
Luo sialan!
Hampir saja Bryan panik setelah mendengarnya mengatakan
kalau kekasihnya kecelakaan, nyatanya bukan Lassy yang kecelakaan. Tetapi Bryan
masih agak panik meski Luo sudah meralat kata-katanya. Dari wajah teman
detektifnya itu, Bryan melihat kesungguhan. Situasinya bisa jadi gawat. Bryan
mengira keadaan Ren mengenaskan. Makanya, saat itu juga dia bersedia diajak Luo
ke rumah sakit.
Di rumah sakit, di luar ruang periksa tidak terdapat satu
orang pun. Walinya Ren kemana? Apa mereka belum dapat kabar kalau anaknya
kecelakaan? Padahal Bryan sudah was-was kalau kedatangannya sampai tidak
diterima orang tua Ren. Tapi baguslah orang tua Ren tidak datang. Dia bisa
sedikit lega karena tidak harus berhadapan dengan ayah-ibunya mantan kekasihnya itu.
Bryan dan Luo menunggu dokter yang sedang melakukan
pemeriksaan di ruang rawat. Luo duduk di kursi tunggu, sedangkan Bryan
mondar-mandir di depannya.
“Apa keadaannya benar-benar gawat?”
Dia cemas bukan main. Meski sudah tidak ada hubungan,
setidaknya Bryan pernah mencintai gadis itu. Jadi sudah sewajarnya kalau dia
khawatir.
Luo mengangguk. “Sangat gawat!” jawabnya sambil pasang wajah
memprihatinkan. “Dia ditabrak,” tuturnya sambil mengeram kesal, plus marah, plus tidak tahan ingin meremat pelaku kalau saja pelaku itu ada di
depannya sekarang, plus pasang muka
tidak karuan. “Dia ditabrak orang tepat di depanku, Brey!” Luo sangat dendam
dengan orang yang menabrak Ren.
“Kau sudah menangkap pelakunya?”
“Pelakunya?” Luo mengeram lagi. Kali ini kesal bukan
kepalang karena dia tidak bisa menangkap pelakunya. “Ya, pelakunya sudah minta
maaf,” lanjutnya masih marah dan kecewa. “Aku tidak bisa memenjarakannya.”
Bryan tahu ada yang salah dengan perkataan Luo. Apa
maksudnya sudah minta maaf? Apa maksudnya tidak bisa memenjarakannya? Apa
pelakunya juga luka parah, lalu minta maaf sebelum mati? Kalau penabraknya saja
sampai mati begitu, bagaimana dengan Ren?
Bryan mengepalkan kedua tangannya. Mondar mandir lagi
setelah jawaban dari Luo tidak begitu membuatnya puas. Setelah kemarahannya
mereda, dia berhenti.
“Lalu bagaimana dengan Ren? Dia akan hidup, kan?”
“Hah?” Luo terkejut dengan pertanyaan itu.
“Dia akan baik-baik saja, kan?” Bryan memperjelas pertanyaannnya.
“Memangnya aku bilang Ren akan mati?” Luo pasang muka bodoh.
Melongo sambil menggerak-gerakkan mata ke kiri ke kanan. Hilang entah ke mana
kemarahannya tadi? “Kau tidak perlu terlalu khawatir. Dia tidak luka parah,
kok!” tambahnya. Mengibas tangan sambil tertawa-tawa kecil.
“Jangan bercanda denganku. Tadi kau bilang keadaannya gawat
sampai membuatku khawatir berlebihan, sekarang kau suruh aku untuk tidak
terlalu khawatir. Apa maksudnya?”
Luo menggeleng sambil pasang wajah bodoh lagi.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ren? Bagaimana
keadaannya sekarang?”
Luo garuk-garuk kepala sekarang. “Bagaimana ya
menjelaskannya?”
“Jujur saja, sebenarnya apa yang terjadi?”
“Sambil menunggu dokter selesai memeriksa Ren, sebaiknya kau
duduk!” Dia menggeser posisi. Menepuk bangku sebelahnya untuk di tempati Bryan,
tapi Bryan tak mau duduk. Malah pasang muka galak, melotot sambil memajukan
dagunya. “Baiklah kalau kau tak mau duduk, aku akan jelaskan sambil berdiri
juga.”
“Kau duduk saja!” potong Bryan.
Luo angkat tangan. Dia tak jadi berdiri. “Begini ceritanya ….”
melihat Bryan mengernyit, Luo langsung paham kalau ceritanya harus cepat.
“Baiklah baiklah, aku akan cerita cepat.” Kemudian dia menyamankan posisi
duduknya. “Kau masih ingat wanita bertubuh eksotis yang pernah mengagalkan
pengintaianku di pesta olah raga klub-nya Mattew?”
Wanita ketiga yang akan dikencaninya setelah Lassy dan
Martha. Yang membuat Luo kelabakan mencari tahu semua hal tentang wanita itu,
tapi tak ketemu sama sekali. Wanita itu muncul lagi tadi pagi. Membawa mobil
yang sama, berhenti di perempatan lampu merah saat Luo akan menyeberang jalan.
Luo mengawasi wajahnya terus dan terus sampai berada di seberang jalan. Baru
setelah lampu hijau menyala, mobil mulai berjalan lagi, Luo sadar dia harus mengejarnya.
Dia berlari cukup cepat, tapi mobil yang ditumpangi wanita itu berjalan cepat
juga. Sampai di lampu merah berikutnya, kesempatan untuk bertatap muka akan
terwujud, Ren mengagalkan semuanya.
Tidak. Luo tidak menyalahkan Ren. Gadis kuliahan itu melihatnya
berlari, lalu memanggilnya. Karena Luo tidak merespon, Ren ikut berlari karena
penasaran. Tepat di depan Luo, di jalur sepeda, Ren ditabrak anak sekolahan
terkena aspal. Anak sekolah itu juga jatuh, tapi tidak luka sama sekali. Karena
merasa bersalah telah menabrak Ren, anak itu menangis keras sambil minta maaf.
Ren tentu saja tak tega, maka dari itu dia memaafkannya. Dan Luo mau tak mau
harus menolong Ren, melupakan sejenak wanita bertubuh eksotis itu demi membawa
Ren ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit yang kebetulan tidak begitu jauh dari
perempatan itu berada, Luo meninggalkan Ren di sana. Dia berlari lagi ke
perempatan lampu merah, tapi wanita bertubuh eksotis itu sudah menghilang
bersama mobilnya. Itulah kenapa Luo bilang kejadian ini sangat gawat.
“Gawatnya aku tak menemukannya lagi setelah membawa Ren ke
sini!” Luo berdecak sebal. Kali ini terungkap sudah alasan kemarahan dan
kekecewaannya tadi. “Aku juga lupa tak menghafalkan plat nomornya.”
“Jadi maksudmu yang gawat bukan keadaan Ren?”
“Tentu saja bukan!” Luo melengos sebal. “Kau pikir karena
aku bilang Ren kecelakaan, dia akan mendapat luka serius dan akan mati? Kau
berlebihan, Brey!” tudingnya pada rekan kerjanya itu. Padahal yang lebih dulu
menyebarkan berita secara berlebihan adalah dirinya.
“Kau bilang siapa yang berlebihan?” Bryan melotot lagi. Aura
hitam menguar dari tubuhnya, siap merasuk ke tubuh luo lewat ubun-ubunnya.
Seakan-akan siap membuat Luo mati karena sihir hitam itu dari dalam. “Kau mulai
cari gara-gara denganku, ya?”
“Gara-gara denganmu apanya?” Luo balik melotot. “Kau pikir
masalah hati ini tidak gawat? Setelah kau memacari Lassy dan tak mau
melepaskannya, hatiku hancur, Brey!” katanya sambil menepuk-nepuk dada kirinya
keras-keras. “Setelah Martha menolakku mentah-mentah dan malah memilih lelaki
yang tidak keren sama sekali, aku tidak sakit hati?” Dia menepuk dadanya lagi.
“Sakit sekali!” tambahnya sambil pasang wajah merana.
“Ck!”
“Jangan berdecak, itu sama saja dengan mengejekku!” pekik Luo
Teman detektifnya itu aneh. Sudah masuk jajaran penembak
jitu top, malah membuat ulah sampai akhirnya dilempar ke kepolisian. Sudah jadi
detektif hebat, masih suka mencari gara-gara sampai sering dimarahi atasan.
Sudah jadi lelaki yang digilai semua wanita, malah banting setir menyukai
wanita-wanita bermasalah. Kalau sampai sekarang belum ada satu pun wanita yang
disukainya menyukainya balik, berarti memang itu karmanya.
Luo pernah menganggap Bryan dan Chang tidak bersyukur karena
diberi tugas mengurus Lassy dan Martha, tapi dia sendiri sebenarnya juga tidak
pernah bersyukur atas kelebihan yang diberikan padanya, makanya Tuhan
menghukumnya.
Kalau begini Bryan jadi tak bisa marah pada Luo.
“Aku sudah berjanji pada diri sendiri, tak akan menyukai
wanita selain Lassy, Martha, dan wanita eksotis itu. Kalau tak bisa mendapatkan
satu dari ketiganya, aku harus kembali pada wanita-wanitaku.” Itu terdengar
lebih baik di telinga Bryan, tapi Luo mengatakannya seakan dunia mau kiamat.
“Maka dari itu, kalau aku tidak segera menemukan wanita eksotis itu, keadaanku
bisa kacau. Gawat jadinya!”
“Apanya yang gawat?” Ren muncul dari ruang periksa. Dahinya
diperban, memang tidak parah. Lebih dari itu tidak ada luka lain. “Brey, kau ke
sini juga?”
Bryan mengangguk. “Bagaimana keadaanmu?”
“Baik. Hanya luka kecil!”
“Aku yang membawa Bryan ke sini.” Luo sudah menormalkan
wajahnya. Tidak sedih seperti tadi. “Kupikir kau tidak bisa pulang sendirian
dalam keadaan seperti ini. Takut kau celaka lagi, makanya aku panggil Bryan.
Dia akan mengantarkanmu pulang!”
Luo memang sialan. Jadi itu maksudnya mengajak Bryan ke
rumah sakit? Tahu Bryan dan Ren sudah putus, masih saja melibatkan mereka
berdua dalam satu kejadian. Dasar, teman kurang ajar!
Bryan mendelik pada Luo, tapi Luo pura-pura tak melihatnya.
“Aku bisa langsung pergi ke kampus. Lukaku tidak parah.” Ren
memegangi jidatnya yang diperban. Dia tidak akan bisa kembali lagi dengan
Bryan, makanya sebisa mungkin tidak berinteraksi dengan detektif itu. Takut
patah hati lagi. “Lagipula kalian pasti sibuk!”
“Aku sibuk, tapi Bryan tidak.” Luo meringis. “Brey, kau akan
antar dia pulang, kan?”
Sama dengan detektif lain, Bryan orang yang tegaan, tapi
untuk Ren, dia memberi pengecualian. Bryan bersedia mengantarnya pulang.
Mungkin mentraktirnya makan dulu sebagai ucapan maaf untuk yang waktu itu
“Aku akan mengantarmu pulang,” katanya, serius dan tidak
bisa ditolak. “Tapi aku belum makan, jadi kau harus menemaniku makan dulu
sebelum mengantarmu pulang!” setidaknya dengan begitu Ren tidak
akan menolak.