Mr. Detective

Mr. Detective
Jenius dan Gila Itu Beda Tipis



“Kau ingat pernyataan Lassy dan pembantu-pembantunya saat


terjadi ledakan di rumahnya?”


“Memangnya kenapa?”


“Kupikir aku tahu siapa pelakunya.”


Tadinya Bryan tak peduli lagi dengan ledakan gas itu. Selain


yang dituduh Lassy adalah Sandy, sepupunya sendiri, Tax sudah pasti menebak


kalau pelakunya adalah orang dalam. Bryan juga akan menebak hal sama kalau dia


yang menangani kasus itu. Dan kemungkinan besar pelakunya memang Sandy. Karena


besarnya keinginan keluarga besar Liem untuk membawa Lassy keluar dari negara


ini, meledakkan rumah adalah salah satu cara memuluskan rencana. Motif seperti


itu hanya Sandy yang punya.


Menjatuhkan tuduhan pada Sandy tidak etis. Tujuan wanita itu


hanya menakut-nakuti sepupunya sendiri, tidak lebih. Lassy tak akan setuju


kalau sepupunya dijadikan tersangka. Meski Lassy dan Sandy tidak akur, mereka


tetap keluarga yang saling melindungi. Dan kalaupun Sandy jadi tersangka,


memenjarakannya pun akan susah. Keluarga besarnya akan membela, salah-salah pihak


kepolisian yang dituntut balik dengan tuduhan pencemaran nama baik. Jadi,


meneruskan kasus ledakan itu tidak ada gunanya lagi.


“Aku juga tahu siapa pelakunya, tapi kita tak bisa berbuat


apa-apa.” Bryan melempar pandang pada Tax, Tax yang sudah memandangnya lebih


dulu setuju dengan pernyataan Bryan “Salah satu dari mereka yang tentunya kebal


dengan hukum.”


Tax mengangguk-angguk setuju.


“Aku akan menyuruh Lassy untuk menarik laporan itu, biar


kasus ini bisa segera ditutup.”


“Segera lakukan atau petugas seperti kita akan terlihat


bodoh karena terus mendalami kasus ini!” Tax menghela nafas lega. Setidaknya


sebagai kepala penyelidikan atas ledakan rumah Lassy, dia terhindar dari


tindakan bodoh menyebutkan pelaku yang tidak lain tidak bukan adalah salah satu


keturunan Liem sendiri. “Aku tak habis pikir, motif apa yang membuatnya jadi


seperti itu?”


Tax menggeleng, heran bukan kepalang. Bryan juga. Tapi apa


yang digelengkan Tax dan Bryan ternyata berbeda. Kepolisian tahu permasalahan


keluarga Liem, kalau Tax mengatakan tidak tahu motif Sandy meledakkan rumah


Lassy, berarti dua hal, Tax lupa atau dia sedang memikirkan motif lain.


“Tentu saja untuk membawa Liem terakhir keluar dari sini.


Bukankah kau sudah mendengar permasalahan keluarga besar Lassy?” Bryan


mengingatkan kembali. “Atau kau mencoba mencari motif lain yang sebenarnya tak


ada?”


Tax dan Bryan beda pendapat di sini.


Tax nyengir. Mengabakan taruhan tentang siapa yang benar dan


siapa yang salah dalam menebak pelaku peledakan tabung gas di rumah Lassy.


Mereka sama-sama yakin pelakunya adalah orang dalam. Sama-sama yakin kalau


pelakunya kebal hukum. Tetapi keduanya berbeda keyakinan soal motif dan


tentunya beda pelaku. Bryan kenal dengan orang-orang yang dekat dengan Lassy,


dia punya pendapat sendiri soal pelaku. Namun, Tax yang mengawali penyelidikan


ledakan itu. Dia jelas punya pendapat sendiri soal pelakunya.


“Kalau soal itu aku juga tahu. Tapi menurutku, ledakan itu


bukan untuk menakuti Lassy agar segera keluar dari negara ini.” Tax memutar


kursinya, menarik diri beserta kursi kerjanya mendekati meja Kasmir. Dia


menggeledah map-map yang tertumpuk di sana, dan menarik satu. Membawanya


mendekat kembali pada Bryan. “Kau sudah pernah melihat laporan telepon rumah


Lassy sebelum terjadi ledakan tentunya.”


Bryan mengangguk.


“Sudah tahu apa yang janggal juga?”


“Apa maksudmu janggal?” Bryan memicing ingin tahu. “Beberapa


nomor tak dikenal yang ada di daftar?”


“Ya. Dan siapa yang menggunakan telepon rumah Lassy untuk


menelepon nomor-nomor itu?” Tax berhenti sebentar untuk membuka map, menarik


selembar dan menyerahkannya pada Bryan, catatan telepon yang pernah dilihat


Bryan sebelumnya. Beberapa nomor yang dikatakan janggal dilingkari di kertas


itu. “Sebelumnya nomor-nomor itu terdaftar atas nama seorang nenek, atas nama seorang


guru TK, dan penjual kue keliling. Semuanya tinggal di pinggiran kota Gamma.”


“Mereka ada hubungan dengan orang-orang di rumah Lassy?”


“Sama sekali tidak.” Awalnya mantap mengatakannya, tapi Tax


ragu kalau Bryan salah menebak. “Sedikit berhubungan, tapi bukan dengan


orang-orang di dekat Lassy.”


Dari ekspresi yang ditunjukkan Bryan, lelaki itu menaruh


curiga pada orang luar. Tapi seperti yang dikatakan Tax sebelumnya, pelakunya


adalah orang dalam. Bryan jadi bimbang. Sebenarnya siapa yang meledakkan rumah


Lassy? Dia memutuskan diam selama Tax menjelaskan. Toh, dia sama sekali tak


ikut penyelidikan. Sedikit pun tak tahu soal kasus itu.


“Kita sudah menyelidikinya sampai ke sana. Mereka mengaku


tidak kenal dengan Lassy, juga semua orang-orang di dekat Lassy. Mereka juga


kehilangan telepon sebelum tanggal ledakan itu terjadi.”


Kekasihnya dalam masalah apa lagi sekarang? Setelah


percobaan pembunuhan, kecurangan di perusahaan, surat kaleng, sekarang dengan


telepon gelap. Bahkan masalah itu belum selesai sepenuhnya. Lassy terkenal


dengan kekayaan dan silsilah keluarga terpandang, tapi terlalu kontroversi.


Memang untung bisa memacarinya, tapi betul kata Luo, Lassy membuatnya susah


dengan bejibun masalahnya.


“Namun kita berhasil menemukan hubungannya dengan masalah


ini.”


Chang datang, tidak tertarik dengan masalah ledakan, tapi


karena mejanya dekat dengan meja Tax, mau tak mau dia ikut mendengarkan cerita


rekannya itu. Kemudian satu demi satu petugas kantor yang keluar makan siang


kembali ke meja masing-masing. Kehadiran mereka tidak mengganggu Bryan dan Tax,


malahan akan seru kalau di hadapan banyak orang Tax bisa mengungkap kasus ini,


meski tak bisa memenjarakan pelaku.


“Si nenek punya cucu, guru TK itu punya adik, dan penjual


kue keliling itu punya anak.”


Tax bicara seperti sedang mendongeng, sedangkan Bryan dan


beberapa orang yang ada di dekat mereka setia mendengarkan dongeng darinya.


“Ketiga anak itu sekolah di tempat yang sama, di junior colleges kota Gamma, sekolah


swasta yang banyak dimasuki anak-anak berkemampuan di atas rata-rata.


Hubungannya dengan Lassy adalah, ketiganya dapat beasiswa dari Lassy pribadi


sejak secondary school sampai mereka


duduk si bangku kuliah nanti.”


Bryan baru ingat kalau keluarga Liem memang dermawan. Lassy


salah satunya. Perusahaannya rutin menyumbang di badan amal, memberi beasiswa


pada anak-anak berprestasi tapi kurang mampu. Dan Lassy sendiri secara pribadi


juga mengeluarkan uang untuk membiayai anak-anak sekolah.


dekat. Terakhir kali, seperti yang diceritakan Tax, Lassy menghadiri olimpiade


sains tingkat nasional yang diikuti salah satu anak yang dibiayainya itu. Meski


tidak menang, Lassy mengaku bangga dengan anak itu. Dan anak itu adalah cucu


dari nenek yang tinggal di kota Gamma.


Polisi sudah didatangkan untuk meminta keterangan si anak.


Keterangannya sangat mengejutkan. Dia mengaku pernah diajak bertemu,


jalan-jalan, belanja, dan makan oleh Lassy. Si anak menceritakan soal


kesehariannya di sekolah, termasuk kejadian menyenangkan dan menyedihkan jadi


anak sekolahan. Ketika dia bercerita soal kejadian lucu di laboratorium


sekolah, Lassy tertarik. Cerita itu mengenai ledakan gelas kaca berisi air yang


tidak sengaja kejatuhan secuil natrium yang dipegang gurunya, sontak semua anak


berteriak dan sebagian lagi lari keluar laboratorium karena mengiranya bom.


Yang mengejutkan, si anak mengaku ditelepon Lassy lewat


nomor neneknya beberapa hari sebelum ledakan rumah. Meminta secuil natrium


untuk membuat kaget teman-temannya, hanya untuk iseng. Menyuruh anak itu


meletakkannya di kotak pos depan rumahnya. Lassy juga meminta anak itu untuk


meninggalkan ponsel beserta nomornya di sana dengan alasan akan


membelikannya ponsel dan nomor baru yang lebih bagus. Akan dikirim langsung ke


rumahnya. Dengan begitu, anak itu mencuri secuil benda yang diminta Lassy dari


laboratorium sekolahnya. Tidak akan ketahuan, karena yang diambilnya hanya


sebesar tiga butir beras.


“Lassy meledakkan rumahnya sendiri? Tidak mungkin!” Bryan


tertawa keras.


“Mungkin!” Tax menghentikan tawa Bryan. “Kau pikir buat apa


Lassy pergi ke dapur sedangkan selama ini dia tidak pernah berurusan dengan


ruangan itu? Kau pikir kenapa semua orang bisa berada di luar ruangan saat


ledakan terjadi?”


Bryan masih menggeleng. Sebagai orang yang paling dekat


dengan Lassy sekarang ini, dia tidak percaya kekasihnya melakukan sesuatu yang


merugikan diri sendiri.


“Jarang sekali seorang pembantu terlalu detail memperhatikan


pergerakan majikannya, apalagi saat mereka berada di dapur. Pembantu itu pasti


sibuk dengan pekerjaannya. Saat pembantu lengah, Lassy menjalankan aksinya.”


Memang tidak mungkin itu terjadi, maka dari itu Bryan dan


beberapa orang tertawa.


“Karena Lassy punya motif yang aneh, kan?” tebak Fai yang


duduk jauh dari mereka.


“Tepat!” teriak Tax, memberinya pujian. “Karena punya motif


yang tidak biasa, dia meledakkan rumah.”


“Dia keracunan obat dan jadi jenius. Orang jenius itu tak


jauh beda dengan orang gila. Siapa tahu Lassy meledakkan rumahnya karena


tergila-gila dengan tindakan ekstrim seperti itu.”


Bryan melotot, dan Fai yang baru saja mengatai Lassy gila


langsung sembunyi di balik layar komputernya. “Jangan macam-macam denganku!


Lassy itu kekasihku dan kau baru saja menyebutnya gila!" ancam Bryan.


Suaranya membahana di ruangan.


Fai mengangkat kepalanya lagi. “Astaga, jangan-jangan kau jatuh


cinta betulan dengannya?”


Memang Bryan jatuh cinta betulan dengan Lassy, tapi tidak


ada orang yang tahu kalau hubungan Bryan dan Lassy sekarang betulan. Hanya


Chang yang tahu soal hubungan serius mereka.


“Kalau begitu selamat untuk hubungan kalian yang tak akan


pernah berakhir!”


“Bukan begitu. Lassy adalah aset negara, kita tidak boleh


sembarangan menuduh Lassy kalau tidak mau berurusan dengan pemerintahan.” Bryan


mulai menyangkal.


Bryan mencoba menutup perkara dengan wanita itu. Kalau


hubungannya dengan Lassy dibawa-bawa saat berdebat, dia bisa kalah.


“Betul. Lassy jadi jenius itu masalahnya. Kalau segelintir


natrium bisa meledakkan gelas, dia juga pasti tahu ledakan sekecil itu akan jadi


besar kalau digabungkan dengan gas yang bocor.” Tax menoleh pada Chang, meminta


pendapat soal perkataannya barusan. “Chang, bagaimana menurutmu?”


Chang mengangkat bahu. “Aku tidak ikut penyelidikanmu.”


Tax menyesal menanyai Chang. Dia kembali pada Bryan. “Kau


salah satu detektif yang bisa membaca gerak tubuh dan ekspresi mikro pada wajah


seseorang. Bagaimana dengan Lassy?”


“Karena dia orang penting, aku tidak pernah memperhatikannya


dengan detail,” dalih Bryan.


Tax percaya karena selama ini Lassy dianggap korban dari


segala musibah yang dialami, jadi tidak mungkin ada hal mencurigakan darinya.


Lassy jadi luput dari pandangan siapa pun. Tapi Chang tidak sepercaya Tax.


Gesture mencemoohnya terlihat jelas dari bibirnya yang mencebik walau tidak


diarahkan pada Bryan. Dia tidak percaya Bryan tidak pernah memperhatikan Lassy


dengan detail. Bukan hanya gerak tubuh dan ekspresi mikro Lassy saja, lekuk


terkecil dari tubuh Lassy pasti sudah dihafal jelas oleh Bryan. Hanya saja


teman detektifnya itu tak bisa mengartikan apa pun, entah Lassy yang terlalu


lihai atau Bryan yang terlalu bodoh.


“Chang, kau pernah lihat Lassy. Bagaimana menurutmu soal


dia?” Bryan tahu, dirinya kurang dalam hal ini. Jadi, sebagai orang yang tahu


hubungan mereka, Chang dimintai bantuan.


Chang mengangkat bahu lagi. “Dia kekasihmu, jangan tanya


padaku!”


Tidak mengambil hikmah dari penyesalan Tax saat meminta


pendapat Chang, sekarang Bryan jadi ikut menyesal. “Jadi aku harus bagaimana?”


Dia kembali pada Tax.


“Karena tidak ada motif yang jelas dan kemungkinan masih ada


beberapa keterangan lain yang bisa kita dapat dari dua anak lainnya, rahasiakan


saja soal ini!” Tax mengambil kertas di tangan Bryan, memasukkan dalam map,


lalu menutup map itu. “Aku akan menemui salah satu dari mereka sore ini, semoga


tidak ada yang mengejutkan lagi soal Lassy.” Dia menepuk lengan Bryan dengan


mapnya, kemudian menggeser diri beserta kursinya ke meja Kasmir, mengembalikan


map itu.


“Brey!” Fai kembali membuka perkara awal. “Sekarang ini kita


kembali tak tahu siapa Lassy sebenarnya. Kalau memang benar dia rela meledakkan


rumahnya sendiri demi kesenangan pribadi, bisa jadi dia menyengsarakanmu demi


kesenangan pribadinya juga.”


Bryan tersenyum acuh, dia tidak takut.


“Kalau hanya menyengsarakan sih tidak apa-apa ... tapi kalau


sampai membunuhmu, bagaimana? Saranku, mulai sekarang kau harus hati-hati!” tambahnya.


Dan kali ini senyum acuh Bryan musnah digantikan perasaan


was-was.