Mr. Detective

Mr. Detective
Kekasih Satu Juta Dolar



Bryan ingin pergi sebentar. Dia dapat tawaran dari Luo ke


bar, tempat lelaki bernama Randy itu sering muncul. Luo menemukan lelaki itu di


sana, maka dari itu dia mengundang Bryan untuk datang. Bryan merasa tak masalah


meninggalkan Lassy kalau wanita itu tertidur, tapi sejak Lassy bangun, sampai


sekarang tidak mau tidur lagi. Bagaimana Bryan bisa pergi ke bar kalau begini


caranya?


“Luo baru saja menelepon. Dia butuh bantuanku di tempatnya


sekarang,” kata Bryan mulai berdalih. “Ini tentang kasus tabrakanmu. Aku harus


membantu Luo. Tentunya kau mau masalah ini cepat selesai, kan?”


Semakin Bryan banyak bicara, semakin curiga Lassy dibuatnya.


Dia kira Lassy bodoh? Meski dia tidak tahu menahu soal tugas-tugas polisi,


bukan berarti setiap kebohongan bisa luput dari padangannya.


“Tugasmu adalah menjagaku dan tugas Detektif Luo adalah


mengurusi masalah di lapangan, seperti itu yang aku tahu. Apa mungkin dia


diperbolehkan minta bantuanmu?”


“Tentu saja. Seperti ini cara kerja kami,” terang Bryan


sambil berharap Lassy tak tahu menahu soal pekerjaan detektif yang


sesungguhnya. “Lagipula tak akan ada yang berani menyentuhmu. Kau sangat aman


berada di rumah sakit ini.”


“Ya, tapi tugas tetap tugas. Kecuali atasanmu sendiri yang


menyuruhmu datang.”


Ishh,


tenyata Lassy tak bisa dibohongi, pekik


Bryan dalam hati.


Bryan mendekat ke ranjang. Dia menarik kursi dan duduk di


dekat Lassy. Tiba-tiba menghembuskan napas panjang dan menunjukkan kalau dia


terserang rasa bosan yang hebat.


“Aku lebih suka kerja di lapangan, menantang bahaya untuk


menangkap penjahatnya,” kata Bryan jujur. “Aku bosan duduk di ruangan ini


terus.” Lalu menghembuskan napas panjang lagi. “Padahal menungguimu baru dua


hari. Mungkin karena kau orang yang tak menyenangkan, aku jadi bosan seperti


ini.”


Lassy bukan tidak menyenangkan, bahkan kebalikannya. Wanita


dengan sifat angkuh dan sombong membuat lelaki kadang-kadang merasa tertarik


dan tertantang. Masalahnya untuk saat ini bukan percintaan yang diutamakan,


tapi tentang kasus. Kalau Bryan hanya duduk diam, dia memang selalu bosan.


Dengan berkata begitu Bryan harap Lassy langsung mengusirnya. Jadi, ada alasan


baginya untuk meninggalkan tempat.


Masalah akan dimarahi atau tidak, tergantung Lassy akan


mengadu pada Kapten Bay atau tidak. Itu bisa diurus belakangan.


“Benarkah? Aku tak menyenangkan tapi kau menciumku saat aku


tidur.”


Bryan terperanjat. Kenapa pembicaraan bisa berbelok


sedemikian tajam? Bryan langsung menarik kesimpulan kalau Lassy tidak


benar-benar tidur tadi. Dia tertipu oleh akting wanita itu.


“Tidak apa-apa, tidak akan kuadukan pada atasanmu.”


“Kupikir kau tidur,” celetuk Bryan, agak canggung.


“Aku memejamkan mata, bukan berarti tidur.”


Bryan diam walau sebenarnya dia sedikit malu.


“Kau tertarik padaku, sama seperti teman detektifmu itu?” Selain


tak bisa dibohongi, dia juga jago menebak pikiran orang. Bryan tiba-tiba jadi


merinding. “Berapa banyak uang yang diberikan keluargaku pada kalian untuk


membujukku keluar dari negara ini?”


“Kau tahu soal itu juga?”


“Bahkan aku tahu kalau kedatangan sepupuku nanti untuk


membujukku juga.” Lassy cuma tersenyum simpul setelah mengatakan kalimat


barusan. “Aku menyukai negara ini, ingin tinggal dan berbisnis di sini apa pun


resikonya. Tapi dengan kejadian ini, aku tak punya alasan untuk menetap.”


Bryan tidak mengerti. Urusan orang kaya selalu aneh-aneh.


“Bukankah kau punya hak untuk menentukan nasibmu sendiri.”


“Aku terikat kontrak dengan keluargaku.”


Kedengarannya lucu seorang anak mengadakan kontrak dengan


keluarga, tapi Lassy melakukannya. Demi bisa tinggal di negara ini, Lassy


menyetujui sebuah kontrak. Kalau ada masalah dengannya dan tak ada lagi yang


memberatkannya untuk meninggalkan negara ini, Lassy harus bersedia pindah. Itu


buruk bagi Lassy. Dia terlalu mencintai negaranya, tapi tak bisa menolak untuk


menandatangani kontrak dari keluarga besar.


“Kutawarkan satu juta dolar padamu untuk membantuku tetap tinggal


di sini.”


Angin apa yang membuat Lassy langsung menawarkan uang pada


Bryan?


Bryan hampir-hampir melotot ketika Lassy menyebutkan nominal


sitaan dari bandar narkoba atau mafia-mafia. Bagaimana kalau dia punya uang itu


di rekeningnya sendiri? Dia bisa melakukan semua hal yang dikehendakinya.


“Membantumu? Aku punya tugasku sendiri. Pekerjaanku melarang


untuk mengambil pekerjaan lain.”


Bryan sangat tertarik dengan uang itu, tapi dia harus


menahan diri untuk mengetahui detail pekerjaan yang ditawarkan Lassy padanya.


Kapan lagi ada tawaran semenarik itu. Kalau diibaratkan, punya satu juta dolar


bisa menjamin hari tua tanpa bersusah-susah kerja dari sekarang.


“Ini pekerjaan tertutup antara kau dan aku. Kau tak perlu


mengungkap uang itu di depan siapa pun. Dan pekerjaanmu sangat mudah.”


Bryan nyengir pura-pura tak percaya. Padahal dalam hatinya


sudah meneriakkan uang itu berkali-kali.


Lassy menambahkan,  “Kujamin kau tak menyesal kalau mau menerima tawaranku.”


Satu juta, asal tak disuruh membunuh orang tak bersalah. Asal


tak disuruh melakukan kejahatan juga tak masalah. Bryan akan terima.


“Memangnya jenis pekerjaan apa yang kau tawarkan itu?”


“Jadilah kekasihku.”


Bryan mengerutkan dahi. Yang benar saja, jadi kekasih Lassy?


Bryan sudah punya Ren. Gadis itu saja cukup. Lagipula ada larangan detektif


mengencani korban. Ada kata-kata orang baik pantang untuk selingkuh ... Oh,


kata-kata tidak berlaku untuk detektif polisi.


“Kau tak perlu berbuat apa-apa, aku yang akan berpura-pura


menyukaimu dan pura-pura akan memaksamu menjadi kekasihku di depan semua


temanmu dan atasanmu.”


“Tidak bisa, aku sudah punya kekasih.”


“Kekasihmu tak perlu tahu. Cegah semua orang untuk


memberitahunya,” kata Lassy yang seketika membuat Bryan bimbang. Dia mau, tapi


... “Atasanmu akan sangat senang kalau kau bisa mengencaniku. Negara pun akan


merasa berhutang budi padamu.”


Apa lagi yang Lassy katakan itu? Sepertinya dia tahu segala


hal sebelum orang lain tahu. Bryan dibuat bingung, tapi Lassy terus saja


menambahkan kalimatnya.


“Keluargaku punya andil besar bagi negara. Semua itu akan


berhenti kalau aku meninggalkan negara ini.”


“Kau tahu soal itu juga? Bagaimana bisa?”


“Aku tahu banyak hal, kecuali orang yang menabrakku.”


Bryan pura-pura tak tertarik. “Aku tidak suka mendua.


Kekasihku terlalu baik untuk diduakan,” kata Bryan masih menyangkal. Sejujurnya


dia tak keberatan jadi kekasih Lassy. Tak ada ruginya menyembunyikan


perselingkuhan demi uang satu juta. Bryan bisa memberikan sebagian untuk Ren


nanti kalau misi ini berakhir. Dan soal Luo, masa bodoh dengan playboy satu itu.


“Kau yakin tak mau menjadi kekasihku? Satu juta itu banyak,


bisa kau gunakan untuk menyenangkan kekasih aslimu.”


Bryan masih bimbang untuk memilih setia atau uang satu juta.


Tiba-tiba dia mengangguk, tapi kemudian menggeleng. Lalu dia


berdiam diri lama sekali.


“Baiklah kalau kau tak mau, aku bisa minta bantuan Detektif


Luo.”


“Tunggu dulu!” cegah Bryan. “Katakan sampai kapan aku harus


menjadi kekasihmu?”


Lassy tersenyum. “Sampai keadaan membaik. Sampai aku


berhasil meyakinkan keluargaku bahwa aku akan baik-baik saja tinggal di sini.”


Sekali lagi dia tersenyum. “Kalau aku punya kekasih seorang detektif,


keluargaku akan mengira hidupku terjamin keamanannya. Mereka tak akan memaksaku


pergi.”


Cuma seperti itu. Bryan tidak bisa pura-pura tidak setuju


lagi. Dia ingin uang itu.


“Demi satu juta, kuterima tawaranmu!” Bryan mengulurkan


tangannya untuk dijabat Lassy. Tanda persetujuan itu dibuat.


Lassy tahu kalau keputusan Bryan menerima tawarannya bukan


cuma demi uang yang ditawarkannya. Bryan tertarik padanya itu pasti, karena


memang pesonanya tak bisa ditolak siapa pun termasuk oleh detektif di depannya


ini.


Dia menampik uluran tangan Bryan.


“Kalau begitu cium aku sebagai tanda kita resmi pacaran.”


Bryan bukan tak mau, tapi dia canggung. Dan itu terlihat jelas di mata Lassy. “Bukankah


kau sudah menciumku tadi?”


Satu


juta dolar, begitu pikir Bryan. Dia


memulai ciuman baru setelah resmi jadi kekasih Lassy. Cuma ciuman, tidak akan


merembet kemana-mana.