Mr. Detective

Mr. Detective
Terkejut Mengetahui Siapa Pelakunya



Mint masuk kantor dengan lengan kanan diperban. Ada banyak


goresan di mukanya. Untungnya luka-luka itu tidak membahayakan nyawanya. Luka


gores bisa hilang dengan salep-salep khusus. Luka di lengannya juga bisa sembuh


tanpa bekas. Dia hanya terserempet pengendara motor yang sayangnya bisa kabur


sebelum Mint dan petugas yang bersamanya berhasil mengenali pengendara itu.


“Chang, tolong bukakan rotiku ini!”


Mint menyerahkan roti lapis rasa keju yang masih terbungkus


plastik. Baru diambilnya dari kantong belanjaan yang dibelinya dari mini market


terdekat. Chang mengambilnya, merobek plastik pembungkus dan mengeluarkan


isinya. Mint mengulurkan tangan kirinya, tapi yang diterimanya hanya setengah


roti saja. Chang memakan setengahnya lagi.


“Dimintai tolong saja minta imbalan!”


“Zaman sekarang tidak ada yang gratis,” katanya sambil


menggigit roti hasil rampasan.


“Itu akan mengingatkanku agar lain kali tidak minta tolong


padamu lagi!”


“Terserah kau. Menjauh dariku sana!”


Mint mendecih. Berjalan menjauh sambil menggigit rotinya. Di


meja kerjanya, ada Bryan tengah mencari informasi mengenai kasus barunya lewat


komputer di meja. Mint berdehem membuat Bryan mendongak. Saling pandang


sejenak, kemudian Bryan menunjuk ke arah Mint.


“Ada apa denganmu?”


“Harusnya aku yang tanya, ada apa denganmu?” Wajah Mint


mengeras.


Bryan menunjuk cangkir berisi teh panas yang barusan


diantarkan office boy padanya. “Habiskan rotimu dan minumlah, aku akan


jelaskan!” Dia segera berdiri, menyodorkan kursinya pada Mint. Menarik wanita


itu dan mendudukkannya di kursi. “Aku tak bisa datang lebih cepat sebelum


mengantarkan Lassy ke kantornya. Kalau kau sampai dapat luka seperti itu,


rasanya aku jadi punya hutang.”


“Kau hanya merasa punya hutang? Tak merasa bersalah?” Bryan


mengakui kalau dia salah, tapi minta maaf bukanlah gayanya. “Dan kau tak minta


maaf?”


“Permintaan maaf tak harus ditunjukkan dengan kata-kata,”


dalih Bryan.


Melihat Mint meletakkan rotinya lalu mengambil cangkir,


Bryan buru-buru mencomot setengah roti yang sebenarnya sudah jadi setengah


setelah kejadian Chang tadi. Mint meneriakinya, tapi  Bryan telanjur memasukkannya dalam mulut.


“Kau beli banyak, kenapa secuil roti saja kau ributkan?”


“Tak pernah belajar agama, ya? Mengambil makanan orang yang


kesusahan itu dosa hukumnya.”


“Aku lupa bagian itu.” Bryan berdalih lagi. “Jadi, ada apa


dengan tanganmu?”


Mint tak jadi minum dan meletakkan kembali cangkirnya


setelah tak sabar menunggu teh itu dingin. “Aku terserempet motor.”


Bryan nyengir “Kupikir kau berkelahi dengan orang-orang


suruhan tersangka lalu kalah, aku sampai merasa bersalah karena tidak


menemanimu menemui tersangka.” Karena Mint jago bela diri, Bryan mengira Mint


baru menghadapi banyak orang hingga dapat luka seperti itu. Tapi mendengar partner-nya hanya terserempet motor, tidak ada gunanya lagi dia khawatir. “Aku sampai berencana membalaskan dendam


untukmu.”


“Sama saja. Gara-gara kau tak ikut denganku, aku kehilangan


orang yang menyerempetku.”


“Aku tahu orang yang cari masalah denganmu akhirnya akan


jadi seperti apa.” Bryan mengingatkan soal kejadian sebelumnya saat seorang


pemuda menggoda Mint. Mencoba bertindak mesum dan berakhir di rumah sakit. ”Kau


selalu berlebihan menanggapi orang-orang seperti itu.”


“Aku ketua detektif di bagian pelecehan seksual. Memang itu


yang harus kulakukan.”


“Ya, kau benar, tapi jangan hajar tersangka sampai masuk


rumah sakit.” Tidak habis pikir, Mint berpenampilan menarik, wajahnya


cantik, body-nya ok, tapi dia suka memukuli orang.


Pantas saja sampai sekarang Mint tidak memiliki kekasih. “Sudah untung mereka


tidak berani menuntutmu, kalau sampai ada yang berani, kau bisa menggantikan


posisinya di sel tahanan.”


“Sudah, jangan bahas itu!” Mint mengeluarkan satu roti lagi


dari kantong plastiknya. Kali ini rasa coklat. “Kau sudah baca laporan yang


dibuat keluarga korban, kan?” Bryan menganggukinya. “Sore ini kita dijadwalkan


menemui korban di rumahnya, kali ini kau harus ikut aku ke sana!”


Bryan mengiyakan.


“Brey!”


Panggilan itu menghentikan pembicaraan antara Mint dan Bryan.


Kasmir melambai langsung ke arahnya. Mengkodekan bahwa apa yang akan


dikatakannya sangat penting untuk diketahui.


“Kau harus tahu pelaku kasus surat kaleng itu.”


Sebelum beranjak, Mint menyodorinya roti dengan tangan kiri.


Bukan untuk diberikan, tapi untuk dimintai tolong membukakan. Bryan meraih roti


itu, membukanya, mengeluarkannya dari plastik, tapi seperti apa yang dilakukan


Chang tadi, dilakukan juga olehnya. Bryan mengambil setengahnya, lalu


meninggalkan Mint yang mengomel kesal. Bryan berpindah ke meja Kasmir kemudian.


“Anak yang terekam CCTV waktu itu sudah ditemukan. Kita


mendapat keterangannya secara lengkap. Dia dibayar untuk meletakkan surat itu


di sana, sama sekali tidak tahu isi surat itu.”


“Pelakunya?”


“Kau akan terkejut kalau tahu siapa pelakunya.”


“Jangan bertele-tele, katakan saja pelakunya!”


Kasmir tertawa kecil. Melihat ketidaksabaran Bryan


membuatnya makin bersemangat mengulur waktu. “Kau tidak ingin menebaknya?”


“Orang yang menginginkan Lassy keluar dari negaranya,


keluarga besar Lassy sendiri!” tebak Bryan asal. “Tapi aku salah menebak


akhir-akhir ini.” Dia sedikit mengoreksi tebakan.


“Kau memang salah menebak.” Kasmir tersenyum sebentar


apalagi setelah melihat setengah roti di tangan Bryan belum disentuh sama


sekali. “Bagi rotinya padaku dan aku akan menyebutkan pelakunya. Kujamin kau


akan terkejut!”


Janji akan terkejut itu mengharuskan Bryan membagi roti


hasil rampasannya. Setengah dari yang dia pegang diberikannya pada Kasmir.


Ketika sama-sama menggigit, kemudian mengunyah roti, Kasmir memulai lagi.


Diawali dengan cerita timnya bertemu anak itu, mengidentifikasi orang yang


menyuruh dan membayar si anak, kemudian mencari orangnya.


Tim yang Kasmir kirim menemukan orang itu. Tidak bisa


disebut orang sebenarnya, karena umurnya baru 17 tahun. Masih duduk di bangku junior collage. Orang tuanya hanya pedagang kue beras keliling. Tinggal di daerah pinggiran. Anak itu tidak punya


masalah dengan Lassy, Martha, dan Bianca


“Cuma iseng maksudmu?”


“Aku bilang tidak ada masalah dengan mereka, bukan berarti


tidak ada hubungan.” Kasmir mulai menghabiskan rotinya. Dengan mulut penuh dia


menambahkan, “Anak itu juga mengaku di suruh. Kau akan terkejut mengetahui


siapa yang menyuruhnya.”


“Kau sudah tiga kali mengatakan aku akan terkejut mengetahui


siapa pelakunya.” Bryan mengikuti Kasmir, memakan habis rotinya. “Memangnya


siapa orang yang kurang kerjaan mengirim surat kaleng itu?” tanyanya sambil


mengunyah, untung tidak muncrat.


“Kekasih tercintamu, Lassy!”


Uhuk!


Bryan tersedak, tapi Kasmir hanya menepuk lengannya tanpa


kemudian mencetaknya.


***


“Kami harap kalian bisa datang ke kantor polisi


sewaktu-waktu bila dibutuhkan keterangannya.” Seorang polisi senior berkata


pada Lassy, Daniela, dan Andrew yang berdiri berjajar di lobi kantor.


“Tentu saja. Kami siap dimintai keterangan, Pak.” Daniela


mewakili teman-temannya.


“Kalau begitu kami undur diri dulu,” pamit polisi itu.


“Terima kasih.”


Si polisi menyalami Lassy, Daniela, dan Andrew. Keluar lobi,


menaiki mobil yang kemudian meninggalkan gedung kantor mereka. Tiga mobil


polisi lain menyusul di belakangnya. Empat mobil itu membawa 7 orang yang


terlibat penggelepan dan kecurangan dalam perusahaan. Tinggal Bams, otak


penggelapan uang yang perlu ditangkap.


“Apa itu sudah semua?” Andrew hanya menebak.


“Aku harap tidak ada yang tersisa,” jawab Daniela ringan.


“Kalaupun masih ada yang luput dari pengamatan penyidik,


cepat atau lambat kita pasti akan menemukannya.”


“Kau benar, Las.”


Ketika mereka berjalan ke lift, Andrew menyerobot posisi Daniela. Menempatkan diri di


tengah-tengah. Dia mencoba mendekati Lassy lagi. Tersenyum semanis mungkin


sebelum memulai aksinya. “Aku bersyukur semua ini sudah berakhir.” Lassy hanya


mengangguk. “Karena kau sudah melewati hari-hari yang berat akhir-akhir ini,


kupikir kau berhak dapat liburan.”


“Kurasa juga begitu.” Daniela setuju.


“Bagaimana kalau kusiapkan liburan untuk akhir pekan. Kita


bertiga ke pantai.”


“Ide bagus.” Masih Daniela yang menyutujuinya.


Pintu lift terbuka, Daniela masuk paling awal, diikuti Lassy, kemudian Andrew. Posisi


mereka berubah, tapi Andrew tetap berada di dekat Lassy. Dia memencet tiga


angka berbeda di dekat pintu lift untuk Lassy, Daniela, dan dirinya sendiri. Pintu menutup, lift terangkat.


Andrew menoel Lassy. “Kau masih ingat liburan kita yang


terakhir?”


Ya, Lassy mengingat semua hal yang pernah alaminya. Karena


Lassy menjadi lebih jenius, hal sekecil apa pun jadi bisa diingatnya, termasuk


hal buruk sekali pun.


“Kita mencoba main judi tapi kalah semua.” Andrew tertawa


sendiri.


Lassy tersenyum dan Daniela nyengir lebar.


“Kau pernah bilang suatu saat akan mencoba berjudi lagi


sekali-kali. Bagaimana kalau kita pergi ke sana dan mencoba peruntungan


kembali?”


“Kita tidak pernah untung dalam perjudian, And.” Daniela


membuat pernyataan keras. “Hanya dengan berbisnis baru kita beruntung.”


“Setidaknya kita bersenang-senang. Iya kan, Las?”


Lassy mengangguk lagi.


“Kusiapkan segalanya. Sabtu nanti kujemput kau di rumahmu!”


“Aku juga senang kalau bisa ke sana lagi, tapi akhir minggu


ini aku sudah punya acara.” Daniela dan Andrew serempak memandanginya ingin


tahu. “Liburan dengan kekasihku.”


“Kekasihmu?” Andrew mengernyit. Agak kecewa. “Lelaki yang


kau perebutkan dengan Martha itu? Kupikir kau tak ada hubungan dengannya.”


“Aku akan berkencan.” Lassy menggeleng, tapi dia tidak


mengatakan dengan kekasih yang mana. “Pokoknya aku tidak bisa ikut dengan


kalian. Ajak saja siapa pun yang ingin liburan.”


“Apa aku tak bisa ikut liburan denganmu?”


“And, aku barusan bilang akan berkencan. Tidak bisa mengajak


orang lain selain aku dan kekasihku.” Tepat saat itu lift terbuka pada lantai tempat ruang kerja Andrew berada. “Lain


kali saja kita pergi liburan bersama,” tambahnya sambil mempersilakan Andrew


keluar.


Ogah-ogahan Andrew keluar lift, Daniela sampai harus mendorongnya. Dan ketika lift kembali tertutup, menyisakan Lassy dan Daniela di dalamnya, Lassy merasa agak sedikit lega. Andrew belum tahu


kalau hubungannya dengan Bryan sudah sangat jauh. Mungkin Andrew juga tak tahu


kalau tiap harinya Bryan mengantar jemput Lassy, bahkan tinggal di rumah yang


sama. Karena temannya itu punya perasaan khusus padanya, dan Lassy tak punya


perasaan yang sama, sedikit demi sedikit harus diluruskan.


“Kau berencana memberitahu And kalau kau memacari Bryan?”


Lassy mengangguk. Daniela langsung kasihan pada Andrew. “Bukankah kau bilang


sedang mempertimbangkan saranku untuk mencari kekasih lain?”


“Iya, tapi sekarang aku masih dengan Bryan. Selama kita


belum benar-benar putus, Bryan berhak dikenal orang sebagai kekasihku.”


“Makin ke sini kau makin terbawa suasana dengan hubungan


percintaanmu.” Daniela menggeleng prihatin. “Aku takut orang mengira kau yang


tergila-gila dengan Bryan.”


Lassy menyeringai. “Yang penting kenyataannya, Dan. Aku yang


lebih segala hal, Bryan yang jelas tergila-gila padaku.”


Agak congkak mengatakan hal barusan. Sejujurnya Lassy ingin


Bryan tergila-gila padanya, tidak seperti sekarang ini yang mulai menunjukkan


kebosanannya. Awal pertemuan, hubungan mereka seperti maraton, cepat dan


menggebu-gebu. Makin ke sini makin melesu. Lassy tak suka seperti ini. Dia mau


hubungannya bertahan sampai nanti, sampai tua kalau bisa.


“Walau anggapanmu hubunganku dengan Bryan hanya untuk saling


menguntungkan, aku dan Bryan tetap berhak dapat liburan bersama.”


Suara ‘ting’ menghentikan pembicaraan mereka.


“Kita bicara lagi nanti.” Lassy mengakhiri pembicaraan.


Lift berhenti di lantai tempat ruangan Daniela berada. Daniela


keluar sambil melambaikan tangannya pada Lassy. Lalu pintu lift kembali tertutup, naik ke lantai tempat ruang kerja Lassy berada. Hanya butuh beberapa detik Lassy sampai ke lantainya. Disapa oleh


Sulami saat melewati ruangan sekretarisnya itu, kemudian masuk ruangannya


sendiri.


Lassy mengambil ponselnya dari saku. Mendial nomor Bryan dan


kekasihnya itu menjawab panggilannya dengan cepat.


“Brey, kau ada di mana sekarang?”


“Di kantor.”


“Apa sangat sibuk?” Karena terdengar suara-suara berisik


dari kantor Bryan. Suara Tax, bercampur teriakan Luo, dan banyak lagi suara


yang tak dikenalnya. Lassy mengasumsikan kantor polisi sedang sibuk.


“Di sini setiap hari sibuk. Memangnya ada apa?”


“Kita jadi liburan akhir pekan ini?”


“Oh…,” Bryan terdengar tidak fokus, masih bimbang. “... baiklah,” katanya


kemudian. “Ada


yang harus kukerjakan. Kita bicarakan ini nanti malam saja.”


“Kau benar-benar sangat sibuk, ya?”


“Iya, kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi kututup teleponnya.


Aku harus menginterogasi tersangka.”


“Ok, kita teruskan nanti malam!”


Telepon sudah ditutup. Lassy makin yakin kalau Bryan memang


sudah mulai bosan padanya. Dulu tidak seperti ini. Apa pun kesibukannya, Bryan


selalu ada untuk Lassy, tapi akhir-akhir ini tidak lagi seperti itu. Memang


Bryan pernah mengatakan kalau pekerjaannya bisa jadi longgar dan sibuk


sewaktu-waktu. Tidak bisa seenaknya menelepon atau sekedar bertemu Lassy. Tebakan


Lassy, kesibukan Bryan kali ini bukan semata-mata karena pekerjaan, tapi karena


sesuatu yang lain. Lassy jadi sangat cemburu ketika membayangkan sesuatu yang


lain itu berhubungan dengan orang ketiga.