Mr. Detective

Mr. Detective
Bodyguard yang Tertolak



Martha menggeliat di tempat tidur. Merenggangkan tulang kakunya pelan-pelan. Untuk kali ini Martha


terbangun setelah lebih dari dua belas jam tertidur, bukan karena terlalu lama


tapi karena kedinginan. Pembantunya pasti tak tahu kalau dia tak menyalakan


pemanas ruangan. Ketika Martha hendak turun dari ranjang, dia melihat sekelebat


bayangan dari bawah pintu kamar. Ada seseorang di depan pintu. Martha tidak


yakin itu pembantunya. Pukul satu malam tidak mungkin ada pembantunya yang masih terjaga


Mengingat Martha pernah terlibat dengan masalah Lassy, dia bisa jadi target pembunuhan juga.


Walau penjahatnya sudah ditangkap, tapi dalang di balik kejahatan itu masih ada


di luar sana. Kalau benar teori itu, maka seseorang yang ada di luar kamarnya


sekarang mungkin salah satu kiriman bos penjahat.


Martha bergegas turun dari ranjang. Bersikap waspada dengan mencari apa saja yang bisa digunakan


untuk senjata. Setelah mendapat vas bunga keramik dari atas meja, dia berdiri


di belakang pintu. Menunggu kesempatan untuk memukul kalau penjahat itu sampai masuk ke kamarnya.


Dalam keadaan waspada, Martha mendengar pintu diketuk. Seseorang dengan suara hampir seperti


berbisik, memanggilnya dari luar.


“Martha …" Tidak keras, tapi juga tidak lemah. “Martha …”


Martha ingat logat panggilan itu. Suara husky yang sering didengarnya ketika dia masih dirawat di


rumah sakit. Sebenarnya Martha sebal dengan si empunya suara, tapi karena gigih


sekali mendekati Martha, mau tak mau lelaki itu diterimanya sebagai teman.


“Ini aku. Luo. Boleh masuk!”


Entah dia bertanya atau sekedar memberi tahu, nyatanya Luo mulai memutar kenop pintu. Ketika Luo


mendorong pintu membuat celah, Martha menempatkan diri di depannya. Mukanya


dipelototkan tepat di depan muka Luo.


“Astaga, Martha!” Luo terlonjak kemudian mengelus dadanya.


“Sedang apa kau di sini?”


Luo hanya nyengir lebar.


“Bagaimana kau bisa masuk kemari?” tanya Martha kasar. Dia marah, malam-malam begini diganggu


detektif mesum itu.


“Kau belum tidur


ternyata,” kata Luo, mengalihkan perhatian Martha.


“Itu bukan jawaban


dari pertanyaanku. Bagaimana kau bisa masuk kemari?” ulangnya.


Luo tersenyum sebentar sebelum menjawab. “Pembantumu meneleponku, katanya satpam di rumahmu tak bisa


meneruskan tugas malam ini, aku disuruhnya datang. Sekarang kau masih dalam


perlindungan polisi, kalau terjadi apa-apa saat tak ada yang menjagamu, pihak polisi akan dicela masyarakat.”


“Aku bisa melindungi diriku sendiri. Kau bisa pulang sekarang!” Walau Martha sudah menduga tak akan


mampu mengusir Luo dari rumahnya, setidaknya dia mencoba.


“Tidak bisa. Ini tugas!”


“Kalau tugas kenapa kau baru datang setelah tengah malam?”


Kalaupun Luo datang dari sore, Martha tak akan tahu. Dia tidur terlalu awal, tapi untuk mengetes


benar-tidaknya Luo dikirim kemari karena tugas, dia patut menanyakan itu.


“Kalau satpamku tak bisa berjaga, pasti mengatakan padaku sebelumnya.”


“Ini dadakan. Satpammu tak enak badan sebelum tengah malam tadi. Kau kemungkinan sudah tidur.


Pembantumu menelepon kantor polisi, petugas di kantor menyuruhku datang kemari.”


Luo menjelaskan seolah cuma dialah yang sanggup menjalankan tugas ini.


Martha tidak yakin Luo berkata benar. Kalau Luo datang kemari untuk menggantikan satpamnya, dia


pantas tahu soal itu. Lagipula kalau berniat untuk berjaga, dia harusnya berada


di luar, bukan malah berusaha masuk ke kamarnya seperti sekarang ini.


“Aku tidak percaya. Kutanyakan dulu pada pembantuku.”


“Eitsss, tunggu dulu. Dengar penjelasanku!” Luo mendorong Martha masuk ke kamarnya. Dia juga menutup


pintu kamar itu dari dalam setelah ikut masuk. “Pembantumu sudah kusuruh tidur


lagi setelah membukakan pintu. Kasihan kalau dia kau bangunkan.”


Martha digandeng Luo, ditarik ke tempat tidurnya, lalu didudukkan di ranjang.


“Kau jelas tahu kalau dalang dari kejahatan yang selama ini menimpamu dan Lassy masih belum


tertangkap, dia bisa mengirimkan orang untuk mencoba membunuhmu lagi.”


Martha tidak terpengaruh. Selain tatapan tajam, tidak ada lagi yang bisa dia lemparkan pada


Luo. Sementara itu dengan santai Luo terus menambahkan kalimat.


“Kalau ada agen sepertiku di sini, penjahat tak akan bisa apa-apa. Aku akan melindungimu.”


“Anggap aku percaya dengan semua dalihmu. Kau memang datang kemari untuk menggantikan satpamku.”


Dan tiba-iba Luo ikut duduk di samping Martha. Seperti mereka teman akrab.


“Tapi kenapa kau masuk ke kamarku? Harusnya kau berada di luar!”


“Kalau aku lebih dekat denganmu, lebih mudah juga menjagaimu,” dalihnya lagi. “Lagipula di luar


dingin.”


“Kau sudah lihat kalau aku baik-baik saja. Kau boleh meninggalkan kamarku sekarang!” pinta Martha.


“Di sebelah ada kamar tamu, kau bisa istirahat di sana!”


“Bukan begitu rencananya. Kau tidur di kasurmu, aku akan tidur di sofa, tapi di dalam kamar ini.”


Martha cemberut, tidak suka rencana itu. Pasti detektif satu itu sedang membuat kebohongan padanya.


“Itu demi kebaikanmu,” tambah Luo.


Kebaikan Martha adalah tanpa ada Luo di sekitarnya. Dia baru saja bangun, kalau Luo ada di kamarnya,


dia mau berbuat apa? Luo itu rusuh, kalau dia terjaga pasti akan terus diajak


bicara sepanjang malam. Kalau dia tidur, jangan-jangan dia akan diperkosa.


Pokoknya, Luo harus keluar dari kamarnya.


“Jangan terlalu banyak berpikir. Aku tak akan berbuat macam-macam, keberadaanku di sini murni


untuk menjagamu.” Luo dengan gigih meyakinkan Martha. “Sekarang kau bisa


kembali tidur, sementara aku numpang ke kamar mandi. Sebelah mana kamar mandimu?”


Martha menunjuk salah satu pintu dan Luo segera ke sana. Saat Luo dalam kamar mandi, Martha segera


berdiri. Berjalan ke arah jendelanya, menyibakkan tirai dan melihat ke bawah.


Jadi, Luo bohong padanya? Lalu untuk apa dia datang malam-malam begini?


.


.


.


Luo datang ke rumah Martha tengah malam dengan alasan yang


terkesan dibuat-buat. Katanya tugas dari kantor polisi, jadi Martha tidak bisa


mengusir lelaki itu keluar dari rumahnya. Lelaki itu ada di toilet kamar ketika


Lassy menelepon. Sahabatnya itu mengatakan bahwa dia akan datang bersama Bryan


malam ini juga. Mereka sedang dalam perjalanan, sudah dekat area rumah. Martha


disuruh menunggu kedatangan mereka, baru setelah itu akan dijelaskan maksud kedatangannya.


Lima menit menunggu, mobil Bryan masuk area rumah Martha. Lassy


dan Bryan turun, langsung masuk ke rumah yang sudah dibukakan langsung oleh si empunya rumah.


“Sebenarnya ada apa ini?”


“Kau bisa berikan aku minuman panas dulu sebelum kita bercerita?”


pinta Lassy sambil berjalan ke dapur diikuti Martha dan Bryan.


“Pembantuku sudah tidur, aku tak tega membangunkannya jam segini.


Kalau kau mau, kutunjukkan dan buat air panasmu sendiri.”


“Boleh. Kau punya coklat bubuk, kan?”


“Ada.”


Martha masih mengekor sahabatnya, tapi memilih jalan lebih dekat


dengan Bryan. Dia menoel lelaki itu demi mendapatkan perhatiannya.


“Brey, aku punya sedikit masalah di kamarku. Kalau kau tak


keberatan untuk membantuku ....”


“Jangan macam-macam, dia kekasihku!” tegas Lassy.


Lassy sedikit kesal hari ini. Kencannya tak berjalan lancar,


penyebabnya adalah hal yang membuatnya ikut Bryan datang ke rumah Martha saat ini.


Seperti yang disarankan Tax, mereka pergi ke tempat kencan.


Sesampainya di sana seseorang menelepon Bryan, menyuruhnya datang ke kantor


saat itu juga. Atas desakan Lassy, Bryan menolak dengan dalih tak bisa


meninggalkan Lassy karena itu masih jadi tugasnya sebelum Kapten Bay sendiri


yang menyuruhnya berhenti. Karena si penelepon mengatakan bahwa masalah itu


berkaitan dengan Lassy juga, mau tak mau mereka kembali ke kantor.


“Baru punya kakasih kau sudah berubah posesif,” ejek Martha. “Aku


tidak berniat menggoda kekasihmu. Luo ada di kamarku, aku mau Bryan mengusirnya!”


Martha ditanggapi gerutuan oleh Lassy. Memangnya salah jadi


posesif? Zaman sekarang ini, tidak posesif, kekasih bisa direbut orang.


“Ngomong-ngomong aku berkencan dengan temannya Bianca belum lama


ini. Kau tak perlu takut aku merebut Bryan darimu.”


Lassy tidak tahu bagian sahabatnya itu berkencan, tapi dia masih


saja menggerutu.


“Sedang apa dia di sini?” tanya Bryan mengabaikan dua sahabat yang


saling ejek.


“Aku sudah bertanya, tapi dia tak menjawab.” Martha meralat.


“Menjawab tapi bohong.”


Di dapur. Lassy mengeluarkan dua cangkir, bubuk coklat, dan susu


ketal manis dari dalam kulkas. Dia membuatnya dengan air panas dari mesin


otomatis di dapur itu. Setelah mengaduknya, dia menyerahkan salah satu cangkirnya pada Bryan.


“Ada yang mengirim surat ancaman ke apartemen Bianca. Suratnya


diketik dan dicetak dengan isi nama kita bertiga yang harus meninggalkan negara …”


“... atau kalian akan menerima akibatnya,” lanjut Bryan, memotong


penjelasan Lassy. “Walau surat itu terkesan seperti surat kaleng biasa dengan


ancaman tak jelas, polisi memutuskan memperketat perlindungan kalian. Karena di


rumah Lassy juga dikirimi surat yang sama, kemungkinan kau juga dapat. Itu


mungkin yang jadi alasan Luo datang ke sini, untuk mengecek sekaligus melindungimu.”


“Melindungiku? Maksudnya aku akan diikutinya terus seperti kau mengikuti Lassy?”


“Seperti itulah kira-kira,” jawab Luo dari ambang pintu dapur.


“Maaf aku tak segera menjelaskannya. Aku tak ingin kau bangun tengah malam


hanya untuk mengkhawatirkan hal sepele seperti ini,” kata Luo sok perhatian pada Martha.


Luo berjalan santai menghampiri ketiganya di dapur. Membuat


gesture lelaki dominan, lelaki gentleman, tapi malah membuat Lassy dan Martha


mundur beberapa langkah. Bersembunyi di sekitar Bryan.


“Aku tak mengira kalian akan datang. Kau merusak rencanaku saja, Brey.”


Tadinya setelah menerima penjelasan dari kantor polisi, Lassy


ingin segera pulang, tapi Bryan mengajak Lassy mendatangi rumah Martha. Sekedar


mengecek keadaan sahabat Lassy itu terlepas dari ancaman surat kaleng benar


diterimanya juga atau tidak. Tak tahunya Luo sudah ada di sini lebih dulu.


“Brey, kau bawa ponsel?”


Tak curiga, Bryan pun mengangguk.


“Ada nomor atasan kalian di sana, kan?”


Bryan mengangguk lagi sambil merogoh sakunya dan menyerahkan


ponselnya pada Martha.


“Tengah malam kau mau menelepon atasanku?” tanya Luo saat Martha


sudah mendekatkan ponsel itu ke telinga. “Buat apa?”


“Kalau memang aku harus dijagai polisi, aku tak mau kau yang jaga.


Atasan kalian pasti dengan baik hati akan menukarmu dengan detektif lain!”


jawab Martha santai yang seketika membuat Luo melotot tak rela.