
Bryan ingin pergi sebentar. Dia dapat tawaran dari Luo ke
bar, tempat lelaki bernama Randy itu sering muncul. Luo menemukan lelaki itu di
sana, maka dari itu dia mengundang Bryan untuk datang. Bryan merasa tak masalah
meninggalkan Lassy kalau wanita itu tertidur, tapi sejak Lassy bangun, sampai
sekarang tidak mau tidur lagi. Bagaimana Bryan bisa pergi ke bar kalau begini
caranya?
“Luo baru saja menelepon. Dia butuh bantuanku di tempatnya
sekarang,” kata Bryan mulai berdalih. “Ini tentang kasus tabrakanmu. Aku harus
membantu Luo. Tentunya kau mau masalah ini cepat selesai, kan?”
Semakin Bryan banyak bicara, semakin curiga Lassy dibuatnya.
Dia kira Lassy bodoh? Meski dia tidak tahu menahu soal tugas-tugas polisi,
bukan berarti setiap kebohongan bisa luput dari padangannya.
“Tugasmu adalah menjagaku dan tugas Detektif Luo adalah
mengurusi masalah di lapangan, seperti itu yang aku tahu. Apa mungkin dia
diperbolehkan minta bantuanmu?”
“Tentu saja. Seperti ini cara kerja kami,” terang Bryan
sambil berharap Lassy tak tahu menahu soal pekerjaan detektif yang
sesungguhnya. “Lagipula tak akan ada yang berani menyentuhmu. Kau sangat aman
berada di rumah sakit ini.”
“Ya, tapi tugas tetap tugas. Kecuali atasanmu sendiri yang
menyuruhmu datang.”
Ishh,
tenyata Lassy tak bisa dibohongi, pekik
Bryan dalam hati.
Bryan mendekat ke ranjang. Dia menarik kursi dan duduk di
dekat Lassy. Tiba-tiba menghembuskan napas panjang dan menunjukkan kalau dia
terserang rasa bosan yang hebat.
“Aku lebih suka kerja di lapangan, menantang bahaya untuk
menangkap penjahatnya,” kata Bryan jujur. “Aku bosan duduk di ruangan ini
terus.” Lalu menghembuskan napas panjang lagi. “Padahal menungguimu baru dua
hari. Mungkin karena kau orang yang tak menyenangkan, aku jadi bosan seperti
ini.”
Lassy bukan tidak menyenangkan, bahkan kebalikannya. Wanita
dengan sifat angkuh dan sombong membuat lelaki kadang-kadang merasa tertarik
dan tertantang. Masalahnya untuk saat ini bukan percintaan yang diutamakan,
tapi tentang kasus. Kalau Bryan hanya duduk diam, dia memang selalu bosan.
Dengan berkata begitu Bryan harap Lassy langsung mengusirnya. Jadi, ada alasan
baginya untuk meninggalkan tempat.
Masalah akan dimarahi atau tidak, tergantung Lassy akan
mengadu pada Kapten Bay atau tidak. Itu bisa diurus belakangan.
“Benarkah? Aku tak menyenangkan tapi kau menciumku saat aku
tidur.”
Bryan terperanjat. Kenapa pembicaraan bisa berbelok
sedemikian tajam? Bryan langsung menarik kesimpulan kalau Lassy tidak
benar-benar tidur tadi. Dia tertipu oleh akting wanita itu.
“Tidak apa-apa, tidak akan kuadukan pada atasanmu.”
“Kupikir kau tidur,” celetuk Bryan, agak canggung.
“Aku memejamkan mata, bukan berarti tidur.”
Bryan diam walau sebenarnya dia sedikit malu.
“Kau tertarik padaku, sama seperti teman detektifmu itu?” Selain
tak bisa dibohongi, dia juga jago menebak pikiran orang. Bryan tiba-tiba jadi
merinding. “Berapa banyak uang yang diberikan keluargaku pada kalian untuk
membujukku keluar dari negara ini?”
“Kau tahu soal itu juga?”
“Bahkan aku tahu kalau kedatangan sepupuku nanti untuk
membujukku juga.” Lassy cuma tersenyum simpul setelah mengatakan kalimat
barusan. “Aku menyukai negara ini, ingin tinggal dan berbisnis di sini apa pun
resikonya. Tapi dengan kejadian ini, aku tak punya alasan untuk menetap.”
Bryan tidak mengerti. Urusan orang kaya selalu aneh-aneh.
“Bukankah kau punya hak untuk menentukan nasibmu sendiri.”
“Aku terikat kontrak dengan keluargaku.”
Kedengarannya lucu seorang anak mengadakan kontrak dengan
keluarga, tapi Lassy melakukannya. Demi bisa tinggal di negara ini, Lassy
menyetujui sebuah kontrak. Kalau ada masalah dengannya dan tak ada lagi yang
memberatkannya untuk meninggalkan negara ini, Lassy harus bersedia pindah. Itu
buruk bagi Lassy. Dia terlalu mencintai negaranya, tapi tak bisa menolak untuk
menandatangani kontrak dari keluarga besar.
“Kutawarkan satu juta dolar padamu untuk membantuku tetap tinggal
di sini.”
Angin apa yang membuat Lassy langsung menawarkan uang pada
Bryan?
Bryan hampir-hampir melotot ketika Lassy menyebutkan nominal
sitaan dari bandar narkoba atau mafia-mafia. Bagaimana kalau dia punya uang itu
di rekeningnya sendiri? Dia bisa melakukan semua hal yang dikehendakinya.
“Membantumu? Aku punya tugasku sendiri. Pekerjaanku melarang
untuk mengambil pekerjaan lain.”
Bryan sangat tertarik dengan uang itu, tapi dia harus
menahan diri untuk mengetahui detail pekerjaan yang ditawarkan Lassy padanya.
Kapan lagi ada tawaran semenarik itu. Kalau diibaratkan, punya satu juta dolar
bisa menjamin hari tua tanpa bersusah-susah kerja dari sekarang.
“Ini pekerjaan tertutup antara kau dan aku. Kau tak perlu
mengungkap uang itu di depan siapa pun. Dan pekerjaanmu sangat mudah.”
Bryan nyengir pura-pura tak percaya. Padahal dalam hatinya
sudah meneriakkan uang itu berkali-kali.
Lassy menambahkan, “Kujamin kau tak menyesal kalau mau menerima tawaranku.”
Satu juta, asal tak disuruh membunuh orang tak bersalah. Asal
tak disuruh melakukan kejahatan juga tak masalah. Bryan akan terima.
“Memangnya jenis pekerjaan apa yang kau tawarkan itu?”
“Jadilah kekasihku.”
Bryan mengerutkan dahi. Yang benar saja, jadi kekasih Lassy?
Bryan sudah punya Ren. Gadis itu saja cukup. Lagipula ada larangan detektif
mengencani korban. Ada kata-kata orang baik pantang untuk selingkuh ... Oh,
kata-kata tidak berlaku untuk detektif polisi.
“Kau tak perlu berbuat apa-apa, aku yang akan berpura-pura
menyukaimu dan pura-pura akan memaksamu menjadi kekasihku di depan semua
temanmu dan atasanmu.”
“Tidak bisa, aku sudah punya kekasih.”
“Kekasihmu tak perlu tahu. Cegah semua orang untuk
memberitahunya,” kata Lassy yang seketika membuat Bryan bimbang. Dia mau, tapi
... “Atasanmu akan sangat senang kalau kau bisa mengencaniku. Negara pun akan
merasa berhutang budi padamu.”
Apa lagi yang Lassy katakan itu? Sepertinya dia tahu segala
hal sebelum orang lain tahu. Bryan dibuat bingung, tapi Lassy terus saja
menambahkan kalimatnya.
“Keluargaku punya andil besar bagi negara. Semua itu akan
berhenti kalau aku meninggalkan negara ini.”
“Kau tahu soal itu juga? Bagaimana bisa?”
“Aku tahu banyak hal, kecuali orang yang menabrakku.”
Bryan pura-pura tak tertarik. “Aku tidak suka mendua.
Kekasihku terlalu baik untuk diduakan,” kata Bryan masih menyangkal. Sejujurnya
dia tak keberatan jadi kekasih Lassy. Tak ada ruginya menyembunyikan
perselingkuhan demi uang satu juta. Bryan bisa memberikan sebagian untuk Ren
nanti kalau misi ini berakhir. Dan soal Luo, masa bodoh dengan playboy satu itu.
“Kau yakin tak mau menjadi kekasihku? Satu juta itu banyak,
bisa kau gunakan untuk menyenangkan kekasih aslimu.”
Bryan masih bimbang untuk memilih setia atau uang satu juta.
Tiba-tiba dia mengangguk, tapi kemudian menggeleng. Lalu dia
berdiam diri lama sekali.
“Baiklah kalau kau tak mau, aku bisa minta bantuan Detektif
Luo.”
“Tunggu dulu!” cegah Bryan. “Katakan sampai kapan aku harus
menjadi kekasihmu?”
Lassy tersenyum. “Sampai keadaan membaik. Sampai aku
berhasil meyakinkan keluargaku bahwa aku akan baik-baik saja tinggal di sini.”
Sekali lagi dia tersenyum. “Kalau aku punya kekasih seorang detektif,
keluargaku akan mengira hidupku terjamin keamanannya. Mereka tak akan memaksaku
pergi.”
Cuma seperti itu. Bryan tidak bisa pura-pura tidak setuju
lagi. Dia ingin uang itu.
“Demi satu juta, kuterima tawaranmu!” Bryan mengulurkan
tangannya untuk dijabat Lassy. Tanda persetujuan itu dibuat.
Lassy tahu kalau keputusan Bryan menerima tawarannya bukan
cuma demi uang yang ditawarkannya. Bryan tertarik padanya itu pasti, karena
memang pesonanya tak bisa ditolak siapa pun termasuk oleh detektif di depannya
ini.
Dia menampik uluran tangan Bryan.
“Kalau begitu cium aku sebagai tanda kita resmi pacaran.”
Bryan bukan tak mau, tapi dia canggung. Dan itu terlihat jelas di mata Lassy. “Bukankah
kau sudah menciumku tadi?”
Satu
juta dolar, begitu pikir Bryan. Dia
memulai ciuman baru setelah resmi jadi kekasih Lassy. Cuma ciuman, tidak akan
merembet kemana-mana.