencari
tiket ke Italia untuk besok. Maskapai mana yang terbang ke Italia di awal
pekan?” eluhnya. “Kenapa kau ada di sini, harusnya kau menemani Luo mencari
Martha.”
“Justru aku ke sini karena ingin mencari Martha.”
“Martha tak sedang main ke sini,” jawabnya ketus.
“Aku mau kau carikan tiket untukku dan Luo ke Singapura hari
ini. Kalau tak ada, besok juga boleh.”
Narita mengiling gigi-giginya. Tadi geram dengan Chang,
sekarang dengan Tax.
“Martha terdaftar di salah satu pesawat yang terbang ke
Singapura. Dia bersama seseorang bernama Bobby.”
“Aku tidak kenal Bobby!”
“Demikian juga aku.”
“Aku bukan petugas pencari tiket!”
“Kalau begitu suruh orang mencarikannya untuk kami.” Narita
mau menolak, tapi Tax segera menambahkan. “Kekasihmu dalam pengawasanku, kalau
kau menolak dia akan masuk penjara bersama kawanannya.”
Sialan dua kali lipat. Tax adalah detektif yang menangkap
bisnis gelap kekasih Narita. Dia tak menangkap lelaki itu karena Tax mau
bertukar dengannya. Tax dapat informasi dan kekasihnya dapat jaminan kebebasan.
Tapi Narita tidak menyangka kalau Tax akan mengancamnya dengan memenjarakan
kekasihnya itu.
“Kau sama brengseknya dengan Chang!”
“Kami satu devisi,” jawab Tax sambil melenggang pergi.
***
“Siapa mereka berdua?”
Seseorang bertubuh ceking menggandeng wanita mirip Lassy di
stasiun kereta. Di sampingnya ada orang lain yang menyeret koper kecil. Wanita
mirip Lassy itu tak berontak, sepertinya sedang teler oleh obat.
“Siapa mereka berdua?” ulang Bryan lebih kepada dirinya
sendiri.
Bryan sedang bersama petugas pengamat CCTV. Mereka mengamati
rekaman yang diberikan salah seorang polisi, diambil dari stasiun kereta cepat
jurusan Kota Delta ke kota Kapa. CCTV menunjukkan kejadian itu tepat tiga jam
Lassy hilang.
Dua orang yang menggiring Lassy berpenampilan lelaki, tapi
Bryan curiga kalau mereka menyamar. Seorang yang tubuhnya ceking jalannya
terseok-seok walau tidak menopang Lassy di lengannya. Yang kecil, tubuhnya
terlalu seksi, gaya jalannya saja melambai seperti wanita. Wajah mereka tak
banyak terlihat. Giliran terekspos dengan jelas, muka itu tampak palsu. Pasti
telah ditempel sesuatu di muka mereka.
“Siapa mereka?” tanya Bryan untuk ketiga kalinya.
“Mereka memakai muka palsu. Kumis dan segala aksesoris di
wajah itu tempelan.”
“Bisa kau cari tahu siapa mereka berdua?”
“Tentu saja. Celah kecil bisa kumanfaatkan untuk membuka
kedok mereka.”
“Bagus. Telepon aku kalau kau sudah tahu!” perintah Bryan.
“Aku akan ke kota Kapa untuk mengambil Lassy kembali.”
“Masalahnya, Detektif …,” potong petugas itu. “... kalau dua orang yang ada di sana memakai muka
palsu, kemungkinan wanita mirip Nona Liem itu juga palsu.”
“Kau yakin mereka bertiga palsu?”
“Tidak juga. Aku akan mencoba mencari tahu, tapi butuh
waktu.”
“Lassy hilang dari tadi siang, kalau benar yang ada di CCTV
itu dia, berarti mereka hampir sampai di Kota Kapa. Bisa jadi mereka berpindah
lebih jauh.”
untuk menyembunyikan diri. Mereka tak akan berpindah setidaknya untuk dua tiga
hari ke depan.”
“Semoga kau benar,” ucap Bryan. “Kalau begitu aku harus
bergegas ke sana. Berjanjiah meneleponku kalau kau berhasil mengetahui siapa
mereka!”
“Pasti, Detektif.”
Bryan pergi lagi. Seakan tiada lelah, dia berkendara ke
pusat kota menuju stasiun kereta cepat saat itu juga. Bryan tak bisa pergi
sendiri, dia menelepon kantor dan meminta seseorang untuk menemaninya ke Kota
Kapa. Sambil menunggu, dia menyempatkan diri menelepon ke nomor Lassy meski
akhirnya kecewa tak mendapat jawaban. Dia memutuskan duduk di bangku tunggu,
menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata sejenak.
Lassy.
Ya, Lassy, kekasihnya itu sekarang sedang diculik. Entah di
mana dia berada, Bryan sangat mencemaskannya. Kemarin, di jam yang sama seperti
sekarang Lassy sudah tidur. Bryan yang menemaninya, dia juga yang memeluknya.
Sekarang, wanita yang dipeluknya semalam itu telah ada di tangan penjahat.
Bryan takut seandainya Lassy diperlakukan buruk, apalagi sampai mau dibunuh.
Sumpah demi apa pun Bryan belum siap untuk menerima berita kematian Lassy. Dia
belum mau berpisah dengan Lassy. Bukan sejuta dolar sebagai alasan, tapi
sesuatu tak terdefinisikan yang membuatnya nyaman bersama Lassy. Meski dia
dianggap sebagai kekasih bayaran, disuruh-suruh bahkan dimarah-marahi, Bryan
rela asal itu Lassy.
Bryan rindu wanita itu.
“Brey!” panggil Narita, tergopoh-gopoh berjalan ke arah
Bryan.
“Kenapa kau terlambat?” sambut Bryan dengan muka kesal.
“Kenapa katamu? Kau yang berada di sini lebih dulu tapi kau
menyuruhku mengantre tiket. Sekarang kau tanyai aku kenapa terlambat? Orang
macam apa kau ini?”
“Orang yang mencemaskan kekasihnya yang sedang diculik,”
jawab Bryan malas.
“Lassy diculik itu gara-gara kau. Kalau dia ketemu nanti,
akan kusarankan untuk mencari kekasih lain.”
“Kenapa kau jahat sekali padaku?”
“Hari ini sudah ada dua orang menjahatiku dan sekarang
tambah kau. Aku tak bisa diam saja dijahati,” protes si wanita. “Chang mau
melubangi tenggorokanku kalau tak mencarikannya tiket ke Italia. Tax akan
memenjarakan kekasihku kalau tak mencarikan tiket ke Singapura. Dan sekarang
kau mau mengancamku apa agar aku membelikan tiket ke Kota Kapa?”
“Aku tidak akan mengancammu. Lagipula kau sudah membeli
tiketnya.”
Narita mendesah panjang. “Kau benar,” celetuknya, lalu
berdecak sebal.
Dia melupakannya dengan cepat, segera menyerahkan satu tiket
untuk Bryan dan mencari tempat duduk mereka.
Dalam kereta, Narita memandangi Bryan lekat-lekat di
perjalanan dari kota Delta ke kota Kapa
malam ini. Raut wajahnya seperti berkabung, tapi sesungguhnya dia sedang
simpati pada Bryan.
“Kenapa memandangiku?”
Wajah nelangsa Bryan yang membuatnya memandangi lelaki itu.
“Kau tidak apa-apa?”
“Memangnya aku kenapa?”
Narita mengulurkan tangannya, memegang tangan Bryan dan
menepuk-nepuknya. “Kau tak perlu sungkan untuk bercerita padaku. Aku ini
pendengar yang baik.”
“Kau ini bicara apa?”
“Brey, aku tahu bagaimana rasanya kehilangan kekasih karena
perpisahan. Tapi aku tak tahu rasanya kehilangan kekasih karena penculikan. Kau
pasti sangat mencemaskan Lassy, kan?”
“Apa aku terlihat mencemaskannya?”
“Sangat,” jawabnya. “Aku tahu kau mencintainya, maka dari
itu aku bersedia menemanimu ke Kota Kapa meski jam kerjaku telah habis.”
“Aku tidak mencintainya!” sangkal Bryan.
“Kau memang akan kuat kalau terus menyangkal, tapi akan
lebih baik kalau kau mengakuinya. Detektif juga manusia. Juga bisa sedih,”
katanya meng-copy kalimat yang sering
diucapkan Luo. Detektif satu itu punya banyak alasan yang bisa di-copy teman-temannya.
“Jangan campuri urusanku, wanita sialan!”
Sudah mati-matian menahan diri kalau Narita terus
mendesaknya dengan kata-kata melow begitu, nantinya Bryan tidak akan bisa
menahan kesedihannya. Memang dia tidka mungkin bisa menangis, tapi dia bisa
jadi sangat sedih kalau sampai kehilangan orang yang disukainya. Demikianlah
alasannya terus menyangkal.
“Terserah, tapi percayalah kalau kau mencintai Lassy dan
sebaliknya Lassy mencintaimu, dia akan bertahan demi kau.”
Bryan mendengus. “Memangnya ada kemungkinan dia hidup lebih
lama karena cinta?”
“Tentu. Cinta selalu menunjukkan jalan untuk bertahan,”
terang Narita. “Kalaupun Lassy akan dibunuh, dia pasti bisa mengulur waktu demi
bisa kau temukan.”
“Aku mencintanya,” kata Bryan spontan. “Apa aku bia menemukannya
dengan kalimat itu?”
“Tidak,” Bryan merengut, merasa dibohongi. Narita segera
menambahkan, “... tapi kau akan menemukan jalan untuknya.”
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
Sejujurnya cinta tidak bisa melakukan apa pun. Hanya saja,
karena mencintai Lassy, Bryan rela sibuk ke sana kemari. Karena mencintai Lassy,
Bryan segera cari cara untuk menemukannya. Dan karena mencintai Lassy pula, dia
menutupi kegalauannya demi terlihat tegar di depan orang lain. Itu arti bahwa
cinta menunjukkannya jalan untuk menemukan Lassy.
“Kau akan tahu kalau sudah menemukannya,” kata Narita sambil
menepuk tangan Bryan beberapa kali lagi.